Langsung ke konten utama

REVIEW; Raden Mandasia si Pencuri Daging Sapi (Dongeng Super Brengsek)

Untuk membuat review dari sebuah buku bagus, kadang harus membacanya hampir dua kali. Membaca yang pertama untuk bersenang-senang, dan kedua untuk mencari hal-hal yang penting untuk di tulis ulang, dan sialnya tak ada bagian yang tak penting. Semua bagian ceritanya sambung-menyambung. Setidaknya seperti itulah saat membaca Raden Mandasia ini.

Perhatikan kalimat berikut ini:

Dunia milik orang berani, demikian kata seorang pujangga Atas Angin yang pernah kudengar. Atau, mungkin, langit menyenangi anak muda nekat. Atau apalah. Terdorong senyum Nyai Manggis, aku maju dan langsung menyerang bibirnya dengan bibirku. Tangan kananku maju begitu saja memegang payudara kirinya.
...
“Raden, jangan tergesa-gesa. Seperti kataku tadi, kita punya waktu sepanjang yang kita mau. Lanjutkan cerita Raden” (hal 69)


Berapa banyak kah dongeng yang pernah kita tahu selama ini? satu-dua atau mungkin sampai angka puluhan jika masa kecilmu beruntung karena setiap malam diberikan dongeng pengiring tidur.

Dongeng yang banyak kita jumpai, atau bahkan hampir semua dongeng selalu mengandung sebuah nasehat, wejangan, dan hal-hal mungkin berguna bagi kehidupan sekalian umat.
Tapi tidak dengan Raden Mandasia, Novel pertama dari Yusi Avianto Pareanom ini menceritakan beberapa hal yang jika seorang alim membacanya, secara tidak sadar mungkin ia akan mengeluarkan sumpah serapah, umpatan dan makian yang sebelumnya belum pernah ia ucapkan sama sekali.

Penggalan di awal tadi contohnya, beberapa bagian novel ini memang ditulis secara vulgar, salah, secara benar-benar vulgar. Beberapa bagian ditulis dengan apa adanya, tanpa mengunakan idiom, hiperbola ataupun yang lainnya. Benar-benar hot. Tak hanya itu, di bagian awal sampai akhir novel kita akan disuguhi dengan beberapa maki-makian yang nikmatnya sungguh aduhai sekali.

Tapi tak perlu khawatir, cerita yang disuguhkan dalam novel ini jauh lebih mewah ketimbang adegan-adegan pornonya. Cerita dibangun begitu rapi, dan beruntungnya lagi maki-makian yang disuguhkan menjadi semacam bumbu yang super creamy untuk membangun sebuah candaan yang memancing gelak tawa di setiap adegannya.

Secara garis besar Raden Mandasia bercerita tentang sebuah kerjaan yang ingin merebut kerjaan lain, settingnya pun mengambil suasana ketika tanah Jawa masih dikuasai oleh beberapa kerajaan. Tetapi, dalam cerita sang penulis mengambil sudut pandang lain. Cerita yang dihadirkan tak melulu tentang perang, bahkan bagian awal sampai tengah cerita berisikan tentang perjalanan salah satu tokoh utamanya, yaitu Raden Mandasia yang berencana untuk menghentikan perang yang akan terjadi.

Dalam perjalanan untuk mewujudkan misinya tersebut, Raden Mandasia bertemu dengan Sungu Lembu. Dan cerita demi cerita pun berlanjut. Dan ketika membaca novel ini, kita akan dihadapkan dalam beberapa dongeng yang sepertinya familiar sekali dengan kahidupan kita. Beberapa dongeng tersebut digabungkan secara halus sekali, sehingga seolah-olah memang peristiwa itu terjadi secar bersamaan.

Perhatikan yang ini lagi:

“Aku pernah mendengar tentang seorang yang lahir di Tanah yang Dijanjikan yang inti ajarannya kasih sayang, yang memberikan pipi kiri saat pipi kanan digampar, yang bisa berjalan di atas air, yang bisa menyembuhkan orang yang terkena kusta. Ia juga bisa mengubah air menjadi anggur. Beh!” kata salah seorang awak. (hal 257)

Tak hanya itu, yang lebih membuat novel ini menarik adalah keahlian penulis dalam mendeskripsikan sebuah makanan, selera penulis benar-benar di atas rata-rata. Beberapa bagian dibuat ketika membayangkan saja kita sudah merasa lapar. Dan hebatnya makanan-makanan tersebut berasal dari nusantara. Seakan-akan penulis ingin berteriak bahwa khazanah cita rasa nusantara kita memang benar-benar istimewa dengan berjuta rempah-rempahnya.

Untuk keseluruhan, novel ini memang tak mengandung pesan moral seperti dongeng-dongeng pada umumnya. Tapi, mungkin di situlah letak kelebihannya. Banyak buku atau orang saat ini merasa paling, ya bisa dibilang hobinya adalah memberikan satu-dua kata-kata bijak padahal nasib hidupnya tak karuan bagus apa tidak.

Novel ini, bisa saja dibuat untuk melawan itu, sebuah dongeng tanpa merasa menggurui seorang yang membacanya. Dongeng yang benar-benar mengalir begitu saja, tetapi menimbulkan kesan istimewa kepada para pembacanya.

sumber gb: milik pribadi

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review Novel Jakarta Sebelum Pagi by Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

Sebelum memulai ke pertunjukan utama anggap saja ini sajian pembuka, seperti band pembuka di sebuah konser akbar. Ada beberapa hal yang menurut saya (sebagai pembaca) mengganjal dalam hati mengenai novel ini (selain covernya yang sedikit mirip dengan novel i'll give u the sun) Yang pertama adalah, beberapa hal yang menurut saya harusnya dipersingkat, dengan arti lain adalah beberapa bagian novel ini mempunyai informasi yang diulang-ulang, walaupun tidak membosankan, tetapi demi menghemat kertas, biaya produksi, dan tingkat kebosanan pembaca harusnya bisa dipersingkat saja. Misalnya dalam penjelasan mengenai teh. Percakapan yang berkaitan tentang teh beberapa bagian diulang-ulang, walaupun dengan kalimat yang berbeda tetapi saya merasa itu mempunyai informasi yang sama. Karena jika penulis ingin menjadikan ‘teh’ sebagai sarana pengantar cerita saya rasa porsi dalam novel tersebut bisa dipangkas lagi, toh beberapa bagian hanya berisikan informasi yang mungkin ingin menunju...

Mengulik Makna Dari Lagu 'Merah' Efek Rumah Kaca

Eka kurniawan dalam sebuah jurnal onlinenya pernah menerbitkan sebuah cerpen tentang sebuah perlawanan, inti dari cerpen tersebut adalah tentang sebuah pemuda (mahasiswa) yang ingin melakukan sebuah aksi (perlawanan) untuk menjatuhkan sebuah kekuasaan (rezim) yang menurutnya sudah tidak pantas lagi untuk berkuasa. Cerita itu berakhir tragis dengan tokoh utama yang tiba-tiba hilang tak tahu ke mana, entah mati atau hidup. Menghilang tiba-tiba. Dalam sejarah Indonesia sendiri, sebuah perlawanan sudah mondar-mandir dicacat oleh tinta sejarah. Peristiwa orang Surabaya yang membunuh jendral Mallaby dan kemudian berimbas pada pertempuran tiga hari tiga malam di kota tersebut hingga kemudian hari tersebut ditetapkan sebagai hari pahlawan oleh Ir Soekarno guna menghargai mereka-mereka yang sudah gugur, misalnya. Atau perebutan Irian Barat dengan Belanda. Bahkan kemerdekaan bangsa Indonesia tak lain dan tak bukan adalah buah dari sebuah perlawanan. Perlawanan tak hanya dilakukan dengan...

Catatan Banjir Jakarta Februari 2017

Hujan turun sejak jam tiga dini hari (21 februari 2017), jam setengah empat pelataran rumah sudah terlihat genangan air, jam empat lebih air mulai menaiki tangga-tangga rumah. Kira-kira pas adzan subuh atau sekitar jam lima pagi air mulai masuk ke rumah-rumah warga. Beberapa orang sudah berada di depan rumah masing-masing berjaga, ada juga yang menggedor-gedor tetangga, khawatir masih ada orang yang belum bangun. Sekitar jam setengah enam sampai jam tujuh pagi air sudah benar-benar menguasi seisi rumah. Sementara sebelumnya, warga sudah mengamankan benda-benda yang mereka anggap penting. Benda elektronik, kulkas, mesin cuci, kompor. Surat-surat tanah, pakaian, atau hal yang kira-kira bisa rusak terkena banjir. Termasuk motor yang diungsikan dengan cara bergotong-royong mengangkat secara bergantian. Jam enam sampai jam tujuh hujan bisa dikatakan sedang lebat-lebatnya, langit masih gelap tidak seperti biasanya, barang-barang sudah naik ke singgahsana yang lebih tinggi. Banjir ka...