Langsung ke konten utama

Desember

Salah satu hal terbesar yang harus kita hadapi adalah, atau lebih tepatnya yang seharusnya kita jadikan sahabat terdekat adalah waktu.

Waktu terus berjalan, gue sempet melakukan percobaan kecil yaitu mencoba berdiam diri, dan ternyata waktu terus berjalan walaupun gue coba untuk diem. Seakan akan waktu bisa bicara, terus bilang  sama gue “lo mau gerak, aktifitas, belajar, manfaatin gue, rajin, atau mau males malesan tidur seharian pun gue bakal terus berjalan bro, inget itu!!!”

Untung itu hanya imajinasi gue semata time can’t speaking guys, tapi walaupun cuma khayalan, kadang itu sangat amat menyakitkan saat gue males malesan seharian trus pas liat jam ternyata udah sore dan tiba tiba kalimat itu muncul dengan intonasi ngledek.

Seakan akan gue udah nyia nyiain hidup gue, nyia-nyiain sesuatu yang engga bisa terbeli oleh orang terkaya sejagat raya mana pun, yaitu waktu yang udah terbuang, iya karena waktu yang udah berlalu engga bisa bakal balik lagi kan.

Hari ini tepat tanggal1 Desember, awal Desember di tahun 2014, and then the big question for december is “cita cita untuk tahun ini yang dibuat saat tahun lalu udah tercapai?”

Engga perlu gue ulang kan pertanyaannya, itu cukup jelas banget, dan jawabannya mungkin berbeda satu orang dengan orang lainnya.

Ada yang mungkin udah terpenuhi harapannya ditahun ini ada juga ada yang masih bekerja keras agar tercapai, atau ada juga yang mungkin sama sekali belum tercapai.
untuk poin yang terakhir, yang belum tercapai, it’s oke guys itu bukan alasan untuk kita memaki diri kita sendiri, membandingkan kita dengan teman teman yang kelihatannya lebih sukses daripada kita.

Kita dilahirkan berbeda satu sama lain, itu adalah rahmat dan adalah keanehan jika kita tahu bahwa kita ini berbeda satu sama lain, tapi kita menginginkan hal yang sama untuk diri kita dari orang lain.

Ngomongin masalah cita cita atau pencapaian, cita cita gue dari dulu selalu berubah ubah. Waktu SD gue bercita cita jadi pengemudi sebuah kapal terbang atau orang biasa menyebutnya pilot, kemudian pas SMP berganti cita cita yaitu menjadi pengacara dan penulis, pas SMA pengen jadi psikolog yang hebat dibidangnya.

Semuanya belum tercapai, semuanya belum terlaksana, tapi gue selalu beranggapan semua itu hal yang wajar. “Bukan sebuah dosa besar kan jika cita cita saat ini belum terlaksana?”

Walalupun demikian, terkadang hal itu jadi sesuatu yang cukup kontradiktif, saat gue lagi bad mood dan mungkin sama dengan kebanyakan orang yang saat perasaannya sedang kurang nyaman, biasanya mereka menyalahkan keadaan, kemudian dirinya sendiri yang paling final biasanya nyalahin Tuhan.

Gue juga kaya gitu, kadang gue nglakuin semua itu, walaupun engga sampai titik extreme tapi gue pernah ngrasain hal itu, dan gue rasa salah satu dari kalian juga pernah mengalami hal itu.


Cukup ah, cerita tentang penyesalannya gue rasa mesti gue akhiri. Sebagian dari kita emang mungkin terlalu bersantai, kadang sedikit menyepelekan tapi kita juga terkadang berusaha kan. Udara masih keluar dari lubang hidung kita, bukankah itu artinya kita masih harus tetap semangat, kita masih harus survive untuk keadaan yang kurang menyenangkan.

Dan yang pasti bukankah masih banyak hal yang harus kita syukuri ketimbang kita cemooh. Banyak orang yang harus kita balas kasih sayangnya ketimbang kita benci.
Dan bahkan gue pernah membaca buku tentang stres, dan ternyata stres itu bukan untuk dilawan, stres itu untuk kita dikelola.

Kita tahu, hidup ini anugrah kan? Kita masih punya waktu untuk berjuang, bekerja lebih keras dan lebih keras lagi, lebih semangat, lebih bisa belajar dan engga gampang putus asa. Kita masih punya kesempatan untuk memperbaiki, kesempatan untuk menggapai cita cita kita yang dari dulu udah kita yakini bahwa kita bisa mencapai itu.

Dan gue yakin, kita semua bisa untuk itu..


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review Novel Jakarta Sebelum Pagi by Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

Sebelum memulai ke pertunjukan utama anggap saja ini sajian pembuka, seperti band pembuka di sebuah konser akbar. Ada beberapa hal yang menurut saya (sebagai pembaca) mengganjal dalam hati mengenai novel ini (selain covernya yang sedikit mirip dengan novel i'll give u the sun) Yang pertama adalah, beberapa hal yang menurut saya harusnya dipersingkat, dengan arti lain adalah beberapa bagian novel ini mempunyai informasi yang diulang-ulang, walaupun tidak membosankan, tetapi demi menghemat kertas, biaya produksi, dan tingkat kebosanan pembaca harusnya bisa dipersingkat saja. Misalnya dalam penjelasan mengenai teh. Percakapan yang berkaitan tentang teh beberapa bagian diulang-ulang, walaupun dengan kalimat yang berbeda tetapi saya merasa itu mempunyai informasi yang sama. Karena jika penulis ingin menjadikan ‘teh’ sebagai sarana pengantar cerita saya rasa porsi dalam novel tersebut bisa dipangkas lagi, toh beberapa bagian hanya berisikan informasi yang mungkin ingin menunju...

Mengulik Makna Dari Lagu 'Merah' Efek Rumah Kaca

Eka kurniawan dalam sebuah jurnal onlinenya pernah menerbitkan sebuah cerpen tentang sebuah perlawanan, inti dari cerpen tersebut adalah tentang sebuah pemuda (mahasiswa) yang ingin melakukan sebuah aksi (perlawanan) untuk menjatuhkan sebuah kekuasaan (rezim) yang menurutnya sudah tidak pantas lagi untuk berkuasa. Cerita itu berakhir tragis dengan tokoh utama yang tiba-tiba hilang tak tahu ke mana, entah mati atau hidup. Menghilang tiba-tiba. Dalam sejarah Indonesia sendiri, sebuah perlawanan sudah mondar-mandir dicacat oleh tinta sejarah. Peristiwa orang Surabaya yang membunuh jendral Mallaby dan kemudian berimbas pada pertempuran tiga hari tiga malam di kota tersebut hingga kemudian hari tersebut ditetapkan sebagai hari pahlawan oleh Ir Soekarno guna menghargai mereka-mereka yang sudah gugur, misalnya. Atau perebutan Irian Barat dengan Belanda. Bahkan kemerdekaan bangsa Indonesia tak lain dan tak bukan adalah buah dari sebuah perlawanan. Perlawanan tak hanya dilakukan dengan...

Catatan Banjir Jakarta Februari 2017

Hujan turun sejak jam tiga dini hari (21 februari 2017), jam setengah empat pelataran rumah sudah terlihat genangan air, jam empat lebih air mulai menaiki tangga-tangga rumah. Kira-kira pas adzan subuh atau sekitar jam lima pagi air mulai masuk ke rumah-rumah warga. Beberapa orang sudah berada di depan rumah masing-masing berjaga, ada juga yang menggedor-gedor tetangga, khawatir masih ada orang yang belum bangun. Sekitar jam setengah enam sampai jam tujuh pagi air sudah benar-benar menguasi seisi rumah. Sementara sebelumnya, warga sudah mengamankan benda-benda yang mereka anggap penting. Benda elektronik, kulkas, mesin cuci, kompor. Surat-surat tanah, pakaian, atau hal yang kira-kira bisa rusak terkena banjir. Termasuk motor yang diungsikan dengan cara bergotong-royong mengangkat secara bergantian. Jam enam sampai jam tujuh hujan bisa dikatakan sedang lebat-lebatnya, langit masih gelap tidak seperti biasanya, barang-barang sudah naik ke singgahsana yang lebih tinggi. Banjir ka...