Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2015

Bendera Merah Putih (Identitas)

Siapa juga yang ingin jadi bule, albino pula. Kalo bisa memilih, aku juga ingin dilahirkan normal seperti mereka, anak-anak brengsek itu. Kalau pun bule ya lahirnya di Eropa sanalah biar ga diejek, ga dibilang ga nasionalis. Kalo dipikir-pikir aneh memang, apa hubungannya coba nasionalis sama ke bule anku ini. Kalo kamu punya rambut pirang, mata biru, kulit putih bintik-bintik merah, terus ga bisa nasionalis sama negara, mba-mba dan mas-mas yang matanya sipit-sipit itu juga ga bisa berbakti sama bangsa dan negara, gitu? Usiaku kini enam belas tahun kelas tiga SMP, tidak ada yang aneh dari semua ini, ya kecuali kondisi albino dan ke- bule an ku ini yang membuatku menjadi bahan ejekan empuk oleh siapapun di manapun, kapanpun. Kaum minoritas memang selalu tertindas. “Le, kamu ngerayain tujuh belasan ga? Oh iya, bule mana tahu tujuh belasan, lagu Indonesia Raya aja pasti ga hafal, ha ha ha” seruan salah seorang teman sekolah, yang kemudian diiringi tawaan  bahagi...

Menunggu

Aku mendengarnya. Daun kering itu mengatakan engkau sedang menunggu. Menunggu kepastian akan kapan kau mempunyai sayap untuk terbang. Dan kau tahu, aku sedang merajut sayap itu. Besabarlah. Bukankah Tuhan bersamamu ketika kau sabar. Aku tahu bahwa kau sedang menunggu, dan aku pun selalu berusaha untuk datang lebih awal, tapi bukankah kau pun tahu bahwa bulan selalu membutuhkan waktu untuk bersinar penuh:p urnama. Kau lihat bintang itu? dia selalu bersinar indah ketika sedang menunggu untuk  dijatuhkan Tuhan. Dan kau tak bersabar atas semua ini, apakah kau tak malu? Kau tak perlu gelisah, karena kegelisahan tanda ketidakdewasaan. Andai aku bisa, akan aku paku ujung-ujung bumi ini. Lalu aku ikat kuat-kuat dengan simpul mati, agar waktu tak lagi berputar. Karena waktu menunggu memang melelahkan. Tapi, percayalah sayang. Hujan yang paling segar airnya adalah hujan yang turun setelah kemarau berkepanjangan. Besabarlah.       ...