Langsung ke konten utama

Malam Pertama

“Kau tak ingin memelukku, Rahman?” tanya Alisa terhadap lelaki yang kini menjadi suaminya tepat beberapa jam lalu, saat orang-orang mengucapkan kata “sah” secara serentak kemudian bersama-sama melantunkan doa.

Malam yang indah, lima belas rabiul awal, awal januari. Bulan bulat penuh, cahaya terang sekali menambah indahnya malam pertama itu. Rahman dan Alisa kini telah resmi menjadi pasangan suami istri.

Namun ada yang aneh, daripada malam pertama pasangan suami istri baru pada umumnya, tepatnya saat Rahman bertanya terhadap istrinya, suami sekaligus pengusaha muda sukses dibidang furnitur  itu mengajukan pertanyaan yang membuat sunyi malam itu, lebih tepatnya membuat suasana malam menjadi hambar.

“Apa kau benar-benar cinta padaku” tanya lelaki yang masih mempunyai keturunan cina itu.
“Apa yang kau bicarakan Rahman, tak mungkin aku menikahi orang yang tak aku cintai” Dengan senyum Alisa menjawab sembari melepaskan pernik-pernik di kebayanya.

“Tapi aku bisa melihatnnya, kau masih mencintainya bukan?” Rahman, kali ini dengan sedikit sinis.
“Maksudmu?” Alisa mendongak heran.
“GILANG ! “ dengan nada lirih namun intonasi ditekan seakan menahan sesuatu yang ingin diungkapkan namun tak bisa.
“Aa,, aku,, aku, ah kau tak perlu membahasnya lagi, dia hadir di acara kita akupun tak tahu, undangan semua Ibu dan Bapak yang mengurus, aku sungguh tak tahu, percayalah” wanita ayu itu mencoba memohon walaupun terbata-bata.

“Aku ingin kau jujur, hubungan kita hanya satu bulan dan aku merasa kau tak sepenuhnya mencintaiku, aku bisa melihat itu” lagi-lagi Rahman mengucapkan kata-kata itu.

“Apa aku harus mengulanginya, Aku bersumpah demi apapun, aku tak mungkin mau menjalani hidup, menghabiskan sisa waktuku dengan orang yang tidak aku cintai, percayalah sayang, aku mencintaimu” Alisa mencoba menjelaskan kembali, kali ini dia benar-benar meyakinkan.

“Aku hanya takut kau menikah denganku karena ingin membalas jasa yang telah aku berikan terhadap keluargamu, seperti yang orang-orang bicarakan” Rahman sembari menunduk.
“Balas budi tak bisa berubah menjadi cinta Rahman, percayalah” untuk kali ketiga wanita lulusan sarjana ekonomi itu mencoba meyakinkan.

“Tapi kau dan Gilang...” Rahman dengan ragu-ragu, tapi kalimat itu sudah terpotong sebelum terselesaikan.
“Aku hanya mencintaimu, percayalah” Alisa meyakinkan, ini tepat yang keempat.

“Aku aku membersihkan wajahku dulu sayang, ijinkan aku ke kamar kecil, setelah itu kita lakukan apa yang seharusnya kita lakukan di malam ini” Alisa sembari beranjak dari tempat tidur dan bergegas menuju kamar kecil.
“Iya” Rahman singkat.



“Maafkan Aku Rahman” Batin Alisa tepat setelah dia mengunci pintu kamar mandi itu.
Ada perasaan yang tak bisa dia sembunyikan, rasa cintanya terhadap kekasihnya Gilang yang tadi sempat hadir di acara pernikahannya masih teramat besar, dia tidak bisa melupakan kisah cintanya selama hampir empat tahun bersama Gilang dengan begitu saja.

Benar kata-kata Rahman, ini semua hanya karena balas budi. Rahman sudah membiayai kuliahku hingga aku lulus, bahkan uang sekolah kedua adikkupun dia yang menanggungnya. Aku hanya membalas budi. Sembari melihat foto dirinya yang sedang bersama Gilang yang diberikan saat mereka bersalaman di pelaminan tadi dalam batin Alisa berkata “Maafkan aku Rahman, kau bukan satu-satunya, Gilang i always love u”


NB. Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari Tiket.com dan nulisbuku.com#TiketBaliGratis.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review Novel Jakarta Sebelum Pagi by Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

Sebelum memulai ke pertunjukan utama anggap saja ini sajian pembuka, seperti band pembuka di sebuah konser akbar. Ada beberapa hal yang menurut saya (sebagai pembaca) mengganjal dalam hati mengenai novel ini (selain covernya yang sedikit mirip dengan novel i'll give u the sun) Yang pertama adalah, beberapa hal yang menurut saya harusnya dipersingkat, dengan arti lain adalah beberapa bagian novel ini mempunyai informasi yang diulang-ulang, walaupun tidak membosankan, tetapi demi menghemat kertas, biaya produksi, dan tingkat kebosanan pembaca harusnya bisa dipersingkat saja. Misalnya dalam penjelasan mengenai teh. Percakapan yang berkaitan tentang teh beberapa bagian diulang-ulang, walaupun dengan kalimat yang berbeda tetapi saya merasa itu mempunyai informasi yang sama. Karena jika penulis ingin menjadikan ‘teh’ sebagai sarana pengantar cerita saya rasa porsi dalam novel tersebut bisa dipangkas lagi, toh beberapa bagian hanya berisikan informasi yang mungkin ingin menunju...

Mengulik Makna Dari Lagu 'Merah' Efek Rumah Kaca

Eka kurniawan dalam sebuah jurnal onlinenya pernah menerbitkan sebuah cerpen tentang sebuah perlawanan, inti dari cerpen tersebut adalah tentang sebuah pemuda (mahasiswa) yang ingin melakukan sebuah aksi (perlawanan) untuk menjatuhkan sebuah kekuasaan (rezim) yang menurutnya sudah tidak pantas lagi untuk berkuasa. Cerita itu berakhir tragis dengan tokoh utama yang tiba-tiba hilang tak tahu ke mana, entah mati atau hidup. Menghilang tiba-tiba. Dalam sejarah Indonesia sendiri, sebuah perlawanan sudah mondar-mandir dicacat oleh tinta sejarah. Peristiwa orang Surabaya yang membunuh jendral Mallaby dan kemudian berimbas pada pertempuran tiga hari tiga malam di kota tersebut hingga kemudian hari tersebut ditetapkan sebagai hari pahlawan oleh Ir Soekarno guna menghargai mereka-mereka yang sudah gugur, misalnya. Atau perebutan Irian Barat dengan Belanda. Bahkan kemerdekaan bangsa Indonesia tak lain dan tak bukan adalah buah dari sebuah perlawanan. Perlawanan tak hanya dilakukan dengan...

Catatan Banjir Jakarta Februari 2017

Hujan turun sejak jam tiga dini hari (21 februari 2017), jam setengah empat pelataran rumah sudah terlihat genangan air, jam empat lebih air mulai menaiki tangga-tangga rumah. Kira-kira pas adzan subuh atau sekitar jam lima pagi air mulai masuk ke rumah-rumah warga. Beberapa orang sudah berada di depan rumah masing-masing berjaga, ada juga yang menggedor-gedor tetangga, khawatir masih ada orang yang belum bangun. Sekitar jam setengah enam sampai jam tujuh pagi air sudah benar-benar menguasi seisi rumah. Sementara sebelumnya, warga sudah mengamankan benda-benda yang mereka anggap penting. Benda elektronik, kulkas, mesin cuci, kompor. Surat-surat tanah, pakaian, atau hal yang kira-kira bisa rusak terkena banjir. Termasuk motor yang diungsikan dengan cara bergotong-royong mengangkat secara bergantian. Jam enam sampai jam tujuh hujan bisa dikatakan sedang lebat-lebatnya, langit masih gelap tidak seperti biasanya, barang-barang sudah naik ke singgahsana yang lebih tinggi. Banjir ka...