Seorang teman kuliah pernah bercerita bahwa setelah lulus nanti ia berharap bisa bekerja di sebuah perusahaan kontraktor, menjadi orang lapangan dengan tampilan maskulin dengan rambut gondrong dan sepatu kulit yang harganya di atas satu juta. Beberapa teman kerja juga tak sedikit yang ingin menjadi seorang petani saja. Lari dari hingar bingar suara mesin industri dan memilih meenggunakan lahan untuk bertahan hidup. Jika otakku adalah sebuah bank, mungkin ia akan menjadi sebuah bank harapan. Karena hampir di semua waktu dan tempat aku selalu melihat dan menemukan harapan-harapan itu seperti laron yang hinggap di lampu neon. Ada banyak hal menarik tentang harapan, tetapi aku akan menceritakan beberapa hal lain terlebih dahulu. Dua puluh lima tahun adalah jumlah angka tak sedikit jika dilihat untuk ukuran usia, seperti hal-hal baik waktu rasa-rasanya begitu cepat sekali berlalu. Dan pertanyaan yang berputar-putar seharian ini di dalam kepalaku adalah “kau telah melakukan ...
Silahkan Masuk, Anggap Saja Kamar Sendiri.