Langsung ke konten utama

Kerja dengan Kuliah

Bagaimana kalau teman anda lulus lebih cepat dari anda sendiri”
“Bagaimana kalau teman anda lulus lebih cepat dari anda dan dapat pekerjaan yang lebih baik dari anda?”

Pertanyaan tersebut tiba-tiba muncul saat saya sedang menikmati es jeruk sedirian di kamar kost, dan jawaban yang muncul secara tiba-tiba juga adalah “Ya, engga gimana-gimana, bang”

Sebagai penganut paham nihilism yang masih medioker, saya selalu berusaha menanggapi segala sesuatu dengan, singkatnya selalu bilang *ya udah, mau diapain lagi* bukan malas berusaha, tapi menerima sesuatu yang telah terjadi apapun itu dengan sikap yang biasa-biasa saja menurut saya jauh lebih menguntungkan, daripada memikirkannya dan pada akhirnya juga tidak bisa merubah apa-apa.

Beberapa waktu lalu, melalui dinding whatsapp salah satu teman kuliah secara tiba-tiba mengirim pesan yang berbunyi
“Hidup tidak sesedih itu, bung.” Pesan itu dikirimkan saat kami membicarakan tentang perkuliahan, dia sedang membicarakan nilai ipk-nya yang lebih dari angka tiga.

Hidup memang tak sesedih itu, tapi mungkin karena kesedihannya tak jauh-jauh dari kelingking kaki yang kepentok meja, harga nasi goreng yang naik tiap tiga bulan sekali, rambut yang kusut karena salah menggunakan shampo atau mungkin hanya kehabisan stok celana dalam yang bersih.
Mungkin dia belum pernah merasakan mengganti menu makan malam dengan soto yang dikemas dalam bentuk sebuah mie instan demi melunasi uang sewa kost dan membayar sistem pendidikan kampus melalui iuran tiap semester, tapi, ya, tidak apa-apa, karena tidak ada yang sepenuhnya salah di muka bumi ini.

Beberapa diantara mereka juga begitu perhatian dengan nilai kuliah, kalau boleh jujur, sebenarnya saya tak terlalu peduli tentang nilai, memang nilai tinggi adalah prestasi, tapi (susah juga menjelaskannya) intinya saya tak terlalu memperdulikan nilai, nilai saya saat SMA juga pas-pasan (sekali) tetapi saya masih bisa bekerja, masih bisa membeli beberapa sepatu yang harganya cukup mahal (walaupun harus menabung terlebih dahulu) dan yang terpenting adalah saya masih bisa hidup sampai sekarang. Ingin sekali saya bilang ke orang-orang itu bahwa jangankan menjamin sebuah kebahagian, nilai bagus menjamin pekerjaan tetap saja tidak.

Menyalahkan pekerjaan atas alasan apapun tentu bukan seorang sifat ksatria, memalui pekerjaan hidup bisa membayar tagihan air untuk kita mandi, dari pekerjaan pula saya membiayai hidup termasuk kuliah, maka apapun yang diakibatkan dari pekerjaan tentu saya terima, termasuk telat lulus.

Jadi teringat sebuah petuah dari Alan Turing melalui filmnya The Imination Game bahwa orang-orang selalu terburu-buru ingin menjadi sukses, padahal albert einsten saja menerbitkan makalahnya yang terkenal itu saat umur 26 tahun dan Newton dengan teorema biogonalnya juga di umur 22 tahun. Tidak ada yang mudah tentu saja, tapi terburu-terburu juga adalah karakter iblis. Dan karena tidak ada yang mudah dan terburu-buru adalah sebuah keniscayaan maka jalan tengahnya adalah “YA UDAH, MAU DIAPAIN LAGI”

sumbergb:cover album audioslave


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review Novel Jakarta Sebelum Pagi by Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

Sebelum memulai ke pertunjukan utama anggap saja ini sajian pembuka, seperti band pembuka di sebuah konser akbar. Ada beberapa hal yang menurut saya (sebagai pembaca) mengganjal dalam hati mengenai novel ini (selain covernya yang sedikit mirip dengan novel i'll give u the sun) Yang pertama adalah, beberapa hal yang menurut saya harusnya dipersingkat, dengan arti lain adalah beberapa bagian novel ini mempunyai informasi yang diulang-ulang, walaupun tidak membosankan, tetapi demi menghemat kertas, biaya produksi, dan tingkat kebosanan pembaca harusnya bisa dipersingkat saja. Misalnya dalam penjelasan mengenai teh. Percakapan yang berkaitan tentang teh beberapa bagian diulang-ulang, walaupun dengan kalimat yang berbeda tetapi saya merasa itu mempunyai informasi yang sama. Karena jika penulis ingin menjadikan ‘teh’ sebagai sarana pengantar cerita saya rasa porsi dalam novel tersebut bisa dipangkas lagi, toh beberapa bagian hanya berisikan informasi yang mungkin ingin menunju...

Mengulik Makna Dari Lagu 'Merah' Efek Rumah Kaca

Eka kurniawan dalam sebuah jurnal onlinenya pernah menerbitkan sebuah cerpen tentang sebuah perlawanan, inti dari cerpen tersebut adalah tentang sebuah pemuda (mahasiswa) yang ingin melakukan sebuah aksi (perlawanan) untuk menjatuhkan sebuah kekuasaan (rezim) yang menurutnya sudah tidak pantas lagi untuk berkuasa. Cerita itu berakhir tragis dengan tokoh utama yang tiba-tiba hilang tak tahu ke mana, entah mati atau hidup. Menghilang tiba-tiba. Dalam sejarah Indonesia sendiri, sebuah perlawanan sudah mondar-mandir dicacat oleh tinta sejarah. Peristiwa orang Surabaya yang membunuh jendral Mallaby dan kemudian berimbas pada pertempuran tiga hari tiga malam di kota tersebut hingga kemudian hari tersebut ditetapkan sebagai hari pahlawan oleh Ir Soekarno guna menghargai mereka-mereka yang sudah gugur, misalnya. Atau perebutan Irian Barat dengan Belanda. Bahkan kemerdekaan bangsa Indonesia tak lain dan tak bukan adalah buah dari sebuah perlawanan. Perlawanan tak hanya dilakukan dengan...

Catatan Banjir Jakarta Februari 2017

Hujan turun sejak jam tiga dini hari (21 februari 2017), jam setengah empat pelataran rumah sudah terlihat genangan air, jam empat lebih air mulai menaiki tangga-tangga rumah. Kira-kira pas adzan subuh atau sekitar jam lima pagi air mulai masuk ke rumah-rumah warga. Beberapa orang sudah berada di depan rumah masing-masing berjaga, ada juga yang menggedor-gedor tetangga, khawatir masih ada orang yang belum bangun. Sekitar jam setengah enam sampai jam tujuh pagi air sudah benar-benar menguasi seisi rumah. Sementara sebelumnya, warga sudah mengamankan benda-benda yang mereka anggap penting. Benda elektronik, kulkas, mesin cuci, kompor. Surat-surat tanah, pakaian, atau hal yang kira-kira bisa rusak terkena banjir. Termasuk motor yang diungsikan dengan cara bergotong-royong mengangkat secara bergantian. Jam enam sampai jam tujuh hujan bisa dikatakan sedang lebat-lebatnya, langit masih gelap tidak seperti biasanya, barang-barang sudah naik ke singgahsana yang lebih tinggi. Banjir ka...