Cahaya rembulan masih setia menyinari malam, tak terlalu
terang tak redup pula, pas, seakan-akan sudah ditakar matang-matang oleh sang
pencipta. Dan pastinya sebagai tanda kesempurnaanNya.
Sedangkan kita masih saja duduk diam tanpa bicara,
entah sudah berapa lama. Aku sendiri masih bingung harus memulai ini dari mana,
dan seperti dugaanku, kaupun hanya bisa diam. Entah itu malu atau memang
bingung harus berkata apa, sama sepertiku.
“Kamu yakin San?” aku akhirnya memulai.
Kau tak menjawab hanya menatapku setelah sebelumnya
selalu menunduk.
“Kamu sudah benar-benar yakin San?” Aku lagi.
Kadang hidup memang tak adil, atau mungkin hidup ini
memang adil karena ada beberapa bagian dari hidup yang tak adil, setengah adil
setengah lagi tidak hingga menjadi seimbang, adil.
Aku keturunan asli Tionghoa, anak kedua dari dua
bersaudara. Dari dua anak itu, aku dan kakakku. Akulah yang dianggap paling
cerdas oleh keluargaku.
Begitulah orang Cina, ketika ada anak yang dianggap pintar dalam bidang akademik, mereka akan menyekolahkan setinggi-tingginya, sedangkan jika mengetahui ada anak yang bodoh dalam sekolahnya, akan dididiknya berdagang sedari dini.
Begitulah orang Cina, ketika ada anak yang dianggap pintar dalam bidang akademik, mereka akan menyekolahkan setinggi-tingginya, sedangkan jika mengetahui ada anak yang bodoh dalam sekolahnya, akan dididiknya berdagang sedari dini.
Aku yang sedari kecil dianggap lebih pintar dari
kakakku disekolahkan hingga bangku kuliah, sedangkan kakakku yang dianggap
bodoh hanya disekolahkan sampai SMP. Ayah dan ibu mengajarinya berwirausaha
sejak kecil. “Tak perlu sekolah tinggi-tinggi, cukup bisa berhitung dan membaca
saja, selebihnya kau akan belajar dari pengalaman” kurang lebih seperti itu kata-kata
Ayah kepada kakaku dulu.
Setelah lulus SMP Kakakku diberi modal untuk berdagang
alat elektronik. Dan sekarang kakakku sudang berkembang pesat, usahanya sudah
maju sekali. Ia sudah memiliki tiga toko elektronik besar sampai saat ini.
...
Namanya Santi, aku sudah berpacaran dengannya hampir
empat tahun lamanya, aku yang tak pernah diijinkan berpacaran oleh kedua orang
tuaku hanya bisa menjalin hubungan dengannya secara diam-diam. Tak pernah
sedikitpun mereka tahu tentang hubungan ini, mereka selalu beranggapan bahwa
berpacaran hanya akan mengganggu kosentrasiku dalam menuntut ilmu. Tapi, walau
tak pernah kukenalkan pada mereka aku sangat serius dengan hubungan ini, dengan
Santi, kekasihku.
Aku telah berjanji kepadanya untuk menikahinya
setelah aku lulus nanti. Tapi janji hanyalah sebuah ucapan bukan sebuah takdir
yang terjadinya sudah pasti.
“Kau sudah mengenalnya” suara seorang laki-laki
dalam bahasa China mengagetkanku.
“Iya Ka” aku menjawab masih dengan bahasa China.
“Aku pergi sebentar, silahkan lanjutkan saja” kakakku, masih dengan bahasa China.
“Iya Ka” aku menjawab masih dengan bahasa China.
“Aku pergi sebentar, silahkan lanjutkan saja” kakakku, masih dengan bahasa China.
Itu adalah Kakakku, kakak pertama serta
satu-satunya. Entah aku harus menyebut apa semua ini, apakah sebuah tragedi
atau sebuah takdir yang ketentuannya tak bisa diganggu gugat.
Kira-kira lima bulan lalu. Santi yang saat itu
sedang bingung harus mencari uang dari mana lagi, Akhirnya nekat ingin menjual
sebuah lemari es kepunyaannya di sebuah toko elektronik. Kedengarannya memang
sedikit lucu, tapi akan wajar jika itu dilakukan oleh anak dari seorang janda
tua yang sedang sakit keras, ibunda Santi saat itu menderita sakit jantung.
Santi yang sudah tak mempunyai uang untuk berobat
akhirnya berinisiatif untuk menjual lemari es kepunyaannya di sebuah toko
elektronik. Ia tahu tak ada yang akan membeli lemari es yang sudah butut seperti kepunyaan itu, tapi logika selalu mengalah oleh
emosi ketika kalut melanda.
Ia tak peduli, yang ia tahu ibunya harus segera
diobati, kalau bisa harus di rawat di rumah sakit.
Dan cerita itu mulai menemui awalnya, Santi tak
sengaja memilih toko elektronik milik kakakku untuk menjual lemari esnya,
dengan muka yang berbasuh dengan keringat, ekspresi yang kacau, serta tata
bicara semrawut khas orang kebingungan Santi mencoba menawarkan lemari esnya.
Kakakku yang saat itu kebetulan sedang berada di
toko ikut bingung melihat seorang perempuan hendak menjual lemari es tua,
apalagi melihat tingkah Santi yang
memohon dan merengek-rengek seperti anak kecil.
Entah berapa lama waktu yang diperlukan untuk
menjelaskan. Kakakku akhirnya tahu kalau perempuan itu perlu biaya untuk ibunya
berobat.
Kebanyakan orang berfikir suku China seperti kami
adalah orang yang pelit, kikir, selalu memeperhitungkan dengan teliti jika itu
menyangkut masalah uang. Itu semua muungkin benar, tetapi kami juga manusia.
Kami masih memiliki hati nurani, rasa tolong menolong yang sama seperti manusia
pada umumnya.
Kakaku yang saat itu iba, mencoba mendatangi ibunda
Santi, dengan segala rasa sosial yang ia miliki. Ia akhirnya membawa ibunda
Santi ke rumah sakit kenamaan. Dan bisa ditebak, uang memang bukan segalanya,
tapi nyatanya uang memang bisa memperpanjang usia, setelah dirawat dengan
intensif selama beberapa bulan, ibunda
Santi sedikit demi sedikit kondisinya mulai membaik. Jauh lebih lebih sehat
dari sebelumnya.
Cerita indah untuk kakaku pun berlanjut, setelah
mengenal lama, ia merasa kalau Santi adalah sosok perempuan yang selama ini ia
cari, siapa pula yang tak jatuh hati terhadap perempuan cantik seperti Santi,
rambutnya yang lurus hitam nan legam, posturnya yang tinggi semampai, serta
kulitnya yang yang tak terlalu putih namun terlihat cerah. Semua itu menandakan
memang Santi adalah sosok perempuan yang cantik.
Saat itu Santi mendatangiku, pertemuan terkahir sebelum
pertemuan ini. Menceritakan semuanya, menceritakan dengan tangis. Ia bercerita
kalau dirinya hendak menikah dengan Kakakku, secepat itu memang, tapi itulah
kenyataannya. Kakak dan kedua orang tuaku yang tak pernah tahu bahwa Santi
adalah kekasihku, menyetujui pernikahan itu. Dan ibunda Santi, beliau sendiri
amat setuju dengan rencana pernikahan itu, apalagi ditambah Kakakku rela
berpindah agama, rela meluangkan hari minggunya yang biasa dipakai untuk ke Gereja
diganti dengan menyewa seorang Ustad untuk menganjarinya solat dan mengaji.
Hari demi hari berganti, mereka mulai mencari
tanggal, mencari gedung yang sesuai, busana, semua yang terkait tentang
pernikahannya.
Kakaku pun mengajak Santi untuk datang ke rumah ini,
memperkenalkan kapada orang tuaku seperti malam ini.
“Harusnya aku yang mencari uang saat itu” aku dengan
tarikan nafas panjang sebelumnya. Cahaya rembulan masih setia menemani kita
yang sedang duduk di teras depan rumah besarku.
“Maafkan aku Jimy, ini semua memang salahku. Tapi
ini memang harus terjadi” Santi akhirnya berbicara diiringi dengan usapan
punggung tangan ke sudut-sudut matanya.
Kadang aku merasa amat bersalah, tak bisa membiayai
ibundanya yang kala itu sedang sakit, tapi apa yang bisa dilakukan oleh seorang
mahasiswa tingkat atas yang belum bisa menghasilkan uang sepertiku, uang yang
aku punya pun masih jatah dari keduaorang tuaku.
“Kamu tak harus menyalahkan dirimu, mau tak mau ini
memang harus terjadi, maafkan aku” Santi, kali ini ia menatap mataku, begitupun
aku. Aku hanya bisa melihatnya menteskan sedikit air mata, menyakitkan.
Suara mobil yang diparkirkan, terlihat kakakku
turun. Menghampiri kami, sembari membawa kantong kresek yang aku tak tahu apa
isinya itu ia berkata dengan bahasa Chinanya “Jimy, kelak ketika kau mencari
istri, carilah seperti Santi. Baik hati, cantik dan yang paling penting dia
adalah seorang yang penurut.”
“Iya ka, Santi memang cantik dan perempuan idaman
semua lelaki, seperti yang Kakak katakan” kali ini aku menjawab dengan berbahasa
Indonesia, aku tekankan nadaku sembari melihat ke arah Santi.
Tak mungkin aku berterus terang, tak mungkin aku
mengecewakan kakakku sendiri, biarlah aku yang menerimanya, aku yang akan
menahan rasa pahit ini.
Aku sadar bahwa tingkat tertinggi dari cinta sejati
adalah merelakan. Cinta memang tak harus dipaksa.

malah nikah sama kakaknya
BalasHapusgemana kalo seandainya si jimy berterus terang?
Karena kata Jimy "Tingkat tertinggi dari mencintai adalah merelakan" gitu mba nisa, hehe
HapusSuka dengan ending nya. :)
BalasHapusTerimakasih mas Yudha, salam kenal.
Hapus