Saat aku
menulis ini kondisi perutku serasa penuh sekali, berat badanku seperti menggelembung beberapa mili dari
sebelumnya. Lebih kurang satu bulan energi yang aku keluarkan mungkin lebih
sedkit dari makanan yang aku makan. Saat ini aku juga sedang berada di sebuah
desa yang aku pikir orang-orangnya lebih bahagia dari pada orang di kota
kebanyakan. Jam delapan malam pintu sudah ditutup, suasana sepi, orang-orang
sudah naik di tempat tidur guna meregenerasi staminanya untuk esok pagi.
Jika kau baca
ini saat malam, aku sarankan coba untuk menutup matamu lalu hirup udara
dalam-dalam dan keluarkanlah perlahan, kau akan merasakan paru-parumu serasa
mendapatkan oksigen terbaik. Kalau saat siang, coba keluar sebentar, carilah
sinar matahari, diamkan badanmu di situ beberapa detik, hangat sedikit panas
begitulah semesta.
Baik, kita
masuk ke bagian inti. Tentang cara menangkap ikan dengan metode paling
sederhana. Tetapi, sebelum benar-benar ke bagian itu. Aku akan mengajak kalian
ke beberapa cerita pembuka, sebagai bentuk pemanasan.
Tepat 9
november kemarin usiaku dua puluh enam tahun, angka bagiku adalah sebuah usia
yang istimewa, aku bersyukur karena setidaknya diusia ini, aku bisa melihat
orang bertengkar karena hal sepele, melihat orang berbenturan di jalan karena
terlalu sibuk menatap layar telepon, atau merasakan susu basi ternyata sama
asamnya dengan cuka tukang bakso: hal-hal yang menandakan bahwa aku masih
hidup. Sedikit informasi, kakak tertuaku, laki-laki, meninggal di usia 25 tahun
lebih, hampir seusiaku. Jadi tak perlu dijelaskan betapa merasa beruntungnya
aku masih bisa diberikan hidup sampai usia ini.
Proses dua
puluh enam tahun ini juga aku merasa sebuah perjalanan yang benar-benar berbeda.
Semenjak awal tahun ini aku merasa kehidupanku dirundung kepesimisan yang
berlebih. Hidup seolah-olah, bukan hanya jauh dari apa yang kau harapkan tapi
juga kau merasa bukan dari bagian semesta hidup itu sendiri. Munking itu
disebabkan karena anak pertamaku akan lahir kala itu, dan aku merasa tidak
punya definisi ayah yang baik atau kalaupun otakku punya teori tentang itu aku
merasa tidak mampu untuk menjadi ayah yang baik.
Sebelum itu
akhir tahun 2017, ada hal yang lebih pesimisnya lagi. Tentang perkulihaanku,
mahasiswa tingkat akhir dengan waktu kuliah yang sudah melebihi batas normal,
akhir tahun yang lalu aku benar-benar seperti di taruh di sebuah kolam dan diaduk-aduk
oleh sendok raksasa. Tentang skripsi. Judul skripsiku ditolak, diusulkan
pergantian metode penelitian. Tidak ada alasan untuk tidak pesimis saat itu.
Di bulan oktober kemarin, aku keluar dari tempat
kerja. Aku merasa bahwa tempat kerja seharusnya memberikanmu sebuah energi baik
yang nantinya juga akan kau berikan kepada siapapun yang kau inginkan, energi
baik itu bisa membuat jantungmu lebih gigih dalam memompa aliran darahmu,
hatimu lebih kuat untuk menawarkan racun atau setidaknya membuatmu sadar bahwa
dirimu adalah manusia yang bebas berpendapat dan menjelaskan isi pikiranmu.
Saat itu aku hanya menyarankan seseorang untuk lebih sering membaca buku agar
bisa berkomunikasi dengan baik kepada orang lain, saran itu aku tujukan pada
atasanku. Dan ternyata itu malah di balas dengan hal-hal yang menyadarkanku
bahwa orang memang lebih suka berkomentar dari pada membaca dan menilai sesuatu
hal dengan pikiran jernih.
Dari hal-hal
itu mengalirlah beberapa nasib yang bisa baik bisa juga buruk. Sebuah nasib barang
kali, baik dan buruknya tergantung cara menyikapi nasib itu sendiri.
Dari skripsi
misalnya, pergantian metode dan judul membuatku untuk lebih banyak menghabiskan
membaca, mencari tahu tentang basis keilmuanku, dan pada akhirnya aku merasa
beruntung karena mendapatkan semacam buah segar pada otak kanan dan kiriku,
hingga aku bisa meluluskan diri dari rutinitas perkuliahan yang membosankan di
tahun ini.
Kalau dari
pekerjaan, aku selalu bersyukur bisa mendapatkan teman baru, karakter baru,
teman dekat, hal-hal yang begitu menyenangkan, karena kau sadar bahwa tuhan
begitu kreatif menciptakan karakter dengan baunya masing-masing. Dan setidaknya
berat badanku sedikit bertambah seperti yang aku ceritakan di awal.
Yang
terakhir, menjadi ayah yang baik. Kepalaku seperti dipenuhi tukang ojek setiap
ada kata-kata itu, seperti setiap tukang ojek mendendangkan satu lagu
kesukaannya menggunakan klakson motornya di kepalaku. Tak ada gambaran sama
sekali. Pun demikian, seperti ayah di manapun di dunia, aku selalu berusaha
menjadi yang terbaik untuk anakku tentu saja, seperti kata Pidi Baiq, penulis
Dilan itu yang mengatakan “Anakmu butuh
uang, tapi anakmu juga butuh bangga dengan orang tuanya.”
Di dua puluh
enam tahun ini beberapa bentuk kepesimisan lambat laun memang menghilang,
nyatanya mungkin kepesimisan itu adalah bentuk sinyal bahwa kita memang
manusia. Seperti saat kau kencing dan menngaruk kulitmu karena tergigit nyamuk,
aku rasa itu hal yang sangat wajar, terbukti kepesimisanku tentang beberapa hal
nyatanya tidak membuat hidupku tidak biasa-biasa saja – aku merasa baik-baik
saja, membuktikan bahwa kau boleh pesimis tapi hidupmu juga harus tetap
berjalan agar kau bisa kencing dan menggaruk kulitmu saat gatal. Karena hidup
memang, ya, seperti susah ditebak tapi tentu saja harus dijalani.
Oh iya, masih
mau dilanjutkan ke bagian intinya, tentang cara menangkap ikan dengan metode yang
paling sederhana?
sumber gb : Independent

Komentar
Posting Komentar