Siapa juga yang ingin jadi bule, albino pula. Kalo bisa memilih, aku juga ingin dilahirkan normal seperti mereka, anak-anak brengsek itu. Kalau pun bule ya lahirnya di Eropa sanalah biar ga diejek, ga dibilang ga nasionalis. Kalo dipikir-pikir aneh memang, apa hubungannya coba nasionalis sama ke bule anku ini. Kalo kamu punya rambut pirang, mata biru, kulit putih bintik-bintik merah, terus ga bisa nasionalis sama negara, mba-mba dan mas-mas yang matanya sipit-sipit itu juga ga bisa berbakti sama bangsa dan negara, gitu? Usiaku kini enam belas tahun kelas tiga SMP, tidak ada yang aneh dari semua ini, ya kecuali kondisi albino dan ke- bule an ku ini yang membuatku menjadi bahan ejekan empuk oleh siapapun di manapun, kapanpun. Kaum minoritas memang selalu tertindas. “Le, kamu ngerayain tujuh belasan ga? Oh iya, bule mana tahu tujuh belasan, lagu Indonesia Raya aja pasti ga hafal, ha ha ha” seruan salah seorang teman sekolah, yang kemudian diiringi tawaan bahagi...
Silahkan Masuk, Anggap Saja Kamar Sendiri.