Beberapa bulan lalu bisa dikatakan adalah waktu yang spesial
untukku, dan mungkin untuknya. Aku hanya bisa menggunakan kata “mungkin”. Dia
adalah teman kecilku yang sekarang bersama-sama tumbuh menjadi seorang remaja
dewasa.
Namanya Ajeng, Dia adalah wanita spesial, aku tahu mungkin ini akan terlihat
terlalu berlebihan jika aku menganggap dia adalah teman “spesial”, tapi
karena untuk sebuah alasan anggap saja seperti itu.
“Jasen, bagaimana
kabarmu?” pertanyaannya tepat setelah saat aku membukakan pintu di pagi hari,
sekitar jam delapan pagi. Saat matahari bersinar kuning sehat nan cerah secerah
perasaanku karena disapa oleh orang secantik Ajeng.
“Kabarku baik, kau
sendiri bagaimana?” Aku membalas dengan sedikit bingung dan dengan kaos
oblong dan celana pendek seadanya, pagi hari minggu itu aku belum sempat mandi.
Berbeda dengan Ajeng yang terlihat begitu segar dan anggun.
Setelah itu, kita mulai
berbincang, bertanya satu sama lain, bercerita tentang pengalamannya kuliah di
luar kota, salah satunya bercerita tentang masakan Jawa yang serba manis. Dia
juga memberitahu bahwa satu minggu dia akan menginap di rumah kakeknya.
Didalam obrolan itu, dengan segala aroma khas
orang belum mandi di pagi hari, aku sempat mengajaknya makan
saat malam nanti. Aku ingin mengajaknya jalan.
Siang berlalu, sore kemudian berganti malam. Aku
menjemputnya. Sesuai rencana yang sudah kita buat, kita akan pergi ke taman tempat di mana aku dan dia dulu bermain bersama saat kecil. Taman itu masih bagus sampai saat ini dan bahkan menjadi lebih bagus, beberapa pemerintah yang tak korup telah membuatnya demikian. Di kota ini tak
sulit menemukan Taman Kota, aku tinggal di Bandung.
“Aku senang bisa mengobrol denganmu lagi Jas” Ajeng
sembari menatapku, matanya tulus sekali.
“Aku juga” sembari menganggukan kepalaku diiringi cahaya lampu taman yang berwarna kuning cerah.
“Sudah lama kita tak bertemu, oh iya kamu tahu, saat sendiri aku kadang mengingatmu Jasen” suara Ajeng beriringan dengan sepoi angin malam.
“Aku juga” lagi-lagi aku hanya bisa berkata seperti itu.
“Aku juga” sembari menganggukan kepalaku diiringi cahaya lampu taman yang berwarna kuning cerah.
“Sudah lama kita tak bertemu, oh iya kamu tahu, saat sendiri aku kadang mengingatmu Jasen” suara Ajeng beriringan dengan sepoi angin malam.
“Aku juga” lagi-lagi aku hanya bisa berkata seperti itu.
Kita saat itu berbicara banyak, berbincang penuh semangat, kadang sedikit ejekan saling terlontar satu sama lain. Satu jam berlalu, dan tiba-tiba dari mulutnya terucap.
“Sebenarnya Aku merindukanmu Jasen, sungguh. bagiku jarak
hanyalah sebuah kertas dan rasa cinta adalah guntingnya, seberapapun tebalnya kertas
itu asalkan gunting itu tajam maka itu bukanlah sebuah masalah,
walau jauh tapi tetap dekat di hati bukan?”
Satu minggu itu sudah berlalu, dan Diapun sudah
kembali lagi ke aktivitasnya, Dia kemba;i menjadi seorang mahasiswi tingkat akhir di
salah satu perguruan negeri di Jawa Tengah.
Dan satu hal lagi, Dia Sahabat kecilku, Ajeng, kini menjadi pacarku. Dia telah menjadi kekasih terkasihku. Aku tak peduli akan jarak. Walau jauh tetapi tetap dekat di hati bukan?
-Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program Simulasi Kompetisi Menulis berhadiah 2 tiket PP+ voucher menginap di hotel berbintang Bali dari www.nu;isbuku.com dan www.tiket.com-
Dan satu hal lagi, Dia Sahabat kecilku, Ajeng, kini menjadi pacarku. Dia telah menjadi kekasih terkasihku. Aku tak peduli akan jarak. Walau jauh tetapi tetap dekat di hati bukan?
-Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program Simulasi Kompetisi Menulis berhadiah 2 tiket PP+ voucher menginap di hotel berbintang Bali dari www.nu;isbuku.com dan www.tiket.com-

Komentar
Posting Komentar