Langsung ke konten utama

Ambil Hikmahnya

Sudah ada dua janji yang aku ingkari sepagi ini. Pertama, janji untuk solat subuh tepat waktu, dan yang kedua adalah janji bertemu dengan seseorang. Untuk yang pertama mungkin aku masih bisa bernafas lega, karena ya, setahuku Tuhan selalu memberi maaf. Tuhan maha pengampun, yang jadi persoalan adalah janjiku yang kedua, aku harus menyadarkan tubuhku lebih cepat, atau kalau tidak semua akan berantakan. Dan aku rasa aku tak perlu mandi untuk waktu yang sekrusial ini.


Sebenarnya kesiangan ini bisa saja tidak terjadi seandainya jam dinding tua itu tak mati mendadak. Aku yang terbangun karena ingin buang air kecil, ketika itu melihat jam masih pukul empat pagi, dan tololnya aku tak mencocokan jam itu dengan jam di handphoneku.
Ketika bangun yang kedua kalinya aku melihat jam, dan jam sialan itu masih saja menunjuk pukul empat. Aku merasa ada yang ganjil. Aku tak ingin mengulang ketololan yang sama, aku bangun dan melihat layar handphone. Brengsek. Sudah pukul sepuluh lima belas pagi. Aku telat. Benar-benar telat.

***
Jam tua itu tak sepenuhnya patut disalahkan, kesiangan ini menurutku,  juga bisa jadi karena tidurku yang terlalu larut. Semalam, mataku tak kunjung kantuk, alih-alih membuat diri agar tertidur, aku malah keluar mencari warung kopi untuk sekedar menghabiskan segelas kopi dan beberapa batang rokok. Waktu menunjukan pukul setengah satu dinihari ketika aku melihat jam dinding bulat di warung kopi. Aku sudah menghabiskan dua batang rokok, tetapi kopiku masih sisa seperempat, sengaja tak buru-buru ku habiskan.

Rokok yang ketigaku hampir aku matikan, aku melihat jam bulat itu. Tepat pukul satu, dan aku masih saja belum mengantuk. Aku mengeluarkan handphone, membuka beberapa akun sosial media dan ternyata keadaan tambah membosankan. Kemudian mataku beralih ke tv empat belas inchi, tv itu berada di samping gerobak kecil dan hanya di tompang dengan sebuah kursi plastik warna hijau. Acara berita tengah malam, berita tentang kematian seorang pria yang mati saat mengikuti lomba yang diadakan sebuah restoran ayam goreng cepat saji. Pria itu mati tersedak.
Kematian memang sedekat ujung nadi, bahkan saat kau sedang makan, berharap memperpanjang usia, dia datang dengan tiba-tiba dan kemudian, kau tersedak, kau tak bisa bernafas, otakmu kehilangan oksigen, kau limbung, jatuh, dan kemudian kau mati. Semudah itu. Sesederhana itu.

Aku sudah tak berniat menghabiskan rokok yang keempat ataupun menghabiskan sisa kopi, kopi di gelas itu sudah terlampau dingin. Dan saat melihat acara berita tadi aku sempat menguap, itu pertanda bagus, aku akan pulang dan tidur. Besok ada janji yang cukup penting.

“Monyet” tepat setelah aku berpikir untuk membayar ke penjaga warkop, suara itu seperti memanggilku.

“Hus, monyet, tunggu, kau mau ke mana?” suara yang sama, dan kali ini tepukan kecil mendarat pundakku.

“Kau rupanya, tapi sejak kapan kau ada di sini?” jawabku. Suara itu ternyata Samuel, teman kelas kuliah saat duduk di semester awal, hingga di pertengahan semester tujuh dia di DO dari kampus, dia ketahuan memakai ganja di toilet, pihak kampus tak memperpanjang urusan ke polisi karena itu sama saja mencoreng nama baik kampus, kampus hanya mengeluarkan putusan DO.

“Aku, aku sudah lama di sini kau saja yang tak melihat, mau ke mana kau?” Samuel kemudian memesan kopi “Mau sekalian? aku traktir ya?”

Bagaimana mungkin, aku hampir dua jam di sini dan tak ada siapa-siapa, hanya aku dan penjaga warkop yang berselimut hawa dingin sejak tadi, hingga si ‘Anjing’ itu muncul. Saat kuliah Samuel memang sering di panggil anjing, teman-teman menggangap muka Samuel sangat mirip anjing. Kau mungkin tak percaya, tapi begitulah kenyataanya. Dan memang, Samuel suka makan daging anjing.

“Ada pertandingan Champion malam ini, ayolah. Kita begadang nonton bola, masih sore. Bila perlu nanti kita taruhan” Samuel memesan satu gelas kopi lagi ke penjaga warkop.

“Baiklah, kau memang Anjing” aku yang hampir beranjak, akhirnya duduk kembali. Menerima tawaran Samuel, menyesap kopi lagi, menunggu pertandingan bola, membicarakan beberapa hal yang tak ada penting-pentingnya, menonton bola, taruhan dan akhirnya aku yang kalah. Anjing sialan.

***
Aku sudah terlambat hampir tiga jam, aku tak perlu mandi atau membuang-buang waktu lagi. Aku harus bergegas. Aku harus sampai di tempat pertemuan secepat mungkin.
“Maaf Pak, aku telat” aku duduk di kedai minuman itu tanpa memesan apapun.

“Ya, aku tahu. Kau memang selalu telat. Sudah kau siapkan uangnya?” dia bertanya.

Uang. Sebentar. Aku kemudian merogoh saku celana jensku, sisi kiri hanya ada sebuah handphone. Aku periksa kantong kanan dan terkahir dua saku yang di belakang. Sialan, kosong. Dompetku, aku lupa membawanya.

“Aku lupa bawa dompet Pak, tadi sangat terburu-terburu, aku lupa membawanya” tak ada pilihan lain aku harus jujur.

“Kau mempermaikanku? Kau mempermainkan seorang dosen? Baiklah, aku akan menjualnya ke orang yang benar-benar serius membelinya”

“Aku serius Pak, aku akan membeli aplikasi itu. Aku hanya lupa membawa dompet”

“Ya, lalu mana duitnya? Kau butuh aplikasi dan aku juga perlu uangmu”
“Aku bangun terlalu siang Pak, tapi kita sudah janji, kan, pak?”

“Janji tak harus selalu ditepati, itulah gunanya berjanji.”
“Bapak harusnya bisa menelepon untuk membangunanku, kan, Pak. Mungkin ini tidak seburuk seperti sekarang” aku benar-benar tak suka dengan dua perkataanya yang terakhir.

“Aku biasa ditelfon, aku biasa dibutuhkan tak membutuhkan” dia pergi begitu saja, berlalu, membawa tas, meninggalkan aku dan sisa minumannya yang hampir benar-benar habis, entah sudah dibayar atau belum.

Pak Lussi adalah dosen pembimbingku, sebentar lagi aku akan melakukan sidang skripsi. Tiga minggu  lagi. Sesuai perjanjian awal, semua skripsi ku dia yang mengerjakan. Skripsi ku tentang aplikasi berbasis online, dan dia yang mengerjakan semuanya aku hanya terima  beres. Dan hari ini aku sudah membuat janji untuk membayarnya, akan aku pelajari untuk menghadapi sidang. Sialnya semuanya berantakan. Orang itu sudah pergi.

“Hey, mba, aku pesan satu burger dan hot coffe” aku memanggil seorang pelayan wanita.

“Iya, Kak, ada lagi Kak?”

“Kenapa dari tadi aku tak di tawari menu?”

“Di sini biasanya pelanggan yang langsung memesan ke kita, Kak”
“Aku biasa dibutuhkan tak membutuhkan” kutiru kata-kata Pak Lussi, debat dengan orang itu membuat aku lapar. Pelayan itu pergi diiringi wajah masam.

Sembari menunggu pesanan datang, aku pergi ke toilet. Aku cuci tangan, berkumur kemudian membasuh muka, semenjak bangun tidur tadi aku tak sempat membersihkan badan sedikitpun.

Aku basuh mukaku lagi, air membalur di sekitar wajah, lalu kuusapkan ke kepala, mengenai sebagian rambutku. Segar. Aku basuh muka lagi. Wajah Pak Lussi membayangi tiba-tiba, orang yang dari namanya saja tak ada jantan-jantannya itu mendadak menggelayut di pikiran. Brengsek. Waktuku hanya tiga minggu, atau aku harus mengulang satu semester lagi.

Aku mengambil sabun cair menggosokan di tangan, aku gosok hingga berbusa, ku basuh tanganku kembali, terakhir aku keringkan menggunakan tisu.

Sebelum aku keluar dari toliet aku sempatkan untuk bercermin, setidaknya agar tak terlihat seperti baru bangun tidur. Aku hadapkan wajah ke cermin. Ada yang aneh. Aku pandangi cermin itu lebih daya konsentrasi yang lebih tajam, sungguh ada yang aneh, wajahku seperti berubah, seperti bukan wajahku. Aku alihakan pandangan ke tubuh, ke tangan ke semua badan. Anjing, aku mendengus.
Aku memang berubah, wajah, tangan, leher, dan seluruh tubuh semuanya ditumbuhi bulu. Aku berubah jadi seekor monyet,. Aku jadi monyet. Bangsat. Sialan.

Aku harus berpikir rasional, tidak mungkin manusia jadi seeokor monyet secara tiba-tiba, bahkan seharusnya monyet yang jadi manusia. Teori Darwin, aku membacanya di buku geografi saat SMP dulu.
Aku harus tenang, santai, ini hanya halusinasi karena pikiran yang sedang kacau-kacaunya. Bantu aku Tuhan, apa mungkin ini akibat solat subuh yang selalu telat. Ampuni segala dosaku ya Robb.

Sebelum aku keluar dari toilet, aku alihkan pandanganku ke kanan dan ke kiri. Aku khawatir orang juga melihatku sebagai seekor monyet. Aku takut mereka berteriak histeris, ketakutan, mencari pemukul, memukuliku, lalu aku mati, mati muda.

Aku sebisa mungkin mencoba menenangkan diri, lagi pula khawatir secara berlebihan juga tak ada baiknya.

Saat  benar-benar keluar dari toliet aku sempat berpapasan dengan seorang pria, aku tersenyum ke arahnya, mencoba ramah. Dia melihat kemudian langsung berpaling, tak membalas senyum. Sialan. Orang apatis. Semua orang jaman sekarang memang sepertinya apatis semua.
Tapi, kabar baiknya dia tak bersikap aneh, atau setidaknya dia tak menunjukan ekspresi kaget ketika sedang melihat monyet. Sudah ku bilang, ini hanya halusianasi, ini sebuah delusi, semoga saja.
Aku kembali ke mejaku, sudah ada makanan yang aku pesan tadi. Sepiring burger dan secangir kopi panas.

Aku langsung menyesap kopi, kemudian meraih burger. Mengisi perut akan membuat kenyang, keyang membuat pikiran tenang, pikiran tenang membuat keadaan menjadi lebih baik. Aku berdoa dan kemudian melahap burger, suapan pertama semuanya tidak ada yang berubah, semua baik-baik saja. Begitupun suapan kedua, hingga suapan kelima aku tersadar sesuatu. Aku tak bawa dompet, aku tak bawa uang. Makanan semua ini harus dibayar. Ampun. Sialan. Hari apa ini, sebegini apesnya.

Burger hampir habis, kopi di gelas pun hanya menyisakan ampas dengan sedikit air. Aku tak ingin mengganggu waktu makanku dengan rasa khawatir tak bisa membayar, untuk ukuran harta aku tidak miskin-miskin amat, maksudku harta orang tuaku terbilang cukup. Makanan telah habis kini saatnya bayar, saatnya berdiskusi lebih tepatnya. Aku menghampiri kasir, sepertinya aku mengenalnya, seorang wanita, kasir itu wanita pelayan yang melayaniku tadi. Namanya Nia aku lihat di nametagnya.

“Silahkan kak” Nia dengan sebelumnya memberi salam sambil menganggukan kepala disertai senyum yang sedkiti dipaksa “Semuany---
“Tunggu sebentar, Nia, maksudku mba Nia, aku akan membayar semua ini, tapi tidak sekarang , aku tidak membawa uang, dompetku tertinggal. Aku akan membayarnya nanti” Aku potong ucapannya sebelum dia menyebutkan total harga.

“Hmmm, kalo enggak bawa duit kenapa pesen?” Nia kemudian “ Di sini enggak ada yang gratis, mas!”

“Oke, oke, sebagai gantinya aku tinggal handphoneku dulu bagaimana? aku akan mengambil uang kemudian ke sini lagi untuk bayar dan mengambil handphone yang aku titipkan, bagaimana? Oke?” Aku mencoba membuat sebuah kesepakatan.

“Bagaimana kalau bos aku tahu, aku baru dua bulan di sini, mas, nyari kerjaan susah mas” Nia sembari melihat sekitar, nada bicaranya masih ketus.

“Kau bisa pinjami dengan uangmu dulu, Nia, maaf, mba Nia. Kebaikan akan mendapat pahala, kalau beruntung mba Nia bisa masuk surga nanti” aku sedikit menghibur “Lagi pula, kalaupun di jual harga handphone ini lebih dari cukup untuk membeli satu burger dan satu gelas kopi, mba Nia, mba harus percaya. Aku tahu mba Nia orang baik”

“Memang berapa harganya?” Nia mulai berpikir ulang.

“Kenapa tidak bertanya dari awal, mba?”

“Aku biasa ditannya, aku biasa dibutuhkkan, tidak membutuhkan” dia mengulang kata-kataku yang itu. Sialan.

***
Perjalanan dari tempat makan itu ke tempat kostku membutuhkan waktu sekitar setengah jam. Keringat sudah membasahi seluruh badan, bajukupun sudah lepek oleh keringat, dan bau sulfur mulai keluar dari beberpa sudut tubuhku. Cuaca memang sedang panas-panasnya, dan aku juga belum mandi sejak pagi tadi. Jam satu siang. aku sudah di depan pintu kamar kos. Kemudian aku mencari kunci pintu kosku. Aku meraba seluruh kantong celana. Tidak ada. Aku mencoba meraba lagi, kali ini sedikit panik, tidak ada. Memang tidak ada. Pasti ketinggalan di tempat makan tadi, benar-benar hari sial.

“Iya A, ada apa A?” ibu kost keluar setelah sebelumnya aku mengetuk pintu beberapa kali, dia seorang ibu-ibu yang selalu menggunakan daster dan memakai jilbab, walaupun tak pernah sekalipun aku melihatnya solat.

Kemudian aku menjelaskan maksud dan tujuanku, aku berencana meminjam kunci cadangan kamar kos. Aku menjelaskan tanpa basa-basi.

Ibu kos kembali  setelah masuk dan mengambil kunci kostku “Si aa mah ada-ada aja, kunci kos bisa sampe lupa. Cariin atuh a, nanti takutnya bikin bahaya sendiri” Sesaat setelah Ibu kos menyerahkan kunci itu kepadaku.

“Iya bu” kataku “Maaf Bu, Ibu lihat wajah saya jadi aneh tidak bu? Jadi mirip monyet bu?” aku bertanya tiba-tiba.

“Aa mah suka bercanda, maneh kasep pisan gitu dibilang kaya monyet”

Sejujurnya bayangan di cermin yang menampilkan wajahku berubah menjadi monyet membuat pikiranku gelisah, aku masih ingin menjadi manusia. Dan jawaban ibu kos tadi setidaknya sedikit menenangkan.

Aku  masuk ke dalam kost, mencari dompet yang tertinggal, mengambil gelas dan mengambil air, meminumnya, keadaan sedikit lebih baik. Aku menghabiskannya, aku harus bergegas aku harus kembali ke tempat makan di mana aku menitipkan handphoneku, aku harus membayarkan. Dan yang terpenting aku harus menghubungi Pak Lusi, tanpa handphone aku tak bisa berkomunikasi. Sebelum keluar aku sempatkan merapikan diri, aku menghampiri cermin. Sialan. Aku memang monyet. Tubuhku berubah.

Rasa bingung, panas, kacau dan lengket di sekitar tubuhku masih terus mengikuti, aku nyalakan motor yang sejak awal aku gunakan, aku tarik tali kopling masukan gigi, lepas tali koplling, gas. Aku melaju, memenuhi janjiku untuk membayar tagihan sarapan yang belum terbayar tadi.

Kira-kira sepuluh menit setelah perjalanan menuju tempat makan itu, aku merasakan sesuatu yang serius dalam perutku, perutku tiba-tiba mulas, sepertinya aku harus ke toilet dengan segera.

Sudah dua puluh menit aku di dalam toliet ini, toliet sebuah masjid, tak terlalu kotor tak terlalu bersih. Sebetulnya aku sudah selesai sejak tadi, sepuluh menit yang lalu. Yang membuat lama adalah aku masih saja memandangi cermin buram yang menempel di dinding toilet ini, aku melihat cermin itu, bercermin dan memang, aku adalah seeokor monyet, aku telah berubah, sepuluh menit aku memandangi lamat-lamat cermin itu sambil mencoba menenangkan diri sendiri, dan tak perubahan, aku tetap seekor monyet.
Benar-benar sulit dipercaya manusia bisa berubah menjadi seekor monyet. Aku menutupi wajahku dengan kedua telapak tangan, menghembuskan nafas panjang.

Suara ketukan pintu mengagetkanku, aku buru-buru keluar.
Jam dua siang, aku melirik ke dalam masjid. Mungkin tak ada salahnya untuk beribadah. Saat semuanya begitu berantakan, jalan satu-satunya adalah menuju Tuhan, hanya dengan mengingatnya lah hati menjadi tenang. Kata-kata itu pernah aku dengar di sebuah acara tv oleh seeorang ustad ketika sedang menunggu waktu buka puasa.

Setelah solat rasa kacau sedikit berkurang. Aku tak langsung pergi, aku duduk di teras masjid, mengamati sekitar, tak ada siapa-siapa kecuali seorang penjaga masjid yang hendak menggulung karpet, aku perhatikan dia. Wajahnya masih muda, mungkin seusiaku, mungkin juga lebih muda dariku.

Aku terus memperhatikannya, tidak ada rasa kegelisahan dari raut wajahnya, entahlah. Kadang aku juga berpikir mungkin menjalani hidup tanpa satu ambisi apapun mengkin akan lebih baik, menjalani hidup apa adanya, tanpa ingin sesuatu atau menjadi apapun, mengalir begitu saja, menyatu dengan hidup.

Dia melihatku, menatapku, kemudian tersenyum. Bukan senyum basa-basi, senyum yang tulus, aku bisa merasakannya.

“Minum mas” dia menyerahkan air mineral kemasan kepadaku.

Namanya Asep, dia sudah tiga tahun menjadi penjaga masjid. Kami sudah bertukar cerita, setelah aku membalas senyum pertamanya, tak lama dia menghampiri dan membawakan air untukku.

“Kayanya lagi banyak masalah mas?” Asep sambil membetulkan posisinya pecinya.

“Ya, hidup selalu ada masalah, Sep” ternyata usianya sama dengan usiaku.

“Itu artinya Allah masih sayang, mas. Lagi pula masalah selalu membuat kita berpikir dan berpikirlah yang menjadikan kita hidup, jadi kurang lebih kita bisa hidup karena masih punya masalah, mas” Asep lagi “Maaf mas, jadi sok tahu, hee”

“Iya Sep, tidak apa-apa” Ada benarnya juga, mungkin aku yang selama ini tak pernah sabar, selalu memaksakan semuanya, tentang kuliah lebih tepatnya, sejak awal memang aku ingin cepat-cepat lulus, memikirkan ego sendiri, tak berkawan dengan baik dengan siapapun, terutama dengan teman satu kelas. Aku menganggap cepat lulus kuliah adalah jalan terbaik, hingga mencari jalan pintas dengan menyewa seorang dosen untuk mengerjakan skripsi, brengsek benar aku rupanya. Memang pantas jika berubah jadi monyet.
Perkataan Asep benar. Oh iya, semenjak obrolan tadi aku belum sempat memperkenalkan diriku kepada Asep.

“Maaf Sep, aku belum sempat memperkenalkan diri, namaku Adriyansah” tepat ketika aku mengucapkan namaku, Asep tiba-tiba menghilang, sosoknya lenyap. Masjid yang aku tempati juga tiba-tiba raib, aku seperti di sebuah tanah yang sangat lapang, hingga kemudian terdengar sebuah suara yang begitu menggangu telingaku.

Bunyi alarm begitu nyaring, aku membuka mataku, membuka separuh, melihat jam dinding, pukul tiga pagi. Aku meraih handphone, sudah jam sepuluh lima belas.

Sudah ada dua janji yang aku ingkari sepagi ini. Pertama, janji untuk solat subuh tepat waktu, yang kedua janji bertemu dengan seseorang.

Tunggu sebentar, aku tadi mimpi, tapi seperti nyata sekali. Itu terlalu nyata untuk sebuah mimpi.  Aku melihat cermin, berkaca. Aku masih menjadi diriku sendiri, aku tak berubah jadi monyet.

Aku meraih handphoneku lagi, mencari sebuah kontak. Ketemu, Pak Lussi.

“Hallo, Pak Lussi, Pak, saya ingin membatalkan semua rencana dan perjanjian kita, aku akan mengerjakannya sendiri, skripsiku”

“Aku sudah lama menunggumu di sini, dan kenapa kau tak menghubungi ku sejak pagi?”

“Aku menunggu bapak yang telepon, aku biasa dihubungi. Aku biasa dibutuhkan tak membutuhkan”

sumber gb :pixabay.com

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review Novel Jakarta Sebelum Pagi by Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

Sebelum memulai ke pertunjukan utama anggap saja ini sajian pembuka, seperti band pembuka di sebuah konser akbar. Ada beberapa hal yang menurut saya (sebagai pembaca) mengganjal dalam hati mengenai novel ini (selain covernya yang sedikit mirip dengan novel i'll give u the sun) Yang pertama adalah, beberapa hal yang menurut saya harusnya dipersingkat, dengan arti lain adalah beberapa bagian novel ini mempunyai informasi yang diulang-ulang, walaupun tidak membosankan, tetapi demi menghemat kertas, biaya produksi, dan tingkat kebosanan pembaca harusnya bisa dipersingkat saja. Misalnya dalam penjelasan mengenai teh. Percakapan yang berkaitan tentang teh beberapa bagian diulang-ulang, walaupun dengan kalimat yang berbeda tetapi saya merasa itu mempunyai informasi yang sama. Karena jika penulis ingin menjadikan ‘teh’ sebagai sarana pengantar cerita saya rasa porsi dalam novel tersebut bisa dipangkas lagi, toh beberapa bagian hanya berisikan informasi yang mungkin ingin menunju...

Mengulik Makna Dari Lagu 'Merah' Efek Rumah Kaca

Eka kurniawan dalam sebuah jurnal onlinenya pernah menerbitkan sebuah cerpen tentang sebuah perlawanan, inti dari cerpen tersebut adalah tentang sebuah pemuda (mahasiswa) yang ingin melakukan sebuah aksi (perlawanan) untuk menjatuhkan sebuah kekuasaan (rezim) yang menurutnya sudah tidak pantas lagi untuk berkuasa. Cerita itu berakhir tragis dengan tokoh utama yang tiba-tiba hilang tak tahu ke mana, entah mati atau hidup. Menghilang tiba-tiba. Dalam sejarah Indonesia sendiri, sebuah perlawanan sudah mondar-mandir dicacat oleh tinta sejarah. Peristiwa orang Surabaya yang membunuh jendral Mallaby dan kemudian berimbas pada pertempuran tiga hari tiga malam di kota tersebut hingga kemudian hari tersebut ditetapkan sebagai hari pahlawan oleh Ir Soekarno guna menghargai mereka-mereka yang sudah gugur, misalnya. Atau perebutan Irian Barat dengan Belanda. Bahkan kemerdekaan bangsa Indonesia tak lain dan tak bukan adalah buah dari sebuah perlawanan. Perlawanan tak hanya dilakukan dengan...

Catatan Banjir Jakarta Februari 2017

Hujan turun sejak jam tiga dini hari (21 februari 2017), jam setengah empat pelataran rumah sudah terlihat genangan air, jam empat lebih air mulai menaiki tangga-tangga rumah. Kira-kira pas adzan subuh atau sekitar jam lima pagi air mulai masuk ke rumah-rumah warga. Beberapa orang sudah berada di depan rumah masing-masing berjaga, ada juga yang menggedor-gedor tetangga, khawatir masih ada orang yang belum bangun. Sekitar jam setengah enam sampai jam tujuh pagi air sudah benar-benar menguasi seisi rumah. Sementara sebelumnya, warga sudah mengamankan benda-benda yang mereka anggap penting. Benda elektronik, kulkas, mesin cuci, kompor. Surat-surat tanah, pakaian, atau hal yang kira-kira bisa rusak terkena banjir. Termasuk motor yang diungsikan dengan cara bergotong-royong mengangkat secara bergantian. Jam enam sampai jam tujuh hujan bisa dikatakan sedang lebat-lebatnya, langit masih gelap tidak seperti biasanya, barang-barang sudah naik ke singgahsana yang lebih tinggi. Banjir ka...