Langsung ke konten utama

PUISI UNTUK PUTRI

Waktu memang begitu cepat berlalu, walaupun engga secepat cewe bilang putus sama cowonya karena dia udah bosen. Tapi, emang waktu cepet banget berlau.
Kayanya baru kemaren rambut kita disisirin sama ibu kita masing masing, karena basah sehabis mandi. Kayanya baru kemaren pas kita beli anak ayam sama abang abang depan SD tapi pas paginya tiba tiba udah mati.

Rasanya baru kemaren kita engga bisa tidur karena takut besok akan ada ulangan sekolah dan kita belum menguasai materinya saat SMP atau SMA. Rasanya kemarin... kemarin... ini itu, semuanya baru aja terjadi. Sekarang  semuanya udah berubah, sedih  senang, tawa tangis dan masih banyak lagi hal yang baru, yang dulu ga kita rasain sekarang kita rasain. Walaupun ga mungkin, rasanya kadang kita ingin balik lagi dikehidupan kita yang dulu. Yang penuh dengan rasa bebas tanpa ada tekanan seperti sekarang, huhhhhh (tarik nafas panjang).

Kenapa jadi dramatisir gini ( he he he), wake up guys !!! ”Ga semuanya yang kita alamin sekarang itu keadaan yang buruk kan ?!!”
“Ada juga hal yang baik, dan mungkin lebih baik dari keadaan kita kemarin, ya kan?”
Tapi emang, yang namanya kenangan walaupun terjadinya lampau, terkadang masih aja terbayang bayang dikehidupan kita sekarang.

Seperti kenangan gue sama Putri, cinta monyet gue dulu pas lagi SMP. Walaupun cuma cinta monyet, tapi momen momennya kadang masih gue inget sampe sekarang.
Gue masih inget gimana hal hal lucu yang terjadi saat cinta monyet itu, saat kita ( gue sama Putri) duduk sebangku sambil ngobrol saat pelajaran sekolah berlangsung dan saking asiknya tanpa kita sadari sang guru ternyata sudah berada di belakang kita sambil menguping sedari tadi.

Atau saat kita iseng ngumpetin kaca mata salah satu guru yang mempunyai penghilatan yang buruk dan kita mengubah nilai tugas kita bersama teman satu kelas saat itu pula. Atau yang lebih parah saat kita ngasih kue sama guru gue yang killer padahal kuenya udah kadarluarsa.

Dan masih banyak hal hal konyol lainya yang kadang kalo diinget bikin senyum senyum sendiri.

Tapi itu Cuma kenangan, iya kenangan yang ga mungkin buat terjadi lagi. Dan sekarang gue juga sama sekali udah lost contact sama Putri. Terakhir gue datengin rumahnya ternyata dia udah pindah sama semua anggota keluarganya.
Gue ga tau dia di mana, sekarang bagaimana kabarnya. Masih inget ga sama kenangan kenangan kita dulu. Kadang gue pengen lapor polisi biar bisa bantu cari. Tapi Putri kan bukan “anak ilang”. Tapi jujur saat ini gue pengen banget ketemu dia.

Kalo dia baca tulisan gue ini satu kalimat yang pengen gue ungkapin ke dia.
Abang kangen !!!”
Untuk setidaknya mengobati rasa kangen gue, gue nyoba bikin puisi buat dia.



PUTRI

Seperti itik yang meretas, kau pun datang memecah sepi.
Dan saat itu aku sedang menjadi induk itik yang sedang berenang di pinggir danau yang berwarna emas.
“Dan kita sempat berenang bersama di situ bukan?”

Seperti tulisan tangan yang kadang tak jelas, tapi kau menjadi papan yang sangat bening. Bening dan beraroma wangi.
Sampai saat ini kadang aku masih mencium aroma mu.

Aku rindu kau !!! biar ku ulangi agar lebih kau dengar aku merindukanmu.
Seperti rindu lebah akan manisnya putik bunga, walaupun aku tak bersayap seperti lebah tapi aku tetap merindukanmu.

Aku ingin menemuimu, berbincang bergenggam jari jemari di sore saat matahari sudah lelah dan ditemani cahaya jingga-Nya.

Aku ingin menatap matamu dengan lama tanpa jarak dan tanpa ada peganggu walaupun itu seekor lalat buah.

Aku ingin memberimu pelukan, pelukan hangat, hangat seperti ganggang cangkir kopi di pagi hari.
Aku ingin menjadikan tubuhku sandaran yang nyaman untuk mu, senyaman sandaran musafir pada ontanya.

“Indah bukan?”

Tapi kau tiba tiba pergi, melampaui jangkauan ku, merayap menjauhi penglihatanku.
Memberi jarak pada kehausan ini.

Kau berlari bersama merak yang sedang melebarkan ekornya.
Kau terbang bersama bulu angsa dari Wisnu, sedangkan paruhnya kau titipkan kepadaku.

Kau menjadi daun pohon jati, dan keadaan menjadi musim gugur.
Semua menjadi lukisan abstrak dalam dua pupil mataku.

Mungkin aku harus membuat api dan memanaskan rindu ini agak melebur.
Tapi...
Sudahlah,

Aku merindukanmu.
Sungguh.

Walaupun tak seindah sajak Rumi.
Tapi aku benar benar merindukanmu.
“Tak masalah bukan?”

TEGUH IRAWAN
14-9-2014

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review Novel Jakarta Sebelum Pagi by Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

Sebelum memulai ke pertunjukan utama anggap saja ini sajian pembuka, seperti band pembuka di sebuah konser akbar. Ada beberapa hal yang menurut saya (sebagai pembaca) mengganjal dalam hati mengenai novel ini (selain covernya yang sedikit mirip dengan novel i'll give u the sun) Yang pertama adalah, beberapa hal yang menurut saya harusnya dipersingkat, dengan arti lain adalah beberapa bagian novel ini mempunyai informasi yang diulang-ulang, walaupun tidak membosankan, tetapi demi menghemat kertas, biaya produksi, dan tingkat kebosanan pembaca harusnya bisa dipersingkat saja. Misalnya dalam penjelasan mengenai teh. Percakapan yang berkaitan tentang teh beberapa bagian diulang-ulang, walaupun dengan kalimat yang berbeda tetapi saya merasa itu mempunyai informasi yang sama. Karena jika penulis ingin menjadikan ‘teh’ sebagai sarana pengantar cerita saya rasa porsi dalam novel tersebut bisa dipangkas lagi, toh beberapa bagian hanya berisikan informasi yang mungkin ingin menunju...

Mengulik Makna Dari Lagu 'Merah' Efek Rumah Kaca

Eka kurniawan dalam sebuah jurnal onlinenya pernah menerbitkan sebuah cerpen tentang sebuah perlawanan, inti dari cerpen tersebut adalah tentang sebuah pemuda (mahasiswa) yang ingin melakukan sebuah aksi (perlawanan) untuk menjatuhkan sebuah kekuasaan (rezim) yang menurutnya sudah tidak pantas lagi untuk berkuasa. Cerita itu berakhir tragis dengan tokoh utama yang tiba-tiba hilang tak tahu ke mana, entah mati atau hidup. Menghilang tiba-tiba. Dalam sejarah Indonesia sendiri, sebuah perlawanan sudah mondar-mandir dicacat oleh tinta sejarah. Peristiwa orang Surabaya yang membunuh jendral Mallaby dan kemudian berimbas pada pertempuran tiga hari tiga malam di kota tersebut hingga kemudian hari tersebut ditetapkan sebagai hari pahlawan oleh Ir Soekarno guna menghargai mereka-mereka yang sudah gugur, misalnya. Atau perebutan Irian Barat dengan Belanda. Bahkan kemerdekaan bangsa Indonesia tak lain dan tak bukan adalah buah dari sebuah perlawanan. Perlawanan tak hanya dilakukan dengan...

Catatan Banjir Jakarta Februari 2017

Hujan turun sejak jam tiga dini hari (21 februari 2017), jam setengah empat pelataran rumah sudah terlihat genangan air, jam empat lebih air mulai menaiki tangga-tangga rumah. Kira-kira pas adzan subuh atau sekitar jam lima pagi air mulai masuk ke rumah-rumah warga. Beberapa orang sudah berada di depan rumah masing-masing berjaga, ada juga yang menggedor-gedor tetangga, khawatir masih ada orang yang belum bangun. Sekitar jam setengah enam sampai jam tujuh pagi air sudah benar-benar menguasi seisi rumah. Sementara sebelumnya, warga sudah mengamankan benda-benda yang mereka anggap penting. Benda elektronik, kulkas, mesin cuci, kompor. Surat-surat tanah, pakaian, atau hal yang kira-kira bisa rusak terkena banjir. Termasuk motor yang diungsikan dengan cara bergotong-royong mengangkat secara bergantian. Jam enam sampai jam tujuh hujan bisa dikatakan sedang lebat-lebatnya, langit masih gelap tidak seperti biasanya, barang-barang sudah naik ke singgahsana yang lebih tinggi. Banjir ka...