Langsung ke konten utama

Rahasia Kecil



“Linda, Linda. Bangun, sudah siang, ya ampun. Gadis jaman sekarang malasnya” Terdengar suara galak Papah membangunkanku, aku yang masih lemas sayup-sayup memaksakan kelopak mataku untuk terbuka, namun lebih tak memperdulikan Papah yang sudah berteriak sembari menarik selimut dari tempat tidurku.

“LINDA !!!” Papah kali ini benar-benar berteriak dan aku juga benar-benar bangun.

“Iya Pah, jadwal bertemu dosen pembimbing jam sembilan, ini masih jam tujuh kan?”
“Iya jam tujuh lebih satu jam, cepat mandi atau kamu terpaksa Papah tinggal, Papah tak ingin terlambat untuk rapat kantor hari ini, Apalagi ini hari senin dan kamu tahu, ada perbaikan jalan di rute yang biasa kita lewati, kita pasti akan kena macet” Papah sembari melihat arloji di pergelangan tangan kirinya.

“Iya Bos Besar, Bapak Dimas Nugraha” Aku menodongkan mukaku meledek.

Aku melangkahkan kakiku menuju kamar mandi dengan sempoyongan, bergegas mandi kemudian bersiap-siap. Aku tak ingin membuat wajah putih Papah lebih memerah marah karena terlalu lama menunggu, lagipula Aku sudah membuat janji dengan dosen pembimbingku untuk bertemu di kampusku. Aku mahasiswa senior fakultas psikologi, aku sedang mengerjakan skripsi.

“Maaf Pah, sedikit lama” Aku masuk ke dalam mobil tersenyum sembari membawa tas kuliah serta beberapa buku yang telah kusiapkan sebelumnya, dan bersamaan itu pula wajah papah terlihat sedikit masam dan terdengar sebuah tarikan nafas panjang dari Papah.

Aku berpamitan kepada Ka Ani, pembantu rumahku yang lebih tua tiga tahun dengan ku, itulah alasan kenapa aku memanggilnya “kaka”, selain usianya masih muda dia juga terlalu cantik untuk dipanggil Bibi atau panggilan pembantu sejenisnya.

Tak menunggu waktu lama mobil kami sudah melesat meninggalkan rumah menyusuri jalan setapak perumahan kami menuju jalan raya hingga akhirnya benar-benar melaju di jalanan besar bersama pengendara-pengendara lain.

Belum sampai sepertiga perjalanan, kami sudah dihadapi dengan situasi yang ditakutkan Papah sejak pagi tadi. Terlihat kendaraan bertumpuk tidak bisa maju ataupun mundur, paling hanya sepeda motor yang masih bisa bergerak menyelinap ke selah-selah sempit jalan itupun sebenarnya hanya akan menambah kemacetan. Kita terjebak macet.

“Maaf ya Pah, gara-gara Alin papah terjebak macet” Aku dengan raut menyesal, pertama menyesal telah membuat Papah terjebak macet dan akan membuat papah telat datang di kantornya, yang kedua menyesal karena telah membuat wajah Papah terlihat menjadi lebih kusut dari biasanya, akhir-akhir ini Papah memang terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu yang cukup berat.

“Iya, Linda tersayang engga apa-apa” Papah menodongkan mukanya tepat ke arahku dengan kedua tangan masih menggenggam stir mobil, kali ini papah membalas ledekanku di pagi tadi.


“Ha ha ha..” Aku terjekut tertawa, kemudian refleks mendorong muka Papah, posisiku yang berada di kursi depan sejajar dengan Papah memudahkan aku untuk melakukannya.
“Oh iya Lin, skipsimu tentang apa?” Papah kemudian dengan menekan klakson. Sontak kaget, ada pengendara sepeda motor yang menyelip dari selah kanan mobil secara tiba-tiba.

“Tentang pendalaman sifat jujur pah, tapi itu hanya konsepnya pah, Alin ingin mencoba mendiskusikannya dengan dosen pembimbing Alin” Aku menerangkan.

“Ohh” Papah hanya menjawab singkat terlihat tak terlalu tertarik. Bisa juga malas karena stres akibat macet pagi ini. Sudah pukul setengah sembilan lebih dan Aku belum sampai ke tempat tujuanku, begitupun Papah. Terakhir aku mendapati kemacetan parah seperti ini ketika aku sedang pergi berlibur bersama Royan pacarku di Jakarta tiga bulan lalu. Aku memilih berlibur ke luar kota, ketimbang menghabiskan waktu libur di kota ku sendiri, kota Surabaya.

“Lin” Papah tiba-tiba memanggilku setelah sebelumnya menarik nafas dalam-dalam.
“Iya Pah” Aku menjawab biasa, sembari merapikan kunciran rambutku.
“Ada sesuatu yang ingin Papah bicarakan” kali ini sepertinya ada yang benar-benar diungkapkan oleh Papah.




Demi melihat raut Papah yang amat serius akupun mencoba untuk bersikap lebih dewasa dengan mencoba memperhatikan perkataan Papah baik-baik.

“Iya Pah, Alin memang belum lulus, belum mendapat gelar sarjana psikologi, tetapi Alin tahu Papah mungkin sedang banyak tekanan, Papah mempunyai sesuatu yang Papah rahasiakan, walaupun Papah mencoba menyembunyikannya, tetapi Alin tahu Pah” aku menatap Papah.

“Huhh...” terdengar hembusan nafas panjang kembali, tanda Papah mencoba untuk menenangkan pikirannya.

“Papah dan Mamah akan bercerai” Papah kembali.

Entah kata-kata apa yang tepat untuk menggambarkan suasana dan perasaan hatiku saat itu, seseorang gadis belia yang tidak pernah membayangkan orang tuanya untuk bercerai, tiba-tiba diberitahu akan perceraian orang tuanya, lebih parahnya Papahku sendiri yang mengatakannya.

Wajahku tiba-tiba lesu, hidungku terasa pedas, ada air yang keluar dari sudut- sudut mataku tanpa aku sadari.

Matahari mulai tinggi, cuaca pagi ini cerah sekali. Aku paksakan wajahku untuk menatap sinar matahari langsung dari pintu jendela samping mobilku, berharap air mata yang membasahi pipiku cepat mengering.

“Kamu tidak tahu apa yang Papah rasakan, Mamah akhir-akhir ini susah sekali diatur, sering keluar malam pulang pagi, akhir pekan tak pernah ada di rumah. Apa kau tadi lihat mamah di rumah Lin? Tidak ada bukan, lalu apa jawab Mamahmu ketika ditanya, ‘Hanya iseng keluar, sama teman SMA, belanja baju, arisan’. Papah sudah tidak sanggup lagi Alinda” Papah kemudian secara tak disangka tetesan air mata sudah memenuhi pipinya yang sebagian penuh dengan rambut itu.

Mamah akhir-akhir ini memang terlihat sangat berbeda, tapi kesibukanku untuk membuat skripsi mengalihkannya, berbeda dengan Papah yang hampir setiap pagi bersamaku, berangkat bersama. Aku lebih bisa membaca pikirannya dangan memperhatikan geraknya.

“Pah, Alin..” suaraku lirih kemudian tiba-tiba dipotong oleh ucapan Papah.

“Kamu tahu Lin, siapa telah membuat kekacauan ini semua, kamu ingin tahu Alinda? Dia Pa Dindi!!! yang sudah lama menjadi supir keluarga kita, orang pengecut, itu alasan Papah memecatnya dua minggu yang lalu, itu juga yang membuat Mamah jarang di rumah, mereka diam-diam bertemu tanpa sepengetahuan Papah” Kali ini terdengar suara isak dalam tangisan Papah dan terlihat genggaman tanganya pada stir mobil lebih kuat pertanda sedang emosi tinggi.

Suasan lenggang sejenak, udara dingin ac mengurangi suasana yang cukup genting ini, sementara di luar masih terlihat beberapa kendaraan yang tidak bisa bergerak maju ataupun mundur.

Disela-sela suasana sunyi di dalam mobil itu aku mengatakan sesuatu ke Papah, sesuatu yang teramat penting untukku.

“Papah maafkan Alin” Aku dengan lirih.

“Maaf..?” Papah bingung sembari mengusap air matanya.

“Papah, maafkan Alin, Alin hamil” aku dengan rasa berani yang benar-benar aku paksakan.

“HAMIL !!!” Papah sontak terkejut, dan langsung tak mengucapkap sepatah katapun.

Lenggang kembali, Suasana masih dipenuhi bunyi klakson, kami masih terjebak macet, terhitung hampir dua puluh menit kami berkumam di lautan kendaraan bermotor, asap, debu, suara klakson yang kian ramai semua bercampur menjadi satu. Begitu juga suasana hatiku kacau sekali, takut, lega, gelisah, kecewa semua bercampur menjadi satu.

“Iya Pah, Royan yang melakukannya saat Alin di Jakarta tiga bulan lalu, Royan mau bertanggung jawab pah, Papah juga tahu keluarga Royan bukan keluarga sembarangan, Ayahnya pejabat Bank, sedangkan Royan sarjana ekonomi dengan predikat cumlaude. Alin sudah merencanakan ini matang-matang, kita akan segera menikah sesudah Alin wisuda” Aku menjelaskan, kali ini benar-benar dengan keberanian.

“Maafkan Alin Pah, maafkan Alin, maafkan anak satu-satumu ini telah mengecewakanmu Pah, Maaf” Aku dengan menatap lurus ke depan melihat jalanan yang masih dipenuhi dengan kendaraan lain yang tak bergerak sedikitpun.

“Ada yang harus kamu tahu Alinda” Papah sambil menekan pedal gas, melajukan kendaraan, walaupun beberapa senti.

Aku tak menjawab hanya melihat Papah lamat-lamat.

“Ada rahasia yang tidak pernah kamu tahu, dan selama ini Papah rahasiakan. Kau bukanlah anak kandung Papah, Papah dan Mamahmu tak pernah mempunyai anak secara murni, kamu kami angkat dari sebuah panti asuhan” Papah menjelaskan tanpa berani menatapku sedikitpun.

“Kalau kamu tak percaya, kamu bisa tanyakan hal ini pada mamahmu, atau silahkan cek di panti asuhanmu dulu, kamu sudah besar Lin, sudah waktunya kamu tahu, ini semua diluar dugaan, harusnya Papah memberitahukanmu bukan disaat seperti ini, tapi justru keadaan yang tak pernah kita pikirkan kadang adalah waktu yang tepat untuk kita mengungkapkan sesuatu” Papah.

Mobil kami hampir keluar dari area macet, mungkin sekitar lima puluh meter lagi, ternyata selain perbaikan jalan ada sebuah mobil yang terbakar hangus, terlihat beberapa polisi yang sedang memeriksa, aku tak mengetahui penyebabnya tetapi mobil itu benar-benar hangus terbakar. Hingga sulit untuk melihat jenis, type atau brand dari mobil tersebut.

Aku melihat mobil itu saat aku melewatinya, tetapi entah kenapa saat melewatinya aku seperti merasakan sesuatu. Sudahlah, kali ini mobil yang aku tumpangi kali ini sudah melaju di jalan yang lenggang.

Aku hanya bisa diam tak percaya dengan perkataan Papah, Aku bukan anak Papah, bagaimana mungkin, hampir semua keinginanku selalu dipenuhi, mereka begitu sayang. Aku mencoba memikirkannya sembari mencari tisu untuk mengusap air mataku.

Saat mencari tisu tanganku tak sengaja menemukan sebuah tiket, itu nota pembayaran sebuah kamar hotel dengan tangggal belum lama, aku yakin sekali. Dan yang membuat aku lebih tercengang adalah tertera nama Papah dan ka Ani pembantuku, mereka telah  menyewa sebuah kamar. Papah yang sedang menerima telepon dengan amat serius tak benar-benar memperhatikan saat aku mengamatinya.

Papah dan Ka Ani  menginap di satu kamar di hotel? Ada apa ini, Belum terjawab pertanyaan-pertanyaan di kepalaku, Papah tiba-tiba membanting setir ke arah proboden memutar arah.

“Kita harus ke rumah sakit Alin” Papah dengan raut wajah yang panik sekali.

“Mobil yang terbakar tadi adalah mabil mamahmu, polisi menemukan salah satu kartu identitas penumpangnya, dan itu identitas Mamah dan Pak Dindi, kita segera ke rumah sakit” Papah masih dengan raut kepanikan yang luar biasa disertai nada gemetar, mobil melaju semakin kencang menuju rumah sakit dengan membawa semua rasa kalut dan  pertanyaan-pertanyaan yang sudah ataupun belum sempat terungkap dalam pikiranku. Siapa Ayahku, ada hubungan apa Papah dan Ka Ani, dan Mamah dengan Pa Dindi.





Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review Novel Jakarta Sebelum Pagi by Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

Sebelum memulai ke pertunjukan utama anggap saja ini sajian pembuka, seperti band pembuka di sebuah konser akbar. Ada beberapa hal yang menurut saya (sebagai pembaca) mengganjal dalam hati mengenai novel ini (selain covernya yang sedikit mirip dengan novel i'll give u the sun) Yang pertama adalah, beberapa hal yang menurut saya harusnya dipersingkat, dengan arti lain adalah beberapa bagian novel ini mempunyai informasi yang diulang-ulang, walaupun tidak membosankan, tetapi demi menghemat kertas, biaya produksi, dan tingkat kebosanan pembaca harusnya bisa dipersingkat saja. Misalnya dalam penjelasan mengenai teh. Percakapan yang berkaitan tentang teh beberapa bagian diulang-ulang, walaupun dengan kalimat yang berbeda tetapi saya merasa itu mempunyai informasi yang sama. Karena jika penulis ingin menjadikan ‘teh’ sebagai sarana pengantar cerita saya rasa porsi dalam novel tersebut bisa dipangkas lagi, toh beberapa bagian hanya berisikan informasi yang mungkin ingin menunju...

Mengulik Makna Dari Lagu 'Merah' Efek Rumah Kaca

Eka kurniawan dalam sebuah jurnal onlinenya pernah menerbitkan sebuah cerpen tentang sebuah perlawanan, inti dari cerpen tersebut adalah tentang sebuah pemuda (mahasiswa) yang ingin melakukan sebuah aksi (perlawanan) untuk menjatuhkan sebuah kekuasaan (rezim) yang menurutnya sudah tidak pantas lagi untuk berkuasa. Cerita itu berakhir tragis dengan tokoh utama yang tiba-tiba hilang tak tahu ke mana, entah mati atau hidup. Menghilang tiba-tiba. Dalam sejarah Indonesia sendiri, sebuah perlawanan sudah mondar-mandir dicacat oleh tinta sejarah. Peristiwa orang Surabaya yang membunuh jendral Mallaby dan kemudian berimbas pada pertempuran tiga hari tiga malam di kota tersebut hingga kemudian hari tersebut ditetapkan sebagai hari pahlawan oleh Ir Soekarno guna menghargai mereka-mereka yang sudah gugur, misalnya. Atau perebutan Irian Barat dengan Belanda. Bahkan kemerdekaan bangsa Indonesia tak lain dan tak bukan adalah buah dari sebuah perlawanan. Perlawanan tak hanya dilakukan dengan...

Catatan Banjir Jakarta Februari 2017

Hujan turun sejak jam tiga dini hari (21 februari 2017), jam setengah empat pelataran rumah sudah terlihat genangan air, jam empat lebih air mulai menaiki tangga-tangga rumah. Kira-kira pas adzan subuh atau sekitar jam lima pagi air mulai masuk ke rumah-rumah warga. Beberapa orang sudah berada di depan rumah masing-masing berjaga, ada juga yang menggedor-gedor tetangga, khawatir masih ada orang yang belum bangun. Sekitar jam setengah enam sampai jam tujuh pagi air sudah benar-benar menguasi seisi rumah. Sementara sebelumnya, warga sudah mengamankan benda-benda yang mereka anggap penting. Benda elektronik, kulkas, mesin cuci, kompor. Surat-surat tanah, pakaian, atau hal yang kira-kira bisa rusak terkena banjir. Termasuk motor yang diungsikan dengan cara bergotong-royong mengangkat secara bergantian. Jam enam sampai jam tujuh hujan bisa dikatakan sedang lebat-lebatnya, langit masih gelap tidak seperti biasanya, barang-barang sudah naik ke singgahsana yang lebih tinggi. Banjir ka...