Langsung ke konten utama

ULANG TAHUN (Asyhawa Septhi Nurani)

Tepat tanggal ini, yaitu tanggal 29-09-2014 hari senin. Keponakan cewe gue satu satunya berulang tahun yang ke-4. 

Selamat ulang tahun ya Asyhawa Septhi Nurani, semoga menjadi anak yang pinter kaya om nya (he he he), anak yang berbakti sama kedua orang tuanya, berguna bagi sesama, sholeha, rajin solat, pinter ngaji, rajin beramal dan bisa naik haji, amiiin. Pokonya yang baik baik deh.

Tepat pada tanggal 29-09-2010 atau empat tahun silam dia lahir, gue masih inget saat itu jam setengah delapan malam. Saat itu, tiba tiba Bapa telfon bilang kaka gue mau lahiran dan gue disuruh ngikut untuk nemenin ke rumah sakit.

“Teguh, lagi di mana buruan pulang”
“Ini siapa?”
“Bapa Guh, buruan Pulang”
“Bapa siapa?”
“Bapa Guh, Bapa.. kamu cepet pulang !!!”
“Pulang ke mana? Ini siapa si”
“Bapa Lu Bego!!! cepet pulang mba Rini mau lahiran”

Kira kira kepanikan itulah yang saat itu terjadi, dan gue emang ga terlalu jelas ngedenger suara Bapa gue karena saat itu memang kondisinya berisik banget.

Tanpa basi basi gue pun akhirnya langsung memenuhi panggilan Bapa, tapi saat gue mau bergegas gue rada bingung.

Setelah beberapa saat berfikir akhirnya gue sadar kalo gue ga ke mana mana, gue dari tadi lagi di dalem kamar gue sendiri sambil dengerin mini compo (Ya ampun). Saking paniknya Bapa ga sadar kalo anaknya dari tadi ada di dalem kamarnya sendiri.

Setelah melalui proses yang cukup lama dan gue juga ga tau bagaimana proses lahiran, akhirnya keponakan gue pun lahir. Kalo ga salah kira kira jam 02.30 pagi.
Doker saat itu bilang kalo jenis kelaminnya perempuan, dan gue percaya tanpa harus memeriksanya.

Setelah beberapa hari bermalam di RS akhirnya kita pun pulang ke rumah dengan jumlah anggota keluarga yang bertambah yaitu satu bayi perempuan lucu.

Dan kita memberi nama dia dengan nama
Asyhawa Sephti Nurani yang kurang lebih artinya adalah anak pertama dari Nur dan Rini yang lahir dibulan September dan semoga berakhlak seperti Aisyah ra istri dari Nabi Muhamad saw, amiin.

Engga kerasa empat tahun berlalu, sekarang Syhawa udah gede. Sekarang bisa diajak berantem beranteman, diajak makan bubur ayam bareng kalo pagi, diajak nonton kartun bareng.

Selain suka dengan kartun, upin ipin khususnya. Dia juga suka banget nonton sinetron, mungkin ga cuma dia aja yang suka nonton sinetron banyak juga anak indonesia seusia dia yang doyan nonton sinetron acara yang harusnya untuk orang yang lebih dewasa.

Bukan cuma suka nonton, dia  juga sampe hafal soundtrack lagu yang ada dalam sinetron yang sering dia tonton. Dan kadang dia nyanyiin saat mandi dan maen sama temen temen sebayanya.

Yang kadang bikin gue heran, dia tuh suka banget sama acara acara setan yang ada orang orang kesurupannya pas tengah malem. Kalau balita lain mungkin udah tidur untuk jam segitu, engga buat Syhawa. Dia masih asik melek untuk nonton acara tersebut. Mungkin bisa dibilang Shyawa adalah satu satunya balita yang slalu tidur di atas jam sebelas malam, entahlah...

Dan menurut gue kebiasaan itu bisa membuat perkembangan  psikisnya terganggu,       hal itu terbukti kalo dia ditanya tentang cita cita, ditanya mau jadi apa kelak.

“Ashyawa nanti kalo gede mau jadi apa?”
“Aku mau jadi siluman buaya Om, biar berenangnya cepet”
Bener kan, memang tontonan itu engga bagus banget.
Kalian ngerti kan sekarang.
Kadang gue ajak dia pergi ke toko buku biar nyeimbangin hal itu, ga lucu juga kan kalo itu dijadiin cita cita dia beneran (oh my god).
Selain hal tontonan, Syhawa juga banget sama kacang kulit, saat kabanyakan anak anak lain suka sama permen, cokelat dan hal hal normal lain dia lebih memilih untuk menjadikan kacang kulit sebagai cemilan favoritnya.

Ya udah lah, apapun itu gue tetep seneng punya keponakan kaya dia, bangga, bahagia juga.

Semoga Syhawa bisa berkembang dan tumbuh dengan baik.
Dan nanti kalo Syhawa baca tulisan ini saat Syhawa gede dan udah bisa baca semoga Syhawa juga bisa seneng bahagia karena udah punya Om kaya gue, he he he..

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review Novel Jakarta Sebelum Pagi by Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

Sebelum memulai ke pertunjukan utama anggap saja ini sajian pembuka, seperti band pembuka di sebuah konser akbar. Ada beberapa hal yang menurut saya (sebagai pembaca) mengganjal dalam hati mengenai novel ini (selain covernya yang sedikit mirip dengan novel i'll give u the sun) Yang pertama adalah, beberapa hal yang menurut saya harusnya dipersingkat, dengan arti lain adalah beberapa bagian novel ini mempunyai informasi yang diulang-ulang, walaupun tidak membosankan, tetapi demi menghemat kertas, biaya produksi, dan tingkat kebosanan pembaca harusnya bisa dipersingkat saja. Misalnya dalam penjelasan mengenai teh. Percakapan yang berkaitan tentang teh beberapa bagian diulang-ulang, walaupun dengan kalimat yang berbeda tetapi saya merasa itu mempunyai informasi yang sama. Karena jika penulis ingin menjadikan ‘teh’ sebagai sarana pengantar cerita saya rasa porsi dalam novel tersebut bisa dipangkas lagi, toh beberapa bagian hanya berisikan informasi yang mungkin ingin menunju...

Mengulik Makna Dari Lagu 'Merah' Efek Rumah Kaca

Eka kurniawan dalam sebuah jurnal onlinenya pernah menerbitkan sebuah cerpen tentang sebuah perlawanan, inti dari cerpen tersebut adalah tentang sebuah pemuda (mahasiswa) yang ingin melakukan sebuah aksi (perlawanan) untuk menjatuhkan sebuah kekuasaan (rezim) yang menurutnya sudah tidak pantas lagi untuk berkuasa. Cerita itu berakhir tragis dengan tokoh utama yang tiba-tiba hilang tak tahu ke mana, entah mati atau hidup. Menghilang tiba-tiba. Dalam sejarah Indonesia sendiri, sebuah perlawanan sudah mondar-mandir dicacat oleh tinta sejarah. Peristiwa orang Surabaya yang membunuh jendral Mallaby dan kemudian berimbas pada pertempuran tiga hari tiga malam di kota tersebut hingga kemudian hari tersebut ditetapkan sebagai hari pahlawan oleh Ir Soekarno guna menghargai mereka-mereka yang sudah gugur, misalnya. Atau perebutan Irian Barat dengan Belanda. Bahkan kemerdekaan bangsa Indonesia tak lain dan tak bukan adalah buah dari sebuah perlawanan. Perlawanan tak hanya dilakukan dengan...

Catatan Banjir Jakarta Februari 2017

Hujan turun sejak jam tiga dini hari (21 februari 2017), jam setengah empat pelataran rumah sudah terlihat genangan air, jam empat lebih air mulai menaiki tangga-tangga rumah. Kira-kira pas adzan subuh atau sekitar jam lima pagi air mulai masuk ke rumah-rumah warga. Beberapa orang sudah berada di depan rumah masing-masing berjaga, ada juga yang menggedor-gedor tetangga, khawatir masih ada orang yang belum bangun. Sekitar jam setengah enam sampai jam tujuh pagi air sudah benar-benar menguasi seisi rumah. Sementara sebelumnya, warga sudah mengamankan benda-benda yang mereka anggap penting. Benda elektronik, kulkas, mesin cuci, kompor. Surat-surat tanah, pakaian, atau hal yang kira-kira bisa rusak terkena banjir. Termasuk motor yang diungsikan dengan cara bergotong-royong mengangkat secara bergantian. Jam enam sampai jam tujuh hujan bisa dikatakan sedang lebat-lebatnya, langit masih gelap tidak seperti biasanya, barang-barang sudah naik ke singgahsana yang lebih tinggi. Banjir ka...