Tubuh Bos kurus tinggi, rambutnya ikal dan kadang acak-acakan,
tetapi dibalik ketidaksimetrisan penampilannya, Bos termasuk orang yang cukup
pintar dalam menghadapi segala persoalan di kantor.
Bukti dari kepintasrannya adalah Bos pernah meleraikan
perselisihan antara Delan dan Miska, persoalan tentang uang. Uang kantor
telah hilang berpuluh-puluh juta, keduanya saling menuduh satu sama lain.
Jika ada yang bertanya benda apa yang paling merepotkan sekaligus
membahagiakan jawab saja, uang.
Mereka hampir saja mendapatkan gelar almahrum jika saja Bos tak datang untuk meleraiakan,
mungkin aku terlalu berlebihan dan kalian boleh saja tak percaya, tapi perempuan-perempuan
di kantorku memang cantik plus garang perihal emosi. sepertinya ini efek emansipasi wanita dari Kartini. Bos kemudian datang sebagai Imam Mahdi untuk mereka, menanyakan
duduk perkara, meredam emosi keduanya, Bos memang pandai dalam hal apapun
termasuk untuk itu. Pada akhirnnya Bos mengajak Miska dan Delan untuk makan
malam di sebuah kafe selepas pulang kerja nanti.
Keesokan harinya Miska tak masuk kerja, Miska dikabarkan tengah
dirawat di UGD karena keracunan, kami kemudian langsung menjenguk. Dan
setelah melihat keadaan Miska yang sedang sekarat, Delan mengakui perbuataannya,
dia mengaku bahwa dialah yang telah mengambil uang kantor. Sudah aku
bilang, kan.Uang memang benda yang aneh, bisa merubah siapapun.
Dengan isak tangis Delan menceritakannya, semua karyawan tak
terkecuali Bos hanya bisa terdiam mendengar pengakuan Delan. Beberapa
hari berlalu, Miska kembali sehat dan dia bekerja seperti biasanya,
sedangkan Delan, dia harus lebih rajin untuk membaca koran, mencari lowongan
kerja sebanyak mungkin, karena setelah pengakuannya, Bos langsung memecatnya.
Masalah uang yang raib telah selesai. Dan menurutku, itu semua berkat
Bos, Bos memang pintar sekaligus licik, perkara dia meracuni makanan
Miska saat berada di kafe, itu urusan nanti, yang terpenting masalah
selesai. Bos memang pintar (sudah tiga kali aku menyebut kalau Bos adalah
sosok yang pintar, dan harusnya kalian percaya, kalau belum, ya, mau diapakan lagi).
Dari semua hukum kausalitas, menurutku yang paling menyebalkan
adalah pertemuan dan perpisahan. Keduanya seakan menjadi hukum yang kekal
setelah Tuhan tentunya. Besok, Bos akan dipindahkan keluar kota, sesuai
peraturan yang telah berlaku, semua pekerja memang harus siap di
tempatkan di manapun ketika akan dipindahkan, termasuk juga Bos.
Dan malam ini adalah menjadi malam terakhir Bos berada di kantor
ini, sesuai keinginannya, bos ingin menghabiskan malam ini dengan
beberapa botol bir dingin dan ingin bercerita apa saja dengan semua
karyawan.
Awalnya semua karyawan setuju, namun setelah beberapa saat sebelum jam pulang kerja mereka banyak yang membatalkan, mereka semua melontarkan alasannya masing-masing, paling banyak mereka beralasan tak mau minum bir, kata mereka itu adalah perbuatan dosa, dari sekian banyak yang mengatakan tentang dosa beberapa diantaranya tak pernah beribadah ataupun berdoa ketika hendak makan, sulit dipahami memang.
Hingga tersisalah aku seorang diri yang menyanggupi permintaan Bos
untuk berpesta perpisahan semalaman suntuk. Pun, sebenarnya kalau boleh
memilih, aku lebih ingin untuk pulang dan tidur di kosan melepas penat
kerja daripada menemani Bos begadang, tetapi melihat semua karyawan yang
tak mau diajak oleh Bos, aku memilih untuk menemani bos saja. Biar
bagaimanapun pekerja harus loyal terhadap atasan. Apalagi terhadap sosok bos yang pintar seperti Bos.
Awalnya kami hanya menonton film, tetapi kemudian keadaan mulai
membosankan, kami mencoba makan kacang kulit yang kami beli di minimarket
dekat kantor, dan makan kacang juga ternyata membosankan, akhirnya bos
mulai membuka tutup bir dingin dan mulai meminumnya.
“Jul, kau tak mau minum?” kata bos menyodorkan gelas berisi
bir dingin ke arahku.
“Nanti saja Bos, masih terlalu sore untuk mabuk”
“Bawahan yang luar biasa, asal kau tahu saja, Jul, kadang walau
tak minum bir, semua orang telah mabuk” Bos kembali menambahkan sedikit
bir ke dalam gelas yang sudah terisi bir sebelumnya dengan takaran tak
terlalu penuh.
“Jul, coba kau ceritakan tentang pengalamanmu saat menjadi penjaga
toilet di sebuah SPBU” l anjut Bos lagi. Dari sekian cerita yang aku punya
kenapa harus cerita itu yang Bos inginkan, maksudku, aku sudah menganggap
cerita memalukan itu sudah hilang dari pikiranku, harusnya setelah
kejadian itu aku kecelakaan dan gagar otak agar aku tak bisa ingat lagi
cerita itu. Kalau boleh jujur, cerita itu sungguh membuat asam lambungku
mendadak naik saat mengingatnya.
Aku masih duduk di bangku SD saat menjadi penjaga toilet di SPBU.
Toilet yang aku jaga sedikit berbeda dengan toliet pada umumnya. Jumlah
pintu yang lebih banyak, jam buka toilet yang tak sama dengan jam buka
SPBU itu sendiri, luas toliet yang kurang lebih sama dengan luas SPBU,
pokoknya toilet itu beda dari toilet-toilet yang lain.
Toilet itu hanya dibuka jam empat sore sampai jam dua belas malam. Dan walaupun SPBU sudah tutup terlebih dahulu, pada akhir pekan toilet tetap buka sampai pagi, tentunya aku juga yang jaga karena keesokan harinya aku libur sekolah.
Pada awalnya aku tak menaruh curiga dan prasangka apapun terhadap
toilet itu aku hanya seorang bocah SD. Ketika malam minggu banyak orang
yang mengunjungi toliet itu. Dan itulah yang terpenting, pengguna bayar
uang sewa dan ya, artinya jatahku pun makin bertambah banyak.
Suatu malam, beberapa orang polisi mendatangi toilet. Tanpa duduk
perkara yag jelas mereka menangkap orang-orang yang saat itu ada di dalam
toilet tersebut, yang ada dalam pikiranku saat itu adalah kenapa
orang-orang itu tiba-tiba ditangkap, maka aku, seorang bocah SD lugu yang
tak tahu apa-apa mengajukan pertanyaan kepada bapak-bapak Polisi itu.
“Pak, ada apa ya, Pak? Mereka kenapa? Kok ditangkap?” Tanyaku polos.
“Goblok! Makanya jadi anak kecil yang pintar, kalo berpikir itu
pake otak jangan pake dengkul” jawab Pak polisi itu sambil membawaku
diikutsertakan menaiki mobil polisi bersama orang- orang yang tadi sempat
menyewa toilet.
Dan kalau boleh jujur, jawaban dari Pak polisi saat itu
masih mengganjal dalam hati, sampai sekarang aku masih tidak tahu bagian
tubuh mana yang berkerja saat aku berpikir: dengkol atau otak, aku tak
bisa membedakannya, mungkin akan kupikirkan lebih dalam nanti saat punya
bannyak waktu luang. Setelah dewasa aku baru tahu bahwa toilet itu sebenarnya bukanlah toilet melainkan lokalisasi tempat prostitusi. Dan aku yang
menjaganya, masih SD pula. Sebuah pengalaman yang sama sekali tak
membanggakan.
Selama aku bercerita Bos selalu memperhatikan setiap kata dan gerak tangan yang secara tidak sadar aku lakukan, menurutku dia adalah pendengar yang cukup baik. Tetapi kemudian secara tiba-tiba Bos bernyanyi.
Bukan lautan hanya kolam susu
Kail dan jala cukup menghidupimu
Tiada topan tiada badai kau temui
Ikan dan udang dan menghampiri dirimu
Orang bilang tanah kita tanah surga
Tongkat kayu dan batu jadi tanaman
Kail dan jala cukup menghidupimu
Tiada topan tiada badai kau temui
Ikan dan udang dan menghampiri dirimu
Orang bilang tanah kita tanah surga
Tongkat kayu dan batu jadi tanaman
“Tuhan.. inikah surga yang engkau ciptakan... Kalau nyatanya surga
hanya membuat perpecahan, kenapa Kau menciptakannya? Ataukah salah kami
yang terlalu terlena dalam kolam surga-Mu yang fana ini? ” Bos diakhir
nyanyiannya, dan sepertinya dia sudah sedikit mabuk, kendati begitu
kecerdasannya masih tetap terlihat.
“Jul, kenapa namamu hanya Jul,
tak ada tambahannya sedikitpun, orang tuamu pengagum Jullius
Caesar, Raja Julian, atau si Panjul, hah?”
Jul anak bodoh
Bekerja Setiap hari
Ayo Jul pintarlah
Kau terlalu dibodoh-bodohi
Bekerja Setiap hari
Ayo Jul pintarlah
Kau terlalu dibodoh-bodohi
Bos bernyanyi lagi, dan kali ini sepertinya lagu anak-anak yang
bejudul si Kancil lah yang ia nyanyikan, hanya
liriknya saja yang ia ganti sedangkan nadanya masih tetap sama. Kadang aku memang memikirkan itu, saat hari libur dan aku tak melakukan hal
apapun. Aku sempat berpikir bahwa aku adalah pribadi bodoh yang
tak berguna sama sekali, tak berguna untuk siapa dan apapun, kemudian ya,
sering timbul pertanyaan, adakah orang yang sama tak bergunanya seperti
diriku? Kalau mungkin tak ada, ya sudah, mungkin Tuhan khilaf telah menciptakanku. Terimakasih Bos telah menyadarkan, kau memang pintar (aku
sudah berkata bahwa Bos adalah orang yang pintar sebanyak enam kali, dan
kalau kalian masih belum percaya, mungkin kita memang generasi bebal
yang tak pernah percaya terhadap apapun).
Keeseokan harinya, aku bangun seorang diri, saat aku terbangun
suasana sekitar terlihat sudah jauh berbeda dari sebelumnya. Aku hanya
melihat lampu–lampu putih panjang di atasku,orang-orang yang memakai baju
serba putih dan masker berwarna hijau cerah. Hidungku kemudian mulai
mencium wangi cemara yang sepertinya dari lantai yang baru saja dipel,
dan anehnya aku melihat tubuhku sendiri sedang tidur nyenyak sekali di atas
bangsal. Tubuhku berada tepat di samping tubuh Bos yang seperti juga
tertidur sama nyenyaknya dengan tubuhku. Sama sekali tak masuk akal, aku
bisa melihat tubuhku sendiri yang kelihatannya lebih pucat dari yang
biasa aku lihat di depan cermin saat aku berkaca, tubuh bos juga pucat.
Aku tak banyak mengingat saat terakhir aku bersama Bos malam
itu, hanya seingatku aku sempat berdebat saat Bos ingin memasukan
beberapa tablet paracetamol ke dalam botol bir yang akan
kita minum, kata Bos “mungkin ini akan mengantarkan kita ke surga yang sesungguhnya, Jul” dan
aku yang sudah tak bisa berpikir rasional secara utuh lagi, akhirnya mengiyakan tindakan Bos itu. Kemudian kami berdua meminum bir itu sampai
habis. Setelah itu aku tak ingat apa-apa. Kenyataannya, setiap orang
memang mempunyai ketololannya masing-masing.
Aku bertanya dalam hati, apakah aku sedang berada di surga? Tetapi
sepertinya tempat ini lebih mirip ruang mayat.
sumber
gambar:www.takrim-alquran.org
Dan saat aku mencoba untuk berpikir lebih dalam tentang apa yang sebenarnya telah terjadi.Tiba-tiba ada tepukan kecil pada pundakku,
kemudian saat aku menoleh terdengar suara “Hai manusia bodoh, Jul. Sudah
saatnya, ayo mangkat ”

Komentar
Posting Komentar