Langsung ke konten utama

Perpisahan

Tubuh Bos kurus tinggi, rambutnya ikal dan kadang acak-acakan, tetapi dibalik ketidaksimetrisan penampilannya, Bos termasuk orang yang cukup pintar dalam menghadapi segala persoalan di kantor.

Bukti dari kepintasrannya adalah Bos pernah meleraikan perselisihan antara Delan dan Miska, persoalan tentang uang. Uang kantor telah hilang berpuluh-puluh juta, keduanya saling  menuduh satu sama lain. Jika ada yang bertanya benda apa yang paling merepotkan sekaligus membahagiakan jawab saja, uang.

Mereka hampir saja mendapatkan gelar almahrum jika saja Bos tak datang untuk meleraiakan, mungkin aku terlalu berlebihan dan kalian boleh saja tak percaya, tapi perempuan-perempuan di kantorku memang cantik plus garang perihal emosi. sepertinya ini efek emansipasi wanita dari Kartini. Bos kemudian datang sebagai Imam Mahdi untuk mereka,  menanyakan duduk perkara, meredam emosi keduanya, Bos memang pandai dalam hal  apapun termasuk untuk itu. Pada akhirnnya Bos mengajak Miska dan Delan untuk makan  malam di sebuah kafe selepas pulang kerja nanti.

Keesokan harinya Miska tak masuk kerja, Miska dikabarkan tengah dirawat di UGD karena keracunan, kami kemudian langsung menjenguk. Dan setelah melihat keadaan Miska yang sedang sekarat, Delan mengakui perbuataannya, dia mengaku bahwa dialah yang telah mengambil uang kantor. Sudah aku bilang, kan.Uang memang benda yang aneh, bisa merubah siapapun.
  
Dengan isak tangis Delan menceritakannya, semua karyawan tak terkecuali Bos hanya bisa terdiam mendengar pengakuan Delan. Beberapa hari berlalu, Miska kembali sehat dan dia bekerja seperti biasanya, sedangkan Delan, dia harus lebih rajin untuk membaca koran, mencari lowongan kerja sebanyak mungkin, karena setelah pengakuannya, Bos langsung memecatnya.
Masalah uang yang raib telah selesai. Dan menurutku, itu semua berkat Bos, Bos memang pintar sekaligus licik, perkara dia meracuni makanan Miska saat berada di kafe, itu urusan nanti, yang terpenting masalah selesai. Bos memang pintar (sudah tiga kali aku menyebut kalau Bos adalah sosok yang pintar, dan harusnya kalian percaya, kalau belum, ya, mau diapakan lagi).

Dari semua hukum kausalitas, menurutku yang paling menyebalkan adalah pertemuan dan perpisahan. Keduanya seakan menjadi hukum yang kekal setelah Tuhan tentunya. Besok, Bos akan dipindahkan keluar kota, sesuai peraturan yang telah berlaku, semua pekerja         memang harus siap di tempatkan di manapun ketika akan dipindahkan, termasuk juga Bos.


Dan malam ini adalah menjadi malam terakhir Bos berada di kantor ini, sesuai keinginannya, bos ingin menghabiskan malam ini dengan beberapa botol bir dingin dan ingin bercerita apa saja dengan semua karyawan.

Awalnya semua karyawan setuju, namun setelah beberapa saat sebelum jam pulang kerja mereka banyak yang membatalkan, mereka semua melontarkan alasannya masing-masing, paling banyak mereka beralasan tak mau minum bir, kata mereka itu adalah perbuatan dosa,  dari sekian banyak yang mengatakan tentang dosa beberapa diantaranya tak pernah beribadah ataupun berdoa ketika hendak makan, sulit dipahami memang.


Hingga tersisalah aku seorang diri yang menyanggupi permintaan Bos untuk berpesta perpisahan semalaman suntuk. Pun, sebenarnya kalau boleh memilih, aku lebih ingin untuk pulang dan tidur di kosan melepas penat kerja daripada menemani Bos begadang, tetapi melihat semua karyawan yang tak mau diajak oleh Bos, aku memilih untuk menemani bos saja. Biar bagaimanapun pekerja harus loyal terhadap atasan. Apalagi terhadap sosok bos yang pintar seperti Bos.


Awalnya kami hanya menonton film, tetapi kemudian keadaan mulai membosankan, kami mencoba makan kacang kulit yang kami beli di minimarket dekat kantor, dan makan kacang juga ternyata membosankan, akhirnya bos mulai membuka tutup bir dingin dan mulai meminumnya.

“Jul, kau tak mau minum?” kata bos menyodorkan gelas berisi bir dingin ke arahku.

“Nanti saja Bos, masih terlalu sore untuk mabuk”

“Bawahan yang luar biasa, asal kau tahu saja, Jul, kadang walau tak minum bir, semua orang  telah mabuk” Bos kembali menambahkan sedikit bir ke dalam gelas yang sudah terisi bir  sebelumnya dengan takaran tak terlalu penuh.

“Jul, coba kau ceritakan tentang pengalamanmu saat menjadi penjaga toilet di sebuah SPBU” l anjut Bos lagi. Dari sekian cerita yang aku punya kenapa harus cerita itu yang Bos inginkan,  maksudku, aku sudah menganggap cerita memalukan itu sudah hilang dari pikiranku,  harusnya setelah kejadian itu aku kecelakaan dan gagar otak agar aku tak bisa ingat lagi  cerita itu. Kalau boleh jujur, cerita itu sungguh membuat asam lambungku mendadak naik saat  mengingatnya.

Aku masih duduk di bangku SD saat menjadi penjaga toilet di SPBU. Toilet yang aku jaga sedikit berbeda dengan toliet pada umumnya. Jumlah pintu yang lebih banyak, jam buka toilet  yang tak sama dengan jam buka SPBU itu sendiri, luas toliet yang kurang lebih sama dengan  luas SPBU, pokoknya toilet itu beda dari toilet-toilet yang lain.

Toilet itu hanya dibuka jam empat sore sampai jam dua belas malam. Dan walaupun SPBU sudah tutup terlebih dahulu, pada akhir pekan toilet tetap buka sampai pagi, tentunya aku juga yang jaga karena keesokan harinya aku libur sekolah.

Pada awalnya aku tak menaruh curiga dan prasangka apapun terhadap toilet itu aku hanya seorang bocah SD. Ketika malam minggu banyak orang yang mengunjungi toliet itu. Dan itulah yang terpenting, pengguna bayar uang sewa dan ya, artinya jatahku pun makin bertambah banyak.

Suatu malam, beberapa orang polisi mendatangi toilet. Tanpa duduk perkara yag jelas mereka menangkap orang-orang yang saat itu ada di dalam toilet tersebut, yang ada dalam pikiranku saat itu adalah kenapa orang-orang itu tiba-tiba ditangkap, maka aku, seorang bocah SD lugu yang tak tahu apa-apa mengajukan pertanyaan kepada bapak-bapak Polisi itu.

“Pak, ada apa ya, Pak? Mereka kenapa? Kok ditangkap?” Tanyaku polos.


“Goblok! Makanya jadi anak kecil yang pintar, kalo berpikir itu pake otak jangan pake dengkul”  jawab Pak polisi itu sambil membawaku diikutsertakan menaiki mobil polisi bersama orang-  orang yang tadi sempat menyewa toilet.

Dan kalau boleh jujur, jawaban dari Pak polisi saat itu masih mengganjal dalam hati, sampai sekarang aku masih tidak tahu bagian tubuh mana yang berkerja saat aku berpikir: dengkol atau otak, aku tak bisa membedakannya, mungkin akan kupikirkan lebih dalam nanti saat punya bannyak waktu luang. Setelah dewasa aku baru tahu bahwa toilet itu sebenarnya bukanlah toilet melainkan lokalisasi tempat prostitusi. Dan aku yang menjaganya, masih SD pula. Sebuah pengalaman yang sama sekali tak membanggakan.

Selama aku bercerita Bos selalu memperhatikan setiap kata dan gerak tangan yang secara tidak sadar aku lakukan, menurutku dia adalah pendengar yang cukup baik. Tetapi kemudian  secara tiba-tiba Bos bernyanyi.

Bukan lautan hanya kolam susu
Kail dan jala cukup menghidupimu
Tiada topan tiada badai kau temui
Ikan dan udang dan menghampiri dirimu
Orang bilang tanah kita tanah surga
Tongkat kayu dan batu jadi tanaman

“Tuhan.. inikah surga yang engkau ciptakan... Kalau nyatanya surga hanya membuat perpecahan, kenapa Kau menciptakannya? Ataukah salah kami yang terlalu terlena dalam kolam surga-Mu yang fana ini? ” Bos diakhir nyanyiannya, dan sepertinya dia sudah sedikit mabuk, kendati begitu kecerdasannya masih tetap terlihat.

“Jul, kenapa namamu hanya Jul, tak ada tambahannya sedikitpun, orang tuamu pengagum Jullius Caesar,  Raja Julian, atau si Panjul, hah?”

Jul anak bodoh
Bekerja Setiap hari
Ayo Jul pintarlah
Kau terlalu dibodoh-bodohi

Bos bernyanyi lagi, dan kali ini sepertinya lagu anak-anak yang bejudul si Kancil lah yang ia nyanyikan, hanya liriknya saja yang ia ganti sedangkan nadanya masih tetap sama. Kadang aku memang memikirkan itu, saat hari libur dan aku tak melakukan hal apapun. Aku sempat berpikir bahwa aku adalah pribadi bodoh yang tak berguna sama sekali, tak berguna untuk siapa dan apapun, kemudian ya, sering timbul pertanyaan, adakah orang yang sama tak bergunanya seperti diriku? Kalau mungkin tak ada, ya sudah, mungkin Tuhan khilaf telah menciptakanku. Terimakasih Bos telah menyadarkan, kau memang pintar (aku sudah berkata bahwa Bos adalah orang yang pintar sebanyak enam kali, dan kalau kalian masih belum   percaya, mungkin kita memang generasi bebal yang tak pernah percaya terhadap apapun).

Keeseokan harinya, aku bangun seorang diri, saat aku terbangun suasana sekitar terlihat sudah jauh berbeda dari sebelumnya. Aku hanya melihat lampu–lampu putih panjang di atasku,orang-orang yang memakai baju serba putih dan masker berwarna hijau cerah. Hidungku kemudian mulai mencium wangi cemara yang sepertinya dari lantai yang baru saja  dipel, dan anehnya aku melihat tubuhku sendiri sedang tidur nyenyak sekali di atas bangsal.  Tubuhku berada tepat di samping tubuh Bos yang seperti juga tertidur sama nyenyaknya  dengan tubuhku. Sama sekali tak masuk akal, aku bisa melihat tubuhku sendiri yang  kelihatannya lebih pucat dari yang biasa aku lihat di depan cermin saat aku berkaca, tubuh  bos juga pucat.

Aku tak banyak mengingat saat terakhir aku bersama Bos malam itu, hanya seingatku aku sempat berdebat saat Bos ingin memasukan beberapa tablet paracetamol ke dalam botol bir  yang akan kita minum, kata Bos “mungkin ini akan mengantarkan kita ke surga yang sesungguhnya, Jul dan aku yang sudah tak bisa berpikir rasional secara utuh lagi, akhirnya mengiyakan tindakan Bos itu. Kemudian kami berdua meminum bir itu sampai habis. Setelah  itu aku tak ingat apa-apa. Kenyataannya, setiap orang memang mempunyai ketololannya  masing-masing.

Aku bertanya dalam hati, apakah aku sedang berada di surga? Tetapi sepertinya tempat ini lebih mirip ruang mayat.



sumber gambar:www.takrim-alquran.org


Dan saat aku mencoba untuk berpikir lebih dalam tentang apa yang sebenarnya telah terjadi.Tiba-tiba ada tepukan kecil pada pundakku, kemudian saat aku menoleh terdengar suara “Hai manusia bodoh, Jul. Sudah saatnya, ayo mangkat ”

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review Novel Jakarta Sebelum Pagi by Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

Sebelum memulai ke pertunjukan utama anggap saja ini sajian pembuka, seperti band pembuka di sebuah konser akbar. Ada beberapa hal yang menurut saya (sebagai pembaca) mengganjal dalam hati mengenai novel ini (selain covernya yang sedikit mirip dengan novel i'll give u the sun) Yang pertama adalah, beberapa hal yang menurut saya harusnya dipersingkat, dengan arti lain adalah beberapa bagian novel ini mempunyai informasi yang diulang-ulang, walaupun tidak membosankan, tetapi demi menghemat kertas, biaya produksi, dan tingkat kebosanan pembaca harusnya bisa dipersingkat saja. Misalnya dalam penjelasan mengenai teh. Percakapan yang berkaitan tentang teh beberapa bagian diulang-ulang, walaupun dengan kalimat yang berbeda tetapi saya merasa itu mempunyai informasi yang sama. Karena jika penulis ingin menjadikan ‘teh’ sebagai sarana pengantar cerita saya rasa porsi dalam novel tersebut bisa dipangkas lagi, toh beberapa bagian hanya berisikan informasi yang mungkin ingin menunju...

Mengulik Makna Dari Lagu 'Merah' Efek Rumah Kaca

Eka kurniawan dalam sebuah jurnal onlinenya pernah menerbitkan sebuah cerpen tentang sebuah perlawanan, inti dari cerpen tersebut adalah tentang sebuah pemuda (mahasiswa) yang ingin melakukan sebuah aksi (perlawanan) untuk menjatuhkan sebuah kekuasaan (rezim) yang menurutnya sudah tidak pantas lagi untuk berkuasa. Cerita itu berakhir tragis dengan tokoh utama yang tiba-tiba hilang tak tahu ke mana, entah mati atau hidup. Menghilang tiba-tiba. Dalam sejarah Indonesia sendiri, sebuah perlawanan sudah mondar-mandir dicacat oleh tinta sejarah. Peristiwa orang Surabaya yang membunuh jendral Mallaby dan kemudian berimbas pada pertempuran tiga hari tiga malam di kota tersebut hingga kemudian hari tersebut ditetapkan sebagai hari pahlawan oleh Ir Soekarno guna menghargai mereka-mereka yang sudah gugur, misalnya. Atau perebutan Irian Barat dengan Belanda. Bahkan kemerdekaan bangsa Indonesia tak lain dan tak bukan adalah buah dari sebuah perlawanan. Perlawanan tak hanya dilakukan dengan...

Catatan Banjir Jakarta Februari 2017

Hujan turun sejak jam tiga dini hari (21 februari 2017), jam setengah empat pelataran rumah sudah terlihat genangan air, jam empat lebih air mulai menaiki tangga-tangga rumah. Kira-kira pas adzan subuh atau sekitar jam lima pagi air mulai masuk ke rumah-rumah warga. Beberapa orang sudah berada di depan rumah masing-masing berjaga, ada juga yang menggedor-gedor tetangga, khawatir masih ada orang yang belum bangun. Sekitar jam setengah enam sampai jam tujuh pagi air sudah benar-benar menguasi seisi rumah. Sementara sebelumnya, warga sudah mengamankan benda-benda yang mereka anggap penting. Benda elektronik, kulkas, mesin cuci, kompor. Surat-surat tanah, pakaian, atau hal yang kira-kira bisa rusak terkena banjir. Termasuk motor yang diungsikan dengan cara bergotong-royong mengangkat secara bergantian. Jam enam sampai jam tujuh hujan bisa dikatakan sedang lebat-lebatnya, langit masih gelap tidak seperti biasanya, barang-barang sudah naik ke singgahsana yang lebih tinggi. Banjir ka...