Salah
satu dari seni menulis yang gue sukain adalah puisi. Seperti karya seni yang
lain puisi juga bisa menjadi perwakilan dari emosi emosi kita. Dan membuat
puisi kadang bisa “melampiaskan” sedikit
apa yang saat itu kita rasakan.
Seperti
saat gue mencoba untuk ikut dalam lomba puisi yang waktu itu diadain di kampus
gue. Alasan lomba itu diadain adalah sebagai salah satu kegiatan memperingati
hari kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-69 pada tanggal 17 Agustus 2014
kemarin. Salah satu tema yang mereka usung adalah
tentang narkoba.
“Narkoba itu ular yang beracun ya?”
“Itu ular kobra mas... he he he”
“Narkoba itu ular yang beracun ya?”
“Itu ular kobra mas... he he he”
Walaupun
ga jadi pemenang, tapi puisi gue cukup ngebanggain buat diri gue sendiri
khususnya. Puisi gue masuk dalam 5 puisi terbaik (sambil kibasin rambut), ya
udah lah dari pada ceritanya kebanyakan, nanti malah dianggepnya pembukaan
skripsi lagi. Cekidot Gaes !!!
NARKOBA (SIAPA AKU)
NARKOBA (SIAPA AKU)
Terdampar di tepi
pantai di bawah langit tak berbulan
dan ditemani oleh lumba lumba buta.
Menari di atas air laut keruh dan tenggelam bersama bidadari buruk rupa.
Kalian
pernah tak mengenali diri sendiri...?
Aku pernah...
Bahkan mungkin aku tak pantas menyebut aku dengan “AKU”.
Aku seperti jompo gila yang slalu menghisap ibu jarinya.
Nafasku tak penuh, separuhnya bersama malaikat yang bersayap air liurku sendiri
dan hinggap di lumut dinding surau tua.
Lalu siapa aku?
Aku alunan harpa yang
dimainkan oleh biksu bisu dan imajinasi adalah penikmatnya.
Aku hijau, biru, ungu, semua sesukaku, semua berdasar kehendakku sendiri.
Lalu siapa aku?
Aku adalah sisa makanan
dari kucing liar yang tak berkaki.
Aku kotoran rayap yang memakan bangkai kayu nisan.
Aku,, siapa aku.. Siapa aku Tuhan ?
Bahkan aku tak
mengenali Tuhan ku sendiri...
Lalu siapa aku?
Runtuhlah langit, kubur aku !!! Kuburkan aku beserta peri peri
yang sedang memotong motong rambutku dengan gigi runcing
mereka.
Aku lelah, tapi nafsu ku seperti perawan saat malam pertama.
Ada apa dengan ku, siapa aku?
Beribu huruf dari
beribu mulut pula, mereka menjadi busur dan panah dalam telingaku.
Semua berurai, tak berirama, semua kusut di sebuah satu lubang paku.
Siapa aku..
Siapa aku..
Siapa aku...
Entahlah...

Komentar
Posting Komentar