Langsung ke konten utama

JANJI

Senyum tipis tanda bersedih.
Langkah pelan tanda meragu.
Seperti apa rasanya tak bernyawa?
Seperti apa pula dikhianati?

Terang menatap bulan, berucap seakan bisa menepati.
Sendu makin menjadi ketika yang terucap janji palsu.

Aku berdiri di tengah sendu rasa berkhianat.
Berkhianat kepada purnama yang bercahaya penuh.
Lama aku berdiri, Aku berjanji kembali.
Belum redup sinar purnama, janji kembali telah dikhianati.

Seperti apa rasanya dikhianati?

Sesal menjadi angin disiang hari, membuka simpul yang kusut serta meluruskannya.
Mudah untuk angin melakukannya, Angin adalah utusanNya.

Lambat laun aku menjadi kupu-kupu indah yang mengepakan sayap seraya berjanji lalu terbang.
Tapi setelah terbang tinggi, aku berkhianat kembali.

Seperti apa rasanya dikhianati?


Maaf.

Teguh, 15-3-2015







Ngomongin tentang janji, gue yakin semua orang pernah berjanji apapun janjinya. Seperti siang dan malam yang berpasangan, janji juga berpasangan dengan ditepati. Dan gue yakin sebagian besar dari orang yang pernah berjanji pasti pernah berkhianat.

Berkhianat atau tak menepati janjinya enntah karena lupa ataupun hal yang lainnya.

Dari sekian banyak keterangan itu, pernah engga kita mikirin perasaan orang yang udah kita janjiin kemudian kita khianati. Mungkin kita bakalan enteng buat ngejawab "kecewa" atau "sedih" atau perasaannya lainnya.

Tapi, hakikatnya kita engga bakal bisa bener-bener tahu bagaimana perasaan orang yang telah kita khianatin tersebut, hanya dirinya sendiri yang benar-benar tahu perasaannya itu.
Bisa dibayangin kan? Itu janji sama sesama manusia. Bagaimana kalau janji dengan Tuhan lalu kita mengkhianatinNya. Mengkhianati Kasih SayangNya. Berkhianat ketika diberikan semua kebaikanNya.

#FORGIVE ME GOD, Astagfirullahaladzim



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review Novel Jakarta Sebelum Pagi by Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

Sebelum memulai ke pertunjukan utama anggap saja ini sajian pembuka, seperti band pembuka di sebuah konser akbar. Ada beberapa hal yang menurut saya (sebagai pembaca) mengganjal dalam hati mengenai novel ini (selain covernya yang sedikit mirip dengan novel i'll give u the sun) Yang pertama adalah, beberapa hal yang menurut saya harusnya dipersingkat, dengan arti lain adalah beberapa bagian novel ini mempunyai informasi yang diulang-ulang, walaupun tidak membosankan, tetapi demi menghemat kertas, biaya produksi, dan tingkat kebosanan pembaca harusnya bisa dipersingkat saja. Misalnya dalam penjelasan mengenai teh. Percakapan yang berkaitan tentang teh beberapa bagian diulang-ulang, walaupun dengan kalimat yang berbeda tetapi saya merasa itu mempunyai informasi yang sama. Karena jika penulis ingin menjadikan ‘teh’ sebagai sarana pengantar cerita saya rasa porsi dalam novel tersebut bisa dipangkas lagi, toh beberapa bagian hanya berisikan informasi yang mungkin ingin menunju...

Mengulik Makna Dari Lagu 'Merah' Efek Rumah Kaca

Eka kurniawan dalam sebuah jurnal onlinenya pernah menerbitkan sebuah cerpen tentang sebuah perlawanan, inti dari cerpen tersebut adalah tentang sebuah pemuda (mahasiswa) yang ingin melakukan sebuah aksi (perlawanan) untuk menjatuhkan sebuah kekuasaan (rezim) yang menurutnya sudah tidak pantas lagi untuk berkuasa. Cerita itu berakhir tragis dengan tokoh utama yang tiba-tiba hilang tak tahu ke mana, entah mati atau hidup. Menghilang tiba-tiba. Dalam sejarah Indonesia sendiri, sebuah perlawanan sudah mondar-mandir dicacat oleh tinta sejarah. Peristiwa orang Surabaya yang membunuh jendral Mallaby dan kemudian berimbas pada pertempuran tiga hari tiga malam di kota tersebut hingga kemudian hari tersebut ditetapkan sebagai hari pahlawan oleh Ir Soekarno guna menghargai mereka-mereka yang sudah gugur, misalnya. Atau perebutan Irian Barat dengan Belanda. Bahkan kemerdekaan bangsa Indonesia tak lain dan tak bukan adalah buah dari sebuah perlawanan. Perlawanan tak hanya dilakukan dengan...

Catatan Banjir Jakarta Februari 2017

Hujan turun sejak jam tiga dini hari (21 februari 2017), jam setengah empat pelataran rumah sudah terlihat genangan air, jam empat lebih air mulai menaiki tangga-tangga rumah. Kira-kira pas adzan subuh atau sekitar jam lima pagi air mulai masuk ke rumah-rumah warga. Beberapa orang sudah berada di depan rumah masing-masing berjaga, ada juga yang menggedor-gedor tetangga, khawatir masih ada orang yang belum bangun. Sekitar jam setengah enam sampai jam tujuh pagi air sudah benar-benar menguasi seisi rumah. Sementara sebelumnya, warga sudah mengamankan benda-benda yang mereka anggap penting. Benda elektronik, kulkas, mesin cuci, kompor. Surat-surat tanah, pakaian, atau hal yang kira-kira bisa rusak terkena banjir. Termasuk motor yang diungsikan dengan cara bergotong-royong mengangkat secara bergantian. Jam enam sampai jam tujuh hujan bisa dikatakan sedang lebat-lebatnya, langit masih gelap tidak seperti biasanya, barang-barang sudah naik ke singgahsana yang lebih tinggi. Banjir ka...