Langsung ke konten utama

SAYANG

Sayanggg...

Ehem ehem  (batuk wibawa).. sepanjang tulisan ini aku bakalan manggil kamu dengan kata “SAYANG” dan aku harap kamu membayangkan aku menyebut kata “SAYANG” itu dengan nada yang lemah lembut dan dengan raut wajah yang paling romantis yang pernah kamu temui sebelumnya, karena salah satu kehebatan tulisan adalah bisa bermakna sesuai dengan imajinasi pembacanya.

Ada baiknya kamu latihan dulu.

“Sayang... Kamu sayang ga’ sama aku?”

Udah bisa berimajinasi wajah aku yang romantis belum Sayang?

Oke, sekali lagi, kali ini kamu harus bener-bener bayangin kalo aku masang raut wajah yang tulus nan romantis yah.

“Sayanggggg....... I LOVE U  so much” yang ini pasti berhasil (Kalo belum, diulang lagi ya bacanya)



Baiklah aku mulai ya sayanggg...


Semoga dengan aku nulis ini kamu ga’ menyangka aku seperti anak SMA yang suka nulis-nulis nama pacarnya di tembok,di papan tulis, di baju, di lantai, atau di celana dalam, eh- (kayanya yang terakhir cuma aku doang yang lakuin deh).

Tapi seperti orang yang jatuh cinta pada umumnya, mereka bakal meluapkan perasaannya ke sesuatu yang menurut mereka bisa menjadi sarana luapan perasaan cinta mereka, kaya seorang pelukis yang ngelukis wajah kekasihnya, kaya arsitek yang bikin bangunan indah buat kekasihnya, atau kaya pujangga yang selalu bisa bikin puisi romantis buat pujaan hatinya.

Walaupun aku ga’ sehebat orang-orang itu, tapi seengganya aku bakalan berusaha mengungkapkan perasaan cinta aku lewat tulisan ini sayanggg, ya salah satu alasannya karena aku emang cuma bisa nulis doang si (hampir semua orang juga bisa nulis kali), yang ngomong di tanda kurung itu jin iprit yang lagi sirik sayangggg, he he he.

Sebenernya aku pengen nulis panjang lebar sayanggg, nulis awal pertemuan kita, nulis kita saat jalan, nulis saat kita berantem terus baikan, atau berandai-andai nulis cerita kita di masa depan ataupun yang lainnya. Tapi, kayanya aku urungin deh sayanggg, soalnya menurut aku kamu itu lebih indah dari kata-kata dan cerita manapun yang bakalan aku tulis, kamu itu lebih indah dari apapun sayanggg, uhuk.... (aku batuk sayanggg).

Aku ga’ bohong sayanggg, batuk tadi karena aku keselek sayang, aku nulis ini sambil makan kacang, nyuci baju terus sambil naek motor sayanggg. Ga’ mungkin ya sayanggg? iya kaya aku lupain kamu, itu ga’ bakalan mungkin sayanggg, he he he (walaupun ujungnya pake “he” tapi aku serius sayanggg)

Sejauh ini kamu suka ga’ sayanggg sama tulisan ini? Tapi, walaupun ga’ suka, ataupun ga’ cinta engga apa-apa sayang, bagi aku udah bisa mencintai kamu dengan tulus aja udah lebih dari cukup sayanggg.


SAYANGGG.... (kamu masih bayangin wajah romantis aku saat aku mangil kamu “sayanggg” kan?).


Segitu aja ya, aku bingung mau nulis apalagi. Dan seperti yang aku bialng diawal, sebagus, seindah atau secantik apapun tulisan yang aku bikin. Tulisan itu ga’ bakal bisa nandingin bahkan nyamain indah dan cantiknya kamu sayanggg, percaya deh.
Lagipula ga’ mungkin juga kan aku nulis nama Mamah Bapak kamu, atau nama-nama presiden Indonesia dan wakilnya dari awal sampai sekarang, nanti jadi ga’ romantis lagi, he he he...

Udah segitu aja ya Sayanggg...


Bye


Love u...



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review Novel Jakarta Sebelum Pagi by Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

Sebelum memulai ke pertunjukan utama anggap saja ini sajian pembuka, seperti band pembuka di sebuah konser akbar. Ada beberapa hal yang menurut saya (sebagai pembaca) mengganjal dalam hati mengenai novel ini (selain covernya yang sedikit mirip dengan novel i'll give u the sun) Yang pertama adalah, beberapa hal yang menurut saya harusnya dipersingkat, dengan arti lain adalah beberapa bagian novel ini mempunyai informasi yang diulang-ulang, walaupun tidak membosankan, tetapi demi menghemat kertas, biaya produksi, dan tingkat kebosanan pembaca harusnya bisa dipersingkat saja. Misalnya dalam penjelasan mengenai teh. Percakapan yang berkaitan tentang teh beberapa bagian diulang-ulang, walaupun dengan kalimat yang berbeda tetapi saya merasa itu mempunyai informasi yang sama. Karena jika penulis ingin menjadikan ‘teh’ sebagai sarana pengantar cerita saya rasa porsi dalam novel tersebut bisa dipangkas lagi, toh beberapa bagian hanya berisikan informasi yang mungkin ingin menunju...

Mengulik Makna Dari Lagu 'Merah' Efek Rumah Kaca

Eka kurniawan dalam sebuah jurnal onlinenya pernah menerbitkan sebuah cerpen tentang sebuah perlawanan, inti dari cerpen tersebut adalah tentang sebuah pemuda (mahasiswa) yang ingin melakukan sebuah aksi (perlawanan) untuk menjatuhkan sebuah kekuasaan (rezim) yang menurutnya sudah tidak pantas lagi untuk berkuasa. Cerita itu berakhir tragis dengan tokoh utama yang tiba-tiba hilang tak tahu ke mana, entah mati atau hidup. Menghilang tiba-tiba. Dalam sejarah Indonesia sendiri, sebuah perlawanan sudah mondar-mandir dicacat oleh tinta sejarah. Peristiwa orang Surabaya yang membunuh jendral Mallaby dan kemudian berimbas pada pertempuran tiga hari tiga malam di kota tersebut hingga kemudian hari tersebut ditetapkan sebagai hari pahlawan oleh Ir Soekarno guna menghargai mereka-mereka yang sudah gugur, misalnya. Atau perebutan Irian Barat dengan Belanda. Bahkan kemerdekaan bangsa Indonesia tak lain dan tak bukan adalah buah dari sebuah perlawanan. Perlawanan tak hanya dilakukan dengan...

Catatan Banjir Jakarta Februari 2017

Hujan turun sejak jam tiga dini hari (21 februari 2017), jam setengah empat pelataran rumah sudah terlihat genangan air, jam empat lebih air mulai menaiki tangga-tangga rumah. Kira-kira pas adzan subuh atau sekitar jam lima pagi air mulai masuk ke rumah-rumah warga. Beberapa orang sudah berada di depan rumah masing-masing berjaga, ada juga yang menggedor-gedor tetangga, khawatir masih ada orang yang belum bangun. Sekitar jam setengah enam sampai jam tujuh pagi air sudah benar-benar menguasi seisi rumah. Sementara sebelumnya, warga sudah mengamankan benda-benda yang mereka anggap penting. Benda elektronik, kulkas, mesin cuci, kompor. Surat-surat tanah, pakaian, atau hal yang kira-kira bisa rusak terkena banjir. Termasuk motor yang diungsikan dengan cara bergotong-royong mengangkat secara bergantian. Jam enam sampai jam tujuh hujan bisa dikatakan sedang lebat-lebatnya, langit masih gelap tidak seperti biasanya, barang-barang sudah naik ke singgahsana yang lebih tinggi. Banjir ka...