Langsung ke konten utama

Maling (Monyet, Babi dan Anjing)

Hari itu masih terlalu pagi untuk seorang kakek bangun dari tidurnya. Kenyataannya hampir semua orang tua selalu bangun di siang hari. Ya, mungkin karena mereka sedang berlatih untuk menghadapi tidur panjangnya nanti.

Dan, pagi itu pula menjadi sebuah saksi di mana beberapa mahkluk ciptaan Tuhan sedang membuktikan kecerdasan-kecerdasan mereka dalam beretotika: berdebat, dan (mari kita beri tepuk tangan yang meriah untuk ketiganya) mereka adalah Anjing, Babi dan monyet.

"Bangsat memang, jadi selama ini ada pengkhianat diantara kita" Monyet mengulirkan bola panas melalui mulut lebar nan bau itu.

"Terserah lah, tapi aku tak pernah sekalipun masuk ke ruangan busuk itu, kalian tahu, kan, dalam urusan makan, aku tak serakus seperti kalian" bantah Anjing.

Dan dengan suara seperti suara hewan bertubuh gendut di film-film, Babi kotor itu memulai sabdanya "Ya.. Tapi, semua orang tahu, kau suka mengubur barang-barang, bahkan milik orang lain"

"Diam kau, Babi!" kata Anjing, kemudian cepat dia menambahi "Babi Tolol! Lagi pula apa untungnya aku mengubur makanan, hah! sekali lagi kau menuduhku seperti itu, akan aku pecahkan semua isi kepalamu, Babi keparat!"

Dengan sedikit menghembuskan nafas yang keluar melalui jalur mulut, Babi berkata "Ya, silahkan saja, aku juga sudah ingin membunuh si Monyet sialan ini, Monyet yang kelewat rakus ia tak sepantasnya hidup, ha ha"

"Babi Bangsat, bangsat kau!" monyet mantap memegang pistol ke arah drum bubuk mesiu di sampingnya.

Sedari tadi posisi mereka memang tak berubah sedikitpun. Anjing tetap menodongkan ujung pistol tepat di kelapa Babi, dan Babi juga mantap menaruh unjung pistolnya pas di samping batok kepala Monyet, sedangkan Monyet sendiri, senyum ketusnya selalu menyeringai diantara bulu-bulu wajahnya, ia sudah siap untuk menembakan pistolnya ke drum bubuk mesiu yang  berada tepat di sebelahnya, kapanpun ia mau. Mereka mempunyai kesempatan yang sama untuk saling membunuh satu sama lain.

Pagi masih belum beranjak. Hawa dingin yang menyelimuti beberapa sudut ruangan itu pun belum juga tersapu oleh cahaya matari yang biasanya selalu mengantarkan kelembutan dan kehangatan pagi.

"Aku, ha ha, punya ide, bagaimana kalau kita minta pendapat si Ayam Jago Tua, setahuku dia bisa meramal, mungkin dia juga tahu siapa yang telah mengambil jatah makan kita di gudang itu, ha ha" Babi mengeluarkan kata-kata yang ada dalam kepalanya.

"Babi.. Babi sialan! Memang aku tak tahu, hah, kalian berdua berbuhungan kan? Kau ingin meminta pendapat si Tua itu agar kau tak dituduh kan" Anjing menambahkan.

"Berhubungan, berhubungan apa yang kau maksud Anjing gila?!!" Babi dengan menekan intonasi suara di awal kalimat.

"Ya ngentotlah tolol !!!  semua orang juga tahu, kau adalah homo yang menjijikan, cih! Kau memang tak ada gunanya di muka bumi ini, bahkan dagingmu saja mengandung penyakit, baiknya memang aku tembakan saja peluru ini ke isi kepalamu yang tolol dan tak berguna itu" kata Anjing, sedangkan ujung pistolnya semakin ditekankan pada kepala Babi.

"Silahkan saja, tapi sebelum aku benar-benar mati, Monyet sialan ini akan menghadapi ajalnya terlebih dahulu oleh pistol ku, ha ha" Babi sembari melirik ke arah Monyet, kemudian berkata lagi "Dan untuk kau, Anjing gila, kalau aku tak ada gunanya, bagaimana mungkin nenek moyangku dulu diikutsertakan oleh orang suci untuk menaiki kapal raksasanya, diselamatkan dari banjir besar. Tak hanya gila, kau juga lebih tolol dari yang kukira, ha ha"

"Ya, ya, manusia, semua manusia memang aneh, tak pernah bisa diterka. Kadang aku juga bingung kenapa Tuhan memilih mereka sebagia pemimpin, dan kalau melihat mereka disibukan oleh sesuatu yang tak penting, rasanya, aku selalu bersyukur telah diciptakan menjadi anjing, setidaknya hidupku tak terlalu membosankan seperti mereka, ya, mungkin baiknya, manusia-manusia itu tak usah diciptakan saja" gumam Anjing, mungkin benar tuduhan Babi bahwa dia gila, setidaknya dia telah bertanya dan menjawab sendiri.

"Diam kalian semua bangsattt!!! sekali lagi aku tanya tak ada yang mengaku, aku ledakan bubuk mesiu ini, aku buat gosong semua tubuh kalian" Monyet cepat menyambar.

"Ha ha, ledakan saja, kau juga akan ikut mati, kan. Aku kira kau pintar, ternyata tak lebih tolol dariku" Babi mengulang kalimat terakhirnya dua kali, setelah sebelumnya berbicara dengan kalimat yang sama terhadap Anjing.

"Tunggu" Anjing memotong "kita semua tahu siapa diantara kita bertiga yang paling rakus dan paling cepat gerakannya, jangan-jangan, kau malingnya, Monyet! Kau berpura-pura dan menakut-nakuti kita semua dengan ingin meledakan bubuk mesiu itu, kan? Kau tak akan melakukannya. Kau takan berani meledakannya, karena kau, ya kau sendirilah yang mencuri, kau malingnya!"

Dan tak beberapa lama kemudian, terdengar suara ledakan yang cukup kencang dari peternakan kakek tua itu. Pagi yang dingin, sepertinya memang akan turun hujan.
sumber gb :Indonesia.com

Tamat.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review Novel Jakarta Sebelum Pagi by Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

Sebelum memulai ke pertunjukan utama anggap saja ini sajian pembuka, seperti band pembuka di sebuah konser akbar. Ada beberapa hal yang menurut saya (sebagai pembaca) mengganjal dalam hati mengenai novel ini (selain covernya yang sedikit mirip dengan novel i'll give u the sun) Yang pertama adalah, beberapa hal yang menurut saya harusnya dipersingkat, dengan arti lain adalah beberapa bagian novel ini mempunyai informasi yang diulang-ulang, walaupun tidak membosankan, tetapi demi menghemat kertas, biaya produksi, dan tingkat kebosanan pembaca harusnya bisa dipersingkat saja. Misalnya dalam penjelasan mengenai teh. Percakapan yang berkaitan tentang teh beberapa bagian diulang-ulang, walaupun dengan kalimat yang berbeda tetapi saya merasa itu mempunyai informasi yang sama. Karena jika penulis ingin menjadikan ‘teh’ sebagai sarana pengantar cerita saya rasa porsi dalam novel tersebut bisa dipangkas lagi, toh beberapa bagian hanya berisikan informasi yang mungkin ingin menunju...

Mengulik Makna Dari Lagu 'Merah' Efek Rumah Kaca

Eka kurniawan dalam sebuah jurnal onlinenya pernah menerbitkan sebuah cerpen tentang sebuah perlawanan, inti dari cerpen tersebut adalah tentang sebuah pemuda (mahasiswa) yang ingin melakukan sebuah aksi (perlawanan) untuk menjatuhkan sebuah kekuasaan (rezim) yang menurutnya sudah tidak pantas lagi untuk berkuasa. Cerita itu berakhir tragis dengan tokoh utama yang tiba-tiba hilang tak tahu ke mana, entah mati atau hidup. Menghilang tiba-tiba. Dalam sejarah Indonesia sendiri, sebuah perlawanan sudah mondar-mandir dicacat oleh tinta sejarah. Peristiwa orang Surabaya yang membunuh jendral Mallaby dan kemudian berimbas pada pertempuran tiga hari tiga malam di kota tersebut hingga kemudian hari tersebut ditetapkan sebagai hari pahlawan oleh Ir Soekarno guna menghargai mereka-mereka yang sudah gugur, misalnya. Atau perebutan Irian Barat dengan Belanda. Bahkan kemerdekaan bangsa Indonesia tak lain dan tak bukan adalah buah dari sebuah perlawanan. Perlawanan tak hanya dilakukan dengan...

Catatan Banjir Jakarta Februari 2017

Hujan turun sejak jam tiga dini hari (21 februari 2017), jam setengah empat pelataran rumah sudah terlihat genangan air, jam empat lebih air mulai menaiki tangga-tangga rumah. Kira-kira pas adzan subuh atau sekitar jam lima pagi air mulai masuk ke rumah-rumah warga. Beberapa orang sudah berada di depan rumah masing-masing berjaga, ada juga yang menggedor-gedor tetangga, khawatir masih ada orang yang belum bangun. Sekitar jam setengah enam sampai jam tujuh pagi air sudah benar-benar menguasi seisi rumah. Sementara sebelumnya, warga sudah mengamankan benda-benda yang mereka anggap penting. Benda elektronik, kulkas, mesin cuci, kompor. Surat-surat tanah, pakaian, atau hal yang kira-kira bisa rusak terkena banjir. Termasuk motor yang diungsikan dengan cara bergotong-royong mengangkat secara bergantian. Jam enam sampai jam tujuh hujan bisa dikatakan sedang lebat-lebatnya, langit masih gelap tidak seperti biasanya, barang-barang sudah naik ke singgahsana yang lebih tinggi. Banjir ka...