Langsung ke konten utama

Satu Menit Saja

Apa yang bisa kau lakukan dengan handphone yang layarnya seukuran dengan kaca spion sebuah mobil.
Kau mungkin akan menghubungi beberapa kerabat, teman, atau kolega melalui pesan pendek.
Atau kau lebih suka membuka beberapa situs portal berita guna mengetahui perkembangan negara saat ini, walaupun sebenarnya itu sama sekali tak berguna sedikitpun.

Disaat seperti ini mungkin botol air mineral bekas lebih berguna dari pada apapun. Pandanganku sudah mulai sedikit rabun, lampu-lampu mobil yang bergerak cepat terlihat seperti kunang-kunang yang mempunyai beribu sayap. Kunang-kunang yang mempunyai mesin, kunang-kunang yang diciptakan dari manusia untuk memudahkan urusan mereka sendiri tapi malah membuat mereka cepat merasa bosan.

Oh ya, plastik bekas.
Opsi yang cukup masuk akal, hanya saja memilih plastik bekas sama saja kau memilih minum air saat kau lapar, perutmu memang terisi, tapi air tak bisa membuatmu keyang sama sekali, singkatnya: kau cuma kembung.
Plastik memang banyak gunanya, mereka diciptakan mungkin saat para manusia megalitikum-neolitikun sudah mulai merencanakan masa depannya, merencanakan kebutuhan dapurnya masing-masing. Merasa khawatir akan hari esok, padahal hari esok belum tentu ada. Bisa saja hari ini adalah hari terakh--- ah sudahlah, kita fokus dengan tujuan awal.

Sampai mana kita tadi.

Sialan, pikiranku juga sudah tidak bisa mengingat hal detail lagi.
Sebentar ku mengganti posisi duduk dulu. Ah, begini lebih baik.
Kita lanjutkan lagi.
Sudah hampir dua jam ku tersiksa dengan keadaan ini dan sepertinya ku harus melakukan sebuah tindakan yang benar-benar serius, ya, kau tahulah, saat-saat genting memang akan memaksa kau untuk berbuat nekat (aku kutip dari dialog sebuah film). Kau harus menyingkirkan semua logika, perasaan, termasuk akal sehat di dalamnya, kau hanya perlu sebuah aksi sembari mengucapkan 'bodo amat' dengan lantang tentu saja.
Kau harus bertindak, tanpa mengkhawatirkan apapun, kerja-kerja-kerja seperti petuah presiden kita.
Kau harus cepat mengambil keputusan seperti keputusan bunuh diri oleh cobain, hemingway, bahkan scorates. 
Tapi kalau boleh jujur, sepertinya ku tak perlu repot-repot menyerahkan jiwa ragaku kepada iblis karena memilih untuk bunuh diri.
Sepertinya ku hanya perlu membisikan sebuah kalimat untuk pak supir mobil yang terhormat "Pak sopir, ku sangat ingin kebelet pipis, bisakah kita melabuhkan mobil ini barang sebentar saja guna membuang air seni sialan ini?"


*Ditulis sembari menahan kencing di dalam sebuah mobil yang melaju di jalan tol cikopo-cipali dengan tujuan kota depok*

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review Novel Jakarta Sebelum Pagi by Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

Sebelum memulai ke pertunjukan utama anggap saja ini sajian pembuka, seperti band pembuka di sebuah konser akbar. Ada beberapa hal yang menurut saya (sebagai pembaca) mengganjal dalam hati mengenai novel ini (selain covernya yang sedikit mirip dengan novel i'll give u the sun) Yang pertama adalah, beberapa hal yang menurut saya harusnya dipersingkat, dengan arti lain adalah beberapa bagian novel ini mempunyai informasi yang diulang-ulang, walaupun tidak membosankan, tetapi demi menghemat kertas, biaya produksi, dan tingkat kebosanan pembaca harusnya bisa dipersingkat saja. Misalnya dalam penjelasan mengenai teh. Percakapan yang berkaitan tentang teh beberapa bagian diulang-ulang, walaupun dengan kalimat yang berbeda tetapi saya merasa itu mempunyai informasi yang sama. Karena jika penulis ingin menjadikan ‘teh’ sebagai sarana pengantar cerita saya rasa porsi dalam novel tersebut bisa dipangkas lagi, toh beberapa bagian hanya berisikan informasi yang mungkin ingin menunju...

Mengulik Makna Dari Lagu 'Merah' Efek Rumah Kaca

Eka kurniawan dalam sebuah jurnal onlinenya pernah menerbitkan sebuah cerpen tentang sebuah perlawanan, inti dari cerpen tersebut adalah tentang sebuah pemuda (mahasiswa) yang ingin melakukan sebuah aksi (perlawanan) untuk menjatuhkan sebuah kekuasaan (rezim) yang menurutnya sudah tidak pantas lagi untuk berkuasa. Cerita itu berakhir tragis dengan tokoh utama yang tiba-tiba hilang tak tahu ke mana, entah mati atau hidup. Menghilang tiba-tiba. Dalam sejarah Indonesia sendiri, sebuah perlawanan sudah mondar-mandir dicacat oleh tinta sejarah. Peristiwa orang Surabaya yang membunuh jendral Mallaby dan kemudian berimbas pada pertempuran tiga hari tiga malam di kota tersebut hingga kemudian hari tersebut ditetapkan sebagai hari pahlawan oleh Ir Soekarno guna menghargai mereka-mereka yang sudah gugur, misalnya. Atau perebutan Irian Barat dengan Belanda. Bahkan kemerdekaan bangsa Indonesia tak lain dan tak bukan adalah buah dari sebuah perlawanan. Perlawanan tak hanya dilakukan dengan...

Catatan Banjir Jakarta Februari 2017

Hujan turun sejak jam tiga dini hari (21 februari 2017), jam setengah empat pelataran rumah sudah terlihat genangan air, jam empat lebih air mulai menaiki tangga-tangga rumah. Kira-kira pas adzan subuh atau sekitar jam lima pagi air mulai masuk ke rumah-rumah warga. Beberapa orang sudah berada di depan rumah masing-masing berjaga, ada juga yang menggedor-gedor tetangga, khawatir masih ada orang yang belum bangun. Sekitar jam setengah enam sampai jam tujuh pagi air sudah benar-benar menguasi seisi rumah. Sementara sebelumnya, warga sudah mengamankan benda-benda yang mereka anggap penting. Benda elektronik, kulkas, mesin cuci, kompor. Surat-surat tanah, pakaian, atau hal yang kira-kira bisa rusak terkena banjir. Termasuk motor yang diungsikan dengan cara bergotong-royong mengangkat secara bergantian. Jam enam sampai jam tujuh hujan bisa dikatakan sedang lebat-lebatnya, langit masih gelap tidak seperti biasanya, barang-barang sudah naik ke singgahsana yang lebih tinggi. Banjir ka...