Langsung ke konten utama

MUSIK SCREAM

Cerita ini berawal saat gue pulang ke kampung halaman gue untuk berlebaran atau biasa yang disebut “mudik”.
Kampung gue berada di salah satu desa yang cukup terpencil di Jawa Tengah.
Iya terpencil, sampai sampai gue kadang kalau ke sana bawa perlengkapan yang cukup lengkap kaya kemeyan, wangi wangian sampai bunga tujuh rupa. Ini mau mudik apa mau nangkep setan.

Gue emang rutin buat mudik setiap tahunnya.
Dan nanti disusul sama mamah sehari setelah lebaran, mamah memilih mudik sedikit telat karena ingin menghindari kemacetan saat perjalalanan.
Bapa gue tinggal di sana, beliau memilih untuk tinggal di sana ketimbang sama kami (gue dan nyokap gue)  yang bertempat tinggal di Jakarta.
Beliau lebih memilih menjadi petani dari ladang sawah yang sudah menjadi harta warisan dari Eyang gue.

Beliau berpendapat kalau kehidupan desa yang asri, sejuk,dan ramah lebih nyaman ketimbang penatnya kehidupan di Ibu Kota.
Beliau juga mengatakan bahwa ladang itu bukan cuma sekedar sawah, tapi itu juga sebagai identitas sebuah kehidupan, setiap jengkalnya mengandung semangat dan kejujuran dari orang orang terdahulu, semangat yang hasilnya kita nikmati saat ini dan kadang kita sering lupa akan hal itu. Gue serasa berada di upacara kemerdekan saat Bapa cerita kaya gitu.

Saat itu gue masih tidur di kamar gue, tiba tiba ada suara “ Mas Teguh sceram Mas, scream, yeah... “
Bersamaan suara itu tercium juga bau yang aneh, gue sempet mikir kalo suara itu adalah suara kentutnya jin penunggu kamar gue, tapi kayanya ga mungkin.

Setelah ambil wudhu karena takut itu emang suara jin beneran akhirnya gue siuman dan gue baru sadar ternyata itu adalah suara si “Caos”, keponakan gue yang berumur 12 tahun dan duduk di kelas 6 SD. Nama aslinya Ismail Khomeini, tapi beberapa saudara memanggil dia “Caos” termasuk gue. Nanti gue ceritain kenapa dia dipanggil dengan nama itu.

“Iya ca, ada apaan”
“Scream mas scream, yeah..” jawab Caos kental dengan aksen Jawa nya.
”Scream kenapa?’’ Jawab gue setengah sadar.
“Scream mas scream, yeah..” sambil menata rambutnya mengarah ke atas dengan tangan kirinya sedangkan tangan kanannya digoyang goyangkan beserta kepalan telapak tangan dengan menyisakan kelingking dan jari manis yang diacungkan.

“Iya apa kenapa sama scream” jawab gue sambil ngotot dan gigitin busa kasur karena kesel, bersama itu pula gue baru sadar bau yang ga enak itu ternyata bau minyak angin yang di pake sama Caos.
”aku suka sama musik scream mas, aku udah mirip sama anak scream belum mas?’’ aksen Jawa Caos dengan kental.
“iya mirip, mirip anak scream yang nyasar ke Jawa, tapi kamu pake minyak angin ya? Bau nya nyengat banget gini”
“iya mas, biar panas.. hot mas anak scream mas “ jawab dia masih dengan aksen Jawa nya.

Bisa dibayanginkan gimana bingungnya gue saat itu, perasaan gue tadi tidur ga ngimpi apa apa, sebelum tidur juga udah baca doa trus minta restu sama Bapa semalem, utang utang gue juga perasaan udah gue lunasin sama temen temen gue.
Tapi kenapa gue didatengin sama Caos yang mendadak jadi aneh gitu.
Kejadian itu berakhir ketika si Caos pulang karena gue suruh dan gue juga mau on the way kamar mandi buat mandi.

Gue inget waktu pas hari lebaran kemarin, gue maen ke rumah Caos buat besilahturahmi. Kebetulan rumahnya pas banget di samping surau tua yang juga pas di depan rumah gue. Gue cukup menyebrang jalan setapak kurang lebih lebarnya dua meter dan  dipenuhi kerikil putih.

Waktu itu gue liat si Caos lagi di depan kaca lemari di kamarnya sambil nganguk ngangukin kepala sambil teriak teriak ga jelas, suaranya kaya orang kecekek.
Badannya digambar gambarin, pake spidol trus celananya di robek robek di bagian lutut dan tubuh kurusnya itu ga pakai baju ( gue hampir ngira kalo Caos itu adalah gembel yang sering ada di jalanan Jakarta)

“Kamu kenapa?” tanya gue
“Lagi latihan growl mas”
Growl adalah salah satu jenis suara yang digunakan pada musik scream.
“Kamu tahu Growl?” tanya gue lagi
“Iya mas, scream mas, scream yeah..“ jawab Caos dengan aksen Jawanya.

Tadinya gue kira dia kesurupan, soalnya di daerah itu menurut warga sering terjadi peristiwa yang dianggap kejadian kesurupan.
Kaya waktu itu, walaupun cukup lama tapi gue masih inget jelas. Tiba tiba Pa Endang yang menjabat sebagai ketua RT setempat, beliau mendadak teriak teriak tangannya nyakar nyakar tanah.

Ketika ditanya sama warga  beliau malah makin menjadi, nyakar nyakarnya makin kuat, ngendus ngendus trus berak di mana mana (yang bagian berak bercanda).
Beliau akhirnya bisa disadarkan oleh seorang ustad desa setelah sebelumnya Pa Endang minta dua ikan lumba lumba segar yang diyakini itu adalah permintaan dari sesuatu yang merasuknya, tapi permintaan itu ga bisa dipenuhin dan akhirnya setelah melaui negosiasi yang cukup alot permintaan itu digantiin sama dua ekor ayam kampung perawan yang udah digoreng krispi.

Untungnya Caos sedang dalam keadaan sadar.
Beserta ajakan gue yang mengajak Caos untuk makan bakso di depan gang pinggir jalan raya nanti malam beserta itu pula keadaan menjadi normal kembali.

Malam pun tiba, gue pergi untuk menjemput Caos dengan sepeda ontel kepunyaan Bapa untuk makan bakso dan memenuhi janji gue tadi siang.
Setibanya di warung bakso, setelah menyusuri jalanan yang masih berkerikil dan berbatu kita pun mendarat dengan percaya diri dan dengan rasa bekas suara bising pada telinga gue yang amat sangat, iya sepanjang perjalanan Caos ga bisa diem dia teriak teriak ga jelas, jelalatan susah banget diaturnya sampai sampai gue iket dia di bagian belakang sepeda.

Gue pun menyuruh Caos masuk untuk duduk menunggu sembari gue pesen bakso sama penjualnya.
Hingga tragedi itu pun terjadi, ternyata saat gue pesen bakso tanpa gue sadari si Caos dengan leluasanya sedang memakan semua saos yang ada di meja makan pedagang bakso tersebut. Ada yang yang langsung ditenggak dari botolnya, ada yang campur dengan air dingin kaya sirup, dan yang paling parah dia ngejilatin saos yang ada dipipi pelanggan bakso yang selesai makan.

Gue super malu dan saat itu juga gue pura pura jadi bakso trus masuk ke dandang bakso.
Tadi diperjalanan memang kita sempat berpapasan dengan kucing betina hitam, mungkin itu pertanda gue bakal apes. Entahlah, yang pasti gue cukup shock.
Itulah alasan kami memberi julukan untuk Ismail dengan nama Caos. Iya,,, karena begitu sukanya dia dengan saos.

Kebiasaan aneh itu mulai kita ketahui semenjak Caos (Ismail) berusia sekitar 7 bulan. Waktu itu ditengah malam jumat kliwon, Ismail menangis tak terkontrol. Nangis senangis nangisnya melebihin nangisnya seorang cewe yang diselingkuhin sama cowonya. Dikeadaan yang cukup gelap, Kita semua bingung disertai dingin khasnya angin desa dan di sebuah rumah sepetak yang waktu itu masih berdinding geribik.

Ditengah tengah bingungnya kita akhirnya kita sepakat untuk memanggil Pak Ustad berharap bisa mengatasi situasi kacau saat itu.
Setibanya  Pak Ustad, beliau langsung menyarankan agar kita menggorengkan dua ayam kampung perawan digoreng krispi, ternyata setelah diteliti Ustad tersebut adalah Ustad yang menangani kejadian kesurupan Pa Endang dulu. Gue juga ga tau kenapa bisa nyambung kaya cerita FTV gini.

Tapi tangisan Caos kecil tak kunjung reda, disela sela jerit tangis Caos tiba tiba terdengar suara aneh yang entah dari mana, suara itu menyuruh kami untuk menambahkan saos pada ayam krispi tersebut.

Benar saja sesaat adanya saos saat itu pula Caos seperti loncat dari pangkuan Ibundanya untuk menjlat saos yang telah kami siapkan padahal dia masih berusia tujuh bulan.
Semenjak kejadian itu, sampai sekarang Ismail sangat menyukai saos hingga akhirnya kita beri dia nama panggilan yaitu ‘’Caos’’.

Walaupun Kita sampai saat ini masih bertanya tanya darimana dan milik siapa suara yang tiba tiba menyuruh untuk menambahkan saos saat kejadian itu, tapi itu memang awal cerita si Ismail menjadi “Caos”.
Dan itu memang benar benar terjadi terserah kalian mau percaya atau tidak.

Setelah gue menceritakan sejarah si Caos. Kembali lagi ke cerita, saat di manah kita (Gue dan Caos) berada di warung bakso.

“Mas, kenapa kita makan bakso si?’’ Tanya Caos lengkap dengan aksen Jawa nya.
“Ya emang kenapa.. “ Jawab gue lirih sambil melihat tulus ke dalam mata Caos.
“Aku ga suka bakso mas, aku sukanya scream, scream mas, scream yeah...” Masih dengan aksen Jawanya dan dengan muka sedikit ngotot sambil menunjukan kepalan khas tangannya.
“Hemm,,, Iya mas tahu tapi Kamu tadi pake minyak angin lagi yah?’’ Tanya gue sambil sedikit ngendus.
“Iya mas, biar panas.. hot, scream mas scream” Jawab Caos masih dengan aksen Jawa.
Percakapan kami sebelum pesanan bakso benar benar disajikan buat kami.

Dan ketika kita selesai makan.
Gue mencoba mengajak ngobrol Caos kembali.
“Kamu suka banget sama musik Scream yah Ca?” Tanya gue setelah menyedot es teh manis yang hampir habis.
“Iya mas scream mas, aku suka Asking alexanderia, Saosin, Alessana mas tahu kan band band itu?”
“Iya mas tahu, tapi menurut mas kamu lebih baik belajar pelajaran sekolah dulu, trus yang rajin supaya pinter” Gue mencoba menasehati Caos.

“Emang salah mas kalo aku suka sama scream, kan keren mas scream“
“Bukan salah, tapi kamu belum waktunya nanti malah berpengaruh buruk buat kamu sendiri, percaya deh sama mas” Nasehat gue lagi buat Caos.
Gue bicara banyak sama dia begitu juga sebaliknya, dan dari situ pula gue baru tahu kesukaan Caos terhadap musik scream berawal karena dia suka pergi ke satu  satunya warnet di desa gue  setiap pulang sekolah.

Setelah melalui perdebatan yang panjang akhirnya Caos ngerti maksud gue dan dengan dibelikannya beberapa botol saos yang sudah dibentuk parcel, Caos pun berjanji akan lebih serius lagi sama sekolahnya, dan sedikit mengurangi hobinya terhadap musik scream, kemudian kami pun pulang.

Setelah gue mengantarkan Caos ke rumahnya dan pamit sama orang tuanya, gue pun pergi pulang ke rumah.
Setibanya di rumah, gue langsung beranjak ke kamar tentunya setelah gue cuci muka, gosok gigi dan pastinya ganti baju dan celana dalam.

Di atas tempat tidur gue masih memikirkan apa yang sebenarnya terjadi dengan Caos.
Kenapa dia bisa bisa jadi kaya gitu, perasaan gue waktu umur segitu yang terlalu ekstrim gitu, gue emang suka musik tapi yang normal normal kaya trio kwek kwek, Eno lerian dan yang lainnya.

Tapi engga dengan si Caos, dia menerima sesuatu yang belum saatnya dia terima, dia menyukai sesuatu yang tidak benar benar dia mengerti. Mungkin gue ga bisa sepenuhnya nyalahin Caos, dia cuma objek. Karena seharusnya yang paling penting mendidik dia dengan penuh adalah orang tuanya kemudian orang orang sekitarnya.
Gue pun sebagai saudara Caos yang bisa dibilang dekat pun sedikit merasa bersalah karena ga bisa sepenuhnya merhatiin Caos.


Hari pun berlalu, tiba saatnya gue berangkat lagi ke Jakarta untuk melanjutkan rutinitas gue seperti hari hari biasanya.
Gue pun berpamitan sama semua keluarga gue di sana.
Dan ketika gue mau bener bener pergi tiba Caos mendekati gue.

“Mas Teguh, hati hati yah.. “ Dengan senyuman khas Caos dan aksen Jawa khas nya pula.
“Iya pasti Ca, makasih ya. Ini ada buku biografinya Mick Jagger dari mas buat kamu, kamu baca yah” Gue emang suka bawa buku saat perjalanan untuk mengusir rasa bosan dengan membacanya.

“Oh,,, vokalis rolling stones itu ya mas, makasih ya mas’’ Raut wajah Caos berseri seri.
“Iya sama sama, dibaca ya trus jangan lupa yang rajin belajarnya biar ranking nanti kalo ranking mas beliin buku lagi trus sama CD-nya Bring Me The Horizon” Sambil mengusap usap rambut Caos.
”Scream ya mas, iya mas aku janji buat rajin belajar, ini minyak angin dari aku buat mas buat kenang kenangan” Aksen Jawa Caos yang sembari memasukan minyak anginnya ke saku celana jeans gue.

Akhirnya gue pun bener bener pergi untuk menuju Jakarta dan dengan disertai harapan kalo keponakan gue Ismail Khomeini alias Caos bisa jadi anak yang lebih baik lagi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review Novel Jakarta Sebelum Pagi by Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

Sebelum memulai ke pertunjukan utama anggap saja ini sajian pembuka, seperti band pembuka di sebuah konser akbar. Ada beberapa hal yang menurut saya (sebagai pembaca) mengganjal dalam hati mengenai novel ini (selain covernya yang sedikit mirip dengan novel i'll give u the sun) Yang pertama adalah, beberapa hal yang menurut saya harusnya dipersingkat, dengan arti lain adalah beberapa bagian novel ini mempunyai informasi yang diulang-ulang, walaupun tidak membosankan, tetapi demi menghemat kertas, biaya produksi, dan tingkat kebosanan pembaca harusnya bisa dipersingkat saja. Misalnya dalam penjelasan mengenai teh. Percakapan yang berkaitan tentang teh beberapa bagian diulang-ulang, walaupun dengan kalimat yang berbeda tetapi saya merasa itu mempunyai informasi yang sama. Karena jika penulis ingin menjadikan ‘teh’ sebagai sarana pengantar cerita saya rasa porsi dalam novel tersebut bisa dipangkas lagi, toh beberapa bagian hanya berisikan informasi yang mungkin ingin menunju...

Mengulik Makna Dari Lagu 'Merah' Efek Rumah Kaca

Eka kurniawan dalam sebuah jurnal onlinenya pernah menerbitkan sebuah cerpen tentang sebuah perlawanan, inti dari cerpen tersebut adalah tentang sebuah pemuda (mahasiswa) yang ingin melakukan sebuah aksi (perlawanan) untuk menjatuhkan sebuah kekuasaan (rezim) yang menurutnya sudah tidak pantas lagi untuk berkuasa. Cerita itu berakhir tragis dengan tokoh utama yang tiba-tiba hilang tak tahu ke mana, entah mati atau hidup. Menghilang tiba-tiba. Dalam sejarah Indonesia sendiri, sebuah perlawanan sudah mondar-mandir dicacat oleh tinta sejarah. Peristiwa orang Surabaya yang membunuh jendral Mallaby dan kemudian berimbas pada pertempuran tiga hari tiga malam di kota tersebut hingga kemudian hari tersebut ditetapkan sebagai hari pahlawan oleh Ir Soekarno guna menghargai mereka-mereka yang sudah gugur, misalnya. Atau perebutan Irian Barat dengan Belanda. Bahkan kemerdekaan bangsa Indonesia tak lain dan tak bukan adalah buah dari sebuah perlawanan. Perlawanan tak hanya dilakukan dengan...

Catatan Banjir Jakarta Februari 2017

Hujan turun sejak jam tiga dini hari (21 februari 2017), jam setengah empat pelataran rumah sudah terlihat genangan air, jam empat lebih air mulai menaiki tangga-tangga rumah. Kira-kira pas adzan subuh atau sekitar jam lima pagi air mulai masuk ke rumah-rumah warga. Beberapa orang sudah berada di depan rumah masing-masing berjaga, ada juga yang menggedor-gedor tetangga, khawatir masih ada orang yang belum bangun. Sekitar jam setengah enam sampai jam tujuh pagi air sudah benar-benar menguasi seisi rumah. Sementara sebelumnya, warga sudah mengamankan benda-benda yang mereka anggap penting. Benda elektronik, kulkas, mesin cuci, kompor. Surat-surat tanah, pakaian, atau hal yang kira-kira bisa rusak terkena banjir. Termasuk motor yang diungsikan dengan cara bergotong-royong mengangkat secara bergantian. Jam enam sampai jam tujuh hujan bisa dikatakan sedang lebat-lebatnya, langit masih gelap tidak seperti biasanya, barang-barang sudah naik ke singgahsana yang lebih tinggi. Banjir ka...