Langsung ke konten utama

Mengulik Makna Dari Lagu 'Merah' Efek Rumah Kaca

Eka kurniawan dalam sebuah jurnal onlinenya pernah menerbitkan sebuah cerpen tentang sebuah perlawanan, inti dari cerpen tersebut adalah tentang sebuah pemuda (mahasiswa) yang ingin melakukan sebuah aksi (perlawanan) untuk menjatuhkan sebuah kekuasaan (rezim) yang menurutnya sudah tidak pantas lagi untuk berkuasa. Cerita itu berakhir tragis dengan tokoh utama yang tiba-tiba hilang tak tahu ke mana, entah mati atau hidup. Menghilang tiba-tiba.

Dalam sejarah Indonesia sendiri, sebuah perlawanan sudah mondar-mandir dicacat oleh tinta sejarah. Peristiwa orang Surabaya yang membunuh jendral Mallaby dan kemudian berimbas pada pertempuran tiga hari tiga malam di kota tersebut hingga kemudian hari tersebut ditetapkan sebagai hari pahlawan oleh Ir Soekarno guna menghargai mereka-mereka yang sudah gugur, misalnya. Atau perebutan Irian Barat dengan Belanda. Bahkan kemerdekaan bangsa Indonesia tak lain dan tak bukan adalah buah dari sebuah perlawanan.

Perlawanan tak hanya dilakukan dengan mengangkat senjata, adalah sebuah fakta. Untuk orang-orang tertentu, perlawanan bisa dilakukan melalui berbagai media. Musik salah satunya.

Hal itulah yang dilakukan oleh sebuah band indie yang beraliran pop (mereka menilai musik mereka beraliran pop, tetapi ada juga yang menganggapnya sebagai musik folk) Efek Rumah Kaca. Band yang berdiri sejak tahun 2005 ini, dalam beberapa lagunya memang sengaja memberikan sedikit unsur kritikan terhadap hal-hal yang kritis, politik salah satunya. Hal ini diakui sendiri oleh sang vokalis dalam sebuah wawancaranya dengan sebuah media online (saya melihat di you tube) “...(kita) ga bisa demo, orasi, ngomong teriak-teriak ngasih semangat ke orang, nanti malah diketawain. Jadi, ya mending pake musik aja”) ucap pria yang pernah mengenyam pendidikan di New York University itu.

Salah satu lagu yang menurut saya kental sekali dengan unsur perlawanan adalah lagu yang berjudul ‘Merah’. Lagu tersebut terdapat dalam album terbaru mereka yang bertajuk Sinestesia, Album yang rilis pada desember akhir 2015 lalu sempat juga didaulat sebagai album terbaik oleh beberapa situs majalah musik online.

Album tersebut bisa dikatakan berbeda dengan album Efek Rumah Kaca sebelumnya, bahkan album-album band-band lainnya. Lagu-lagu yang menghuni album tersebut mempunyai dusari yang cukup panjang, dan dalam sebuah lagunya berisikan rata-rata tiga judul lagu yang lirik dan aransemennya tentu saja berbeda. Termasuk lagu ‘Merah'.

Lagu Merah menurut saya lekat sekali dengan unsur kritikannya  (perlawanannya). Hal ini yang akan saya coba untuk arti sedikit lebih dalam arti dalam lagu tersebut.


Lagu Merah sendiri dijadikan sebagai pembuka album tersebut, seakan-akan memberikan sebuah semangat untuk berjuang. Dari judulnya saja (Merah) lagu ini melambangkan arti keberanian untuk melawan, di sengaja atau tidak saya menganggap warna merah berkaitan erat dengan komunisme, terlepas dari pro dan kontra tentang komunisme di Indonesia, partai komunis memang mempunyai sejarah tentang perlawanan terhadap ketidakadilan penguasa pada saat itu, walaupun banyak yang menganggap bahwa sejarah tentang komunisme telah dibelak-belokan oleh beberapa kelompok untuk kepetingan mereka sendiri.

Lagu Merah berisikan tiga lagu, lagu-lagu tersebut ialah Ilmu Politik, Lara Di Mana-Mana, dan Ada-Ada Saja.

Lagu pertama, Ilmu politik. Lagu ini di awali dengan lirik Dan kita arak mereka
Bandit jadi panglima, politik terlalu amis dan kita teramat necis”
Efek Rumah kaca seolah-olah sutuju dengan pendapat Pramoedia Ananta Toer yang berkata bahwa yang kolonial selalu iblis.

Lirik berikutnya “Lalu angkat mereka sampah jadi pemuka, politik terlalu najis dan kita teramat klinis” Lirik tersebut rasa-rasanya pas dengan kondisi sekarang ini, kita lihat di tv dan berbagai media lainnya para pemuka-pemuka yang diikuti oleh banyak orang karena dianggap sebagai seorang yang apik, ternyata mereka malah mempunyai kasus hukum yang tak tanggung-tanggung (sampah sekali). Pada penggalan lirik tersebut juga seolah-olah menyindir kita yang gampang sekali ‘dibodoh-bodohi’ oleh politik.

Kemudian lirik yang menyindir kita tentang seorang yang tak mengerti tentang politik malah dijadikan sebagai penguasa.

“Dan kita dorong mereka
Badut jadi kepala
Politik terlalu kaotis
Dan kita teramat praktis”

Kata ‘badut’ lebih saya artikan tentang pekerja yang menghibur, saya beranggapan itu adalah artis, banyak dari mereka yang masuk ke ranah politik tanpa kita tahu seberapa kualitas mereka tentang politik sendiri.

Dan lirik ini “Lalu dukung mereka cendikia jadi pertapa politik terlalu iblis dan kita teramat praktis.” Bagian ini sepertinya mengkritik pemerintah yang tak memberi kesempatan pada orang-orang yang berbakat di bidangnya untuk mengembangkan bakatnya, alih-alih mendukung kadang pemerintah malah memenjarakannya (cendikia jadi petapa).

Di bait terakhir mereka menulis sebuah kata-kata yang mempunyai arti perlawanan sekali “Aku akan menjadi karang di lautan mereka, aku akan menjadi kanker dalam tubuh mereka.”
***

Beralih ke lagu selanjutnya “Lara Di Mana-Mana”. Perhatikan lirik berikut.

Sampai kapan kau biarkan
Dia tak berperan
Ditelantarkan harapan, dia kesakitan
Terburai berantakan, tak karuan
Marah di mana mana

Lirik di atas menggambarkan tentang ketidakpedulian terhadap seseorang yang memiliki sebuah impian yang tinggi.

Unsur perlawanan juga terdapat di lagu ini, yaitu lirik Kelembaman pada tekanan raih elan, kepalkan tangan.”

Tetapi saya sempat berpikir Lara Di Mana-Mana berkaitan dengan jaman orde baru, beberapa orang mengatakan bahwa pada jaman itu banyak polisi dan para anggota TNI yang berjaga-jaga di setiap daerah, alih-alih menjaga mereka malah melakukan hal-hal terbilang keji terhadap masyarakat atau sebuah kelompok tertentu. Lara di mana-mana.

***
Lagu ketiga, lagu terakhir, Ada Ada Saja.

Lagu ini menjadi salah satu lagu favorit saya,  berisikan tentang kritikan-kritikan tajam terhadap situasi dan kondisi yang sering terjadi sekarang ini.

“Moralis, merasa paling baik
Macam yang paling etis,
Awas jatuh menukik
Sang martir, inginya adu fisik
Cupet dan sesat pikir, buah intrik politik”

Lirik di atas ditujukan kepada orang-orang yang mengaku dirinya sendiri adalah seorang yang  baik, tapi kelakukannya tidak mencerminkan kebaikan itu sendiri. Kemudian beberapa orang yang mau-mau saja ikut-ikutan disetir oleh golongan tertentu guna kepentingan politik.
Kemudian Efek Rumah Kaca seakan-akan akan menertawakan mereka, mengingatkan lebih tepatnya dengan lirik ini.

“Ada ada saja, sifat kawan kita
Dipelihara dan budidaya
Macam macam saja, kelakuan kita
Semoga masih bisa bahagia”

Dan di bagian terakhir lagu mereka mengungkapkan segala sesuatu yang saat ini terjadi tak ubahnya dari sebuah kegiatan politik, hal-hal yang harusnya tak diintervensi oleh urusan politik malah dijadikan kegiatan politik itu sendiri.

“Ekonomi korban politik
Hukum tunduk pada politik
Pendidikan masuk politik
Olahraga bawa politik
Orang gila akibat politik

Dagang sapi pakai politik
Beragama, buat politik
Keluarga ribut politik
Sebuah politik memang bisa menjadikan perubahan ke arah yang lebih baik jika dijalankan oleh orang-orang yang berkompeten atau peduli terhadap masyarakat yang dipimpinnya. Namun politik juga bisa menjadi senjata yang tajam untuk membunuh orang-orang yang harusnya dilindungi, diberikan hak atas kemanusiaanya.

Terlepas dari tepat atau tidaknya penafsiran saya atas lagu Efek Rumah Kaca di atas, band ini telah memberikan nuansa dan semangat baru. Salah satu kelebihan mereka adalah mereka bermusik tidak untuk mencari kekayaan, mereka bermain musik, ya karena mereka ingin bermain musik, jujur sekali. Bahkan album ini bisa diunduh secara gratis di website resmi mereka, efekrumahkaca[dot]net.

Agar tidak penasaran berikut saya sertakan video lagu Merah, selamat mendengarkan.






Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review Novel Jakarta Sebelum Pagi by Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

Sebelum memulai ke pertunjukan utama anggap saja ini sajian pembuka, seperti band pembuka di sebuah konser akbar. Ada beberapa hal yang menurut saya (sebagai pembaca) mengganjal dalam hati mengenai novel ini (selain covernya yang sedikit mirip dengan novel i'll give u the sun) Yang pertama adalah, beberapa hal yang menurut saya harusnya dipersingkat, dengan arti lain adalah beberapa bagian novel ini mempunyai informasi yang diulang-ulang, walaupun tidak membosankan, tetapi demi menghemat kertas, biaya produksi, dan tingkat kebosanan pembaca harusnya bisa dipersingkat saja. Misalnya dalam penjelasan mengenai teh. Percakapan yang berkaitan tentang teh beberapa bagian diulang-ulang, walaupun dengan kalimat yang berbeda tetapi saya merasa itu mempunyai informasi yang sama. Karena jika penulis ingin menjadikan ‘teh’ sebagai sarana pengantar cerita saya rasa porsi dalam novel tersebut bisa dipangkas lagi, toh beberapa bagian hanya berisikan informasi yang mungkin ingin menunju...

Catatan Banjir Jakarta Februari 2017

Hujan turun sejak jam tiga dini hari (21 februari 2017), jam setengah empat pelataran rumah sudah terlihat genangan air, jam empat lebih air mulai menaiki tangga-tangga rumah. Kira-kira pas adzan subuh atau sekitar jam lima pagi air mulai masuk ke rumah-rumah warga. Beberapa orang sudah berada di depan rumah masing-masing berjaga, ada juga yang menggedor-gedor tetangga, khawatir masih ada orang yang belum bangun. Sekitar jam setengah enam sampai jam tujuh pagi air sudah benar-benar menguasi seisi rumah. Sementara sebelumnya, warga sudah mengamankan benda-benda yang mereka anggap penting. Benda elektronik, kulkas, mesin cuci, kompor. Surat-surat tanah, pakaian, atau hal yang kira-kira bisa rusak terkena banjir. Termasuk motor yang diungsikan dengan cara bergotong-royong mengangkat secara bergantian. Jam enam sampai jam tujuh hujan bisa dikatakan sedang lebat-lebatnya, langit masih gelap tidak seperti biasanya, barang-barang sudah naik ke singgahsana yang lebih tinggi. Banjir ka...