“Kamu terlihat gemukan” suara lembut khas wanita, sembari
mencari tempat duduk.
“Seperti cantik, gemuk juga bisa dikatakan relatif, tergantung yang menilai” aku membalas tenang.
“Seperti cantik, gemuk juga bisa dikatakan relatif, tergantung yang menilai” aku membalas tenang.
“Oiya, kamu juga terlihat jadi lebih pendek dari
biasanya” aku membalas meledek.
“Iyalah aku sedang duduk sedangkan kamu berdiri, cepat sana pesan trus duduk sini” jawabnya, sedikit mendongak sembari berusaha membulatkan bola matanya.
“Iyalah aku sedang duduk sedangkan kamu berdiri, cepat sana pesan trus duduk sini” jawabnya, sedikit mendongak sembari berusaha membulatkan bola matanya.
Suasana saat itu terlihat ramai, beberapa orang sedang asyik menikmati
hidangannya, sebagian lainnya sedang menunggu pesanan yang telah mereka pesan
sembari berbincang di meja makan, ada juga yang duduk dengan santai sambil
memainkan telpon genggamnya sesekali tersenyum dengan sendirinya.
“Sambelnya dipisah ya Pa” seseorang yang berdiri sopan mengingatkan
pesanannya kembali.
Tanpa mmemberi jawaban Bapak pedagang sekaligus pemilik
tempat ini dibantu satu pegawainya dengan cekatan membuatkan pesanan dari
pelanggan-pelanggannya yang sedari tadi sudah lama mengantri, sesekali terlihat
kepulan asap dari kuali besar yang tertanam di grobak kayu yang cukup besar,
diiringi dengan aroma rempah yang begitu khas, membuat pengantri semakin tak
sabar untuk mendapatkan pesanannya.
Di sudut lain aku berasama sahabat ku sedang menunggu pesanan, sembari meminum minuman
kaleng untuk sedikit meringkangkan kebosanan.
“Aku ingat ketika pertama kali kita ke sini, waktu itu
kau hanya memesan setengah porsi, ‘aku sedang tak nafsu makan’ aku masih ingat
benar kata-kata itu, tapi ketika santapanmu hampir habis, kau malah memesan
untuk menambah lagi, ingat?” suaraku beradu dengan suara obrolan pengunjung
lain yang juga sedang berbincang-bincang dengan santai.
“Apa !!! tapi memang ternyata enak, he he he” dia
menjawab sembari mencoba memberikan senyum yang dipaksakan agar terlihat imut.
“Tapi waktu itu kau terlihat sedih sekali, terlihat
sangat tak bersemangat” dia lanjut
bertanya kepada ku.
“Itu hanya perasaanmu saja” aku singkat.
Tak berapa lama pesanan kami datang, bersamaan dengan sebagian
orang-orang yang ingin keluar setelah selesai makan sembari bergegas menuju jalan
raya untuk menyebrang setelah sebelumnya melihat sisi kanan dan kirinya memastikan
agar mereka melintas dengan aman.
“Soto soto..” suara temanku
riang, mirip seperti anak kecil yang
baru saja mendapatkan hadiah.
Dengan segera kita langsung bersiap untuk menikmati
pesanan yang sudah sedari tadi kita tunggu, mie dan bihun bersama irisan tipis
tomat dan kol segar disertai irisan daging beserta risoles, terendam satu
mangkok bersama kuah kaldu panas yang beraroma khas, ditambah sedikit kecap
manis, sedikit sambal dan rasa asam dari air jeruk nipis hidangan ini terasa
sempurna untuk malam minggu ini.
Dia bahkan sudah menyelesaikan suapan pertamanya
sebelum aku mengucapkan selamat makan.
“Kedai ini asik yah, bangku dan meja-meja yang tersusun
dengan rapi walaupun hanya 4 meja panjang dan 4 bangku panjang pula, namun ini
cukup nyaman untuk sekelas kedai soto mie pinggir jalan” teman lama ku yang menguyah suapan kali keempatnya diiringi kepulan
asap dari kuali yang berisikan kuah soto yang terlihat kontras dengan suasana
malam cerah ini.
“Hem, jangan terlalu banyak bicara saat makan, nanti
tersedak” aku mencoba mengingatkan sembari menambahkan sedikit kecap terhadap
soto mie-ku.
“Iya iya, tuan bijak yang pendiam” suaranya tak jelas,
karena berbicara dengan makanan yang belum selesai terkunyah dalam mulutnya.
Kita pun makan dengan santai tanpa ada pembicaraan yang
terlalu serius, kita hanya berbincang biasa, membicarakan layaknya orang-orang
yang sedang makan pada umumnya. Terkadang juga kita meledek orang-orang
sekitar, seperti dia yang tiba-tiba
berbisik apakah bapak tukang soto itu sudah mandi apa belum, jangan-jangan rasa
asam segar yang ada di soto bukan dari perasan jeruk nipis tapi dari
keringatnya. Sejenak kami tertawa hingga menjadi perhatian bagi pengunjung lain,
tetapi langsung melanjutkan makan kembali, rasa lezat soto ini mengalahkan
bayangan akan keringat Bapak soto. Ini benar-benar nikmat. Lezat.
Saat dia ingin
mengayuhkan tangan ke dalam mangkok untuk menyendok soto, tiba tiba
handphonenya berbunyi, itu sebuah panggilan.
Saat menerimanya
dia sesekali berbicara santai
sesekali juga menekankan intonasinya tapi dengan nada pelan, seakan-akan dia tak ingin pembicaraannya diketahui
oleh orang lain sekalipun aku.
“Padahal cuma makan soto, itupun pergi bersama teman
lama, kadang aku berpikir ternyata punya pacar itu kadang menyebalkan, Andre
bahkan mengenal kamu juga kan Gus” suaranya lirih terucap bersama satu tarikan
nafas panjang, tanda mengeluh.
Andre? Sejenak aku membatin sembari mengernyitkan dahi, aku
kenal sekali dengan nama itu, dia
masih berhubungan. Aku kenal nama itu
saat kita masih satu tempat kerja, saat aku dan dia berjumpa untuk kali pertama.
Aku ingat saat awal perkenalan itu, dia memeberikan
senyuman sembari menjulurkan tangan dan kemudian mengucapkan namanya.
“Aku Nurul” dia sembari membetulkan posisi kerudungnnya.
“Bagus” aku singkat memperkenalkan nama sembari menjabat tangannya.
“Bagus” aku singkat memperkenalkan nama sembari menjabat tangannya.
Dari perkenalan itu kita bisa terbilang cukup cepat untuk
saling mengenal dan bisa dikatakan menjadi sahabat dekat, hampir semua yang
kita bicarakan bisa menjadi topik yang menyenangkan. Menurutnya aku yang
pendiam pas untuk dirinya yang suka bertingkah dan suka bicara yang tak
penting.
Waktu bergulir tak terasa, saat itu hampir genap enam
bulan aku bekerja dengannya, bekerja di sebuah kantor jasa yang bergerak
dibidang pengiriman barang, aku bekerja sebagai pencatat barang yang akan
dikirim, sedangkan Nurul hanya bertugas mengecek dan memastikan semua barang
aman dan layak untuk dikirim. Lambat laun kita semakin dekat, dan aku merasa yakin
dengan perasaanku, aku yakin untuk mengungkapkannya.
Hingga terjadi disaat itu, saat Nurul bercerita
hubungannya dengan Andre, Nurul ternyata berpacaran dengan atasan tempat di
mana kita bekerja.
Entah aku yang bodoh atau aku terlalu berfokus dengan
perasaanku, hingga tak mengetahui bahwa Nurul adalah kekasih dari Andre. Aku
mengetahui hal itu tepat sehari sebelum aku mengajaknya ke kedai soto ini
untuk pertama kali, itulah yang
menyebabkan aku terlihat lesu dan tak bersemangat kala itu.
Hatiku serasa terisis saat itu, aku sudah siap dan yakin
untuk menyatakannya, menyatakan bahwa aku mempunyai perasaan cinta, bahwa aku
ingin memilikinya.
“Gus, kau tak pernah memberitahuku alasan kenapa kau
keluar kerja, bukankah nyaman kerja dengan ku, he he he” tanya nurul sembari
menatapku sekaligus membuyarkan lamunanku.
Aku hanya memberikannya senyum sembari menatapnya tanpa
berkata, sesekali aku sadar bahwa dia memang begitu cantik dengan kerudungnnya.
Andre sebenarnya adalah seorang atasan yang baik, usianya
tak beda jauh dengan aku pun Nurul, dia bahkan hampir selalu mentraktir makan
siangku saat kita makan bersama, tapi entah kenapa semenjak tahu bahwa dia
adalah kekasih dari wanita yang kusayangi aku melihatnya enggan dan benci, rasa
cemburu ini yang membuatnya. Itulah yang membuatku memilih untuk keluar dan
mencari pekerjaan baru.
Selain baik, Andre juga pintar, dia juga seorang sarjana
dua lulusan universitas kenamaan mungkin itulah yang menyebabkan Nurul bersedia
menerimanya, Nurul juga tercatat sebagai seorang mahasiswi tingkat atas salah
satu universitas negeri. Mereka sepintas memang terlihat cocok, tapi bagaimana
dengan perasaanku.
Aku memang bukan seorang sarjana atau cendikiawan yang
karya-karyanya bisa merubah dunia, tapi cinta tak melulu tentang tahta atau
kasta bukan. Aku mencintainya, aku yakin bisa membahagiakannya dengan cinta dan
dengan caraku tentunya.
Terhitung sudah lima bulan aku meninggalkan tempat
pengiriman barang itu, beruntung aku tak memerlukan waktu lama untuk mendapatkan
pekerjaan baru. Dua minggu setelah aku resign
aku mendapatkan pekerjaan di salah satu mini market dan kini jabatanku
adalah seorang leader.
Aku melesat begitu cepat, tapi ada yang aku sesalkan di
tempat baru ku, semua pekerja di sini dilarang berkuliah itu peraturan
perusahaan yang paling menjengkelkan menurutku. Dan itu juga seperti membatasi
rasa balas dendamku terhadap Andre, aku ingin minimal menyamainya bahkan kalau
bisa melebihinya, tapi ya sudahlah setidaknya jabatanku sama-sama seorang
atasan.
Terhitung lima bulan pula, aku dan Nurul tak pernah lepas
komunikasi hampir setiap hari kami berkirim pesan lewat chat, dan dua bulan terakhir chat
itu begitu sering, kita saling bercanda, berbagi tetang cerita pekerjaan
baruku, tak pernah sedikitpun aku membahas tentang musuhku Andre, bahkan aku tak pernah membahas rasa rinduku
terhadapnya, rasa rindu yang terbentuk lima bulan karena tak bertemu, tak
sempat melihat mata indahnya lagi.
Hingga aku akhirnya mengajaknya untuk makan di kedai ini
dan dia menyetujuinya.
Aku berharap saat bertemu, dia bercerita hubungannya dengan Andre berantakan
bahkan sudah berakhir, itu cerita yang paling aku tunggu-tungu dari dirinya.
Rasa sayang ini selalu utuh untuknya, rasa cinta ini akan selalu setia membuka
pintunya untuk menunggu sampai kapanpun.
Tak berapa lama aku tersadar atas bayanganku, sepasang
lelaki dan wanita datang, yang lekaki memarkirkan motornya dengan ahli
sementara yang wanita sudah masuk ke kedai hanya dengan beberapa langkah. Suara
motornya membuyarkan lamunanku, berisik.
“Gus, gimana perasaamu bertemu kembali denganku setelah
berabad-abad tak bertemu denganku” dia dengan nada meledek.
“Lima bulan rul bukan berabad-abad” Aku tenang.
“Lima bulan rul bukan berabad-abad” Aku tenang.
“He he he, iya iya.. gimana perasaanmu cah Baguuuuuuuuus?” Nurul meledek sembari tertawa setelahnya,
gadis ini selalu ceria dan menyenangkan.
Aku hanya tersenyum lebar menanggapinya, tak memberikan
kata.
“Dari pertama sampai sekarang kau memang pendiam yah gus,
huh” dia membalas sembari meminum es jeruk yang terisisa sepertiga gelas.
“Tak semua harus diungkapkan rul” Aku singkat kembali.
Batinku berucap, Tak semua harus diungkapkan Nurul,
wanita yang selalu aku nantikan kehadirannya dalam hatiku.
Aku cukup diam di sini, berdoa dan berharap kita akan
dipertemukan disaat yang tepat beserta kebahagiaan yang mengiringinya.
Seperti rasa rindu dan cintaku padamu, tidak semua harus
diucapkan bukan?

Komentar
Posting Komentar