Sebelum
memulai ke pertunjukan utama anggap saja ini sajian pembuka, seperti band
pembuka di sebuah konser akbar.
Ada beberapa hal yang menurut saya (sebagai pembaca) mengganjal dalam hati mengenai
novel ini (selain covernya yang sedikit mirip dengan novel i'll give u the sun)
Yang pertama
adalah, beberapa hal yang menurut saya harusnya dipersingkat, dengan arti lain
adalah beberapa bagian novel ini mempunyai informasi yang diulang-ulang,
walaupun tidak membosankan, tetapi demi menghemat kertas, biaya produksi, dan
tingkat kebosanan pembaca harusnya bisa dipersingkat saja. Misalnya dalam penjelasan
mengenai teh.
Percakapan
yang berkaitan tentang teh beberapa bagian diulang-ulang, walaupun dengan
kalimat yang berbeda tetapi saya merasa itu mempunyai informasi yang sama.
Karena jika penulis ingin menjadikan ‘teh’ sebagai sarana pengantar cerita saya
rasa porsi dalam novel tersebut bisa dipangkas lagi, toh beberapa bagian hanya
berisikan informasi yang mungkin ingin menunjukan penulis bahwa dia tahu banyak
hal tentang teh atau dia adalah duta teh internasional. Kidding.
Yang kedua,
kemampuan penulis dalam mengeksplore karakter terbilang bagus. Tokoh utamanya
begitu matang, cara dia berekspresi, kebiasaannya, intinya penulis telah sukses
membuat satu nyawa yang tercipta oleh pembaca (khususnya saya). Tapi, saya menilai mungkin novel ini
baiknya hanya dijadikan sebuah cerpen saja, banyak hal yang menurut saya tidak
berkepentingan dalam cerita, seperti yang saya bilang di awal beberapa
informasi yang diulang-ulang. Mungkin jika dijadikan sebuah cerpen atau buku
yang lebih tipis pembaca akan cepat merampungkan bacaannya ini dan berminat
untuk membaca karya sang penulis yang lainnya (walau dengan kondisi saat ini pun
saya ketagihan dengan karya yang lainnya dari Ziggy)
Ketiga, Saya
sedikit kecewa dengan... (sebelumnya saat meminta maaf jika ada beberapa bagian
yang terkesan spoiler, tetapi percayalah, saat kalian tahu inti ceritanya pun
kalian tak akan merasa rugi saat membaca novel ini) kecewa dengan penjelasan
‘kekasih’ Pak Meener yang hidup dengan mesin selama berpuluh-puluh tahun.
Yang membuat kecewa adalah penulis tidak menjelaskan (setidaknya) bagian-bagian
yang bisa membuat pembaca mengerti bahwa manusia bisa hidup dengan bantuan
mesin selama berpuluh-puluh tahun, dan hanya dirawat oleh seorang kakek-kakek.
Padahal, saat awal penulis begitu detail dalam menterjemahkan beberapa hal,
seperti perang, suasana Jakarta, ekspresi, dsb. Tetapi kenapa saat hampir di ending penulis seakan-akan menyudahi
peristiwa yang menurut saya penting itu dengan terburu-buru. Ini lebih ke
logika, sih. Saya hanya sedikit aneh saja, walaupun jika seandainya dijelaskan
dengan rinci novel ini mungkin tidak jadi novel romance asik seperti ini, mungkin akan jadi majalah otomotif karena terlalu
membahas tentang mesin.
***
Anggap saja
tadi sebagai hidangan yang tak penting (yang dimakan atau tidak, tidak ada
ruginya sama sekali). Kita masuk ke inti acaranya, saatnya menampilkan bintang
tamu: hal yang harusnya membuat orang membaca novel asik ini.
Novel ini bercerita
tentang seorang gadis yang tiba-tiba dikirimi sesuatu yang menurutnya aneh,
pertama-tama bunga dengan balon-balon, hingga kemudian surat-surat yang
sedikitpun dia tidak mengerti apa dan siapa yang mengirimkan surat tersebut.
Secara garis beras saya menilai konsep cerita ini hampir mirip dengan buku
filsafat Dunia Sophie karya Jostein Gaarder.
Tokoh
utamannya bernama Emina, seorang gadis berusia dua puluh lima yang
digambarkan sangat aktif dan begitu
terbuka dengan orang lain. Emina memperoleh kiriman-kiriman tersebut yang
kemudian mengantarkan dia ke salah seorang gadis SD yang bernama Suki, kemudian
dari Suki, bertemulah Emina dengan tokoh berikutnya yaitu Abel. Seseorang yang
memang adalah pengirim benda-benda tersebut korban perang yang mengidap
ketakutan berlebih terhadap suara dan sentuhan.
Cerita
berlanjut, surat-surat yang dikirimkan Abel terhadap Emina ternyata bukan
tulisannya, ia hanya mengirimkan. Surat-surat tersebut ia dapat dari buku
kakeknya, hingga Emina mempunyai usulan untuk menyelidiki siapa penerima
surat-surat itu, surat-surat itu menunjukan kota Jakarta tempo dulu. Dalam
cerita tersebut, kita seakan-akan diajak berkeliling jakarta di masa lampau,
penulis berhasil membuat pembaca membanyangkan bagaimana suasan Jakarta yang
lalu, tentang kanal Molrnvliet, jembatan
juliana, Nillmij, sejarah asuransi Jiwasraya, yang membuat saya akhirnya
terus menurus membuka laman wikipedia saat membaca novel ini. Bagus. Ziggy mengajak
kita melihat Jakarta yang sebelum seperti sekarang ini.
Dari
surat-surat tersebut hingga akhirnya Emin dan Abel menemukan sebuah kenyataan
yang menurut saya bagus tapi terlalu dipaksa : manusia mesin. Untuk lebih
jelasnya mungkin kalian sebaiknya membaca novel ini saja.
Selain
tentang Jakarta tempo dulu, penulis
juga menuliskan beberapa kritikannya terhadap kehidupan di Jakarta saat ini,
saya tidak tahu apakah penulis memang warga asli Jakarta atau bukan, tetapi
penulis menceritakannya dengan begitu pas. Saat bagian awal novel ini,
misalnya. Penulis menggambarkan kehidupan warga Jakarta seperti masakan babi. Yan pin dan beberapa jenis masakan
olahan babi lain, yang menurut saya ini adalah satire untuk kondisi warga
Jakarta yang benar-benar tepat sekali. Berkesibukan tanpa henti.
Selain itu,
penulis juga menuangkan kegelisahannya tentang kehidupan anak muda atau
seseorang yang sepertinya dikejar-kejar oleh masa depan, penulis seakan-akan
mengajak semua orang untuk melakukan setidaknya apa yang mereka sukai sebelum
mereka terlambat, jangan terus-menerus mengejar atau dikejar sesuatu yang
kalian sendiri kurang pahami, berikut tulisan aslinya :
Bukannya aku tahu mau kerja di mana,
dan sebagai apa. Aku melanjutkan sekolah, dan diburu-buru selesai; lalu
setelahnya, diburu-buru kerja. Setelah masuk kerja, merasa tersesat karena ini bukan pekerjaan yang kuinginkan. Tapi, kalau aku mau berhenti sebentar untuk
memikirkan apa yang aku inginkan, orang-orang akan berlari melewatiku dan
bersikap meremehkan. Nggak menyadari bahwa mereka hanya anggota dari kelompok
orang-orang yang nggak berpikir. (hal 117)
Ini bagi saya
menginspirasi sekali, kadang kita seakan-akan mengejar sesuatu yang kita anggap
itu adalah sumber atau jalan untuk kebahagiaan hingga kita lupa dengan diri
kita, apa yang kita senangi, dan hal-hal yang sebenarnya memang kita butuhkan
untuk kebahagiaan kita sendiri. Kita terlalu ambisius, tidak menikmati hidup
yang semua orang tahu hanya satu kali.
Kemudian
penulis juga menyindir orang-orang yang tidak respect dengan sejarah, saat itu
Emina (tokoh utama) harus mengunjungi sebuah musuem yang ternyata adalah
pemakaman orang-orang terdahulu. Penulis seperti mengingatkan sebagai seorang
manusia sudah sepantasnya kita mempunyai rasa simpati terhadap orang-orang yang
mendahului kita, saya membayangkan penulis mengajak kita menghormati jasa para
pahlawan, yang sekarang kita tahu wajah pahlawan kini hanya sebagai syarat
gambar pada mata uang, jarang sekali orang yang benar-benar tahu bagaimana
riwayatnya, tentang perjuangannyam tentang dia menghadapi kesulitan-kesulitan
yang berhasil ia lalui. Sebuah sindiran yang halus namun berat seperti biji
timah, mungkin.
Selain itu,
ada sebuah karakter yang membuat saya menilai novel ini adalah sebuah novel
yang patut dibaca, dia adalah Suki. Perempuan peracik teh yang menurut saya dia
adalah seorang bocah nihilism.
(Singkirkan
dulu kejanggalan tentang bocah kecil yang terlalu jenius).
Sebagai bocah
dua belas tahun dia sudah menerima kenyatan bahwa keluarganya tidak harmonis,
ayah dan ibunya berpisah dan kemudian bercerai, dan ditambah dia dijadikan
kakaknya untuk ikut mengurusi kafe atau kedai teh miliknya, tapi seolah-olah
dia menerima semua itu, menganggap semua itu adalah kejadian yang, ya memang
harus terjadi. Begitu tegar, cool dan tentu saja cerdas, bahkan akhir cerita
juga Suki lah sebagai tokoh lilin penerangnya.
Dialog yang
masih terngiang tentang Suki adalah sebagai berikut :
“Gimana hari pertama sekolah? Depressing?”
--- Emina bertannya
“Biasa aja,” Suki
Nihilism
sekali, bocah yang menganggap sesuatu dengan *ya udah mau diapain lagi*
Untuk
keseluruhan, novel ini berhasil menghibur dan cukup memberikan inspirasi kepada
pembaca, dan saya berharap menemukan karya penulis yang lebih memberi hentakan,
mungkin novel terbarunya yang baru saja terbit : Semua Ikan di Langit.
sumber gb : mfoto sendiri
Komentar
Posting Komentar