Aku tak tahu sudah berapa lama aku berada di sini, seingatku sudah satu
jam, atau mungkin dua jam, entahlah. Nyatanya aku memang seorang pelupa.
Dan memang tak ada gunanya mengingat sesuatu yang tak penting.
Jarak dari kosanku ke sini kurang lebih hanya empat ratus meter, tapi aku lebih memilih menggunakan sepeda motor daripada berjalan kaki, itu aku sebut sebagai bentuk rasa sayangku terhadap lemak-lemak di dalam tubuhku. Ya, aku rasa lemak juga butuh kasih sayang.
Tentang lemak, aku jadi teringat seseorang, teman kuliah ku. Perutnya buncit, dan dia tidak sedang hamil, dia laki-laki.
"Anjing, tadi gue baca artikel, ternyata kalau perut buncit itu bisa bikin sakit jantung" katanya sambil makan gorengan yang entah itu sudah gorengan keberapa yang ia makan.
Tahu di mana letak keanehannya?
Sudahlah.
"Mas mau pesen apa?" suara mas-mas mengagetkanku.
"Gorengan, ada mas?" tanyaku
"Ada mas" jawabnya
"Sepuluh mas!"
"Mau dibakar sekalian mas?" tanyanya lagi.
Aku hanya mengangguk. Pertama, anggukan ku tak sepenuhnya jawaban iya. Aku hanya bingung, seingatku tak ada gorengan yang harus dibakar lagi ketika akan dihidangkan.
Kedua, aku sedang berpikir, karena aku dan mas-mas itu sudah mengulang kata 'mas' sebanyak empat kali dalam obrolan tadi.
"Gorengannya tambah satu lagi mas" perintahku kembali.
Sebenarnya aku tak ingin menambah jumlah porsi dan lagi pula aku tak ingin perutku buncit, aku hanya ingin menggenapkan pengulangan kata 'mas' menjadi lima kali. Seperti jumlah personil sebuah grup band. Dan kalau bisa semoga mereka bisa hidup dan membuat grup band sungguhan.
Selagi menunggu pesanan, aku luangkan waktuku untuk melihat sekitar. Di samping tempat ku duduk ada beberapa anak muda, kurang lebih sepantaranku. Tujuh orang. Mereka menggunakan baju dengan warna, corak dan tulisan yang sama, ada juga yang menggunakan jaket dengan kata-kata yang sama seperti yang ada di kaos tadi. Aku sempat berpikir kalau mereka adalah buruh yang akan berdemo. Tetapi aku rasa tidak, setahuku gaji buruh sudah tinggi sekarang.
Atau mungkin angota pawai partai? Kalau benar kasihan sekali, mereka masih terlalu muda untuk dibodoh-bodohi oleh politik.
Sebentar, aku tahu. Mereka ternyata adalah klub motor. Aku tahu dari tulisan di kaos mereka. Tadi aku kurang teliti dalam memperhatikan, pantas salah.
Mereka sepertinya sedang asyik membicarakan tentang ulang tahun klub motor yang mereka rayakan kemarin, melihat foto-foto di layar handphone dan kemudian tertawa beramai-ramai.
Dan ketika aku lebih memperhatikan, ada seseorang yang sedang sibuk memfoto-foto motornya.
Bodohnya, kalian tahu fungsi kendaran untuk apa?
Selain untuk bunuh diri dan mempersingkat usia, fungsi kendaraan sesungguhnya adalah hanya sebagai mode transportasi bukan untuk foto atau pamer kepada orang lain. Untuk keadaan seperti ini kiranya berucap kata 'tolol' memang pantas.
Pesananku datang, gorengan yang dibakar.
Kemudian aku mencobanya, ternyata enak juga. Sekarang daftar menu makanan diotakku bertambah satu: gorengan bakar.
Setelah hampir menghabiskan dua gorengan bakar, tiba-tiba sebuah mobil dengan lambang huruf 'S' di bamper depan datang, mobil langsung ambil posisi sembarang untuk di parkirkan. Mobil itu sontak menjadi pusat perhatian.
Aku rasa memang jarang sekali atau bahkan tak ada seorangpun yang pergi ke angkringan menggunakan mobil pribadi. Orang-orang seperti itu biasanya lebih memilih tempat-tempat yang lebih nyaman dibandingkan ke sebuah warung angkringan yang terlihat kumuh dan remang-remang.
Aku memang sedang berada di sebuah warung angkringan, dan aku sedang menunggu dia. Pengendara mobil itu.
Sebelumnya, dia telah berkata ada yang ingin ia bicarakan denganku.
"Ada yang ingin aku bicarakan" pesannya, jam satu dinihari kemarin.
"iya aku juga" aku balas seadanya.
"Apa?" balasnya.
"Aku ngantuk" balasku lagi.
"Kita harus ketemu!!!" dengan dia menulis tiga tanda seru, aku tahu ada sesuatu yang penting.
"Di angkringan, dekat kosanku, jam tujuh malam" jawabku
"!@?!%&zx#!" dia hanya membalas seperti itu, aku tidak tahu apakah itu sebuah kode yang harus diselesaikan atau semacamnya. Mungkin dia kesal. Mana ada orang kaya yang mau makan makanan di pinggir jalan, kalau ada yang mau, ya mungkin dia hanya berpura-pura menjadi seorang 'kaya'.
Sebelumnya, kami berdua memang memiliki beberapa perbedaan dan persamaan. Perbedaan yang pertama tentang materi, dia beruntung terlahir dari keluarga kaya, sedangkan aku seseorang yang terlahir dari keluarga yang biasa-biasa saja.
Perbedaan yang kedua adalah dia wanita dan aku seorang pria, tentu saja.
Kemudian tentang persamaan, persamaan dari dia dan aku adalah sama-sama seorang mahasiswa, juga satu kelas.
"kamu belum mandi ya?!" tanyanya bercampur menuduh.
Aku hanya terdiam, setahuku memang semenjak tadi aku mencium sedikit bau sulfur, mungkin dari badan ku sendiri. Aku tak ingat sudah mandi belum, sejak awal memang sudah kukatakan aku adalah seorang pelupa.
"kamu tak ingin mencobanya?" tanyaku.
"Apa?" tanyanya balik
"Gorengan bakar!" jawabku
"Ish!!! Kau harusnya tahu, gorengan itu mengandung kolesterol tinggi, kau ingin mati muda karena serangan jantung! Dan kau juga tahu kan, kalau arang yang digunakan untuk membakar itu mengandung karbon, jika tercampur makanan karbon bisa menyebabkan kangker" dia sambil menunjuk-nunjuk gorengan bakar itu.
Ya ya, aku tahu semua itu. Persamaan kami yang kedua: kami sama-sama mengambil jurusan kedokteran di sebuah universitas negeri.
"Oh iya, katanya ada yang ingin kau sampaikan?" tanyaku dengan mencongkel-congkel sisa arang yang ada di gorengan, bukan karena aku takut terkena kangker, tapi aku tak ingin lidahku mencicipi rasa pahit.
"Aku hamil" jawabnya santai sembari memainkan telepon genggamnya.
"Apa bisa?" tanyaku datar.
"Sudah dua bulan, maafkan aku" jawabnya, dan sepertinya aku mendengar kata maaf tapi tak ada rasa bersalah dalam raut wajahnya.
Aku tak pandai mendeskripsikan seseorang, tetapi untuk seukuran wanita usia dua puluh dua tahun dia bisa dibilang cantik, bahkan mungkin cantik sekali. Tubuh tinggi dengan rambut hitam lebat yang selalu ia kuncir satu itu, wajahnya oriental dengan mata yang tak terlalu sipit. Waktu ku tanya kenapa ia seperti keturunan Cina sedangkan kedua orangtuanya asli pribumi, dia hanya menjawab "mungkin nenek moyangku dulu saat jaman penjajahan ada yang pernah diperkosa oleh orang Cina atau Jepang, dan gen itu terus terbawa hingga ke dalam diriku" tetapi menurutku ada kemungkinan lain yaitu ibunya beselingkuh. Entahlah.
"Aku rasa hubungan kita cukup sampai di sini" ucapku masih dengan nada datar.
"Aku sudah menduganya" Ia dengan sedikit mengangkat kedua bahunya.
Ia kemudian menuju mobilnya, setelah masuk ia lalu menyalakan mesin mobil dengan beberapa kali starter, aku rasa ada masalah dengan aki mobilnya. Setelah empat kali percobaan akhirnya mesin benar-benar hidup, kemudian ia langsung menekan pedal gas keras-keras lalu pergi. Ia meninggalkanku tanpa mengucapkan salam.
Asal kalian tahu, kehamilannya bukan karena ulahku. Jangankan menghamilinya, melihatnya telanjang pun belum, walaupun sebenarnya ingin.
Dan keputusanku untuk mengakhiri hubungaku dengannya bukan karena dia hamil karena orang lain. Bukan. Aku hanya ingin putus, sesederhana itu. Tak semua harus disertai alasan bukan?
Masalah kehamilannya, aku rasa jikapun aku menikahinya, aku akan menjadi salah satu orang yang beruntung, aku tak perlu repot-repot untuk menghamilinya, dan orang hamil biasanya payudara membesar. Setidaknya mungkin itu bisa membuatnya lebih terlihat cantik atau mungkin jadi terkenal, nyatanya banyak orang yang terkenal hanya karena payudaranya besar.
Mungkin hanya itu yang bisa kuceritakan di senja menuju malam ini.
Terimakasih sudah mendengarkan.
Jarak dari kosanku ke sini kurang lebih hanya empat ratus meter, tapi aku lebih memilih menggunakan sepeda motor daripada berjalan kaki, itu aku sebut sebagai bentuk rasa sayangku terhadap lemak-lemak di dalam tubuhku. Ya, aku rasa lemak juga butuh kasih sayang.
Tentang lemak, aku jadi teringat seseorang, teman kuliah ku. Perutnya buncit, dan dia tidak sedang hamil, dia laki-laki.
"Anjing, tadi gue baca artikel, ternyata kalau perut buncit itu bisa bikin sakit jantung" katanya sambil makan gorengan yang entah itu sudah gorengan keberapa yang ia makan.
Tahu di mana letak keanehannya?
Sudahlah.
"Mas mau pesen apa?" suara mas-mas mengagetkanku.
"Gorengan, ada mas?" tanyaku
"Ada mas" jawabnya
"Sepuluh mas!"
"Mau dibakar sekalian mas?" tanyanya lagi.
Aku hanya mengangguk. Pertama, anggukan ku tak sepenuhnya jawaban iya. Aku hanya bingung, seingatku tak ada gorengan yang harus dibakar lagi ketika akan dihidangkan.
Kedua, aku sedang berpikir, karena aku dan mas-mas itu sudah mengulang kata 'mas' sebanyak empat kali dalam obrolan tadi.
"Gorengannya tambah satu lagi mas" perintahku kembali.
Sebenarnya aku tak ingin menambah jumlah porsi dan lagi pula aku tak ingin perutku buncit, aku hanya ingin menggenapkan pengulangan kata 'mas' menjadi lima kali. Seperti jumlah personil sebuah grup band. Dan kalau bisa semoga mereka bisa hidup dan membuat grup band sungguhan.
Selagi menunggu pesanan, aku luangkan waktuku untuk melihat sekitar. Di samping tempat ku duduk ada beberapa anak muda, kurang lebih sepantaranku. Tujuh orang. Mereka menggunakan baju dengan warna, corak dan tulisan yang sama, ada juga yang menggunakan jaket dengan kata-kata yang sama seperti yang ada di kaos tadi. Aku sempat berpikir kalau mereka adalah buruh yang akan berdemo. Tetapi aku rasa tidak, setahuku gaji buruh sudah tinggi sekarang.
Atau mungkin angota pawai partai? Kalau benar kasihan sekali, mereka masih terlalu muda untuk dibodoh-bodohi oleh politik.
Sebentar, aku tahu. Mereka ternyata adalah klub motor. Aku tahu dari tulisan di kaos mereka. Tadi aku kurang teliti dalam memperhatikan, pantas salah.
Mereka sepertinya sedang asyik membicarakan tentang ulang tahun klub motor yang mereka rayakan kemarin, melihat foto-foto di layar handphone dan kemudian tertawa beramai-ramai.
Dan ketika aku lebih memperhatikan, ada seseorang yang sedang sibuk memfoto-foto motornya.
Bodohnya, kalian tahu fungsi kendaran untuk apa?
Selain untuk bunuh diri dan mempersingkat usia, fungsi kendaraan sesungguhnya adalah hanya sebagai mode transportasi bukan untuk foto atau pamer kepada orang lain. Untuk keadaan seperti ini kiranya berucap kata 'tolol' memang pantas.
Pesananku datang, gorengan yang dibakar.
Kemudian aku mencobanya, ternyata enak juga. Sekarang daftar menu makanan diotakku bertambah satu: gorengan bakar.
Setelah hampir menghabiskan dua gorengan bakar, tiba-tiba sebuah mobil dengan lambang huruf 'S' di bamper depan datang, mobil langsung ambil posisi sembarang untuk di parkirkan. Mobil itu sontak menjadi pusat perhatian.
Aku rasa memang jarang sekali atau bahkan tak ada seorangpun yang pergi ke angkringan menggunakan mobil pribadi. Orang-orang seperti itu biasanya lebih memilih tempat-tempat yang lebih nyaman dibandingkan ke sebuah warung angkringan yang terlihat kumuh dan remang-remang.
Aku memang sedang berada di sebuah warung angkringan, dan aku sedang menunggu dia. Pengendara mobil itu.
Sebelumnya, dia telah berkata ada yang ingin ia bicarakan denganku.
"Ada yang ingin aku bicarakan" pesannya, jam satu dinihari kemarin.
"iya aku juga" aku balas seadanya.
"Apa?" balasnya.
"Aku ngantuk" balasku lagi.
"Kita harus ketemu!!!" dengan dia menulis tiga tanda seru, aku tahu ada sesuatu yang penting.
"Di angkringan, dekat kosanku, jam tujuh malam" jawabku
"!@?!%&zx#!" dia hanya membalas seperti itu, aku tidak tahu apakah itu sebuah kode yang harus diselesaikan atau semacamnya. Mungkin dia kesal. Mana ada orang kaya yang mau makan makanan di pinggir jalan, kalau ada yang mau, ya mungkin dia hanya berpura-pura menjadi seorang 'kaya'.
Sebelumnya, kami berdua memang memiliki beberapa perbedaan dan persamaan. Perbedaan yang pertama tentang materi, dia beruntung terlahir dari keluarga kaya, sedangkan aku seseorang yang terlahir dari keluarga yang biasa-biasa saja.
Perbedaan yang kedua adalah dia wanita dan aku seorang pria, tentu saja.
Kemudian tentang persamaan, persamaan dari dia dan aku adalah sama-sama seorang mahasiswa, juga satu kelas.
Dia datang, lalu setelah duduk tepat di sampingku dia langsung mengendus.
"kamu belum mandi ya?!" tanyanya bercampur menuduh.
Aku hanya terdiam, setahuku memang semenjak tadi aku mencium sedikit bau sulfur, mungkin dari badan ku sendiri. Aku tak ingat sudah mandi belum, sejak awal memang sudah kukatakan aku adalah seorang pelupa.
"kamu tak ingin mencobanya?" tanyaku.
"Apa?" tanyanya balik
"Gorengan bakar!" jawabku
"Ish!!! Kau harusnya tahu, gorengan itu mengandung kolesterol tinggi, kau ingin mati muda karena serangan jantung! Dan kau juga tahu kan, kalau arang yang digunakan untuk membakar itu mengandung karbon, jika tercampur makanan karbon bisa menyebabkan kangker" dia sambil menunjuk-nunjuk gorengan bakar itu.
Ya ya, aku tahu semua itu. Persamaan kami yang kedua: kami sama-sama mengambil jurusan kedokteran di sebuah universitas negeri.
"Oh iya, katanya ada yang ingin kau sampaikan?" tanyaku dengan mencongkel-congkel sisa arang yang ada di gorengan, bukan karena aku takut terkena kangker, tapi aku tak ingin lidahku mencicipi rasa pahit.
"Aku hamil" jawabnya santai sembari memainkan telepon genggamnya.
"Apa bisa?" tanyaku datar.
"Sudah dua bulan, maafkan aku" jawabnya, dan sepertinya aku mendengar kata maaf tapi tak ada rasa bersalah dalam raut wajahnya.
Aku tak pandai mendeskripsikan seseorang, tetapi untuk seukuran wanita usia dua puluh dua tahun dia bisa dibilang cantik, bahkan mungkin cantik sekali. Tubuh tinggi dengan rambut hitam lebat yang selalu ia kuncir satu itu, wajahnya oriental dengan mata yang tak terlalu sipit. Waktu ku tanya kenapa ia seperti keturunan Cina sedangkan kedua orangtuanya asli pribumi, dia hanya menjawab "mungkin nenek moyangku dulu saat jaman penjajahan ada yang pernah diperkosa oleh orang Cina atau Jepang, dan gen itu terus terbawa hingga ke dalam diriku" tetapi menurutku ada kemungkinan lain yaitu ibunya beselingkuh. Entahlah.
"Aku rasa hubungan kita cukup sampai di sini" ucapku masih dengan nada datar.
"Aku sudah menduganya" Ia dengan sedikit mengangkat kedua bahunya.
"Terimakasih
untuk selama ini, maafkan aku" kemudian ia pergi tanpa mencicipi
satupun gorengan bakar. Sementara itu aku kebingungan, aku bingung harus
berbuat apa. Akhirnya aku merogoh kantung bajuku dan menemukan uang
kertas satu lembar, lalu aku menghampiri seorang anak kecil, kemudian
aku kasihkan uang tersebut.
Ia kemudian menuju mobilnya, setelah masuk ia lalu menyalakan mesin mobil dengan beberapa kali starter, aku rasa ada masalah dengan aki mobilnya. Setelah empat kali percobaan akhirnya mesin benar-benar hidup, kemudian ia langsung menekan pedal gas keras-keras lalu pergi. Ia meninggalkanku tanpa mengucapkan salam.
Asal kalian tahu, kehamilannya bukan karena ulahku. Jangankan menghamilinya, melihatnya telanjang pun belum, walaupun sebenarnya ingin.
Dan keputusanku untuk mengakhiri hubungaku dengannya bukan karena dia hamil karena orang lain. Bukan. Aku hanya ingin putus, sesederhana itu. Tak semua harus disertai alasan bukan?
Masalah kehamilannya, aku rasa jikapun aku menikahinya, aku akan menjadi salah satu orang yang beruntung, aku tak perlu repot-repot untuk menghamilinya, dan orang hamil biasanya payudara membesar. Setidaknya mungkin itu bisa membuatnya lebih terlihat cantik atau mungkin jadi terkenal, nyatanya banyak orang yang terkenal hanya karena payudaranya besar.
Tapi ya, hubunganku sudah berakhir sejak aku mengakhirinya tadi, biarlah.
Baiknya mungkin aku pulang saja untuk mandi dan kemudian tidur.
Mungkin hanya itu yang bisa kuceritakan di senja menuju malam ini.
Terimakasih sudah mendengarkan.
sumber gb:probisnis.net

Alurnya bagus, lucunya dapet. Ajarin donk, hwehehe
BalasHapus