Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2015

Jatuh Hati

Tiga minggu lalu aku melihatnya, aku tak tahu namanya. Aku malu, jangankan untuk menanyakan nama, untuk mendekatinya pun mungkin aku harus membaca ayat-ayat suci agar aku menjadi berani. Dan hari ini tepat lima hari setelah tiga minggu itu, hampir setengah jam aku menatapmu tentunya tanpa sepengetahuanmu. Menatapmu tanpa bosan, bagaimana bisa bosan aku telah jatuh, telah jatuh cinta terhadapmu, dan entah kapan aku bisa mengungkapkan ini. Satu yang ingin aku katakan, kau begitu cantik wanita yang belum aku tahu namanya dan aku telah jatuh hati kepadamu .   Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari  Tiket.com  dan  nulisbuku.com #TiketBaliGratis.

Malam Pertama

“Kau tak ingin memelukku, Rahman?” tanya Alisa terhadap lelaki yang kini menjadi suaminya tepat beberapa jam lalu, saat orang-orang mengucapkan kata “sah” secara serentak kemudian bersama-sama melantunkan doa. Malam yang indah, lima belas rabiul awal, awal januari. Bulan bulat penuh, cahaya terang sekali menambah indahnya malam pertama itu. Rahman dan Alisa kini telah resmi menjadi pasangan suami istri. Namun ada yang aneh, daripada malam pertama pasangan suami istri baru pada umumnya, tepatnya saat Rahman bertanya terhadap istrinya, suami sekaligus pengusaha muda sukses dibidang furnitur  itu mengajukan pertanyaan yang membuat sunyi malam itu, lebih tepatnya membuat suasana malam menjadi hambar. “Apa kau benar-benar cinta padaku” tanya lelaki yang masih mempunyai keturunan cina itu. “Apa yang kau bicarakan Rahman, tak mungkin aku menikahi orang yang tak aku cintai” Dengan senyum Alisa menjawab sembari melepaskan pernik-pernik di kebayanya. “Tapi aku bisa melihatn...

Jarak

Beberapa bulan lalu bisa dikatakan adalah waktu yang spesial untukku, dan mungkin untuknya.  Aku hanya bisa menggunakan kata “mungkin”. Dia adalah teman kecilku yang sekarang bersama-sama tumbuh menjadi seorang remaja dewasa. Namanya Ajeng, Dia adalah wanita spesial, aku tahu mungkin ini akan terlihat terlalu berlebihan jika aku menganggap dia adalah teman “spesial”, tapi karena untuk sebuah alasan anggap saja seperti itu. “Jasen, bagaimana kabarmu?” pertanyaannya tepat setelah saat aku membukakan pintu di pagi hari, sekitar jam delapan pagi. Saat matahari bersinar kuning sehat nan cerah secerah perasaanku karena disapa oleh orang secantik Ajeng. “Kabarku baik, kau sendiri bagaimana?” Aku membalas dengan sedikit bingung dan dengan kaos oblong dan celana pendek seadanya, pagi hari minggu itu aku belum sempat mandi. Berbeda dengan Ajeng yang terlihat begitu segar dan anggun. Setelah itu, kita mulai berbincang, bertanya satu sama lain, bercerita tentang pengalamannya ...

TUKANG PIZZA GA' JATUH CINTA

“Mas lurus, ketemu pertigaan belok kiri nah itu masih lurus, lampu merah pertama langsung belok kanan” bapak berjaket kulit ngasih jawaban ke gue sambil teriak-teriak. “Di situ perumahannya ya Pak” dari motor, gue teriak-teriak juga biar suara gue jelas didenger, sementara itu bunyi klakson udah banyak banget di belakang, gue bikin macet. “Nanti tanya aja lagi mas, saya juga ga' terlalu hapal daerah sini” jawab bapak itu sembari menghidupkan motornya, ada penumpang. Dia tukang ojek. Dan di belakang kata-kata makian dari pengguna jalan lain mulai berdatangan. Tanpa pikir panjang gue langsung mengikuti arahan dari bapak tukang ojek yang kalo diliat-liat sepintas mukanya mirip Roy Marten, tapi versi kulit hitam. Gue ngikutin jalur yang beliau tunjukin, dan akhirnya setelah supuluh menit berlalu. Gue nyasar lagi !!! (oh my God) . Buat bapak tukang ojek yang mirip Roy Marten seandainya baca tulisan ini, kalo engga tahu mending bilang aja Pa, yang bapak tunjukin it...