“Do
you remember me?” bersamaan dengan pesan singkat itu bersamaan
pula awan hitam nan mendung menyelimuti kota jakarta dan sekitarnya.
“Iya Vi, gi manah kabarnya” gue mencoba membalas.
“Can u help me to now?” balesan dari pesan gue.
“Iya, kenapa ada apa?” gue lagi.
“Kamu bisa ga guh jemput aku sekarang” balesan lagi.
“Sekarang?” gue dengan sedikit heran.
“Aku tunggu kamu, ok!” balesan singkat.
“Can u help me to now?” balesan dari pesan gue.
“Iya, kenapa ada apa?” gue lagi.
“Kamu bisa ga guh jemput aku sekarang” balesan lagi.
“Sekarang?” gue dengan sedikit heran.
“Aku tunggu kamu, ok!” balesan singkat.
Satu setengah tahun yang lalu, gue emang pernah punya hubungan spesial
dengan seorang cewe. Namanya Vidia, tapi itu udah satu tahun setengah yang
lalu. Dan tepat hari ini setelah dalam jangka waktu yang lama engga
berkomunikasi sama sekali, dia tiba tiba sms gue, engga nanyain kabar atau say
hallo seperti orang pada umumnya, tapi sms yang ngebuat gue berasa jadi tukang
ojek yaitu minta dijemput pulang.
Waktu menunjukan pukul lima ketika gue melihat arloji
casio yang gue kenakan.
“Aku udah di depan vi, kamu di ma-?” suara gue jelas saat
mencoba menelfon Vidia, dan terhenti karena terdengar sapaan “hai” dari dia
secara tiba tiba.
Tak berapa lama kita pun bergegas, karena cuaca saat itu
sedang mendung tebal pertanda akan turun hujan deras.
Dan benar saja tak berapa lama rintik hujan datang yang kemudian dilanjutkan dengan hujan deras.
Mau tak mau gue akhirnya mengajak Vidia untuk berteduh.
Dan benar saja tak berapa lama rintik hujan datang yang kemudian dilanjutkan dengan hujan deras.
Mau tak mau gue akhirnya mengajak Vidia untuk berteduh.
Tempat kerja Vidia emang engga terlalu jauh dari tempat
tinggal gue, sekitar sepuluh menit perjalanan, tapi semenjak kita bersepakat
untuk menyudahi hubungan kita. Kita engga pernah sama sekali ketemu atau berbincang,
kecuali hingga saat ini, ketika gue mengajak Vidia berteduh.
Kita berteduh di bawah kolong jembatan di salah satu
jalan, tepat deket sebuah mall yang berada di kawasan Buaran, Jakarta timur.
Dan ternyata banyak pengendara sepeda motor yang lain yang ikut berteduh.
“Jadi gi mana kabar kamu Vi” suara gue beradu dengan
suara derasnya hujan.
“Menurut kamu?” Vidia singkat.
“Menurut aku kamu sedang kedinginan, pake jaket aku ini” sembari mengenakan jaket ke Vidia yang terlihat sedikit basah.
“Menurut kamu?” Vidia singkat.
“Menurut aku kamu sedang kedinginan, pake jaket aku ini” sembari mengenakan jaket ke Vidia yang terlihat sedikit basah.
“Do you remember me?” gue lagi, tapi dengan sedikit nada
dan mimik meledek.
“He he, tapi aku tadi sms kamu engga dengan muka jelek kaya gitu guh” Vidia.
“He he, tapi aku tadi sms kamu engga dengan muka jelek kaya gitu guh” Vidia.
“Kabar aku baik, kamu sendiri gi mana?” Vidia kembali.
“Sebelum aku jawab boleh aku nanya sebuah pertanyaan sama kamu Vi?” gue sembari menatapnya.
“Yaps” singkat Vidia sembari menyibak rambut basah yang menghalangi sebagian wajah cantiknya.
“Sebelum aku jawab boleh aku nanya sebuah pertanyaan sama kamu Vi?” gue sembari menatapnya.
“Yaps” singkat Vidia sembari menyibak rambut basah yang menghalangi sebagian wajah cantiknya.
“Kenapa kamu tiba tiba sms aku, dan tiba tiba aja minta
jemput?” gue santai.
Satu hal, ketika seorang menghubungi orang yang pernah
deket secara tiba tiba, besar kemungkinan dia sedang merasa rindu dengan orang
tersebut, itu yang gue tahu. Tapi, gue coba mastiin hal itu dengan bertanya
langsung pada Vidia untuk memperoleh jawaban yang pasti.
“Kamu masih ingat,ketika aku ulang tahun dan kamu mencoba
memeberi kejutan dengan mengasih hadiah lewat pos, dan itu gagal” Vidia dengan
senyumnya.
Sedikit cerita, waktu itu Vidia ulang tahun dan sebagai
pacarnya gue pengen memberikan sebuah kejutan. Gue mencoba memberi hadiah tapi
lewat pos. Dan saat ke kantor pos gue pesen sesuatu, gue minta kepada tukang
pos untuk bilang “i love u” ketika memberikan pesanan gue.
Kemudian apa yang terjadi, Bapak tukang pos itu emang
ngucapin kalimat itu dan ngasihnya tepat ketika Vidia ulang tahun, tapi sial
dia bilang “i love u” nya bukan sama
Vidia tapi sama Bapaknya, Bapaknya yang pertama kali menerimanya.
“He he, jadi maksud kamu.. kamu lagi inget sama aku?”
tanya gue.
“May be, sebenernya engga cuma inget tapi..” Vidia sedikit ngledek.
“Tapi apa.. eh ada tukang kacang rebus mau ga?” gue sembari membeli kacang rebus itu.
“Boleh” Vidia singkat.
“May be, sebenernya engga cuma inget tapi..” Vidia sedikit ngledek.
“Tapi apa.. eh ada tukang kacang rebus mau ga?” gue sembari membeli kacang rebus itu.
“Boleh” Vidia singkat.
“Kamu tagu ga Vi, kita anggap sebuah kacang cuma isinya doang tanpa
mengganggap kulitnya padahal kulit kacang bagian dari kacang kan?, kadang kita
lupa akan jasa kulitnya yang udah ngebuat isi kacang itu ada, tanpa kulit
kacang mungkin isi kacang itu engga bisa tumbuh dengan sempurna bukan?” gue sembari
memegang kacang rebus yang akan gue makan.
“Kebanyakan baca buku tentang falsafah kamu guh” Vidia senyum dan sambil natap gue.
“Kebanyakan baca buku tentang falsafah kamu guh” Vidia senyum dan sambil natap gue.
“Iya, seperti perasaan, kadang kita mencoba membuang atau memaksa untuk
melupakan sebuah perasaan yang dulu yang pernah kita rasain, kita ga sadar
mungkin perasaan itu yang membuat kita ada sampai sekarang”
“Maksud kamu?” Vidia sembari menaikan salah satu alis matanya.
“Jujur aku masih sayang sama kamu Vi, aku ga pernah sedikitpun mencoba buat nglupain kamu”
“Realy?” Vidia lagi.
“Iya, aku sama sekali ga pernah untuk itu, semua itu masih aku simpan dan aku jaga dengan baik seperti arloji casio pemberianmu ini, Aku masih sayang kamu” gue dengan raut serius dan sambil natap matanya.
“Kamu masih pakai arloji aku ya, padahal aku juga udah lupa aku pernah ngasih kamu” Vidia dengan mengangkat kedua bahunnya.
“Ayo lah Vi, kamu juga masih sayang kan sama aku, buktinya kamu tiba tiba sms aku, kamu kangen kan” gue kekeh.
“Iya, aku sama sekali ga pernah untuk itu, semua itu masih aku simpan dan aku jaga dengan baik seperti arloji casio pemberianmu ini, Aku masih sayang kamu” gue dengan raut serius dan sambil natap matanya.
“Kamu masih pakai arloji aku ya, padahal aku juga udah lupa aku pernah ngasih kamu” Vidia dengan mengangkat kedua bahunnya.
“Ayo lah Vi, kamu juga masih sayang kan sama aku, buktinya kamu tiba tiba sms aku, kamu kangen kan” gue kekeh.
“Oke, stop !!! jujur aku juga kangen sama kamu guh, semua yang kamu
omongin itu bener, tapi ini tuh ga semudah yang kamu bayangin, kamu engga tahu
gi manah posisi aku sekarang, aku hubungin kamu tiba tiba karena emang ingin
bercerita sama, tapi kamu ga tahu apa yang sebnernya terjadi” Vidia jelas.
“Terus...” gue singkat.
“Terus...” gue singkat.
“Baiknya kamu anterin aku pulang sekarang, ujannya udah sedikit reda, tadinya aku pengen
ajak kamu buat makan dan ngomong sesuatu, tapi ini di luar dugaan. Aku akan
kirim e-mail ke kamu mungkin besok atau lusa, e-mail kamu belum ganti kan?”
“Hemmm... Oke, kita jalan sekarang” jawab gue sembari narik nafas dalem.
“Hemmm... Oke, kita jalan sekarang” jawab gue sembari narik nafas dalem.
Vidia emang orang yang sedikit aneh, dia emang
bergolongan darah AB, entah bener apa engga kebayakan golongan darah itu emang
sedikit berbeda dengan orang orang pada umunya.
Seperti kebiasannya suka ngemil beras mentah, atau selalu bangun tepat setengah lima pagi berapapun jam tidurnya di malam itu.
Seperti kebiasannya suka ngemil beras mentah, atau selalu bangun tepat setengah lima pagi berapapun jam tidurnya di malam itu.
Dan Vidia lebih suka kirim e-mail ke orang orang terdekatnya untuk membicarakan sesuatu yang dianggapnya cukup serius, dan itu terjadi dengan gue.
Ketika tiga hari setelah kejadian berteduh itu, gue akhirnya dapet e-mail dari Vidia seperti yang ia janjikan kemarin.
Dan ini isi e-mail atau surat elektroniknya..
UNTUK
KAMU
Dear
teguh, seseorang yang telah menghangatkan tubuhku saat kedinginan ketika hujan
kemarin dengan memberikan jaketnya.
Seperti ucapanmu, kadang ada sebuah perasaan yang ketika kita ingin menghilangkannya, kita justru makin mengingatnya, kita lupa bahwa perasaan itu adalah bagian dari hidup, tanpa perasaan itu hidup kita mungkin tidak bisa dikatakan sebuah hidup.
Seperti sebuah kacang bukan?
Aku juga masih sayang dan merindukanmu, dan itu jujur.
Tapi bukan hal itu yang ingin aku ungkapkan kemarin.
Aku akan tunangan minggu depan, dan mungkin pernikahan akan menyusulnya.
Aku hanya ingin mengatakan terima kasih, kau telah menjadi bagian dari hidup aku.
Semoga kita akan baik baik saja.
Seperti ucapanmu, kadang ada sebuah perasaan yang ketika kita ingin menghilangkannya, kita justru makin mengingatnya, kita lupa bahwa perasaan itu adalah bagian dari hidup, tanpa perasaan itu hidup kita mungkin tidak bisa dikatakan sebuah hidup.
Seperti sebuah kacang bukan?
Aku juga masih sayang dan merindukanmu, dan itu jujur.
Tapi bukan hal itu yang ingin aku ungkapkan kemarin.
Aku akan tunangan minggu depan, dan mungkin pernikahan akan menyusulnya.
Aku hanya ingin mengatakan terima kasih, kau telah menjadi bagian dari hidup aku.
Semoga kita akan baik baik saja.
I
LOVE U...

Mirip kisahku...cuma aku masih belum berani bilang jujur ke mantan'ku seperti isi email vidia...walaupun ada seseorang yg sedang berusaha menghalalkan'ku :-(
BalasHapus