Sudah ada dua
janji yang aku ingkari sepagi ini. Pertama, janji untuk solat subuh tepat
waktu, dan yang kedua adalah janji bertemu dengan seseorang. Untuk yang pertama
mungkin aku masih bisa bernafas lega, karena ya, setahuku Tuhan selalu memberi
maaf. Tuhan maha pengampun, yang jadi persoalan adalah janjiku yang kedua, aku
harus menyadarkan tubuhku lebih cepat, atau kalau tidak semua akan berantakan.
Dan aku rasa aku tak perlu mandi untuk waktu yang sekrusial ini.
Sebenarnya kesiangan
ini bisa saja tidak terjadi seandainya jam dinding tua itu tak mati mendadak. Aku
yang terbangun karena ingin buang air kecil, ketika itu melihat jam masih pukul
empat pagi, dan tololnya aku tak mencocokan jam itu dengan jam di handphoneku.
Ketika bangun yang kedua kalinya aku melihat jam, dan jam sialan itu masih saja menunjuk pukul empat. Aku merasa ada yang ganjil. Aku tak ingin mengulang ketololan yang sama, aku bangun dan melihat layar handphone. Brengsek. Sudah pukul sepuluh lima belas pagi. Aku telat. Benar-benar telat.
Ketika bangun yang kedua kalinya aku melihat jam, dan jam sialan itu masih saja menunjuk pukul empat. Aku merasa ada yang ganjil. Aku tak ingin mengulang ketololan yang sama, aku bangun dan melihat layar handphone. Brengsek. Sudah pukul sepuluh lima belas pagi. Aku telat. Benar-benar telat.
***
Jam tua itu
tak sepenuhnya patut disalahkan, kesiangan ini menurutku, juga bisa jadi karena tidurku yang terlalu
larut. Semalam, mataku tak kunjung kantuk, alih-alih membuat diri agar
tertidur, aku malah keluar mencari warung kopi untuk sekedar menghabiskan
segelas kopi dan beberapa batang rokok. Waktu menunjukan pukul setengah satu
dinihari ketika aku melihat jam dinding bulat di warung kopi. Aku sudah
menghabiskan dua batang rokok, tetapi kopiku masih sisa seperempat, sengaja tak
buru-buru ku habiskan.
Rokok yang
ketigaku hampir aku matikan, aku melihat jam bulat itu. Tepat pukul satu, dan
aku masih saja belum mengantuk. Aku mengeluarkan handphone, membuka beberapa
akun sosial media dan ternyata keadaan tambah membosankan. Kemudian mataku beralih
ke tv empat belas inchi, tv itu berada di samping gerobak kecil dan hanya di
tompang dengan sebuah kursi plastik warna hijau. Acara berita tengah malam,
berita tentang kematian seorang pria yang mati saat mengikuti lomba yang
diadakan sebuah restoran ayam goreng cepat saji. Pria itu mati tersedak.
Kematian memang sedekat ujung nadi, bahkan saat kau sedang makan, berharap memperpanjang usia, dia datang dengan tiba-tiba dan kemudian, kau tersedak, kau tak bisa bernafas, otakmu kehilangan oksigen, kau limbung, jatuh, dan kemudian kau mati. Semudah itu. Sesederhana itu.
Kematian memang sedekat ujung nadi, bahkan saat kau sedang makan, berharap memperpanjang usia, dia datang dengan tiba-tiba dan kemudian, kau tersedak, kau tak bisa bernafas, otakmu kehilangan oksigen, kau limbung, jatuh, dan kemudian kau mati. Semudah itu. Sesederhana itu.
Aku sudah tak
berniat menghabiskan rokok yang keempat ataupun menghabiskan sisa kopi, kopi di
gelas itu sudah terlampau dingin. Dan saat melihat acara berita tadi aku sempat
menguap, itu pertanda bagus, aku akan pulang dan tidur. Besok ada janji yang
cukup penting.
“Monyet”
tepat setelah aku berpikir untuk membayar ke penjaga warkop, suara itu seperti
memanggilku.
“Hus, monyet,
tunggu, kau mau ke mana?” suara yang sama, dan kali ini tepukan kecil mendarat pundakku.
“Kau rupanya,
tapi sejak kapan kau ada di sini?” jawabku. Suara itu ternyata Samuel, teman
kelas kuliah saat duduk di semester awal, hingga di pertengahan semester tujuh
dia di DO dari kampus, dia ketahuan memakai ganja di toilet, pihak kampus tak
memperpanjang urusan ke polisi karena itu sama saja mencoreng nama baik kampus,
kampus hanya mengeluarkan putusan DO.
“Aku, aku
sudah lama di sini kau saja yang tak melihat, mau ke mana kau?” Samuel kemudian
memesan kopi “Mau sekalian? aku traktir ya?”
Bagaimana
mungkin, aku hampir dua jam di sini dan tak ada siapa-siapa, hanya aku dan penjaga
warkop yang berselimut hawa dingin sejak tadi, hingga si ‘Anjing’ itu muncul.
Saat kuliah Samuel memang sering di panggil anjing, teman-teman menggangap muka
Samuel sangat mirip anjing. Kau mungkin tak percaya, tapi begitulah
kenyataanya. Dan memang, Samuel suka makan daging anjing.
“Ada
pertandingan Champion malam ini,
ayolah. Kita begadang nonton bola, masih sore. Bila perlu nanti kita taruhan”
Samuel memesan satu gelas kopi lagi ke penjaga warkop.
“Baiklah, kau
memang Anjing” aku yang hampir beranjak, akhirnya duduk kembali. Menerima
tawaran Samuel, menyesap kopi lagi, menunggu pertandingan bola, membicarakan
beberapa hal yang tak ada penting-pentingnya, menonton bola, taruhan dan
akhirnya aku yang kalah. Anjing sialan.
***
Aku sudah
terlambat hampir tiga jam, aku tak perlu mandi atau membuang-buang waktu lagi.
Aku harus bergegas. Aku harus sampai di tempat pertemuan secepat mungkin.
“Maaf Pak,
aku telat” aku duduk di kedai minuman itu tanpa memesan apapun.
“Ya, aku
tahu. Kau memang selalu telat. Sudah kau siapkan uangnya?” dia bertanya.
Uang.
Sebentar. Aku kemudian merogoh saku celana jensku, sisi kiri hanya ada sebuah
handphone. Aku periksa kantong kanan dan terkahir dua saku yang di belakang.
Sialan, kosong. Dompetku, aku lupa membawanya.
“Aku lupa
bawa dompet Pak, tadi sangat terburu-terburu, aku lupa membawanya” tak ada
pilihan lain aku harus jujur.
“Kau
mempermaikanku? Kau mempermainkan seorang dosen? Baiklah, aku akan menjualnya
ke orang yang benar-benar serius membelinya”
“Aku serius
Pak, aku akan membeli aplikasi itu. Aku hanya lupa membawa dompet”
“Ya, lalu
mana duitnya? Kau butuh aplikasi dan aku juga perlu uangmu”
“Aku bangun
terlalu siang Pak, tapi kita sudah janji, kan, pak?”
“Janji tak
harus selalu ditepati, itulah gunanya berjanji.”
“Bapak
harusnya bisa menelepon untuk membangunanku, kan, Pak. Mungkin ini tidak
seburuk seperti sekarang” aku benar-benar tak suka dengan dua perkataanya yang
terakhir.
“Aku biasa ditelfon,
aku biasa dibutuhkan tak membutuhkan” dia pergi begitu saja, berlalu, membawa
tas, meninggalkan aku dan sisa minumannya yang hampir benar-benar habis, entah
sudah dibayar atau belum.
Pak Lussi
adalah dosen pembimbingku, sebentar lagi aku akan melakukan sidang skripsi.
Tiga minggu lagi. Sesuai perjanjian
awal, semua skripsi ku dia yang mengerjakan. Skripsi ku tentang aplikasi
berbasis online, dan dia yang mengerjakan semuanya aku hanya terima beres. Dan hari ini aku sudah membuat janji
untuk membayarnya, akan aku pelajari untuk menghadapi sidang. Sialnya semuanya berantakan.
Orang itu sudah pergi.
“Hey, mba,
aku pesan satu burger dan hot coffe”
aku memanggil seorang pelayan wanita.
“Iya, Kak,
ada lagi Kak?”
“Kenapa dari
tadi aku tak di tawari menu?”
“Di sini biasanya
pelanggan yang langsung memesan ke kita, Kak”
“Aku biasa
dibutuhkan tak membutuhkan” kutiru kata-kata Pak Lussi, debat dengan orang itu
membuat aku lapar. Pelayan itu pergi diiringi wajah masam.
Sembari
menunggu pesanan datang, aku pergi ke toilet. Aku cuci tangan, berkumur
kemudian membasuh muka, semenjak bangun tidur tadi aku tak sempat membersihkan
badan sedikitpun.
Aku basuh
mukaku lagi, air membalur di sekitar wajah, lalu kuusapkan ke kepala, mengenai
sebagian rambutku. Segar. Aku basuh muka lagi. Wajah Pak Lussi membayangi
tiba-tiba, orang yang dari namanya saja tak ada jantan-jantannya itu mendadak menggelayut di pikiran. Brengsek. Waktuku hanya tiga
minggu, atau aku harus mengulang satu semester lagi.
Aku mengambil
sabun cair menggosokan di tangan, aku gosok hingga berbusa, ku basuh tanganku
kembali, terakhir aku keringkan menggunakan tisu.
Sebelum aku
keluar dari toliet aku sempatkan untuk bercermin, setidaknya agar tak terlihat
seperti baru bangun tidur. Aku hadapkan wajah ke cermin. Ada yang aneh. Aku
pandangi cermin itu lebih daya konsentrasi yang lebih tajam, sungguh ada yang
aneh, wajahku seperti berubah, seperti bukan wajahku. Aku alihakan pandangan ke
tubuh, ke tangan ke semua badan. Anjing, aku mendengus.
Aku memang berubah, wajah, tangan, leher, dan seluruh tubuh semuanya ditumbuhi bulu. Aku berubah jadi seekor monyet,. Aku jadi monyet. Bangsat. Sialan.
Aku memang berubah, wajah, tangan, leher, dan seluruh tubuh semuanya ditumbuhi bulu. Aku berubah jadi seekor monyet,. Aku jadi monyet. Bangsat. Sialan.
Aku harus
berpikir rasional, tidak mungkin manusia jadi seeokor monyet secara tiba-tiba,
bahkan seharusnya monyet yang jadi manusia. Teori Darwin, aku membacanya di
buku geografi saat SMP dulu.
Aku harus tenang, santai, ini hanya halusinasi karena pikiran yang sedang kacau-kacaunya.
Bantu aku Tuhan, apa mungkin ini akibat solat subuh yang selalu telat. Ampuni
segala dosaku ya Robb.
Sebelum aku
keluar dari toilet, aku alihkan pandanganku ke kanan dan ke kiri. Aku khawatir
orang juga melihatku sebagai seekor monyet. Aku takut mereka berteriak
histeris, ketakutan, mencari pemukul, memukuliku, lalu aku mati, mati muda.
Aku sebisa
mungkin mencoba menenangkan diri, lagi pula khawatir secara berlebihan juga tak
ada baiknya.
Saat benar-benar keluar dari toliet aku sempat
berpapasan dengan seorang pria, aku tersenyum ke arahnya, mencoba ramah. Dia
melihat kemudian langsung berpaling, tak membalas senyum. Sialan. Orang apatis.
Semua orang jaman sekarang memang sepertinya apatis semua.
Tapi, kabar baiknya dia tak bersikap aneh, atau setidaknya dia tak menunjukan ekspresi kaget ketika sedang melihat monyet. Sudah ku bilang, ini hanya halusianasi, ini sebuah delusi, semoga saja.
Tapi, kabar baiknya dia tak bersikap aneh, atau setidaknya dia tak menunjukan ekspresi kaget ketika sedang melihat monyet. Sudah ku bilang, ini hanya halusianasi, ini sebuah delusi, semoga saja.
Aku kembali
ke mejaku, sudah ada makanan yang aku pesan tadi. Sepiring burger dan secangir
kopi panas.
Aku langsung
menyesap kopi, kemudian meraih burger. Mengisi perut akan membuat kenyang,
keyang membuat pikiran tenang, pikiran tenang membuat keadaan menjadi lebih
baik. Aku berdoa dan kemudian melahap burger, suapan pertama semuanya tidak ada
yang berubah, semua baik-baik saja. Begitupun suapan kedua, hingga suapan
kelima aku tersadar sesuatu. Aku tak bawa dompet, aku tak bawa uang. Makanan
semua ini harus dibayar. Ampun. Sialan. Hari apa ini, sebegini apesnya.
Burger hampir
habis, kopi di gelas pun hanya menyisakan ampas dengan sedikit air. Aku tak
ingin mengganggu waktu makanku dengan rasa khawatir tak bisa membayar, untuk
ukuran harta aku tidak miskin-miskin amat, maksudku harta orang tuaku terbilang
cukup. Makanan telah habis kini saatnya bayar, saatnya berdiskusi lebih
tepatnya. Aku menghampiri kasir, sepertinya aku mengenalnya, seorang wanita,
kasir itu wanita pelayan yang melayaniku tadi. Namanya Nia aku lihat di nametagnya.
“Tunggu
sebentar, Nia, maksudku mba Nia, aku akan membayar semua ini, tapi tidak sekarang
, aku tidak membawa uang, dompetku tertinggal. Aku akan membayarnya nanti” Aku
potong ucapannya sebelum dia menyebutkan total harga.
“Hmmm, kalo
enggak bawa duit kenapa pesen?” Nia kemudian “ Di sini enggak ada yang gratis,
mas!”
“Oke, oke,
sebagai gantinya aku tinggal handphoneku dulu bagaimana? aku akan mengambil
uang kemudian ke sini lagi untuk bayar dan mengambil handphone yang aku
titipkan, bagaimana? Oke?” Aku mencoba membuat sebuah kesepakatan.
“Bagaimana
kalau bos aku tahu, aku baru dua bulan di sini, mas, nyari kerjaan susah mas”
Nia sembari melihat sekitar, nada bicaranya masih ketus.
“Kau bisa
pinjami dengan uangmu dulu, Nia, maaf, mba Nia. Kebaikan akan mendapat pahala,
kalau beruntung mba Nia bisa masuk surga nanti” aku sedikit menghibur “Lagi
pula, kalaupun di jual harga handphone ini lebih dari cukup untuk membeli satu
burger dan satu gelas kopi, mba Nia, mba harus percaya. Aku tahu mba Nia orang
baik”
“Memang
berapa harganya?” Nia mulai berpikir ulang.
“Kenapa tidak
bertanya dari awal, mba?”
“Aku biasa
ditannya, aku biasa dibutuhkkan, tidak membutuhkan” dia mengulang kata-kataku
yang itu. Sialan.
***
Perjalanan
dari tempat makan itu ke tempat kostku membutuhkan waktu sekitar setengah jam.
Keringat sudah membasahi seluruh badan, bajukupun sudah lepek oleh keringat,
dan bau sulfur mulai keluar dari beberpa sudut tubuhku. Cuaca memang sedang
panas-panasnya, dan aku juga belum mandi sejak pagi tadi. Jam satu siang. aku
sudah di depan pintu kamar kos. Kemudian aku mencari kunci pintu kosku. Aku
meraba seluruh kantong celana. Tidak ada. Aku mencoba meraba lagi, kali ini
sedikit panik, tidak ada. Memang tidak ada. Pasti ketinggalan di tempat makan tadi, benar-benar hari sial.
“Iya A, ada
apa A?” ibu kost keluar setelah sebelumnya aku mengetuk pintu beberapa kali,
dia seorang ibu-ibu yang selalu menggunakan daster dan memakai jilbab, walaupun
tak pernah sekalipun aku melihatnya solat.
Kemudian aku
menjelaskan maksud dan tujuanku, aku berencana meminjam kunci cadangan kamar
kos. Aku menjelaskan tanpa basa-basi.
Ibu kos
kembali setelah masuk dan mengambil
kunci kostku “Si aa mah ada-ada aja, kunci kos bisa sampe lupa. Cariin atuh a,
nanti takutnya bikin bahaya sendiri” Sesaat setelah Ibu kos menyerahkan kunci
itu kepadaku.
“Iya bu”
kataku “Maaf Bu, Ibu lihat wajah saya jadi aneh tidak bu? Jadi mirip monyet bu?”
aku bertanya tiba-tiba.
“Aa mah suka
bercanda, maneh kasep pisan gitu dibilang kaya monyet”
Sejujurnya
bayangan di cermin yang menampilkan wajahku berubah menjadi monyet membuat
pikiranku gelisah, aku masih ingin menjadi manusia. Dan jawaban ibu kos tadi
setidaknya sedikit menenangkan.
Aku masuk ke dalam kost, mencari dompet yang
tertinggal, mengambil gelas dan mengambil air, meminumnya, keadaan sedikit
lebih baik. Aku menghabiskannya, aku harus bergegas aku harus kembali ke tempat
makan di mana aku menitipkan handphoneku, aku harus membayarkan. Dan yang terpenting
aku harus menghubungi Pak Lusi, tanpa handphone aku tak bisa berkomunikasi.
Sebelum keluar aku sempatkan merapikan diri, aku menghampiri cermin. Sialan.
Aku memang monyet. Tubuhku berubah.
Rasa bingung,
panas, kacau dan lengket di sekitar tubuhku masih terus mengikuti, aku nyalakan
motor yang sejak awal aku gunakan, aku tarik tali kopling masukan gigi, lepas
tali koplling, gas. Aku melaju, memenuhi janjiku untuk membayar tagihan sarapan
yang belum terbayar tadi.
Kira-kira
sepuluh menit setelah perjalanan menuju tempat makan itu, aku merasakan sesuatu
yang serius dalam perutku, perutku tiba-tiba mulas, sepertinya aku harus ke
toilet dengan segera.
Sudah dua
puluh menit aku di dalam toliet ini, toliet sebuah masjid, tak terlalu kotor
tak terlalu bersih. Sebetulnya aku sudah selesai sejak tadi, sepuluh menit yang
lalu. Yang membuat lama adalah aku masih saja memandangi cermin buram yang
menempel di dinding toilet ini, aku melihat cermin itu, bercermin dan memang,
aku adalah seeokor monyet, aku telah berubah, sepuluh menit aku memandangi
lamat-lamat cermin itu sambil mencoba menenangkan diri sendiri, dan tak
perubahan, aku tetap seekor monyet.
Benar-benar sulit dipercaya manusia bisa berubah menjadi seekor monyet. Aku menutupi wajahku dengan kedua telapak tangan, menghembuskan nafas panjang.
Benar-benar sulit dipercaya manusia bisa berubah menjadi seekor monyet. Aku menutupi wajahku dengan kedua telapak tangan, menghembuskan nafas panjang.
Suara ketukan
pintu mengagetkanku, aku buru-buru keluar.
Jam dua siang, aku melirik ke dalam masjid. Mungkin tak ada salahnya untuk beribadah. Saat semuanya begitu berantakan, jalan satu-satunya adalah menuju Tuhan, hanya dengan mengingatnya lah hati menjadi tenang. Kata-kata itu pernah aku dengar di sebuah acara tv oleh seeorang ustad ketika sedang menunggu waktu buka puasa.
Jam dua siang, aku melirik ke dalam masjid. Mungkin tak ada salahnya untuk beribadah. Saat semuanya begitu berantakan, jalan satu-satunya adalah menuju Tuhan, hanya dengan mengingatnya lah hati menjadi tenang. Kata-kata itu pernah aku dengar di sebuah acara tv oleh seeorang ustad ketika sedang menunggu waktu buka puasa.
Setelah solat
rasa kacau sedikit berkurang. Aku tak langsung pergi, aku duduk di teras
masjid, mengamati sekitar, tak ada siapa-siapa kecuali seorang penjaga masjid
yang hendak menggulung karpet, aku perhatikan dia. Wajahnya masih muda, mungkin
seusiaku, mungkin juga lebih muda dariku.
Aku terus
memperhatikannya, tidak ada rasa kegelisahan dari raut wajahnya, entahlah.
Kadang aku juga berpikir mungkin menjalani hidup tanpa satu ambisi apapun
mengkin akan lebih baik, menjalani hidup apa adanya, tanpa ingin sesuatu atau
menjadi apapun, mengalir begitu saja, menyatu dengan hidup.
Dia melihatku,
menatapku, kemudian tersenyum. Bukan senyum basa-basi, senyum yang tulus, aku
bisa merasakannya.
“Minum mas”
dia menyerahkan air mineral kemasan kepadaku.
Namanya Asep,
dia sudah tiga tahun menjadi penjaga masjid. Kami sudah bertukar cerita, setelah
aku membalas senyum pertamanya, tak lama dia menghampiri dan membawakan air
untukku.
“Kayanya lagi
banyak masalah mas?” Asep sambil membetulkan posisinya pecinya.
“Ya, hidup
selalu ada masalah, Sep” ternyata usianya sama dengan usiaku.
“Itu artinya
Allah masih sayang, mas. Lagi pula masalah selalu membuat kita berpikir dan
berpikirlah yang menjadikan kita hidup, jadi kurang lebih kita bisa hidup
karena masih punya masalah, mas” Asep lagi “Maaf mas, jadi sok tahu, hee”
“Iya Sep,
tidak apa-apa” Ada benarnya juga, mungkin aku yang selama ini tak pernah sabar,
selalu memaksakan semuanya, tentang kuliah lebih tepatnya, sejak awal memang
aku ingin cepat-cepat lulus, memikirkan ego sendiri, tak berkawan dengan baik
dengan siapapun, terutama dengan teman satu kelas. Aku menganggap cepat lulus
kuliah adalah jalan terbaik, hingga mencari jalan pintas dengan menyewa seorang
dosen untuk mengerjakan skripsi, brengsek benar aku rupanya. Memang pantas jika
berubah jadi monyet.
Perkataan Asep benar. Oh iya, semenjak obrolan tadi aku belum sempat memperkenalkan diriku kepada Asep.
Perkataan Asep benar. Oh iya, semenjak obrolan tadi aku belum sempat memperkenalkan diriku kepada Asep.
“Maaf Sep,
aku belum sempat memperkenalkan diri, namaku Adriyansah” tepat ketika aku
mengucapkan namaku, Asep tiba-tiba menghilang, sosoknya lenyap. Masjid yang aku
tempati juga tiba-tiba raib, aku seperti di sebuah tanah yang sangat lapang,
hingga kemudian terdengar sebuah suara yang begitu menggangu telingaku.
Bunyi alarm
begitu nyaring, aku membuka mataku, membuka separuh, melihat jam dinding, pukul
tiga pagi. Aku meraih handphone, sudah jam sepuluh lima belas.
Sudah ada dua
janji yang aku ingkari sepagi ini. Pertama, janji untuk solat subuh tepat
waktu, yang kedua janji bertemu dengan seseorang.
Tunggu
sebentar, aku tadi mimpi, tapi seperti nyata sekali. Itu terlalu nyata untuk
sebuah mimpi. Aku melihat cermin,
berkaca. Aku masih menjadi diriku sendiri, aku tak berubah jadi monyet.
Aku meraih
handphoneku lagi, mencari sebuah kontak. Ketemu, Pak Lussi.
“Hallo, Pak Lussi, Pak, saya ingin membatalkan semua rencana dan perjanjian kita, aku
akan mengerjakannya sendiri, skripsiku”
“Aku sudah
lama menunggumu di sini, dan kenapa kau tak menghubungi ku sejak pagi?”
“Aku menunggu
bapak yang telepon, aku biasa dihubungi. Aku biasa dibutuhkan tak membutuhkan”
sumber gb :pixabay.com

Semua ada hikmahnya ya ;)
BalasHapusIya mba Titis, terimakasih sudah berkunjung.
HapusIya mba Titis, terimakasih sudah berkunjung.
HapusAmazing!
BalasHapusHai dit, tx!
HapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapussepertinya pernah kita obrolin ya, dijln sumarecon..
BalasHapus