Hujan turun
sejak jam tiga dini hari (21 februari 2017), jam setengah empat pelataran rumah
sudah terlihat genangan air, jam empat lebih air mulai menaiki tangga-tangga
rumah. Kira-kira pas adzan subuh atau sekitar jam lima pagi air mulai masuk ke
rumah-rumah warga. Beberapa orang sudah berada di depan rumah masing-masing
berjaga, ada juga yang menggedor-gedor tetangga, khawatir masih ada orang yang
belum bangun.
Sekitar jam
setengah enam sampai jam tujuh pagi air sudah benar-benar menguasi seisi rumah.
Sementara sebelumnya, warga sudah mengamankan benda-benda yang mereka anggap
penting. Benda elektronik, kulkas, mesin cuci, kompor. Surat-surat tanah,
pakaian, atau hal yang kira-kira bisa rusak terkena banjir. Termasuk motor yang
diungsikan dengan cara bergotong-royong mengangkat secara bergantian.
Jam enam
sampai jam tujuh hujan bisa dikatakan sedang lebat-lebatnya, langit masih gelap
tidak seperti biasanya, barang-barang sudah naik ke singgahsana yang lebih
tinggi. Banjir kali ini memang lebih parah dari banjir tahun 2007 sebelumnya,
kata warga sekitar ini banjir yang kurang lebih sama sejak tahun itu. Pada jam-jam
itu bantuan dari kelurahan datang sebuah miniboot dengan satu orang sebagai
operator, menawari warga untuk diungsikan ke tempat yang lebih tinggi. Kebetulan
di tempat saya ada dua orang lansia dan satu bayi yang baru berusia beberapa
bulan. Kemudian mereka diungsikan ke keluarahan, di sana juga sudah kumpul
beberapa warga yang sudah datang lebih awal.
Tidak ada
korban jiwa dari banjir kali ini, mungkin hanya beberapa springbed dan benda-benda
remeh temeh yang bisa dibeli dikemudian hari asalkan sang pemilik masih
mempunyai uang.
Hujan masih
turun sampai jam sembilan pagi walaupun intesitas air mulai berkurang namun
ketinggian air nampaknya enggan untuk surut. Warga mulai keluar dan anak-anak
terlihat lebih senang dari biasanya. Beberapa warga masih sibuk mengatur-ngatur
perabotan yang diamankan ke tempat yang lebih tinggi tadi.
Sekitar jam
dua belas siang air sudah benar-benar surut, warga membersihkan sisa-sia lumpur
yang mampir ke lantai rumah mereka, sampah-sampah juga mulai berserakan di
halaman masing-masing rumah, warga mulai kembali membenahi perabotan mereka,
motor-motor mulai dibawa pulang untuk dihidupkan walau beberapa ada yang mati
total karena kadung kerendam banjir, memeriksa benda-benda lektronik apakah
masih berfungsi atau ada yang rusak terkena air banjir.
Jam dua
hingga jam empat sore matahari mulai muncul, kasur dan beberapa barang basah
lainnya terlihat dipelataran rumah untuk dikeringkan berharap dari sinar
matahari, warga sibuk dengan keadaan rumahnya masing-masing.
Jam tujuh
atau selepas isya warga sedikit sekali yang tampak di luar rumahnya, kebanyakan
mereka memilih tidur di dalam rumah mengistirahatkan tubuh. Hingga malam tidak
ada suatu kondisi yang serius. Kehidupan mulai normal kembali keesokan harinya.
Sebagai catatan,
banjir kali ini memang bukan untuk warga Ibu kota saja. Banjir diberitakan
menggenangi sejumlah wilayah antara lain bekasi, karawang hingga luar kota ke
Jawa. Walaupun tidak semua daerah tersebut terkena banjir, hanya
wilayah-wilayah yang memang berada lebih rendah dari wilayah sekitarnya atau
yang tidak mempunyai saluran drenase yang memadai.
Seperti Jakarta
misalnya, wilayah yang paling parah terkena dampak banjir adalah wilayah
kampung melayu, Jakarta Timur. Daerah tersebut memang dikenal sebagai wilayah
rawan banjir. Tempat tinggal saya (Buaran) kurang lebih berjarak dua puluh kilo
dari Kampung Melayu, tetapi memang curang hujan kali ini begitu tinggi hingga
mengakibatkan banjir yang saya ceritakan di atas. Itu pun hanya sebagian daerah
yang terkena banjir, di bagian atas atau di daerah timur Buaran, banjir
sepertinya tidak menggenangi karena daerah itu memang lebih tinggi.
Banjir memang
datang tanpa diduga, tetapi beberapa warga mengatakan bahwa banjir kali ini
lebih cepat surutnya ketimbang banjir yang terjadi beberapa tahun lampau. Warga
mengatakan dulu bisa sampai malam, sekarang kurang lebih hanya sekitar dua jam
dari berhentinya hujan. Saya tidak tahu hitung-hitungannya, jumlah kubik air
yang turun, intensitas hujan, daerah resapan, atau hal-hal lainnya yang bisa
mempengaruhi perbedaan cepat surutnya banjir kali ini. Tetapi, tentu saja ini
hal baik jika memang terbukti banjir cepat surut karena telah terjadi perubahan
yang lebih baik. Tinggal menunggu bagaimana pemerintah Ibu kota menangani
banjir, hingga banjir tidak ada lagi, warga bisa hidup dengan tenang tanpa
punya rasa takut kulkasnya rusak terkena air banjir. Atau yang lebih parah
nenek atau anak balitanya terseret arus banjir.
gb diambil sekitar pukul tujuh pagi
Komentar
Posting Komentar