REMAJA, CINTA DAN TUHAN
Aku beranjak dari lamunan ku saat sore.
Melihat langit yang sudah berwarna gelap, disertai angin yang sedikit
mendinginkan kulit leher.
Aku bisa merasakanmu.
Aku mencoba memanjat pohon yang ada dihadapanku, dan
saat aku merasa sakit karena telapak tanganku yang sedikit lecet aku baru sadar
jika aku butuh Kau, tak mungkin bisa tanpa Kau.
Aku berlari, menuju keinginanku, tanpa disadari
sebenarnya tujuan satu satunya diriku adalah Kau.
Maaf, aku terlalu sibuk meludah dan memaki nasib yang Kau buat, atau mungkin aku sendirilah yang sebenarnya membuat kekacauan ini, hemm..
Maaf, aku terlalu sibuk meludah dan memaki nasib yang Kau buat, atau mungkin aku sendirilah yang sebenarnya membuat kekacauan ini, hemm..
Sementara Kau memperhatikanku, lagi lagi aku terlalu
sibuk, kali ini aku sedang menikmati “MASA MUDAKU”
Menyentuh, berbohong, beradu hasrat, seakan akan lupa jika ini akan berbuah
sesuatu yang mungkin akan merugikan ku kelak.
Aku berenang bersama kesenanganku, meminum anggur
yang harusnya aku tunggu dulu hingga benar benar nikmat untuk diminum, tapi
keegoisanku tak mau berdiskusi.
Aku tahu, bahwa Kau maha tahu, dan aku tahu pula
jika kadang aku melupakannya.
Aku tahu, Kau maha cinta, pemberi cinta dan seharusnya aku menjadi cermin untuk cintaMu.
Aku tahu, Kau maha cinta, pemberi cinta dan seharusnya aku menjadi cermin untuk cintaMu.
Tapi,,, Cintaku kadang hanya untuk kerikil yang berbungkus lapisan mutiara dan yang lebih parahnya aku kadang tidak bisa membedakan kedua benda itu.
Harusnya cinta ku hanya untuk Kau, karena Kau sang
Maha Cinta yang memberi rasa cinta pada semua hayati di muka bumi.
Cinta yang Kau punya jauh lebih banyak dan amat sangat melimpah kasih sayangnya bukan?
Tapi kenapa aku kadang melupakannya, ruginya aku...
Sekarang, boleh aku untuk menyesalinya?
Wahai, Dzat sumber Cinta, jika engkau mengijinkan.
Ijinkan aku untuk mencintaimu lebih dekat.
Wahai, Dzat sumber Cinta, jika engkau mengijinkan.
Ijinkan aku untuk mencintaimu lebih dekat.
MemelukMu, seperti saat Engkau memelukKu saat aku jatuh dalam lumpur.
Mencintaimu lebih dari sebelumnya, lebih dari apapun.
Lebih mencintaimu ketimbang mencintai seseorang yang cintanya ternyata hanya menghilangkan rasa cintaku untukMu.
Ijinkan aku, Aku mohon.
Amiin..
Puisi ini gue tulis, ga bermaksud apa
apa, cuma mungkin saat ini gue lagi kurang mood aja.
Mungkin juga lagi jenuh sama keadaan, atau juga terlalu mendramatisir keadaan.
Mungkin juga lagi jenuh sama keadaan, atau juga terlalu mendramatisir keadaan.
Tapi, jauh dalam lubuk hati gue, gue
pengen banget lebih deket dengan Sang Maha Cinta yang udah gue ceritaiin di
atas. Dan gue rasa semua orang juga pengen itu.
Semoga bersama tulisan gue ini, semua
anak muda di muka bumi ini khususnya gue menjadi anak muda yang bisa lebih
mencintai Sang Maha Cinta. Lebih merasakan cintaNya, menjadi anak muda yang
lebih optimis, lebih semangat, ga selalu nyalahin keadaan dan pastinya selalu
ceria terhadap lingkungannya.
Amiin ya Rabb...
.jpg)
Komentar
Posting Komentar