Kesimpulannya
adalah kau akan merasakan bosan ketika melakukan hal yang diulang-ulang secara terus-menerus.
Ketika kegiatan itu mau tak mau harus kau lakukan, dan jika sudah seperti itu,
kau akan mati karena batinmu disiksa oleh rasa bosanmu sendiri, tetapi jika kau
tak melakukannya, kau juga tak bisa makan dan lama kelamaan kau akan mati juga.
Hidup memang sebrengsek itu.
Itulah yang
dialami Alip. Ia sudah bekerja selama lebih kurang tiga tahun, selama itu pula
ia harus berteman dengan rasa bosan yang tiap waktu mencekik rasa bebasnya
sebagai makhluk hidup. Alip bekerja pada sebuah toko penjual aki dan oli mobil,
gajinya tak terlalu kecil, tak juga terlalu banyak. Tetapi karena rasa bosan
dan beberapa alasan lainnya Alip ingin sekali berpindah tempat kerja.
Toko itu
adalah sebuah toko yang kecil, dua lantai. Lantai pertama dijadikan sebagai
tempat transaksi dan lantai kedua hanya dijadikan sebagai gudang penyimpanan.
Tak ada yang benar-benar bisa dibanggakan Alip akan tempat kerjanya kecuali
akses wi-fi gratis setiap hari yang tanpa batas. Tapi, itu
saja tak cukup untuk merubah keinginannya untuk segera cabut dari tempat sialan itu.
Sebenarnya
bukan hanya dia yang ingin meninggalkan tempat kerja, dua teman kostnya sudah melakukannya
jauh-jauh hari.
Qasim yang
pertama, remaja keturunan Jawa Timur yang mengaku pernah bertemu dengan Walisanga dalam mimpinya itu sudah
keluar sejak lama, ia hanya bertahan selama dua bulan, bagi Qasim tempat kerja
itu lebih mirip seperti neraka dari pada disebut sebagai tempat kerja, walaupun
dia tak benar-benar tahu seperti apa keadaan neraka yang sesungguhnya, tapi,
sepertinya ia memang tak punya kata yang lebih baik lagi selain neraka.
Jam kerja yang tak sesuai dengan perjanjian kerja, waktu libur yang malah dijadikan sebagai waktu untuk membantu pekerjaan teman secara sukarela. Dan lain-lainnya, dan sebagainya. Mirip kerja rodi, batinnya, “Kerja kok ngene banget” kata-kata Qasim yang cukup bagus untuk sebuah sablon kaos.
Jam kerja yang tak sesuai dengan perjanjian kerja, waktu libur yang malah dijadikan sebagai waktu untuk membantu pekerjaan teman secara sukarela. Dan lain-lainnya, dan sebagainya. Mirip kerja rodi, batinnya, “Kerja kok ngene banget” kata-kata Qasim yang cukup bagus untuk sebuah sablon kaos.
Agung berikutnya,
dia keluar setelah tertangkap tangan menggasak uang penjualan aki dan oli. Tak
tanggung-tanggung, dua puluh juta langsung Agung embat. Awalnya Agung tak mau
mengakui, tapi setelah, entah apa yang dilakukan oleh perusahaan pada akhirnya
Agung mengaku, kemudian dia diberikan pilihan untuk mengundurkan diri atau
dipecat.
Dan Agung lebih memilih meludahi muka bos daripada dipecat atau mengundurkan diri. keesokan harinya Agung benar-benar dipecat. Keduanya kini tinggal kenangan. Dan menyisakanlah Alip sebagai garis keturunan terakhir dari tempat kerja mengerikan itu.
Dan Agung lebih memilih meludahi muka bos daripada dipecat atau mengundurkan diri. keesokan harinya Agung benar-benar dipecat. Keduanya kini tinggal kenangan. Dan menyisakanlah Alip sebagai garis keturunan terakhir dari tempat kerja mengerikan itu.
Tempat kerja
itu mungkin memang sudah ditakdirkan untuk dibenci. Diantara beberapa alasan, alasan yang paling
kuat adalah atasan mereka yang bentuk mukanya saja sungguh tak lebih baik dari
remukan biskuit kaleng. Raut wajahnya selalu murung, hitam dan gelap.
Tak ada
bagus-bagusnya, bisa dibilang dia tak ada tampang sebagai calon penghuni surga.
Itu intinya.
Panggilannya
Pak Daging, ada sebuah cerita dibalik nama itu. Tapi, baiknya diceritakan nanti
saja.
Tak ada yang
banyak dilakukan oleh Pak Daging, kebiasaan utamanya adalah marah-marah,
kebiasaan selingannya juga marah-marah, kebiasaannya memang selalu marah-marah.
Setiap hari hanya uang pejualan yang ia bahas, sales yang tak sesuai target, tempat kerja yang berantakan, karyawan
yang malas dan kurang produktif.
Sebagai
atasan tentu saja Pak Daging juga bisa menjadi motivator bagi para pekerjanya.
Ketika memberikan motivasi, ia selalu menyelipkan pengalaman pribadinya yang
dulu menjadi seorang pemabuk, atau pengalamannya sebagai seorang yang setia menyewa
psk hotel melati, dan pengalaman buruk lainnya. Tetapi, dengan gaya bahasanya
Pak Daging selalu bisa membuat itu semua menjadi sebuah kalimat yang sepertinya
bijak. Dan agar benar-benar seperti sebuah motivasi yang bagus, Pak Daging
kadang menyelipkan satu-dua ayat kitab suci atau perkataan dari orang-orang
penting. Orang brengsek yang beraga bijak. Kira-kira begitu.
***
“Tembak saja
Pak, kalaupun aku mati setidaknya saat ini aku memang benar-benar hidup” Alip
sembari memandang Pak Daging.
“Bangsat” Pak
Daging menurunkan pistol kecil itu, kemudian “Kau mau aku mampusin sekalian
ya?! Bangsat” ia meludah ke samping.
***
Tiga hari
sebelum kejadian itu, sebenarnya tak ada sesuatu apapun yang bisa dijadikan
sebagai sesuatu tanda akan terjadinya sebuah peristiwa besar.
Alip dan Pak
Daging berkendara di suatu sore di hari libur. Mereka setuju untuk membahas
strategi untuk sales di bulan depan. Sebagai pekerja, Alip bisa dibilang bukan
pekerja ecek-ecek, dia selalu berhasil untuk membujuk orang membeli barang-barang
yang berada di toko, kalau dia mau, sebenarnya ketangkasan merayunya itu bisa
ia jadikan alat untuk memikat lawan jenis. Tapi, sayangnya Alip tak semurah
itu.
Mereka
berhenti di sebuah kafe, bukan tujuan awal, dan lagi pula sejak awal memang mereka
tak punya tujuan.
“Lip, sales
bulan depan usahain naik, ya. Yang semangat lagi jualannya” Pak Daging meminum
pesanannya.
“Emm, nganu
Pak, bulan depan bulan Februari pak, banyak tanggal merahnya juga” aksen jawa
Alip sedikit keluar.
“Ya memang
abis Januari Februari, Lip. Bego amat sih” Pak Daging kemudian memanggil
seorang pelayan “Mba, ganti bir”
“Kamu mau
sekalian, Lip?” tanya Pak Daging.
“Bir haram
pak” Alip lagi “Aku tak solat dulu, ya Pak, sudah mau jam tujuh ini. Nanti
tidak kebagian maghrib”
“Solat tidak
solat kamu tetep aku gaji Lip, tapi, ya sudahlah. Doain kamu sendiri biar punya
mental buat minum bir. Bir enak lip, apalagi kalau dingin” Pak daging sembari
mencongkel sebuah belek di pojok dalam matanya. Matanya memang selalu belekan.
Saat Alip
mengerjakan solat ada sesuatu yang mengganjal di dalam pikiran Pak Daging. Sales toko sudah
melorot jauh sekali dari target, ini yang ingin ia selidiki. Ia meyakini ini
semua ada hubungannya dengan Alip yang jelas-jelas adalah pekerja senior.
“Loh, Pak.
Kok masih minum jus jeruk. Tidak jadi pesen bir, to?” Alip sesudah solat dan
kembali bersama Pak Daging.
‘Bukannya kau
sendiri yang bilang haram. Anjing’ Pak Daging hanya bergumam dalam hati, kalimat
itu tak benar-benar ia ungkapkan.
“Birnya
kosong Lip” tentu saja Pak Daging berbohong.
“Barang kali kamu ada sesuatu yang ingin kamu ceritain Lip, masalah sales, atau masalah pribadi. Aku selalu terima masukan, kok” tanya Pak Daging.
“Barang kali kamu ada sesuatu yang ingin kamu ceritain Lip, masalah sales, atau masalah pribadi. Aku selalu terima masukan, kok” tanya Pak Daging.
“Tidak ada
Pak” tentu saja Alip berbohong. Alip telah lama menyimpan sebuah ombak besar di
dalam hatinya.
Keinginannya
itu berawal ketika ia mulai gemar untuk mendowload beberapa film anime dari Jepang, dengan menggunakan
akses wi-fi gratis dari tokonya Alip
melakukannya. Ia menonton semua anime itu setiap hari selepas pulang kerja, tak
hanya menonton ia meresapi tentang apa yang mungkin tak dilihat oleh orang
kebanyakan.
Ketika ia
melihat anime Jepang Ia melihat harapan baru. Sayup-sayup dalam hatinya tumbuh
sebuah cita-cita; ia ingin kerja di Jepang.
Setelah taman
bunga akan cita-citanya itu mulai tumbuh subur, Alip mulai mencari-cari apapun
tentang Jepang, setiap saat. Dipikirannya Jepang adalah tujuan hidup, tujuan
hakiki. Jepang adalah syurga.
Bagi Alip
kerja di Jepang bukan hanya tentang uang, ia tak hanya mencari gaji, lebih dari
itu ia amat mengagumi Jepang. Ia sudah kadung jatuh cinta dengan negara itu. Ia
cinta Nippon. Keseriusannya tentang
Jepang akhirnya membawa ia ke sebuah kursus bahasa dan kebudayaan Jepang.
Tentunya tanpa sepengetahuan Pak Daging.
***
Waktu di kafe
berjalan sia-sia, tak ada informasi yang di dapat oleh Pak Daging. Ia mulai
bosan. Setan dalam otaknya memberikan beberapa pilihan yang dirasa bisa
memadamkan api bosannnya tersebut. Tak memerlukan waktu lama sebuah ide
berkedip tepat di depan mata Pak Daging. Ia meninggalkan kafe itu kemudian
bersama Alip memacu mobilnya pergi ke tempat.
Pak Daging
datang ke tempat lokalisai, ia masuk ke lembah dosa itu tanpa di temani Alip
dan kemudian keluar bersama seorang wanita dengan pakaian yang terbuka di
sana-sini.
Pada akhirnya
mereka berdua, mereka bertiga lebih tepatnya, memutuskan untuk menginap di
sebuah hotel. Alip di sebuah kamar dan Pak Daging sebuah kamar yang lainnya,
tentunya bersama wanita yang dibawanya tadi. Bukan sebuah rahasia jika Pak
Daging memang senang tidur dengan perempuan lain selain dengan istrinya. Ini
adalah alasan mengapa dia mendapat julukan Pak Daging.
Ceritanya
begini, suatu ketika ia pernah ditanya tentang enak mana rasa daging ayam atau
daging bebek, dan Pak Daging lantang menjawab “Enakan daging perempuan lah,
goblok!!!” setelah itu beberapa orang sempat menjulukinya ‘Tapir’, tetapi setelah melihat binatang Tapir yang sesungguhnya
Pak Daging enggan memakai kata itu, hingga kemudian seseorang mencetuskan
julukan ‘Pak Daging’. Dan akhirnya
julukan itulah yang bertahan sampai saat ini.\
Malam
berlalu, aroma subuh mulai merangkak menjalar ke seluruh penjuru bumi. Alip
bangun untuk melakukan kewajiban agamanya. Ketika Alip sedang khusuk berdoa
mungkin Pak Daging bersama wanitanya sedang mengulangi beberapa gerakan yang ia
hafal di luar kepala tanpa ada seorangpun yang mengajarinya.
Seusai Solat,
Alip telah merajut sebuah rencana yang menurutnya cukup matang. Alip yakin kali
ini ia akan berhasil, setidaknya ia punya alasan untuk itu. Pertama, karena Pak
Daging sempat bertanya tentang kegamangan hatinya di cafe sore kemarin.
Kedua, Alip yakin perasaan Pak Daging sedang bagus-bagusnya, ia sudah bercumbu dengan seorang wanita yang tak jelek-jelek amat semalaman. Ini kesempatan yang bagus untuk ia mengutarakan semua bubuk candu yang menyiksa di hatinya selama ini, begitu pikirnya.
“Pak, aku ingin resign. Aku sudah punya renacana untuk kerja di Jepang, Pak” tangan Alip sedikit gemetar, hawa dingin ac mobil tak mampu menyembunyikan dentuman detak jantung yang bergerak lebih cepat dari biasanya.
Kedua, Alip yakin perasaan Pak Daging sedang bagus-bagusnya, ia sudah bercumbu dengan seorang wanita yang tak jelek-jelek amat semalaman. Ini kesempatan yang bagus untuk ia mengutarakan semua bubuk candu yang menyiksa di hatinya selama ini, begitu pikirnya.
“Pak, aku ingin resign. Aku sudah punya renacana untuk kerja di Jepang, Pak” tangan Alip sedikit gemetar, hawa dingin ac mobil tak mampu menyembunyikan dentuman detak jantung yang bergerak lebih cepat dari biasanya.
Pak Daging
hanya menoleh tanpa berucap, lalu memallingkan wajahnya kembali ke jalan raya.
Pak Daging dingin seakan-akan tak terjadi apa-apa, lalu ia menginjak pedal gas
lebih dalam. Sementara itu pagi yang cerah sudah bersiap-siap menguasi keadaan.
***
Hari itu bisa
adalah hari yang mungkin tak pernah disangka oleh Alip selama masa hidupnya.
Awalnya ada seorang pelanggan datang ke toko yang komplain tentang aki yang hampir saja membuat mobilnya terbakar. Kemudian tak berselang lama datang seorang wanita tua dengan mengumpat, memaki mengeluarkan semua perbendaharaan sumpah-serapahnya yang ia tahu saat itu juga. Baut oli pada mobilnya tak terikat sempurna, alhasil oli itu ngocor dan membuat mobilnya mogok total di tengah jalan tol, ia hampir saja mati diseruduk oleh truk-truk besar yang sedang melintas kalau saja tak buru-buru keluar dari mobil.
Awalnya ada seorang pelanggan datang ke toko yang komplain tentang aki yang hampir saja membuat mobilnya terbakar. Kemudian tak berselang lama datang seorang wanita tua dengan mengumpat, memaki mengeluarkan semua perbendaharaan sumpah-serapahnya yang ia tahu saat itu juga. Baut oli pada mobilnya tak terikat sempurna, alhasil oli itu ngocor dan membuat mobilnya mogok total di tengah jalan tol, ia hampir saja mati diseruduk oleh truk-truk besar yang sedang melintas kalau saja tak buru-buru keluar dari mobil.
Setelah dicek
diketahui bahwa Alip lah yang telah mengerjakan semua mobil dari kedua orang
sial itu. Maki-makian dan teriakan-teriakan dari kedua pelanggan itu pada
akhirnya bisa dicairkan oleh Pak Daging. Dengan keahlian tata bahasa yang Pak
Daging miliki, masalah itu terselesaikan dengan baik.
Masalah yang
selesai belum berarti memadamkan alliran api kemarahan Pak Daging.kemarahan
yang begitu besar, seakan-akan kemarahan kedua orang tadi bersatu dan merasuk
ke tubuh Pak Daging. Ia begitu murka, mukanya yang hitam bertambah hitam karena
aliran darah yang naik dengan cepat ke kepalanya. Ia menganggap hanya satu
sumber perkara ini, Alip dan keinginannya untuk ke Jepang.
”Anjing, kamu
kalo gak niat kerja di sini gak usah kerja lagi, tinggal keluar” Pak Daging
membentak, kemudian lanjutnya “Kamu lihat tadi, hah! Anjing”
Alip masih
diam, ketakutan telah mengunci mulutnya.
“Ngomong
Anjing!” Pak Daging kemudian mengeluarkan sepuncuk pistol dari balik
pinggangnya lalu menodongkan tepat ke kepala Alip.
“Aku tembak mati sekalian. Dasar Anjing sialan” lanjutnya.
Tak ada yang
tahu persis dari mana Pak Daging mendapatkan pistol itu. Beringasnya semakin bertambah
seiring pistol yang ia keluarkan tadi, pun genggaman pada pistolnya semakin
kencang. Ia seperti monster jahat yang akan melahap mangsanya hidup-hidup.
Keakraban yang terjadi tiga hari lalu seakan sia-sia.
“Tembak saja
Pak, kalaupun aku mati setidaknya saat ini aku memang benar-benar hidup” Alip
sembari memandang wajah Pak Daging dalam.
“Bangsat” Pak
Daging menurunkan pistol kecil itu, kemudian “Kau mau aku mampusin sekalian.
Bangsat” Pak Daging meludah ke samping.
***
Sayup-sayup
adzan maghrib mulai berkumandang di susul suara adzan dari tempat yang lain,
dan yang lain lagi, seperti bersahut-sahutan. Sementara sebelum suara adzan
keluar dari kerongkongan-kerongkongan alim, terdengar suara tembakan dari
sebuah toko aki dan oli tempat di mana Alip bekerja. Polisi datang tak lama kemudian,
sudah ada sebuah mayat, mereka segera mengidentifikasinya. Kucuran deras darah
dari sebuah kepala manusia membuat lantai toko yang sebelumnya putih mengkilat
menjadi lautan darah yang menimbulkan bau amis menusuk hidung.
Kemudian Polisi menanyai beberapa orang dan segera memborgol tangan Pak Daging. Sementara pistol kecil yang digunakannya tadi, sudah dibungkus rapi pada sebuah plastik bening khas kepunyaan polisi.
***
Senja itu
bumi telah kehilangan satu penghuninya. Penghuni yang telah terpisah antara roh
dan raganya. Penghuni yang belum sempat mewujudkan mimpinya untuk pergi ke
Jepang.
Ada asap penyesalan yang pekat, sebagai atasan Pak Daging menyesal tentu saja, sebagai pembunuh Pak Daging lebih-lebih menyesal sudah pasti. Dia begitu ulet dalam bekerja, begitu sopan dan hormat pada atasan. Hanya kebodohan Pak Gading yang, ya memang pada akhirnya semua orang akan menyesal. Apalagi ternyata penjara jauh lebih sengsara dari pada kelihatannya. Hampir seminggu sekali pantat Pak Daging dapat sodokan dari tahanan-tahanan lainnya.
Ada asap penyesalan yang pekat, sebagai atasan Pak Daging menyesal tentu saja, sebagai pembunuh Pak Daging lebih-lebih menyesal sudah pasti. Dia begitu ulet dalam bekerja, begitu sopan dan hormat pada atasan. Hanya kebodohan Pak Gading yang, ya memang pada akhirnya semua orang akan menyesal. Apalagi ternyata penjara jauh lebih sengsara dari pada kelihatannya. Hampir seminggu sekali pantat Pak Daging dapat sodokan dari tahanan-tahanan lainnya.
Tapi, kabar
baiknya, sekarang Alip mempunyai jalan pintas untuk pergi ke Jepang; melayang.
sumber gb; milik pribadi
Note:
Cerita ini terinspirasi dari lingkungan, tempat dan teman kerja. Beberapa
diantaranya nyata dan beberapa
diantaranya hanya rekaan. Selamat membaca.
Komentar
Posting Komentar