Siapa juga yang ingin jadi bule, albino pula. Kalo bisa memilih, aku juga ingin dilahirkan
normal seperti mereka, anak-anak brengsek
itu. Kalau pun bule ya lahirnya di Eropa sanalah biar ga diejek, ga dibilang ga nasionalis.
Kalo dipikir-pikir aneh memang, apa hubungannya coba
nasionalis sama kebuleanku ini. Kalo kamu punya rambut pirang,
mata biru, kulit putih bintik-bintik merah, terus ga bisa nasionalis sama
negara, mba-mba dan mas-mas yang matanya sipit-sipit itu juga ga bisa berbakti
sama bangsa dan negara, gitu?
Usiaku kini enam belas tahun kelas tiga SMP, tidak
ada yang aneh dari semua ini, ya kecuali kondisi albino dan ke-bulean ku
ini yang membuatku menjadi bahan ejekan empuk oleh siapapun di manapun, kapanpun. Kaum minoritas memang selalu tertindas.
“Le, kamu ngerayain tujuh belasan ga? Oh iya, bule mana tahu tujuh belasan, lagu
Indonesia Raya aja pasti ga hafal, ha ha ha” seruan salah seorang teman sekolah, yang kemudian diiringi tawaan bahagia semua anak satu
kelas saat pelajaran sedang kosong. Mereka memang seperti itu, tak salah lah
jika aku menyebut mereka semua brengsek,
kata apa lagi coba yang sesuai untuk orang yang selalu bahagia ketika melihat
orang lain teraniaya, bukannya diberi semangat atau ditolong malah dijadikan
bahan lawakan. Dasar brengsek !
Dua hari lagi tanggal 17 agustus, ulang tahun bangsa
Indonesia. Dalam jiwa ini, kecintaanku terhadap bangsa ini sudah teramat dalam. Tapi, nyatanya tak ada satupun orang
yang percaya akan kecintaanku terhadap Indonesia, kecuali kakekku. Seorang tua
yang selalu bilang “Kalo kamu anak muda yang tidak mau hormat, bangga, apalagi
tak berguna untuk bangsamu, maka sia-sia adalah jawaban mutlak atas kelahiranmu
dulu”
Pernah sekali waktu aku bertanya “Eyang, caranya hormat
sama Indonesia bagaimana? Apa yang bisa aku lakuin? aku lulus SMP saja belum.”
“Pasang bendera depan rumah pas bulan agustus, ikut
upacara bendera di sekolahmu dengan hikmat. Dan yang paling penting jangan
nyaci-nyaci Indonesia. Kalau kamu ga tahu, diam itu paling baik” jawabnya
sambil mengusap belek di sudut-sudut matanya.
Dan sebagaimana sabda dari seseorang yang pernah
merasakan getirnya kehidupan penjajahan, akupun akan melakukan saran itu,
memasang bendera depan rumah. Sepele memang, ya jika kau terlahir dari seorang ibu yang
hobinya mengoleksi gadget terbaru,
atau kau punya seorang ayah yang dompetnya tebal karena kartu kredit.
Tapi kenyataannya aku hanya seorang miskin yang jangankan untuk
membeli bendera untuk membeli buku tulis saja aku harus menggantikan waktu
libur sekolahku untuk bekerja. Membantu orang berjualan di pasarlah, jaga konter hapelah,
jaga warnet. Semua aku lakukan, apapun yang penting halal.
Minta sama Eyang? Halah,
apa yang bisa dikasih dari seorang tua kecuali petuah, aku pun tak ingin
meminta uang terhadapnya.
Sedikit cerita tentang masa kecilku, sedari kecil aku tak tahu siapa ayahku, Ibuku adalah
seorang TKW sejati. Sejak gadis hampir seumur hidupnya di negeri orang.
Kala itu Ibu pulang dengan menangis. Matanya merah,
sisa-sisa air matanya masih tersisa di beberapa bagian pipinya. Ia pulang
dengan membawa seorang bayi. Digendongnya bayi itu, kemudian berkata kepada
Eyang, maafkan Ning Pa, Ning tidak bisa melawannya. Eyang hanya bisa diam, kemudian menerima bayi yang tak jelas asal muasalnya itu.
Ia terima bayi itu, bayi itu terlimat sedikit aneh dari kebanyakan bayi lainnya, kulitnya terlihat putih, matanya sedikit kebiru-biruan dan rambutnya merah ikal.
Sayang bayi itu tak sempat mendapatkan kasih sayang ibunya lebih lama, tak kurang dua minggu setelah ibunya memberikan bayi itu kepada Eyang, iya kemudian merantau lagi ke negeri orang, menuju habitatnya menjadi TKW lagi.
Sayang bayi itu tak sempat mendapatkan kasih sayang ibunya lebih lama, tak kurang dua minggu setelah ibunya memberikan bayi itu kepada Eyang, iya kemudian merantau lagi ke negeri orang, menuju habitatnya menjadi TKW lagi.
Dirawatnya bayi itu sendirian, istri Eyang sudah
meninggal sejak lama sekali, istrinya meninggal saat melahirkan Ning anak satu-satunya
itu.
Bayi malang itu kemudian
diberi nama Raymond, dan bayi itu adalah aku. Seorang albino yang bule atau bule yang albino, yang selalu dilihat orang dengan mata nanar karena keanehanya
dari orang normal lain.
Tentang nama Raymond sendiri, kata Eyang itu ia
dapati dari sebuah paspor yang tertinggal di tas ibuku dulu, aku pernah
melihatnya, tertulis nama Raymond dengan foto yang mirip dengan wajahku,
wajahnya bule juga, mungkin itu Bapakku. Tapi, tak terlalu aku pikirkan foto itu, bagiku
apalah arti seorang bapak kalau tak bertanggung jawab.
Pernah waktu umurku tujuh tahun Ibu pulang, hanya
sebentar.
Tujuh hari setelah
kepulangannya, aku melihat Eyang dan Ibu bertengkar. Aku yang masih kecil tak
tahu apa yang menyebabkan pertengkaran itu.
Tapi belakangan, aku tahu penyebab pertengkaran itu,
Eyang yang menceritakannya. Penyebabnya adalah larangan Eyang terhadap Ibu yang
berencana pergi ke luar negeri untuk menjadi TKW lagi. Eyang melarangnya, tapi
ibu menolaknya.
Ibu kekeh ingin tetap pergi.
Ning lakukan ini untuk anak Ning Pa, bisa apa Ning di kampung? Percaylah pa, Ning bisa menjaga diri, Ning janji akan pulang Pa. Begitulah kata Ibuku dulu. Kemudian sembari mencium dan mengusap rambut ikalku akhirnnya Ibupun benar-benar pergi meninggalkanku.
Ning lakukan ini untuk anak Ning Pa, bisa apa Ning di kampung? Percaylah pa, Ning bisa menjaga diri, Ning janji akan pulang Pa. Begitulah kata Ibuku dulu. Kemudian sembari mencium dan mengusap rambut ikalku akhirnnya Ibupun benar-benar pergi meninggalkanku.
Sudahlah, cerita itu begitu rumit, yang sekarang
harus aku lakukan adalah memasang bendera merah putih di depan rumah, sesuai saran
Eyang. Agar semua si brengsek itu
tahu. Kalau aku ini juga orang Indonesia, cinta Indonesia.
Aku lupa, dulu sewaktu kepulangan Ibu yang terakhir, saat ibu
mengusap-usap rambut ikalku sebelum ia benar-benar pergi, Ibu sempat memberikan
sebuah cincin. Aku yang masih kecil tak tahu cincin apa itu, saat itu Ibu hanya
bilang kalau cincin itu harganya mahal. Ia mengatakan, nanti kalau kamu butuh uang kamu bisa
menjualnya, tapi kamu harus menjualnya hanya saat kamu benar-benar butuh ya nak, dan kamu tak usah bilang
tentang ini sama Eyang, simpan baik-baik. Ini untuk mu.
Mungkin sudah saatnya, aku harus menjual cincin ini,
sudah selama ini aku menyimpannya dan tak pernah sedikitpun aku menceritakan perihal ini terhadap Eyang, sesuai amanat Ibu.
Ya, aku akan menjual cincin ini.
Hari sudah sore, besok sudah tanggal 17, aku harus
menjual cincin ini kemudian segera membeli bendera.
Aku pergi ke pusat pertokoan, aku susuri jalanan
pertokoan. Aku cari toko yang kiranya bisa menerima sebuah cincin yang aku hendak
jual.
Setengah jam aku menyusuri jalanan itu, akhirnya aku menemukan juga. Aku berhenti di sebuah toko emas, mereka bersedia membeli cincinku, dan ternyata harganya cukup mahal. Cincin apa ini? Dalam benakku. Tapi, masabodolah yang penting aku sudah mendapatkan uang, aku harus segera membeli bendera.
Setengah jam aku menyusuri jalanan itu, akhirnya aku menemukan juga. Aku berhenti di sebuah toko emas, mereka bersedia membeli cincinku, dan ternyata harganya cukup mahal. Cincin apa ini? Dalam benakku. Tapi, masabodolah yang penting aku sudah mendapatkan uang, aku harus segera membeli bendera.
Tak terasa suasana sudah mulai gelap, adzan maghrib sudah
terdengar sekitar dua jam yang lalu, aku masih menyusuri pusat pertokoan
mencari penjual bendera, aku amati toko-toko berderet itu, kebanyakan sudah
tutup, hanya satu dua yang masih buka.
Dengan sisa-sisa tenaga yang masih ku miliki,
akhirnya aku menemui toko penjual bendera. Aku belanjakan uangku, aku habiskan
semua. Tujuh bendera merah putih dengan kualitas terbaik, serta tiang yang
terbuat dari besi kokoh, besinya mengkilap sekali, bagus! aku beli semuanya, mahal memang. Tapi untuk Indonesia,
apalah artinya sebuah nominal uang, biar mereka yang sudah menghinaku bisa tahu
kalau aku juga cinta dengan bangsa ini, aku korbankan seluruh apa yang aku
punya untuk Indonesia.
Aku harus buktikan, orang bule albino sepertiku juga
warga negara Indonesia.
Saatnya pulang, ku bawa tiang-tiang dan bendera-bendera ini sendiri, cukup merepotkan memang, tapi aku harus bergegas,
besok sudah tanggal 17, aku hanya punya waktu sedikit untuk memasangnya di
depan rumah.
Saat menyebrang jalan raya menuju pulang
tiba-tiba.....
BRAK !!!
Suara tiang-tiang yang berjatuhan beradu dengan
aspal, aku terjatuh dan tak lama kemudian darah melumuri badanku, aku bisa melihatnya. Awalnya
tak terasa sakit, aku masih sedikit sadar tapi, lama kelamaan aku mulai pusing,
darah makin banyak keluar dari anggota badanku, beberapa bagian tubuhku luka,
seperti daging tersayat. Hidung dan mulutkupun tak mau kalah, mereka
mengeluarkan darah. Aku bisa merasakannya. Aku mencoba melihat bendera-bendera
ku, bagaimana ini aku harus memasangnya aku harus membeli mulut-mulut si brengsek itu.
Orang-orang mulai
mengeliliku, seperti semut yang menemukan gula. Badanku serasa lemas sekali,
aku mencoba meraih bendera-bendera ku, tapi sebelum aku meraihnya semua hitam,
semua lenyap.
***
“Wanita murahan!” seru lelaki dalam mobil itu.
“Kau harus berhenti, kau sudah menabrak seseorang, kau harus bertanggung jawab” wanita yang duduk di sebelahnya memohon.
“Tanggung jawab hah! Mana cincin ku yang dulu telah kau curi, kalau aku mau kau sudah aku masukan dalam bui! Dasar murahan!” seru lelaki itu, terdengar suara tamparan dan dibarengi dengan sebuah ludah yang mengenai sasarannya, wajah.
“Kau, kau hanya menikahiku. Tak pernah mamberiku
apa-apa. Kau hanya menikahiku agar aku bisa mengurusi anak-anakmu tanpa harus
menyewa pembantu, sedangkan kau, kau asyik dengan wanita lain” wanita itu
sembari menangis.
“Hah!!!, aku kasih makan kau saja itu sudah untung, dan
sudah aku simpan rahasiamu, pergi ke luar negeri, nyatanya kau hanya pergi ke
kota dan menjadi seorang istri simpanan!!!” lelaki itu kembali, dengan satu
tangan dia sempat menghadiahi sebuah tamparan lagi untuk wanita disampingnya itu,
sedangkan tangan satunya masih memegang kemudi mobil.
“Kau harus, putar arah ! Kasiahan orang yang sudah
kita tabrak, dan kau harus menepati janjimu untuk mengantarkan ku pulang
menemui orang tuaku hari ini” wanita itu meronta-ronta memegangi tangan lelaki
tersebut, sedangkan mobil itu melaju makin cepat.
“Diam Ning!!! kau mau masuk penjara hah!!!” bentak
lelaki terhadap wanita itu.
Dalam benak wanita itu “Maafkan Ning Pa, Ning tidak
menuruti kata-kata Bapa dulu, Ning telah berbohong. Dan kau anakku. Apa kabarmu
nak? Ibu kangen nak. Ibu merindukanmu sungguh.”

Ini fiktif apa nyata Mas?.. Seperti kasus pemain bola yang naturalisasi kali ya Mas,,, hehe :)
BalasHapusInifiktif kan ya? whaha sampe kebawa haru gue bacanya -__-
BalasHapusTapi tetep setuju, kalo mau nasionalis ya cara sesimpel kek masang bendera pun bisa :)
Fiktif mas Diar, kalau ada kesamaan mungkin hanya kebetulan.
BalasHapusIya fiktif mas Ridha. Terimakasih sudah membaca ya mas.
BalasHapusIya fiktif mas Ridha. Terimakasih sudah membaca ya mas.
BalasHapuskeren juga nih ceritanya. fiktif tapi berasa nyata hihihihih
BalasHapus