Langsung ke konten utama

TUKANG PIZZA GA' JATUH CINTA

“Mas lurus, ketemu pertigaan belok kiri nah itu masih lurus, lampu merah pertama langsung belok kanan” bapak berjaket kulit ngasih jawaban ke gue sambil teriak-teriak.

“Di situ perumahannya ya Pak” dari motor, gue teriak-teriak juga biar suara gue jelas didenger, sementara itu bunyi klakson udah banyak banget di belakang, gue bikin macet.

“Nanti tanya aja lagi mas, saya juga ga' terlalu hapal daerah sini” jawab bapak itu sembari menghidupkan motornya, ada penumpang. Dia tukang ojek.

Dan di belakang kata-kata makian dari pengguna jalan lain mulai berdatangan. Tanpa pikir panjang gue langsung mengikuti arahan dari bapak tukang ojek yang kalo diliat-liat sepintas mukanya mirip Roy Marten, tapi versi kulit hitam.

Gue ngikutin jalur yang beliau tunjukin, dan akhirnya setelah supuluh menit berlalu.

Gue nyasar lagi !!! (oh my God).

Buat bapak tukang ojek yang mirip Roy Marten seandainya baca tulisan ini, kalo engga tahu mending bilang aja Pa, yang bapak tunjukin itu pangkalan tukang ojek lagi, pantesan tadi bilangnya sampe situ tanya aja lagi.

Dan satu lagi, kalo ada lomba mirip artis mending bapa ikut aja. Bapa mirip 
banget sama Roy Marten  sumpah, ok thanks.

Walaupun udah resign sekitar tiga bulan yang lalu, gue emang pernah kerja di salah satu restoran pizza yang cukup ternama di jakarta dan itu salah satu cerita dari pengalaman gue jadi tukang anter martaba- ,  eh tukang pizza.



Selain tentang nyasar, gue juga punya cerita lain, yaitu tentang atasan gue yang suka banget sama musik ska.

Namanya Deny, tapi biasa dipanggil Pa Deden, rambutnya ikal dan tingginya sekitar 170 cm, dia juga punya badan yang gemuk banget (ukuran bajunya aja xxl dan kedua pipinya tebel banget) ketika ngomong, seperti orang-orang gemuk pada umumnya, engga terlalu jelas.

Bisa dibilang Pa Deden adalah pecinta musik ska sejati, terbukti saat kerja dia sering nyanyi lagu-lagu aliran ska, salah satunya Tipe-x. Band ska favoritnya. Biasanya lagu yang dinyanyiin kaya gini.

Memang banyak yang bilang aku tampan rupawan
Bentuk tubuhku seksi, kekar tegap berisi
Dengan tatapan tajam penuh percaya diri
Bikin wanita tergila-gila, mabuk kepayang

Pandai bernyanyi apalagi menari
..Lulus dengan sempurna

Ditambah gaya trendy bak pria masa kini
Akulah lelaki idola sejati...

Saat dia nyanyi gue ngikut ngangguk-ngangguk biar keliatan menikmati.

“Guh sukanya lagunya” tanya pa Deden dari kejauhan saat interlude.
“Enak pa, asik banget, muka bapak kaya semangka Pa” gue, masih sambil ngangguk-ngangguk.
“Apa guh???” Pa Deden memicingkan matanya.


“Salam SKA Pa, yehhh” jawab gue singkat.
“Ok guh, salam SKA” jawab Pa Deden lagi.

Sebenernya mah kalo boleh jujur suara dia lebih mirip sama suara Giant temennya Nobita yang lagi nyanyi, tapi demi kelangsungan hidup sebuah makhluk  yang mulai langka seperti Pa Deden, gue harus nglakuin itu. Pura-pura nikmatin, seengganya buat orang  seneng kan dapet pahala.

Tapi, harus gue akuin Pa Deden adalah bos yang punya etos dan semangat kerja yang tinggi, sebagai atasan dia selalu berfikir bagaimana cara untuk memajukan retoran pizza tempat kita bekerja, dan salah satu usahanya adalah melakukan strategi promo, yaitu dengan membagikan brosur promo.

Gue yang waktu itu ditunjuk untuk melakukan tugas itu, langsung bergegas sesuai arahan, menuju perumahan-perumahan warga yang cukup ramai.

Disela-sela waktu pembagian brosur promo tersebut, tiba-tiba ada seorang ibu-ibu yang sedikit tua tapi masih keliatan muda, eh-  ibu muda yang sedikit tua, eh-  ibu muda yang kayanya emang masih muda. Ya pokonya ibu-ibu muda lah. Dia tiba-tiba mencegat dah menuduh gue yang bukan-bukan.

Ibu muda       : “mas mas, ngapain masuk-masuk ?!!”
Gue               : “ini bu, bagiin promo (padahal gue di luar, belum masuk) ”
Ibu muda       : “alah, alesan mau nyuri kan, maling kan (sambil benerin daster yang                                 nyelip di sela pantat)
Gue               : “engga bu, ini bagiin brosur promo pizza bu”
Ibu muda       : “Pizza..?”
Gue               :”iya bu, makanan orang-orang sosialita yang gaul-gaul, ya kaya ibu                                    lah”
Íbu muda       :”ih mas bisa aja”

Kitapun ngobrol dan mulai sedikit akrab.

*LIMA MENIT KEMUDIAN*



Kita tukeran pin BB.


Banyak hal yang bisa gue dapetin di restoran pizza itu, seperti cara bikin pizza, bahan-bahannya, prosedur operasionalnnya. Dan yang pasti keberuntungan gue bisa mengenal salah satu cewe yang kerja bareng di restorant pizza itu.

Namanya Sarah, dia bertugas sebagai penerima pesanan atau yang lebih kerennya disebut order taker, Selain cantik, Sarah yang gue kenal juga selalu sopan sama semua orang. Dia bahkan selalu cium tangan sama Pa Deden setiap mau dan pulang kerja.

kita bisa dibilang deket bahkan hampir setiap jam istirahat kita selalu makan siang bareng.

“Guh, mie ayamnya enak ya?” sahut Sarah.
“Iya, enak. Abang-abangnya juga mirip Charlie st12 ya Sar? gue coba menghidupkan suasana.


“Ih kamu apaan si, nora banget kaya gitu” sarah terlihat kesal.
“Eh iya maaf maaf sarah, aku emang engga sopan banget” gue cepat.

“Ihhhh, bukan... maksud aku sekarang Charlie itu bandnya Setia band bukan st12, kamu engga gaul banget sih” Sarah dengan senyum kesal simpulnya.
“Iya Sar, gue emang engga gaul” jawab gue (sambil coba cuci muka pake kuah mie).

Selain gaul (gaul versinya dia sendiri) Sarah juga sebenarnya cukup pintar bahkan bisa dibilang jenius dalam hal perhitungan, dia masih tercatat sebagai salah satu mahasiswi akuntan semester atas di salah satu universitas negeri yang terkenal di kota depok. Tiada waktu luang yang ia lewati tanpa berhitung, kaya waktu makan mie ayam saat itu.

“Guh, kalo pedagang mie ayam ini setiap mangkoknya dapet laba dua ribu dan kalo dia ngejual seratus mangkok perhari, itu artinya penghasilan dia perbulan lebih besar dua kali lipat dari gaji kita yang perbulan cuma tiga juta" Sarah serius.

 “Wow,berarti kaya dong ya Sar” gue singkat ( sambil ngebayangin abang mie ayam nyanyi lagu dangdut terbaru)

But, kalo ngomongin soal kaya kamu tau ga’ orang terkaya sedunia. Bill Gates, kekayan dia saat ini ditaksir senilai seribu empat puluh satu triliyun rupiah, kalau gaji kita saat ini perbulan atau per 160 jam digaji senilai tiga juta, itu artinya untuk menyamai kekayaannya aja, kita harus bekerja selama kurang lebih dua abad, itu pun dengan catatan kita kerja non stop tanpa istirahat satu detik pun” Sarah dengan raut menghitung serius.

“Haduh... maafin aku Sar aku ga' ngerti, aku ga bisa nafas ini, kamu rumit banget sumpah” gue dengan muka bego.

“Kamu tahu ga Guh, setiap orang bernafas enam liter udara permenit dengan enam belas persen oksigen, berarti jika oksigen itu harus kita beli, dalam satu hari kita harus membayar sebanya...“  penjelasaan Sarah gue potong.

“Ok sar cukup, STOP !!!” gue sembari ngajak Sarah menyudahi makan siang mengerikan itu, dan akhirnya kitapun bekerja kembali setelah jam istirahat selesai.

Sebenarnya gue udah dari dulu suka sama Sarah, tapi semenjak gue tahu dia kaya gitu. Rasa suka gue hilang perlahan. Mungkin orang lain juga pernah ngrasain hal yang sama. Punya rasa suka tapi kemudian hilang karena sesuatu hal, sesuatu yang ngebikin selera cintanya hilang, mengikis perlahan.

Dan emang, menurut gue engga semua perasaan cinta itu benar dan harus diikutin perkataannya.

Walaupun gue tahu, belum tentu juga kalo seandainya gue nyatain rasa suka gue sama dia, dia mau terima. Tapi, seandainya pun diterima buat apa ngejalanin hubungan tanpa ada rasa nyaman, percuma kan. Cinta emang kadang harus "GAGAL".

Terakhir gue pengen ngucapin terimakasih buat Pa Deden (yang sekarang jadi tukang obat herbal online) dan semua orang yang masih kerja di restoran pizza itu, salam sukses buat kalian semua. Khususnya yang masih anter-anter pizza. Asal kalian tahu, pengantar pizza itu ga’ rendah, kalian sama seperti malaikat. Bedanya kalo malaikat nganterin wahyu kalian nganterin pizza. BYE..





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review Novel Jakarta Sebelum Pagi by Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

Sebelum memulai ke pertunjukan utama anggap saja ini sajian pembuka, seperti band pembuka di sebuah konser akbar. Ada beberapa hal yang menurut saya (sebagai pembaca) mengganjal dalam hati mengenai novel ini (selain covernya yang sedikit mirip dengan novel i'll give u the sun) Yang pertama adalah, beberapa hal yang menurut saya harusnya dipersingkat, dengan arti lain adalah beberapa bagian novel ini mempunyai informasi yang diulang-ulang, walaupun tidak membosankan, tetapi demi menghemat kertas, biaya produksi, dan tingkat kebosanan pembaca harusnya bisa dipersingkat saja. Misalnya dalam penjelasan mengenai teh. Percakapan yang berkaitan tentang teh beberapa bagian diulang-ulang, walaupun dengan kalimat yang berbeda tetapi saya merasa itu mempunyai informasi yang sama. Karena jika penulis ingin menjadikan ‘teh’ sebagai sarana pengantar cerita saya rasa porsi dalam novel tersebut bisa dipangkas lagi, toh beberapa bagian hanya berisikan informasi yang mungkin ingin menunju...

Mengulik Makna Dari Lagu 'Merah' Efek Rumah Kaca

Eka kurniawan dalam sebuah jurnal onlinenya pernah menerbitkan sebuah cerpen tentang sebuah perlawanan, inti dari cerpen tersebut adalah tentang sebuah pemuda (mahasiswa) yang ingin melakukan sebuah aksi (perlawanan) untuk menjatuhkan sebuah kekuasaan (rezim) yang menurutnya sudah tidak pantas lagi untuk berkuasa. Cerita itu berakhir tragis dengan tokoh utama yang tiba-tiba hilang tak tahu ke mana, entah mati atau hidup. Menghilang tiba-tiba. Dalam sejarah Indonesia sendiri, sebuah perlawanan sudah mondar-mandir dicacat oleh tinta sejarah. Peristiwa orang Surabaya yang membunuh jendral Mallaby dan kemudian berimbas pada pertempuran tiga hari tiga malam di kota tersebut hingga kemudian hari tersebut ditetapkan sebagai hari pahlawan oleh Ir Soekarno guna menghargai mereka-mereka yang sudah gugur, misalnya. Atau perebutan Irian Barat dengan Belanda. Bahkan kemerdekaan bangsa Indonesia tak lain dan tak bukan adalah buah dari sebuah perlawanan. Perlawanan tak hanya dilakukan dengan...

Catatan Banjir Jakarta Februari 2017

Hujan turun sejak jam tiga dini hari (21 februari 2017), jam setengah empat pelataran rumah sudah terlihat genangan air, jam empat lebih air mulai menaiki tangga-tangga rumah. Kira-kira pas adzan subuh atau sekitar jam lima pagi air mulai masuk ke rumah-rumah warga. Beberapa orang sudah berada di depan rumah masing-masing berjaga, ada juga yang menggedor-gedor tetangga, khawatir masih ada orang yang belum bangun. Sekitar jam setengah enam sampai jam tujuh pagi air sudah benar-benar menguasi seisi rumah. Sementara sebelumnya, warga sudah mengamankan benda-benda yang mereka anggap penting. Benda elektronik, kulkas, mesin cuci, kompor. Surat-surat tanah, pakaian, atau hal yang kira-kira bisa rusak terkena banjir. Termasuk motor yang diungsikan dengan cara bergotong-royong mengangkat secara bergantian. Jam enam sampai jam tujuh hujan bisa dikatakan sedang lebat-lebatnya, langit masih gelap tidak seperti biasanya, barang-barang sudah naik ke singgahsana yang lebih tinggi. Banjir ka...