“Linda, Linda. Bangun, sudah siang, ya ampun. Gadis
jaman sekarang malasnya” Terdengar suara galak Papah membangunkanku, aku yang
masih lemas sayup-sayup memaksakan kelopak mataku untuk terbuka, namun lebih
tak memperdulikan Papah yang sudah berteriak sembari menarik selimut dari
tempat tidurku.
“LINDA !!!” Papah kali ini benar-benar berteriak dan
aku juga benar-benar bangun.
“Iya Pah, jadwal bertemu
dosen pembimbing jam sembilan, ini masih jam tujuh kan?”
“Iya jam tujuh lebih satu jam, cepat mandi atau kamu terpaksa Papah tinggal, Papah tak ingin terlambat untuk rapat kantor hari ini, Apalagi ini hari senin dan kamu tahu, ada perbaikan jalan di rute yang biasa kita lewati, kita pasti akan kena macet” Papah sembari melihat arloji di pergelangan tangan kirinya.
“Iya jam tujuh lebih satu jam, cepat mandi atau kamu terpaksa Papah tinggal, Papah tak ingin terlambat untuk rapat kantor hari ini, Apalagi ini hari senin dan kamu tahu, ada perbaikan jalan di rute yang biasa kita lewati, kita pasti akan kena macet” Papah sembari melihat arloji di pergelangan tangan kirinya.
“Iya Bos Besar, Bapak Dimas Nugraha” Aku menodongkan
mukaku meledek.
Aku melangkahkan kakiku menuju kamar mandi dengan
sempoyongan, bergegas mandi kemudian bersiap-siap. Aku tak ingin membuat wajah
putih Papah lebih memerah marah karena terlalu lama menunggu, lagipula Aku
sudah membuat janji dengan dosen pembimbingku untuk bertemu di kampusku. Aku
mahasiswa senior fakultas psikologi, aku sedang mengerjakan skripsi.
“Maaf Pah, sedikit lama” Aku masuk ke dalam mobil
tersenyum sembari membawa tas kuliah serta beberapa buku yang telah kusiapkan
sebelumnya, dan bersamaan itu pula wajah papah terlihat sedikit masam dan
terdengar sebuah tarikan nafas panjang dari Papah.
Aku berpamitan kepada Ka Ani, pembantu rumahku yang
lebih tua tiga tahun dengan ku, itulah alasan kenapa aku memanggilnya “kaka”,
selain usianya masih muda dia juga terlalu cantik untuk dipanggil Bibi atau
panggilan pembantu sejenisnya.
Tak menunggu waktu lama mobil kami sudah melesat
meninggalkan rumah menyusuri jalan setapak perumahan kami menuju jalan raya
hingga akhirnya benar-benar melaju di jalanan besar bersama
pengendara-pengendara lain.
Belum sampai sepertiga perjalanan, kami sudah
dihadapi dengan situasi yang ditakutkan Papah sejak pagi tadi. Terlihat
kendaraan bertumpuk tidak bisa maju ataupun mundur, paling hanya sepeda motor
yang masih bisa bergerak menyelinap ke selah-selah sempit jalan itupun
sebenarnya hanya akan menambah kemacetan. Kita terjebak macet.
“Maaf ya Pah, gara-gara Alin papah terjebak macet”
Aku dengan raut menyesal, pertama menyesal telah membuat Papah terjebak macet
dan akan membuat papah telat datang di kantornya, yang kedua menyesal karena
telah membuat wajah Papah terlihat menjadi lebih kusut dari biasanya,
akhir-akhir ini Papah memang terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu yang
cukup berat.
“Iya, Linda tersayang engga apa-apa” Papah
menodongkan mukanya tepat ke arahku dengan kedua tangan masih menggenggam stir
mobil, kali ini papah membalas ledekanku di pagi tadi.
“Ha ha ha..” Aku terjekut tertawa, kemudian refleks
mendorong muka Papah, posisiku yang berada di kursi depan sejajar dengan Papah
memudahkan aku untuk melakukannya.
“Oh iya Lin, skipsimu tentang apa?” Papah kemudian dengan menekan klakson. Sontak kaget, ada pengendara sepeda motor yang menyelip dari selah kanan mobil secara tiba-tiba.
“Oh iya Lin, skipsimu tentang apa?” Papah kemudian dengan menekan klakson. Sontak kaget, ada pengendara sepeda motor yang menyelip dari selah kanan mobil secara tiba-tiba.
“Tentang pendalaman sifat jujur pah, tapi itu hanya
konsepnya pah, Alin ingin mencoba mendiskusikannya dengan dosen pembimbing
Alin” Aku menerangkan.
“Ohh” Papah hanya menjawab singkat terlihat tak terlalu tertarik. Bisa juga malas karena stres akibat macet pagi ini. Sudah pukul setengah sembilan lebih dan Aku belum sampai ke tempat tujuanku, begitupun Papah. Terakhir aku mendapati kemacetan parah seperti ini ketika aku sedang pergi berlibur bersama Royan pacarku di Jakarta tiga bulan lalu. Aku memilih berlibur ke luar kota, ketimbang menghabiskan waktu libur di kota ku sendiri, kota Surabaya.
“Lin” Papah tiba-tiba memanggilku setelah
sebelumnya menarik nafas dalam-dalam.
“Iya Pah” Aku menjawab biasa, sembari merapikan kunciran rambutku.
“Ada sesuatu yang ingin Papah bicarakan” kali ini sepertinya ada yang benar-benar diungkapkan oleh Papah.
“Iya Pah” Aku menjawab biasa, sembari merapikan kunciran rambutku.
“Ada sesuatu yang ingin Papah bicarakan” kali ini sepertinya ada yang benar-benar diungkapkan oleh Papah.
Demi melihat raut Papah yang amat serius akupun
mencoba untuk bersikap lebih dewasa dengan mencoba memperhatikan perkataan
Papah baik-baik.
“Iya Pah, Alin memang belum lulus, belum mendapat
gelar sarjana psikologi, tetapi Alin tahu Papah mungkin sedang banyak tekanan,
Papah mempunyai sesuatu yang Papah rahasiakan, walaupun Papah mencoba menyembunyikannya,
tetapi Alin tahu Pah” aku menatap Papah.
“Huhh...” terdengar hembusan nafas panjang kembali,
tanda Papah mencoba untuk menenangkan pikirannya.
“Papah dan Mamah akan bercerai” Papah kembali.
Entah kata-kata apa yang tepat untuk menggambarkan
suasana dan perasaan hatiku saat itu, seseorang gadis belia yang tidak pernah
membayangkan orang tuanya untuk bercerai, tiba-tiba diberitahu akan perceraian
orang tuanya, lebih parahnya Papahku sendiri yang mengatakannya.
Wajahku tiba-tiba lesu, hidungku terasa pedas, ada
air yang keluar dari sudut- sudut mataku tanpa aku sadari.
Matahari mulai tinggi, cuaca pagi ini cerah sekali.
Aku paksakan wajahku untuk menatap sinar matahari langsung dari pintu jendela
samping mobilku, berharap air mata yang membasahi pipiku cepat mengering.
“Kamu tidak tahu apa yang Papah rasakan, Mamah
akhir-akhir ini susah sekali diatur, sering keluar malam pulang pagi, akhir
pekan tak pernah ada di rumah. Apa kau tadi lihat mamah di rumah Lin? Tidak ada
bukan, lalu apa jawab Mamahmu ketika ditanya, ‘Hanya iseng keluar, sama teman
SMA, belanja baju, arisan’. Papah sudah tidak sanggup lagi Alinda” Papah
kemudian secara tak disangka tetesan air mata sudah memenuhi pipinya yang
sebagian penuh dengan rambut itu.
Mamah akhir-akhir ini memang terlihat sangat
berbeda, tapi kesibukanku untuk membuat skripsi mengalihkannya, berbeda dengan
Papah yang hampir setiap pagi bersamaku, berangkat bersama. Aku lebih bisa
membaca pikirannya dangan memperhatikan geraknya.
“Pah, Alin..” suaraku lirih kemudian tiba-tiba
dipotong oleh ucapan Papah.
“Kamu tahu Lin, siapa telah membuat kekacauan ini
semua, kamu ingin tahu Alinda? Dia Pa Dindi!!! yang sudah lama menjadi supir
keluarga kita, orang pengecut, itu alasan Papah memecatnya dua minggu yang
lalu, itu juga yang membuat Mamah jarang di rumah, mereka diam-diam bertemu
tanpa sepengetahuan Papah” Kali ini terdengar suara isak dalam tangisan Papah
dan terlihat genggaman tanganya pada stir mobil lebih kuat pertanda sedang
emosi tinggi.
Suasan lenggang sejenak, udara dingin ac mengurangi suasana yang cukup genting
ini, sementara di luar masih terlihat beberapa kendaraan yang tidak bisa
bergerak maju ataupun mundur.
Disela-sela suasana sunyi di dalam mobil itu aku
mengatakan sesuatu ke Papah, sesuatu yang teramat penting untukku.
“Papah maafkan Alin” Aku dengan lirih.
“Maaf..?” Papah bingung sembari mengusap air
matanya.
“Papah, maafkan Alin, Alin hamil” aku dengan rasa
berani yang benar-benar aku paksakan.
“HAMIL !!!” Papah sontak terkejut, dan langsung tak
mengucapkap sepatah katapun.
Lenggang kembali, Suasana masih dipenuhi bunyi
klakson, kami masih terjebak macet, terhitung hampir dua puluh menit kami
berkumam di lautan kendaraan bermotor, asap, debu, suara klakson yang kian
ramai semua bercampur menjadi satu. Begitu juga suasana hatiku kacau sekali,
takut, lega, gelisah, kecewa semua bercampur menjadi satu.
“Iya Pah, Royan yang melakukannya saat Alin di
Jakarta tiga bulan lalu, Royan mau bertanggung jawab pah, Papah juga tahu
keluarga Royan bukan keluarga sembarangan, Ayahnya pejabat Bank, sedangkan
Royan sarjana ekonomi dengan predikat cumlaude. Alin sudah merencanakan ini
matang-matang, kita akan segera menikah sesudah Alin wisuda” Aku menjelaskan, kali
ini benar-benar dengan keberanian.
“Maafkan Alin Pah, maafkan Alin, maafkan anak
satu-satumu ini telah mengecewakanmu Pah, Maaf” Aku dengan menatap lurus ke
depan melihat jalanan yang masih dipenuhi dengan kendaraan lain yang tak
bergerak sedikitpun.
“Ada yang harus kamu tahu Alinda” Papah sambil
menekan pedal gas, melajukan kendaraan, walaupun beberapa senti.
Aku tak menjawab hanya melihat Papah lamat-lamat.
“Ada rahasia yang tidak pernah kamu tahu, dan selama
ini Papah rahasiakan. Kau bukanlah anak kandung Papah, Papah dan Mamahmu tak
pernah mempunyai anak secara murni, kamu kami angkat dari sebuah panti asuhan”
Papah menjelaskan tanpa berani menatapku sedikitpun.
“Kalau kamu tak percaya, kamu bisa tanyakan hal ini
pada mamahmu, atau silahkan cek di panti asuhanmu dulu, kamu sudah besar Lin,
sudah waktunya kamu tahu, ini semua diluar dugaan, harusnya Papah
memberitahukanmu bukan disaat seperti ini, tapi justru keadaan yang tak pernah
kita pikirkan kadang adalah waktu yang tepat untuk kita mengungkapkan sesuatu”
Papah.
Mobil kami hampir keluar dari area macet, mungkin
sekitar lima puluh meter lagi, ternyata selain perbaikan jalan ada sebuah mobil
yang terbakar hangus, terlihat beberapa polisi yang sedang memeriksa, aku tak
mengetahui penyebabnya tetapi mobil itu benar-benar hangus terbakar. Hingga sulit
untuk melihat jenis, type atau brand dari mobil tersebut.
Aku melihat mobil itu saat aku melewatinya, tetapi
entah kenapa saat melewatinya aku seperti merasakan sesuatu. Sudahlah, kali ini
mobil yang aku tumpangi kali ini sudah melaju di jalan yang lenggang.
Aku hanya bisa diam tak percaya dengan perkataan
Papah, Aku bukan anak Papah, bagaimana mungkin, hampir semua keinginanku selalu
dipenuhi, mereka begitu sayang. Aku mencoba memikirkannya sembari mencari tisu
untuk mengusap air mataku.
Saat mencari tisu tanganku tak sengaja menemukan
sebuah tiket, itu nota pembayaran sebuah kamar hotel dengan tangggal belum lama,
aku yakin sekali. Dan yang membuat aku lebih tercengang adalah tertera nama
Papah dan ka Ani pembantuku, mereka telah menyewa sebuah kamar. Papah yang sedang
menerima telepon dengan amat serius tak benar-benar memperhatikan saat aku
mengamatinya.
Papah dan Ka Ani menginap di satu kamar di hotel? Ada apa ini,
Belum terjawab pertanyaan-pertanyaan di kepalaku, Papah tiba-tiba membanting
setir ke arah proboden memutar arah.
“Kita harus ke rumah sakit Alin” Papah dengan
raut wajah yang panik sekali.
“Mobil yang terbakar tadi adalah mabil mamahmu, polisi
menemukan salah satu kartu identitas penumpangnya, dan itu identitas Mamah dan
Pak Dindi, kita segera ke rumah sakit” Papah masih dengan raut kepanikan yang
luar biasa disertai nada gemetar, mobil melaju semakin kencang menuju rumah
sakit dengan membawa semua rasa kalut dan
pertanyaan-pertanyaan yang sudah ataupun belum sempat terungkap dalam
pikiranku. Siapa Ayahku, ada hubungan apa Papah dan Ka Ani, dan Mamah dengan Pa
Dindi.

Keurenz guh, I like this...
BalasHapusTere Liye banget Guh tulisan lo haha
BalasHapuslike this hahaha
BalasHapusbikin novel aja guh, gua beli dah wkwkw