Aku percaya bahwa hidup tak hanya dibagi menjadi
kebahagiaan dan kesedihan saja. Ada sesuatu yang terletak diantara kedua hal
itu, seperti sebuah koin yang sering dilihat pada dua sisinya saja, padahal
masih ada sisi yang ketiga yaitu tepi.
Kurang lebih seperti sisi ketiga koin tersebut, sisi
tersembunyi antara kebahagiaan dan kesedihan itu adalah sebuah kado yang jika
dibuka ia akan mengeluarkan semacam pernak-pernik warna-warni, sesuatu yang
bisa saja membuat senang atau sedih atau bahkan campuran keduanya, kado itu
bernama “kejutan.”
Tuhan meletakan beberapa kejutan itu diantara dua
hal dominan itu: kebahagiaan dan kesediahan, dengan begitu rapi, tak kenal
ampun kepada siapa penerimanya, pembuktian bahwa Dia maha adil.
Kejutan itu muncul pertengahan maret 2018 kemarin,
pagi hari ketika aku sedang duduk di sebuah bis, kabar itu datang melalui
telepon genggam. Seorang pria menelpon dan berkata “Anakmu sudah lahir,
laki-laki, berat 3,3 kg” sebuah kejutan, benar-benar kejutan.
Aku sudah pernah merasakan beberapa kejutan, sebuah
kejutan raksasa, tiga kali beruntun. Pertama ketika Mama memintaku segera
pulang ke rumah karena Bapak sudah tak mau bernafas lagi. Kedua, ketika Mama
memintaku pulang lagi karena Mas Apri (we
realy realy miss u so bad, mas) sudah bosan bermain gitar dan akan tidur di
dalam tanah selamanya. Yang ketiga, saat aku menyaksikan sendiri betapa Mama
tahu bahwa hidup terlalu sakit, maka dia harus melepaskannya, sebuah pilihan
yang tak sulit sekali aku terima. Ketiga kejutan yang begitu luar biasa. Bahkan
ketika mengingat krtiganya, imajinasi dalam kepalaku menimbulkan banyak kilau-kilau
terang, menyala dan beradu, berputar-putar cepat dan menimbulkan kekacauan tak
karuan.
Aku tahu sebuah kejutan, betapun besarnya dia, pada
akhirnya kita harus menerimanya. Kau tak bisa menolak, bahkan menawarkan pun kau
mungkin tak akan diijinkan. Begitupun ketika kabar kelahiran itu masuk di
telingaku yang aku pikirkan adalah kesiapan untuk menerimanya. Kejutan itu
sebenarnya tak terlalu mendadak, aku sudah disiapkan selama sembilan bulan
melalui masa kehamilan istri. Tetapi, tetap saja, selagi kau masih merasa
sebagai manusia naluri kepesimisanmu tak akan pernah luntur. Ada saatnya kau
merasa seperti seharusnya ada jalan lain selain jalan yang sedang kau lalui ini,
atau seharusnya kau bisa menghilang tiba-tiba dan muncul lagi di dasar laut. Aku
benar-benar merasakannya saat itu.
Ketika sampai di rumah sakit, aku melihat anggota
keluarga baru, seukuran betis orang dewasa, aku mengusap kepalanya kemudian
membetulkan penutup kepalanya. Melihat istri yang air mukanya menunjukan
bahagia bercamur lelah, aku merasa senang karena selain ia terlihat sehat
setidaknya dia masih ingat kepadaku.
Sebelum kejutan tentang kelahiran datang sebenarnya
ada sebuah semacam upacara pembukaan dari kejutan itu sendiri, sesuatu yang
kecil untuk menyambut hal yang istimewa.
Sesuatu yang kecil itu datang memintaku ijin untuk memberikan sayatan kecil pada perut dan rahim istri. “Bayi tak mau bergerak keluar, cairan dalam rahim sudah hampir kering, resikonya bayi bisa kehilangan nafas” begitu kata dokter yang disampaikan oleh ayah dari istriku pada waktu subuh melalui telepon. Aku menyetujuinya dengan sangat berat, beberapa alasan tentang keberatanku adalah aku merasa bahwa kesepian sudah terlalu lama merenggut hal-hal istimewa dari kehidupanku, mungkin karena tiga kejutan besar yang aku ceritakan tadi. Dan menurutku cara mengurai benang-benang kesepian itu mungkin adalah dengan memiliki banyak keturunan. Tetapi, jika sayatan itu terjadi di perut beserta rahim istriku itu artinya masa kehamilannya harus dijangka di atas lima tahun begitu menurut ilmu medis. Kesimpulan singkatnya adalah keluargaku paling banyak berjumlah empat orang.
Sesuatu yang kecil itu datang memintaku ijin untuk memberikan sayatan kecil pada perut dan rahim istri. “Bayi tak mau bergerak keluar, cairan dalam rahim sudah hampir kering, resikonya bayi bisa kehilangan nafas” begitu kata dokter yang disampaikan oleh ayah dari istriku pada waktu subuh melalui telepon. Aku menyetujuinya dengan sangat berat, beberapa alasan tentang keberatanku adalah aku merasa bahwa kesepian sudah terlalu lama merenggut hal-hal istimewa dari kehidupanku, mungkin karena tiga kejutan besar yang aku ceritakan tadi. Dan menurutku cara mengurai benang-benang kesepian itu mungkin adalah dengan memiliki banyak keturunan. Tetapi, jika sayatan itu terjadi di perut beserta rahim istriku itu artinya masa kehamilannya harus dijangka di atas lima tahun begitu menurut ilmu medis. Kesimpulan singkatnya adalah keluargaku paling banyak berjumlah empat orang.
Itu adalah pembukaan kejutan yang menurutku cukup
memberi tekanan untuk membuat paru-paru kesulitan mengatur udara keluar masuk.
Mungkin juga karena kesalahanku yang terlalu percaya diri, terlalu percaya
bahwa harapan tak bisa pecah ketika jatuh dari sebuah ketinggian. Kepercayaanku
timbul karena aku merasa bahwa aku sudah melakukan hal-hal yang sepertinya
Tuhan menyukai akan hal-hal yang telah aku kerjakan, dan dengan rasa sukaNya
Dia akan bermurah hati memberikan sesuatu yang aku inginkan. Tapi ternyata
bukan begitu cara kerjanya, kita berharap dan harapan itu adalah sebuah gelas
kaca yang tergantung Tuhan akan menyimpan dalam lemari atau melemparnya keluar
lalu ia pecah dan serpihan kacanya berserakan kemana-mana. Dan kau kecewa.
Tak semuanya benar, bisa jadi juga salahku tak
mendampingi istri saat proses melahirkan. Sebuah kesalahan yang tak mudah untuk
dilupakan dan dimaafkan pada diri sendiri. Kehidupan yang begitu matrealistis
membuatku harus terus begerak mendapatkan uang tak peduli kapan atau
bagaimanapun keadaannya. Pelayanan kesehatan di desa yang buruk, petugas
kesehatan yang tak tahu cara menenangkan
pasien dengan baik adalah suatu hal yang menambah rasa bersalah pada diri
sendiri semakin dalam tentang masa persalinan itu.
Tapi semua penjelasan di atas langsung tersapu
dengan sebuah kalimat nasehat teman “Sudah
kodratullah, guh, tidak usah disesali.” Kalimat yang banyak benarnya.
Selang satu minggu
sesuai dengan tradisi kebudayaan Jawa (Puputan),
aku dan istri memberi nama pada anak laki-laki kami. Masalah nama juga sesuatu
yang tidak bisa diabaikan begitu saja. Aku dan istri sudah bolak-balik ke toko
buku untuk mencari nama yang sesuai melalui buku-buku 1000 Nama Mnak, 100.000 Nama Anak, Nama Anak Modern, Karakter Nama Anak,
dan buku-buku sejenisnya. Hasilnya aku dan istri tak menemukan barang satupun
nama yang sesuai. Aku percaya bahwa nama anak akan sangat berpengaruh kepada
karakter dan cara dia memandang dunia, nama bagiku adalah sebuah sugesti awal
pada seorang manusia. Misalnya ada anak yang bernama Rumi, mungkin dari nama
itu ia akan mengenal seorang sosok sufi penuh cinta nan karismatik Jalalludin
Rumi, dan ia akan mengikuti cara berpikirnya, tindak-tanduknya bahkan cara
kehidupannya akan ia jalani. Jadilah sebuah karakter yang berawal dari suatu
nama.
Aku pernah berpikir akan menamai anakku dengan Nama hanya satu kata itu, jadi saat memperkenalkan
namanya ada sebuah kalimat yang terdengar nyentrik, “Perkenalkan nama saya Nama” atau namaanya Perkenalkan. Jika berkenalan “Perkenalkan nama saya Perkenalkan.” Atau yang sedikit lebih
panjang bernama Perkenalkan Nama Saya, jadi jika berkenalan akan lebih luar biasa
lagi “Hai, perkenalkan nama saya Perkenalkan
Nama Saya.”
Di masa-masa pencarian nama itu, kami menemukan
sebuah nama yang menurut kami cocok dan mempunyai makna yang istimewa : Sabda Ksatria Andhanu. Sejak masa
kehamilan aku dan istri sepakat nantinya jika bayi kami lahir kami akan
menamainya dengan nama-nama khas nusantara, nama yang tidak kebarat-baratan atau kearab-araban. Sebuah bentuk kecintaan
kami terhadap nusantara dan bahasa yang terkandung di dalamnya. Aku cukup
prihatin melihat beberapa orang tua menamai anaknnya dengan bahasa asing atau
nama-nama asing. Tak salah memang, tetapi jika nama itu juga mempunyai arti
yang dalam bahasa Indonesia juga ada kenapa tak memilih dalam bahasa Indonesia
saja, toh artinya juga sama, tinggal bagaimana kita mencari kosa kata itu
dengan seksama dan hati-hati.
Kini usia anak laki-laki itu sudah lebih dari satu bulan,
sesuai namanya Andhanu yang berarti
cahaya dalam bahasa jawa, aku dan istri berharap agar dia menjadi penerang bagi
sesamannya, seorang ksatria yang tindakan
dan perkataannya menjadi penerang kehidupan sesamanya begitu artinya kurang
lebih. Kemudian yang selalu menjadi kutu dan terus menyelinap dalam pikiran
adalah ketiga orang yang telah memberiku kejutan, Bapak, Mas Apri dan Mama,
mereka tak sempat melihat secara langsung kejutan yang sedang aku dapatkan ini.
Atau mungin mereka melihat hanya saja aku yang sudah tak bisa melihat mereka
lagi.
sumber gb : wbur.org

Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusBROKER AMAN TERPERCAYA
BalasHapusPENARIKAN PALING TERCEPAT
- Min Deposit 50K
- Bonus Deposit 10%** T&C Applied
- Bonus Referral 1% dari hasil profit tanpa turnover
Daftarkan diri Anda sekarang juga di www.hashtagoption.com