Namaku
Pitagoras, umur empat belas tahun dan sudah onani sebanyak dua kali. Orang
biasa memangilku Tagor. Seperti nama dari sebuah suku, tapi aku juga tak tahu
kenapa namaku seperti sebuah rumus matematika dan nama panggilanku seperti nama
orang-orang yang suka bicara dengan suara keras.
Hari
ini tepat tujuh hari kematian ibuku, hari sabtu, jalanan terlihat ramai, dan
aku sedang menunggu seorang teman untuk melakukan sebuah misi penting.
“Gor,
lu enggak solat jumat?” Berman tiba-tiba mengagetkanku.
Tunggu
dulu, ibuku meninggal hari jumat, satu minggu setelah hari jumat tentu saja
hari jumat, sepertinya ku salah, ini hari jumat bukan hari sabtu.
Hari jumat dan jalanan memang selalu terlihat ramai. Berman sudah datang, temanku yang satu ini adalah teman yang paling bisa diandalkan, dia satu sekolahan dengan ku dulu, nama sebenarnya adalah Herman, cuma dia sendiri yang minta dipanggil Berman saja, lebih laki-laki katanya.
Hari jumat dan jalanan memang selalu terlihat ramai. Berman sudah datang, temanku yang satu ini adalah teman yang paling bisa diandalkan, dia satu sekolahan dengan ku dulu, nama sebenarnya adalah Herman, cuma dia sendiri yang minta dipanggil Berman saja, lebih laki-laki katanya.
Aku
sudah menyusun rencana, semua ini harus diselesaikan. Jumat, satu minggu yang
lalu ibu telah meninggal, dan kalau boleh aku protes, ibuku sebenarnya bisa
saja hidup lebih lama jika bapak lebih memilih menggunakan uang gajiannya untuk
biaya berobat ibu daripada untuk berjudi.
“Lu
kalo mau solat, solat aja Ber, aku lagi mikir” jawabku
“Solat
Gor, biar masuk surga” Berman kemudian pergi.
“Anjing”
Sebenarnya
ku bisa saja melakukan ini sendiri, tapi ku penggemar Batman, ku harus punya
teman karena Batman punya Robin. Usia Berman lebih tua dariku tiga tahun tapi
untuk ukuran teman tempat bercerita aku selalu bisa diajaknya untuk berbicara
segala hal. ‘Pengetahuan lu luas Gor’ Berman sekali pernah menyanjungku
demikian, walaupun ku tak sepenuhnya percaya karena seingatku pujian itu
diucapkannya saat dia mabuk. Berman memang sering mabuk tapi aku tidak, karena
Batman tak pernah mabuk dan aku penggemar Batman.
Usiaku
empat belas tahun dan aku sudah memutuskan untuk berhenti sekolah. Sekolah tak
penting, aku pernah mendengar kata-kata itu. Sekolah cuma membuat kau menjadi
sesuatu sedangkan aku tak ingin menjadi apa-apa, kalaupun harus jadi sesuatu ku
hanya ingin menjadi, akan kupikirkan nanti saja.
“Gimana
Gor, rencana kita jadi?” tanya Berman sepulang solat jumat.
“Lagi
aku pikirin, harusnya jadi. Ingat, tugas lu cuma dengerin semua perintah, lu
cuma jadi Robin”
“Robin
siapa Gor?”
“Temennya
Batman lah, goblok”
Rencana
ini sudah aku pikirkan sejak ibu sakit-sakitan, rencana jahat memang selalu
berawal dari rasa sakit hati. Seperti perkataanku di awal, saat itu harusnya
ibu mendapat pertolongan medis yang memadai andai saja bapak tak memakai
uangnya untuk berjudi, bapak adalah seorang guru sd sekaligus seorang penjudi
berat. Uang gajian, semua benda di rumah yang bisa dijual, semua menjadi uang
dan semuanya berlabuh di meja judi kemudian ke kantong bandar judinya.
Ini
dia musuh utamanya, bandar judinya. Ku tahu mungkin ini salah bapak yang lebih
suka berjudi daripada melihat ibu hidup lebih lama, lebih suka memegang kartu
dari pada bercinta dengan istrinya di ranjang saat malam datang. Tetapi,
seorang anak tak boleh membunuh bapaknya sendiri. Ya, betul, aku akan membunuh
bandar judi brengsek itu.
Usiaku
boleh
saja empat belas tahun, tapi untuk
masalah nyali jangan ditanya, aku pernah
berkelahi denga supir angkot yang suka berhenti mendadak, aku pernah menggigit
telinga tukang parkir hingga nyaris putus. Aku seorang yang berani dan akan
membunuh bandar judi.
Bandar
judi itu bernama Kohar, keturunan arab yang tinggal di sini sejak presiden
kedua Indonesia menggundurkan diri, saat itu Kohar datang sebagai rentenir
untuk ibu-ibu yang harus memasak meski tak mempunyai uang, hingga suatu hari ia
membeli sebuah rumah kosong dan dijadikannya sebuah rumah judi kecil-kecilan dan
lambat laun berkembang hingga menjadi tempat judi paling terkenal di wilayah
ini.
Setelah
usaha tempat judinya sukses, Kohar kemudian membangun sebuah rumah tak jauh
dari rumah judinya, dan aku tahu ia akan selalu ada di rumahnya hanya setiap
hari jumat. Ku pernah bertanya kepada anak buahnya, kenapa hari jumat tidak
hari minggu agar seperti pegawai kantor, kemudian anak buahnya menjawab ‘Kata bos hari jumat
hari baik tidak boleh untuk berbuat dosa, banyak faedahnya.’ Dan ku hanya bisa
memaki dalam hati, bagaimana mungkin seorang bandar judi sekaligus seorang
rentenir sekaligus seorang brengsek masih punya rasa takut dosa, dan, dan,
brengsek memang Kohar itu. Aku rasa ia hanya pura-pura baik saja.
Namaku
Pitagoras, umur empat belas tahun, sudah onani sebanyak dua kali, dan akan
membunuh seorang bandar judi.
Aku sudah mantap, yang akan kubunuh adalah Kohar orang Arab itu bukan Bapak, sudah kukatakan sejak awal, seorang anak tak boleh durhaka apalagi sampai membunuh ayahnya sendiri, ku memang kesal dengan bapak karena telah menelantarkan ibu hingga akhirnya ibu meninggal, tetapi itu bukan semata-mata kesalahan bapak, bapak hanya sebagai korban, masalah utamanya ada di rumah judi dan Kohar sialan itu, Kohar adalah akar dari musibah ini. Kira-kira begini, bapak adalah ranting pohon dan Kohar adalah akarnya, jika yang dipotong rantingnya saja, ia akan tetap tumbuh dan tumbuh dengan ranting yang lebih baru, tetapi jika kucabut akar pohon itu, semua beres. Kelar tamat. Bicara seperti ini ku jadi merasa pintar.
Aku sudah mantap, yang akan kubunuh adalah Kohar orang Arab itu bukan Bapak, sudah kukatakan sejak awal, seorang anak tak boleh durhaka apalagi sampai membunuh ayahnya sendiri, ku memang kesal dengan bapak karena telah menelantarkan ibu hingga akhirnya ibu meninggal, tetapi itu bukan semata-mata kesalahan bapak, bapak hanya sebagai korban, masalah utamanya ada di rumah judi dan Kohar sialan itu, Kohar adalah akar dari musibah ini. Kira-kira begini, bapak adalah ranting pohon dan Kohar adalah akarnya, jika yang dipotong rantingnya saja, ia akan tetap tumbuh dan tumbuh dengan ranting yang lebih baru, tetapi jika kucabut akar pohon itu, semua beres. Kelar tamat. Bicara seperti ini ku jadi merasa pintar.
Satu minggu sejak pertemuanku dengan Berman telah berlalu. Hari juga ini hari jumat, tepat dua
minggu umur kematian ibu, aku pun sudah semakin mantap dengan rencanaku,
sehabis isya aku akan ke rumah Kohar. Ia sudah pasti berada di rumahnya.
“Ber,
jangan sampai lupa” diperjalanan menuju rumah Kohar ku mengingatkan Berman akan
rencana awal. Ku akan bertamu ke rumah Kohar dan pura-pura akan meminjam uang dengan
jumlah yang cukup besar. Dan saat ku berbincang-bincang dengan Kohar Berman
mematikan listrik rumah Kohar agar semuanya gelap gulita, di saat itu aku akan
membunuh orang arab sialan itu, kemudian lari sekencang-kencangnya
sejauh-jaunya.
“Oke
siap, Bat” jawab Berman.
“Bat
siapa Ber?
“Batman
lah, goblok”
“Anjing”
Namaku
Pitagoras, umur empat belas tahun, sudah onani sebanyak dua kali, akan membunuh
seorang bandar judi dan aku merasa gugup sekali. Entah bagaimana harus aku
jelaskan, tapi aku meras gugup sekali, belum pernah aku segugup ini, rasa gugup
ini tidak masuk hitungan, aku menghitung waktu bincang-bincang, waktu membunuh
dan waktu kabur, aku benar-benar merasa gugup tapi biar bagaimanapun pohon maksiat
harus dimusnahkan. Ku harus mencabut akar itu.
Pintu
ku ketuk, tidak ada jawaban. Ku ketuk lagi kali ini dengan diiringi sebuah
salam yang aku ucapkan dengan logat orang arab. Tidak ada jawaban. Ke ketuk
dengan lebih bertenaga sambil berteriak memanggil nama Kohar, percobaan ketiga
berhasil.
“Ya”
seorang membukakan pintu rumah dan itu Kohar sendiri.
"Pak
Kohar, aku Pitagoras panggilanku Tagor pak”
“Persetan
dengan namamu, ada urusan apa datang ke sini”
“Ku,
ku mau meminjam uang Pak” aku semakin merasa gugup.
“Silahkan
masuk” Kohar sembari menganggukan kepalanya.
Setelah
berada di dalam rumah, ku mulai membuat percakapan dengan Pak Kohar, maksudku
Kohar, dan Kohar terlihat cukup ramah, kalau urusan uang semua orang memang
terlihat baik. Ia bersedia meminjamkan uang kepadaku, tetapi dengan syarat
bunga dua puluh persen, dan tentu saja aku setuju karena ku hanya berpura-pura.
Kemudian
ia beranjak dari tempat duduknya, aku mulai meraba belati yang sejak berangkat
aku taruh dibagian belakang celana ku, aku selipkan di sana. Masih ada,
sebentar lagi, Berman harusnya sudah siap juga, sesuai rencana, sepuluh menit
aku berada di dalam sini Berman harus mematikan saklar listrik, ia harus memadamkan
semua penerangan ini.
Kohar
kembali, ia membawa semacam dompet yang ukurannya lebih besar dari dompet
biasanya. Sialan, batinku, lama sekali Berman.
“Ingat,
duapuluh persen waktu tiga bulan, anak buah saya banyak jadi jangan macam-macam
kamu” Kohar menyerahkan uang kepadaku.
Ku
sudah mulai berkeringat karena rasa gugup dan panik yang menjalar ke seluruh tubuhku.
Di
tengah-tengah kepanikanku, tiba-tiba pintu rumah Kohar ada yang mengetuk. Tanpa
membukakan pintu kohar berteriak untuk menyuruhnya masuk. Pintu terbuka seorang
masuk, dan ternyata itu Berman. Ya ampun apa lagi ini.
“Saya
temannya Tagor Pak Kohar”
“Persetan
dengan namamu juga, ada urusan apa datang ke sini” tanya pak Kohar.
“Saya
hanya ingin menemani Bat-- eh Tagor Pak”
Kohar
menyuruh Berman duduk di sampingku, kemudian ia menghitung uang di dalam
dompetnya. Berman duduk dan ia berbisik kepadaku, ia mengatakan bahwa saklarnya
dijaga seseorang, sepertinya itu adalah satpam katanya. Bagaimana mungkin,
sejak rencana ini terpikirkan mesin listrik itu tak dijaga siapapun, dan rumah
ini setahuku memang tak punya penjaga satupun. Atau dia memang pekerja baru, Ku
semakin panik. Ku mencoba berpikir, Berman mengusulkan agar rencana ini ditunda
minggu depan saja, tidak kataku, hari ini harus terselesaikan, harus tamat.
Ku
masih mencoba berpikir, Kohar masih menghitung uangnya, sepertinya ia mengulang
hitungannya. Disaat aku mencoba berpikir, tanganku tiba-tiba bergerak meraba
belati yang telah kusiapkan, ia bergerak kebelakang seolah-olah ia punya
kehendaknya sendiri, ia mengeluarkannya dan kemudian dengan cepat sekali ia
menancap di sebuah perut yang penuh dengan lemak dan dipenuhi bulu. Darah
keluar cepat, dan si tangan malah semakin kokoh menancapkan belatinya ke sana,
terdengar geraman suara seseorang, tapi ia justru semakin betah menyobek perut
itu.
***
Namaku
Pitagoras, panggilanku Tagor, umur empat belas tahun, aku sudah onani sebanyak
dua kali, aku merasa gugup dan sebentar lagi aku akan masuk penjara karena
telah membunuh seorang bandar judi.
sumbergb:cloudfront.net

Komentar
Posting Komentar