Langsung ke konten utama

Wedding Anniversary - Setahun Sudah

Ketika acara lamaran, aku bisa mengingat hal remeh-temeh yang mungkin tak diingat oleh orang lain, seperti jenis makanan saat itu, aneka kue, buah-buahannya, orang-orang yang menghadiri acara itu. Bahkan tema obrolan saat itu aku juga masih bisa mengingatnya.
Begitu pula dengan pernikahannya, ini lebih lengket lagi. Jam berapa, tanggal berapa, cuaca saat itu, lagu yang dinyanyikan oleh biduan saat resepsi, pembicaraan di bangku pelaminan sembari menyapa tamu, dan lainnya.

Aku merasa mempunyai daya ingat yang kurang baik, tetapi untuk hal-hal tertentu terlebih yang menyangkut emosional yang tinggi. Momen-momen itu seakan menjadi bagian tubuh kita sendiri, kita tak usah mengingatnya, ia menempel dengan sendirinya, dan jika kita diperintah untuk menceritakannya kembali, deskripsi itu akan muncul berbaris rapi dalam ingatan itu.

Semua orang juga merasakan hal itu, aku rasa. Karena begitulah cara kerja sebuah ingatan. Kadang ia mengingatkan kita kepada sebuah hal yang bahkan kita sendiri tak ingin mengingat akan hal tersebut. Ingatan seakan mempunyai kehendaknya sendiri. Seperti saat kita mendengar sebuah lagu di sebuah mall katakanlah, musik dan lirik-lirik itu kadang mengantarkan kita kepada sebuah pengalaman kita di masa lalu, layar pada pikiran kita menampilkan sebuah cerita lampau yang pernah kita alami. Ia akan bekerja dengan sendiri, menyeret kita kepada masa lalu entah menyenangkan ataupun sebaliknya.

Begitu pula saat kita melihat angka dalam almanak dan kita menyadari ada hal yang spesial tentang hari itu, atau jikapun seandainya kita lupa tentang tanggal itu lalu kemudian orang lain mengingatkan tentang benang merah dari peristiwa di hari itu. Ingatanmu langsung terpantik, dan kau akan melayang keperistiwa itu.

Hari ini tepat satu tahun usia pernikahanku. Dan, yang paling kusyukuri tentang umur pernikahan yang masih bayi ini adalah aku bisa melewati ini dengan baik (menurutku), atau kalaupun tidak aku bisa melewati ini dengan biasa-biasa saja.

Sebelum menikah yang paling aku takuti adalah bisakan aku melewati sebuah hubungan di mana kita mempunyai tanggung jawab yang begitu besar, tentang beradaptasi dengan keluarga baru yang mempunyai kebiasan dan cara berpikir yang sudah pasti berbeda.
Ketakutan-ketakutan itu muncul seiring kepesimisanku tentang hidupku sendiri, semenjak kepergian ibu (semoga mamah bahagia di alam sana) semua seperti pohon yang akarnya sudah kau siram air keras. Ia akan mati perlahan-lahan, daunnya kering, batangnya rapuh, jangankan berbuah, masih hiduppun sudah beruntung sekali.

Tetapi pernikahan ternyata tidak seseram yang aku pikirkan sebelumnya. Setahun ini adalah bukti empirisnya. Sebelum menikah kita boleh berpendapat, tentang nominal uang yang harus disiapkan, mental, pekerjaan yang mapan, biaya untuk kebutuhan primer, atau apapun yang membuat kabut untuk pernikahan sehingga ia dilihat serupa rumah setan di pasar malam.

Nyatanya itu semua hanya ketakutan kita semata, kadang kita memang terlalu pengecut, padahal sudah sejak kecil pengalaman selalu mengajarkan kita kepada hal-hal yang kita takutkan sebelumnya ketika kita melakukan itu ternyata ketakutan yang berlebih itu tak terbukti. Misalnya saat kita takut akan jarum suntik pada masa anak-anak, pada saat awal kita mengenal alat itu, tetapi saat jarum itu menusuk dan merobek daging kita, semua baik-baik saja. Semua ketakutan itu sama sekali tak terbukti, begitu pula dengan pernikahan. Kurang lebihnya sama.

Dan salah satu hal yang menurutku paling menyenangkan dalam pernikahan adalah pernikahan akan mengubah cara pandang kita terhadap sesuatu. Pandangan kita terhadap uang, terhadap menilai orang, terhadap apapun. Cara pandang kita akan bergeser beberapa sudut dan akan menangkap jangkauan yang lebih luas.

Kalau boleh aku berkata jujur dalam setahun ini pernikahan telah mengubah persepsiku tentang uang. Sebelum menikah kegiatan menabung aku taruh di salah satu daftar kegiatan yang tak terlalu penting, bahkan tak perlu dilakukan. Ketika aku mempunyai uang, hal yang ada dipikiranku adalah bagaimana cara menghabiskannya. Tetapi pernikahan merubah pandangan itu.

Pernikahan akan memberi kita sebuah buku panduan yang hukum dilakukannya tidak wajib sebelum menikah tetapi setelah menikah itu adalah sebuah keharusan. Salah satu contoh adalah kau harus mempunyai kendaraan pribadi atau minimal rumah tempat tinggal. Demi sebuah properti itu kita rela memampukan diri sendiri guna mencapai itu. Karena tak ada yang bisa dibeli daun maka kita memaksa tubuh untuk bekerja lebih giat, mengurangi jatah tidur dan hal yang lainnya guna menambah pundi-pundi uang untuk meraih hal itu (membeli rumah).

Bukan hanya cara berpikir, pernikahan juga memberi kita sebuah ruang untuk menaruh keresahan-keresahan hidup dan menggantinya dengan sebuah solusi. Ruang itu adalah pasangan di pernikahan itu. aku merasa beruntung sekali mempunyai istri yang cara berpikir kurang lebih sama denganku. Bahkan kalaupun ada sisi kekontrasan, hal itu berupa tentang cara memandang masa depan. Sebagai seorang yang pesimistis aku selalu besyukur mendapatkan seorang istri yang selalu menaruh harapan di masa depan, ia menggantungkan bintang yang berkelip dengan warna-warni indah ujung masa depan, lalu ia yakin ia bisa meraihnya. Berbeda sekali denganku, aku menganggap harapan adalah sebuah hal yang harusnya tak ada. Saat aku mulai berharap akan sesuatu aku menaruhnya di sebuah tempat yang aku sendiri tak tahu itu di mana, atau singkatnya ketika harapan mulai muncul aku dengan segera akan membuangnya ke jendela dan kemudian membuang jendela itu sekaligus.

Tetapi kekontrasan itu memang perlu. Karena menurutku indikator seorang perempuan yang baik untuk sebuah pernikahan adalah. Perempuan dapat mengkontrol hal-hal buruk tentang suaminya, bukan malah menuntut tetapi dia memberi atau bahkan bersama untuk mencari sebuah solusi dari permasalan, mencari arah untuk menjari jalan yang laing baik untuk menjalani hidup. Dan dalam setahun ini aku beruntung (aku menggunakan kata beruntung dua kali) sekali bisa bersama dengan wanita yang seperti itu.

Selamat hari jadi untuk kali pertama dear, semoga semua akan baik-baik saja, kalaupun tidak, ya, kehidupan yang biasa-biasa saja juga tak terlalu buruk. 

Sebagai persembahan, aku sudah membuat sebuah puisi.


Peluk aku
Peluk aku, saat persendianku sudah mulai rapuh,
dan kau bilang menualah bersamaku.

Peluk aku, saat aku takut akan kematian,
dan kau bilang tak ada yang perlu ditakuti saat kita bersama.

Peluk aku, saat aku tak tahu arah mata angin,
dan kau bilang saat kau yakin pada keyakinanmu tak perlu takut tersesat.

Peluk aku, saat aku tak mempunyai cara untuk menyebrangi sungai,
dan kau datang membawa sebuah batang pohon.

Peluk aku, saat aku tak percaya dengan kebahagian,
dan kau bilang jika kebhagiaan adalah omong kosoong lalu
kasih sayang dan cinta saat bersamamu ini bernama apa?

Peluk aku saat semua warna menjadi hitam,
dan kau bilang kita akan abadi bersama cinta.

Peluk aku, maka dunia akan baik-baik saja.

-Teguh untuk seseorang yang begitu spesial: Ros-

sumber gambar: google

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review Novel Jakarta Sebelum Pagi by Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

Sebelum memulai ke pertunjukan utama anggap saja ini sajian pembuka, seperti band pembuka di sebuah konser akbar. Ada beberapa hal yang menurut saya (sebagai pembaca) mengganjal dalam hati mengenai novel ini (selain covernya yang sedikit mirip dengan novel i'll give u the sun) Yang pertama adalah, beberapa hal yang menurut saya harusnya dipersingkat, dengan arti lain adalah beberapa bagian novel ini mempunyai informasi yang diulang-ulang, walaupun tidak membosankan, tetapi demi menghemat kertas, biaya produksi, dan tingkat kebosanan pembaca harusnya bisa dipersingkat saja. Misalnya dalam penjelasan mengenai teh. Percakapan yang berkaitan tentang teh beberapa bagian diulang-ulang, walaupun dengan kalimat yang berbeda tetapi saya merasa itu mempunyai informasi yang sama. Karena jika penulis ingin menjadikan ‘teh’ sebagai sarana pengantar cerita saya rasa porsi dalam novel tersebut bisa dipangkas lagi, toh beberapa bagian hanya berisikan informasi yang mungkin ingin menunju...

Mengulik Makna Dari Lagu 'Merah' Efek Rumah Kaca

Eka kurniawan dalam sebuah jurnal onlinenya pernah menerbitkan sebuah cerpen tentang sebuah perlawanan, inti dari cerpen tersebut adalah tentang sebuah pemuda (mahasiswa) yang ingin melakukan sebuah aksi (perlawanan) untuk menjatuhkan sebuah kekuasaan (rezim) yang menurutnya sudah tidak pantas lagi untuk berkuasa. Cerita itu berakhir tragis dengan tokoh utama yang tiba-tiba hilang tak tahu ke mana, entah mati atau hidup. Menghilang tiba-tiba. Dalam sejarah Indonesia sendiri, sebuah perlawanan sudah mondar-mandir dicacat oleh tinta sejarah. Peristiwa orang Surabaya yang membunuh jendral Mallaby dan kemudian berimbas pada pertempuran tiga hari tiga malam di kota tersebut hingga kemudian hari tersebut ditetapkan sebagai hari pahlawan oleh Ir Soekarno guna menghargai mereka-mereka yang sudah gugur, misalnya. Atau perebutan Irian Barat dengan Belanda. Bahkan kemerdekaan bangsa Indonesia tak lain dan tak bukan adalah buah dari sebuah perlawanan. Perlawanan tak hanya dilakukan dengan...

Catatan Banjir Jakarta Februari 2017

Hujan turun sejak jam tiga dini hari (21 februari 2017), jam setengah empat pelataran rumah sudah terlihat genangan air, jam empat lebih air mulai menaiki tangga-tangga rumah. Kira-kira pas adzan subuh atau sekitar jam lima pagi air mulai masuk ke rumah-rumah warga. Beberapa orang sudah berada di depan rumah masing-masing berjaga, ada juga yang menggedor-gedor tetangga, khawatir masih ada orang yang belum bangun. Sekitar jam setengah enam sampai jam tujuh pagi air sudah benar-benar menguasi seisi rumah. Sementara sebelumnya, warga sudah mengamankan benda-benda yang mereka anggap penting. Benda elektronik, kulkas, mesin cuci, kompor. Surat-surat tanah, pakaian, atau hal yang kira-kira bisa rusak terkena banjir. Termasuk motor yang diungsikan dengan cara bergotong-royong mengangkat secara bergantian. Jam enam sampai jam tujuh hujan bisa dikatakan sedang lebat-lebatnya, langit masih gelap tidak seperti biasanya, barang-barang sudah naik ke singgahsana yang lebih tinggi. Banjir ka...