Langsung ke konten utama

Kesialan Menjadi Manusia

sumber gb: ekakurniawan.com
Kalau tahu jadi manusia se-engga-enak ini, dulu aku pasti tak akan memilih untuk menjadi manusia, aku mungkin akan lebih memilih untuk menjadi, emmm.. mungkin akan jadi ketumbar saja. Aku rasa menjadi ketumbar lebih baik dari pada menjadi manusia. Kau tak akan repot-repot melakukan seperti apa yang dilakukan oleh manusia, kau hanya akan menjadi bumbu masak, lalu kau akan dimasak dimakan dan kemudian jadi tahi. Tidak ada beban.

“Kamu sudah berapa lama jadi manusia?” tanyaku ketika tak sengaja bertemu dengan mantan ikan lele yang sekarang menjadi manusia.


“Kurang lebih sekitar enam tahun dua bulan tiga belas hari dua jam empat puluh lima menit dan enam detik pas ketika aku menyelesaikan kalimat ini” dia duduk dan meminum minuman kaleng yang tadi dibelinya. Kita tak sengaja bertemu di mini market yang di terasnnya terdapat meja dan tempat duduk untuk para pengunjung.

“Kau menikmatinya?” tanyaku sambil mencari alasan agar aku percaya akan jawabannya tadi.

“Menikmati?” Dia balik bertanya, kemudian memandang tembok mini market yang di cat dengan warna yang terang. “Aku senang menjadi manusia, aku punya tangan dan kaki. Lebih dari itu, semenjak menjadi manusia aku bisa menikmati waktu minum dan tidur, sedangkan saat menjadi ikan tidak.”

Sebagai manusia yang tercipta dari sesuatu yang bukan seperti manusia pada umumnya, Aku bisa mengenali manusia-manusia seperti itu dengan mudah.

Aku dulu diciptakan dari pantat ayam yang dibuang oleh pelanggan rumah makan. Aku dibuang karena dianggap aku bisa membuatnya terkena sebuah penyakit.

Di bumi, tak hanya aku yang menjadi manusia dengan cara yang singkat seperti itu, ada beberapa yang lain. Salah satunya mantan ikan lele yang sekarang menjadi manusia di hadapanku ini. Dia sepertinya cukup senang bisa menjadi manusia.

“Kau tahu nama warna itu tidak?” tanyanya kepadaku sembari menunjuk salah satu warna di dinding mini market.

“Itu warna, warna..” brengsek, aku juga ternyata tidak tahu itu warna apa.

“Kenapa kau bisa menjadi manusia?” tanyaku mengalihkan pembicaraan.

“Aku dulu pandai bercerita, lalu ada seseorang yang tiba-tiba menemuiku dan menyuruhku untuk bercerita tentang hal yang lucu, lalu aku bercerita. Ketika aku bercerita, dibeberapa bagian dia menguraikan senyum dan dibeberapa bagian lainnya dia tertawa terpingkal-pingkal. Setelah aku menyelesaikan cerita, tanpa basa-basi dia kemudian mengubahku menjadi manusia secara begitu saja. Aku tak tahu dia siapa, tapi aku rasa dia adalah Tuhan” jawabnya “Kalau kau sendiri?”

“Aku, aku.. Tak pentinglah” jawabku. Aku sedang malas bercerita, lebih tepatnya tak tahu apa yang harus diceritakan. Seingatku ketika aku dilepehkan ke lantai rumah makan itu, sesuatu, mungkin malaikat, dia membawaku ke sebuah tempat dan secara tiba-tiba wujudku berubah menjadi manusia.

“Ngomong-ngomong, kau bercerita apa saat itu?” tanyaku.

“Cerita tentang seseorang yang ditelan ikan paus raksasa tetapi ia masih bisa hidup di dalamnya” dia menghabiskan minuman kalengnya “Oh ya, aku ada urusan, sampai nanti” ia beranjak kemudian pergi.

Sepertinya aku tak asing dengan cerita itu, seingatku cerita itu tak ada bagian lucunya. Kalau tak salah cerita itu juga pernah kudengar bersama dengan cerita manusia yang tak mempan dibakar dan manusia kaya raya yang tahu bahasa dan mampu berbicara dengan binatang.

Cerita-cerita itu aku dapatkan ketika aku masih menjadi pantat ayam, cerita dari tuan yang memeliharaku dulu, orang biasa memanggilnya Kyai. Cerita itu ia ceritakan kepada anaknya saat ia memberiku makan di tengah hari bolong. Anaknya masih kecil, mungkin lima atau enam tahun, aku tak begitu tahu.

Ia menceritakan begitu fasih sambil sesekali mengelus kepala sang anak. Selalu seperti itu setiap hari. Hingga suatu hari anaknya terena sakit parah, ia kemudian dirawat di sebuah rumah sakit. Lalu mau tak mau Kyai harus menjual apa saja yang ia punya untuk membayar biaya pengobatan. Ia menjual semuanya termasuk menjual diriku.

Sore itu seorang tengkulak mendatangi kandang tempat tinggalku, tengkulak dan Kyai tawar-menawar harga. Sesekali mereka tertawa satu sama lain hingga pada akhirnya terciptalah sebuah kesepakatan harga. Aku dijual untuk membiayai rumah sakit.
Saat Kyai ingin menerima uang, seseorang tiba-tiba datang menghampiri Kyai kemudian mengatakan bahwa anaknya telah meninggal dunia. Kaki Kyai lemas begitu saja, uang jatuh berhamburan di tanah dan air mata meleleh turun dari sudut mata seperti es terkena panas. Dan menurutku itulah salah satu keanehan manusia, mereka terlalu merasa memiliki sesuatu padahal sebenarnya mereka tak memiliki sesuatu apapun, mereka hanya dititipi dan ketika sang penitip mengambil titipannya, yang tersisa adalah kepongahan-kepongahan dari manusia itu sendiri. Aneh kan?

Semenjak kejadian itu, aku tak tahu lagi kabar tentang Kyai, semoga dia tak sepongah yang aku pikirkan.

Aku masih duduk santai di depan minimarket, aku perhatikan beberapa orang di sekitar. Berpikir lagi, lagi, dan sejujurnya aku lebih suka menjadi pantat ayam. Tugasku dulu hanya membuat gerakan menahan dan membuka, sangat mudah, jika dibandingkan menjadi manusia. Menjadi manusia rumit dan butuh tenaga berlebih. Apalagi, ternyata, manusia mempunyai sifat-sifat yang selama aku menjadi pantat ayam aku tak pernah merasakannya. Manusia kadang ingin menjadi sesuatu yang lebih dari sesama manusia lainnya dengan cara-cara yang menurutku cukup menggelikan. Padahal pada dasarnya mereka semua sama.

Tetapi, beberapa hal yang sudah tak mungkin terulang lagi baiknya memang tak perlu disesali. Ada beberapa hal yang harus kulakukan dengan keadaan baruku sekarang, salah satunya mungkin belajar dan menghafalkan nama-nama warna.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review Novel Jakarta Sebelum Pagi by Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

Sebelum memulai ke pertunjukan utama anggap saja ini sajian pembuka, seperti band pembuka di sebuah konser akbar. Ada beberapa hal yang menurut saya (sebagai pembaca) mengganjal dalam hati mengenai novel ini (selain covernya yang sedikit mirip dengan novel i'll give u the sun) Yang pertama adalah, beberapa hal yang menurut saya harusnya dipersingkat, dengan arti lain adalah beberapa bagian novel ini mempunyai informasi yang diulang-ulang, walaupun tidak membosankan, tetapi demi menghemat kertas, biaya produksi, dan tingkat kebosanan pembaca harusnya bisa dipersingkat saja. Misalnya dalam penjelasan mengenai teh. Percakapan yang berkaitan tentang teh beberapa bagian diulang-ulang, walaupun dengan kalimat yang berbeda tetapi saya merasa itu mempunyai informasi yang sama. Karena jika penulis ingin menjadikan ‘teh’ sebagai sarana pengantar cerita saya rasa porsi dalam novel tersebut bisa dipangkas lagi, toh beberapa bagian hanya berisikan informasi yang mungkin ingin menunju...

Mengulik Makna Dari Lagu 'Merah' Efek Rumah Kaca

Eka kurniawan dalam sebuah jurnal onlinenya pernah menerbitkan sebuah cerpen tentang sebuah perlawanan, inti dari cerpen tersebut adalah tentang sebuah pemuda (mahasiswa) yang ingin melakukan sebuah aksi (perlawanan) untuk menjatuhkan sebuah kekuasaan (rezim) yang menurutnya sudah tidak pantas lagi untuk berkuasa. Cerita itu berakhir tragis dengan tokoh utama yang tiba-tiba hilang tak tahu ke mana, entah mati atau hidup. Menghilang tiba-tiba. Dalam sejarah Indonesia sendiri, sebuah perlawanan sudah mondar-mandir dicacat oleh tinta sejarah. Peristiwa orang Surabaya yang membunuh jendral Mallaby dan kemudian berimbas pada pertempuran tiga hari tiga malam di kota tersebut hingga kemudian hari tersebut ditetapkan sebagai hari pahlawan oleh Ir Soekarno guna menghargai mereka-mereka yang sudah gugur, misalnya. Atau perebutan Irian Barat dengan Belanda. Bahkan kemerdekaan bangsa Indonesia tak lain dan tak bukan adalah buah dari sebuah perlawanan. Perlawanan tak hanya dilakukan dengan...

Catatan Banjir Jakarta Februari 2017

Hujan turun sejak jam tiga dini hari (21 februari 2017), jam setengah empat pelataran rumah sudah terlihat genangan air, jam empat lebih air mulai menaiki tangga-tangga rumah. Kira-kira pas adzan subuh atau sekitar jam lima pagi air mulai masuk ke rumah-rumah warga. Beberapa orang sudah berada di depan rumah masing-masing berjaga, ada juga yang menggedor-gedor tetangga, khawatir masih ada orang yang belum bangun. Sekitar jam setengah enam sampai jam tujuh pagi air sudah benar-benar menguasi seisi rumah. Sementara sebelumnya, warga sudah mengamankan benda-benda yang mereka anggap penting. Benda elektronik, kulkas, mesin cuci, kompor. Surat-surat tanah, pakaian, atau hal yang kira-kira bisa rusak terkena banjir. Termasuk motor yang diungsikan dengan cara bergotong-royong mengangkat secara bergantian. Jam enam sampai jam tujuh hujan bisa dikatakan sedang lebat-lebatnya, langit masih gelap tidak seperti biasanya, barang-barang sudah naik ke singgahsana yang lebih tinggi. Banjir ka...