Langsung ke konten utama

Menikam Di Hati

People changes, and i know that. Perubahan bukanlah sebuah keburukan. Tentu saja. Tetapi, bayangkan jika kau meyakini bahwa asinnya air laut, dinginnya udara pegunungan, lidahmu yang selalu basah. Tiba-tiba semua berubah, sesuatu yang kau yakini tidak akan berubah kecuali sesuatu yang benar-benar besar mengubahnya. Sesuatu yang kau yakini akan begitu selamanya, seperti kebiasaan mulut yang mudah mengucapkan kata-kata, kau menganggap sistematika itu akan berjalan seperti itu berulang faali dan seperti orbit planet yang rumit tapi tidak saling menabrak. Kau menyakini semua akan berjalan baik baik saja. Perubahan... “hold my coffee, and take it slow” katamu.

Pernah tidak kau dibohongi oleh nasib. Maksudku mungkin kata dibohongi terlalu eksplisit. Kau tahu bahwa kau dibohongi kalau kau tahu kebenarannya, hingga kau bisa membandingkan antara sebuah pernyataan satu dengan yang lainnya hingga terciptalah suatu kesimpulan : kau dibohongi atau tidak. But, this is different. Jangankan yang benar, apa yang kau alami sekarang adalah kebenaran atau kesalahan saja kau tidak tahu. Like your body in the room with of full colour grey. Matamu tidak buta tetapi juga tidak bisa melihat jelas. Rabun.

“Nasib memang senang bercanda” your words when you feel stuck with your life situation.

Tapi memang begitu, berapa kali kita salah menebak tim sepak bola mana yang bakal menjuarai sebuah kejuaraan, membawa payung karena langit mendung dan ternyata payungmu tidak terbuka dari kuncupnya karena tidak hujan di hari itu. Dan anggap saja nasib menertawaknmu. You like a jokes for a fate.

Dibayanganku kadang nasib seperti kakek tua dengan rambut putih, tua tapi tidak terlalu rapuh. Mukanya berkeriput karena sering tersenyum bijak dan tangannya halus karena selalu membelai siapapun yang sedang gundah. Membersihkan jalanmu agar yang kau lalui mudah, seperti beberapa orang yang mengatakan “gak nyangka, ini semua bisa aku dapetin ini semua. Kaya kebetulan” saat orang meraih sesuatu. Tepapi, kadang nasib juga seperti Joker yang selalu memasang perangkap di antara perangkap yang lainnya. Jika kau lolos dari satu perangkap maka perangkap selanjutnya sudah menantimu. And when you fall, fate laugh very laudly. Kau cuma sebagai jokes.

Kau beruntung jika jebakan yang kau dapatkan hanya tentang salah memasang taruhan, kalah berjudi, atau dimarahi atasanmu. Tapi jika jebakan itu menyangkut sebuah hal yang penting bagi hidupmu, sesuatu yang membuat 24 jam mu terasa dikejar-kejar hantu yang membuat detak jantungmu lebih kencang dari biasanya. Sebuah permasalahan tentang sebuah hubungan yang mengikat seumur hidup. Yang kau tahu, kau telah mengikat simpul itu dengan hati-hati dan kau yakin simpul yang kau pilih adalah yang terbaik untuk kau ikat sepanjang hidupmu. But........... like i say before, everythings like a trap. Big trap. Kau merasa air laut tidak akan bisa berganti rasa, tanganmu akan selalu dua. Tetapi di suatu waktu ia bisa saja berganti tergantung nasib memasang jebakan itu di mana. Sejauh ini yang aku ingat adalah terkadang kita hanya jadi lelucon untuk nasib karena dia memang suka bercanda.





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review Novel Jakarta Sebelum Pagi by Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

Sebelum memulai ke pertunjukan utama anggap saja ini sajian pembuka, seperti band pembuka di sebuah konser akbar. Ada beberapa hal yang menurut saya (sebagai pembaca) mengganjal dalam hati mengenai novel ini (selain covernya yang sedikit mirip dengan novel i'll give u the sun) Yang pertama adalah, beberapa hal yang menurut saya harusnya dipersingkat, dengan arti lain adalah beberapa bagian novel ini mempunyai informasi yang diulang-ulang, walaupun tidak membosankan, tetapi demi menghemat kertas, biaya produksi, dan tingkat kebosanan pembaca harusnya bisa dipersingkat saja. Misalnya dalam penjelasan mengenai teh. Percakapan yang berkaitan tentang teh beberapa bagian diulang-ulang, walaupun dengan kalimat yang berbeda tetapi saya merasa itu mempunyai informasi yang sama. Karena jika penulis ingin menjadikan ‘teh’ sebagai sarana pengantar cerita saya rasa porsi dalam novel tersebut bisa dipangkas lagi, toh beberapa bagian hanya berisikan informasi yang mungkin ingin menunju...

Mengulik Makna Dari Lagu 'Merah' Efek Rumah Kaca

Eka kurniawan dalam sebuah jurnal onlinenya pernah menerbitkan sebuah cerpen tentang sebuah perlawanan, inti dari cerpen tersebut adalah tentang sebuah pemuda (mahasiswa) yang ingin melakukan sebuah aksi (perlawanan) untuk menjatuhkan sebuah kekuasaan (rezim) yang menurutnya sudah tidak pantas lagi untuk berkuasa. Cerita itu berakhir tragis dengan tokoh utama yang tiba-tiba hilang tak tahu ke mana, entah mati atau hidup. Menghilang tiba-tiba. Dalam sejarah Indonesia sendiri, sebuah perlawanan sudah mondar-mandir dicacat oleh tinta sejarah. Peristiwa orang Surabaya yang membunuh jendral Mallaby dan kemudian berimbas pada pertempuran tiga hari tiga malam di kota tersebut hingga kemudian hari tersebut ditetapkan sebagai hari pahlawan oleh Ir Soekarno guna menghargai mereka-mereka yang sudah gugur, misalnya. Atau perebutan Irian Barat dengan Belanda. Bahkan kemerdekaan bangsa Indonesia tak lain dan tak bukan adalah buah dari sebuah perlawanan. Perlawanan tak hanya dilakukan dengan...

Catatan Banjir Jakarta Februari 2017

Hujan turun sejak jam tiga dini hari (21 februari 2017), jam setengah empat pelataran rumah sudah terlihat genangan air, jam empat lebih air mulai menaiki tangga-tangga rumah. Kira-kira pas adzan subuh atau sekitar jam lima pagi air mulai masuk ke rumah-rumah warga. Beberapa orang sudah berada di depan rumah masing-masing berjaga, ada juga yang menggedor-gedor tetangga, khawatir masih ada orang yang belum bangun. Sekitar jam setengah enam sampai jam tujuh pagi air sudah benar-benar menguasi seisi rumah. Sementara sebelumnya, warga sudah mengamankan benda-benda yang mereka anggap penting. Benda elektronik, kulkas, mesin cuci, kompor. Surat-surat tanah, pakaian, atau hal yang kira-kira bisa rusak terkena banjir. Termasuk motor yang diungsikan dengan cara bergotong-royong mengangkat secara bergantian. Jam enam sampai jam tujuh hujan bisa dikatakan sedang lebat-lebatnya, langit masih gelap tidak seperti biasanya, barang-barang sudah naik ke singgahsana yang lebih tinggi. Banjir ka...