Novel ini
adalah novel kedua dari penulis muda Sabda Armandio Alif, novel pertamanya
berhasil menuai banyak pujian dari berbagai media, termasuk dinobatkan sebagai
salah satu novel terbaik versi majalah rolling stones indonesia tahun 2015.
Dibandingkan novel pertamanya, Dio sepertinya sedang bermain-main dengan caranya menghidupkan karakter, novel pertamanya hanya ada dua tokoh protagonis yang namanya hanya disebutkan dengan “Aku dan Kamu” saja. Sedangkan di novel terbarunya dia mulai mengembangkan beberapa karakter yang sepertinya berhasil. Mereka seakan-akan tumbuh menjadi manusia sungguhan, mempunyai wujud dan karakter yang berbeda-beda di pikiran saya.
Berbicara
tentang karakter, dibandingkan dengan Novel ‘Semua Ikan Di Langit’ karya Ziggy
Z, novel ini, menurut saya lebih baik dalam segi penciptaan karakternya. Sedikit
Informasi, baik novel Ziggy maupun Dio, keduanya berhasil menjadi juara dari
sayembara tahunan DKJ (Dewan Kesenian Jakarta).
Secara garis
besar novel ini bercerita tentang seseorang yang akan merampok toko emas. Saat
ingin merampok si tokoh utama merasa kurang mampu, untuk itu dia merasa
memerlukan bantuan untuk melaksanakan aksinya tersebut.
Tokoh
utamanya bernama Gaspar. Ini yang unik, Gaspar ini diceritakan seakan-akan
seorang yang jahat, dia sendiri juga merasa dirinya adalah bukan orang yang
baik.
Tetapi,
apakah benar Gaspar orang jahat?
Saya akan
mencoba menganalisa hal tersebut. Ada banyak hal yang bisa dijadikan referensi bahwa
Gaspar bukanlah pria jahat, dia lebih tepat dikatakan sebagai pria baik-baik
dan punya budi pekerti yang luhur.
Diantaranya
saat dia melarang Afif untuk tidak merokok saat naik motor karena bisa melukai
pengendara di belakangnya dan kesal melihat anak sekolah yang sedang membolos
(saya lupa ada di halaman berapa), kemudian saat dia membantu Ibu Tati S yang
akan memasang lampu, kemudian saat dia membantu Afif saat berebut tiket konser
Budi Alazon.
Hal-hal tersebut menunjukan seorang Gaspar yang sesungguhnya, orang yang peduli terhadap orang lain.
Hal-hal tersebut menunjukan seorang Gaspar yang sesungguhnya, orang yang peduli terhadap orang lain.
Kemudian
lanjut ke tokoh yang lainnya.
Sebuah Motor kepunyaan
Gaspar yang mempunyai nama Cortazar, nama yang (katanya) diambil dari salah
satu novelis Argentia Julio Cortázar.
“Binter Merzy keluaran 1976 ini dirasuki Jin Citah.
Selain bisa menentukan pilhan sendiri... Di saat senggang ia meluberkan olnya
ia berbagai tempat sebagai penada teritori. Ia hobi berteriak keras-keras di
terowongan Pasar Minggu (Jakarta Selatan)... (Awal bab 4)”
Begitulah
deskripsi tentang Cortazar. Dalam cerita, Gaspar percaya bahwa Cortazar
memiliki kehendak bebas untuk memilih, dia tidak usah diatur-atur, akan berbelok
sesuka hatinya sendiri.
Saya merasa
Dio seolah-olah menyindir orang-orang jaman sekarang yang hidup dengan
aturan-aturan yang membatasi ruang gerak, kreativitas, ide-ide, dan fitrah
mereka sebagai manusia untuk berkehendak bebas. Melalui Cortazar, kita dibuat berpikir
bahwa sebuah motor yang benda mati saja punya kehendak bebas, sedangkan kita
yang sebagai manusia sejak sekolah, kuliah, hingga saat bekerja kita dibatasi
oleh aturan-aturan yang kita sendiri terkadang malas untuk mematuhi, tetapi mau
tak mau harus tunduk pada aturan itu. Satire sekali.
Beralih ke
karakter Wan Ali.
Karakter ini
diceritakan sebagai seorang yang brengsek (brengsek secara harfiah) dia adalah
keturunan arab. Tukang kawin, dia juga rela melakukan apapun untuk mendapatkan
hal-hal yang ia inginkan, termasuk menjual (menikahkan) anaknya kepada seorang
teman berusia lanjut yang kaya raya, walapun temannya tersebut menderita
penyakit kelamin ia tak peduli setan. Dan pada akhirnya anak Wan Ali tersebut
meninggal karena tertular penyakit kelamin tersebut.
Kalau ini,
sepertinya Dio ingin mengatakan bahwa “Tidak
semua orang Arab baik, tidak semua orang yang kita anggap baik adalah orang
baik sesungguhnya, orang baik tidak bisa dilihat dari nama, pakaian, harta
maupun gelar. Orang baik dinilai dari cara dia hidup dengan manusia lainnya”
begitu kira-kira, maaf kalau terlalu berandai-andai.
Setelah segi
karakter saya akan mencoba masuk ke ruang ceritanya.
Di awal saya
sudah sedikit membocorkan tentang garis besar isi cerita tentang novel ini:
tentang pencurian toko emas.
Saya akan mencoba sedikit sok tahu pada tahap ini, saat
selesai sampai di halaman terakhir, saya merasa ada yang janggal. Yaitu tentang judul yang memuat kata 'Detektif' di
mana letak cerita detektifnya, keseluruhan cerita lebih tepat dinamai cerita
krimanal saja. Setahu saya seorang detektif tugasnya menuntaskan sebuah
teka-teki yang harus dipecahkan. Menyingkap dan membuka peristiwa yang
terselubung.
Beberapa saat
kemudian saya baru sadar, bahwa si pembaca sendirilah yang menjadi detektif
tersebut, bukan si tokoh utamanya: Gaspar.
Cerita perampokan yang dilakukan Gaspar dkk hanya sebagai petunjuk. Petunjuk yang diuraikan tercecer di delapan bab buku ini.
Lalu apa
teka-tekinya...
Teka-teki
tersebut sudah dibocorkan di halaman-halaman awal, tenang penemuan sebuah mayat
yang sudah membusuk yang sudah tidak bisa dikenali lagi identitasnya.
Siapakah
mayat tersebut?
Ini
teka-tekinya. Cerita berlanjut dengan alur mundur, mengingat hal-hal yang sudah
terjadi, dan dari cerita tersebut petunjuk-petunjuk akan bermunculan, mungkin
memang Dio sengaja agar pembaca dapat menyimpulkan sendiri pada akhir
bacaannya, walaupun ada beberapa bagian yang mungkin juga sengaja dibuat agar
tiap-tiap pembaca mempunyai persepsi yang berbeda tentang siapakah identitas
sebenarnya dari mayat itu.
Tak hanya
identitas, tentang bagaimana mayat itu menjadi sebuah mayat (mati) juga akan
dipertanyakan secara tidak langsung. Entah dibunuh atau memang karena mati
secara alamiah. Saya sendiri sudah mempunyai jawaban tentang semua itu, tetapi
tak akan saya ungkapakan di sini. Terlalu spoiler.
Tentang
teka-teki sudah, kembali ke alur cerita novel.
Novel ini salah
beberapa bagian ceritanya adalah tentang transkrip wawancara tersangka dengan
seorang yang sepertinya adalah polisi.
Wawancara,
kemudian diselingi cerita.. begitu seterusnya diulang-ulang.
Menurut Dio
saat menghadiri diskusi bukunya di daerah Karawang, teknik penulisan seperti
ini juga sudah dilakukan oleh penulis lawas, walaupun saat acara diskusi
tersebut Dio lupa dengan nama penulis dan judul bukunya. Katanya, ia terinspirasi
oleh novel klasik itu.
Bagian yang
paling berkesan bagi saya adalah saat Gaspar menghentikan perjalanannya guna
membantu seorang Nenek yang akan memasang lampu rumahnya yang mati. Masih
ingatkan di bagian awal saya berkata bahwa Gaspar sebenarnya adalah orang yang
baik. Ini salah satu buktinya.
Dan ini ada
hubungannya, lagi-lagi, saat menuju bagian akhir saya baru sadar bahwa saat
bertemu pertama kali dengan nenek tersebut Gaspar tahu bahwa ia dan nenek
tersebut pernah mengalami hal yang emosional di masa lampau, Gaspar masih ingat
orang-orang yang berjasa dalam hidupnya, ia tahu caranya balas budi. Adegan
pertemuan nenek yang bernama Tati S dengan Gaspar itu memang terjadi di
awal-awal bab sehingga cerita seolah biasa saja, tetapi saat menuju akhir
cerita saya baru Ngeh tentang
hubungan nenek dan Gaspar pada masa lalu itu.
Keseluruhan
cerita, kalau boleh saya gambarkan, ia seperti lingkaran yang utuh dan berbentuk
sempurna. Pada tahap awal ia hanya bergerak melengkung kemudian terus menerus
berbelok membentuk sebuah pola dan pada tahap-tahap akhir kita baru sadar ia
akan terhubung dan menjadi lingkaran yang utuh. Setiap cerita terintegrasi satu
sama lain.
Sedikit
bocoran lagi tentang isi cerita, di bab-bab awal (saya lupa lagi ada halaman
berapa.. hee) Ada seorang anak SMA dengan temannya yang mengendarai mobil
Datsun kuning, ia sedang membolos, yang saya cerita bahwa Gaspar kesal melihat
anak yang membolos di awal tadi. Nah, kalau yang membaca novel pertamanya Dio,
pasti akan langsung berpikir kalau anak SMA dan temannya tadi adalah tokoh ‘Aku dan Kamu.’ Nyambung, jadi seakan-akan penulis menciptakan sebuah dunia
tentang cerita dan tokoh-tokohnya itu. Seperti dunianya Marvell, atau
cerita-cerita anime yang mempunyai semestanya sendiri.
Kemudian
tentang logika bercerita tentang novel ini, ada beberapa hal yang saya suka dan
ada beberapa hal yang menurut saya terlalu dipaksakan agar jalan cerita tetap
dalam koridornya.
Logika cerita
yang saya sukai adalah bagaimana Gaspar mempunyai
pengetahuan yang amat luas sekali. Dia tahu tentang tokoh musisi, artis,
politikus, tempat-tempat bersejarah di dunia, kejadian di dunia beserta waktu
kejadianya, patung bersejarah, bahasa maupun suku-suku di dunia. Tahu banyak sekali.
Pertama saya
sempat merasa aneh, bagaimana seorang pengangguran bisa tahu banyak hal. Aneh banget..
Tetapi ada
bagian yang menjelaskan tentang semua itu, walaupun tidak secara langsung.
Ternyata Gaspar mendapatkan semua pengetahuan itu karena ia pernah merubah
garasi di rumahnya menjadi perpustakan. Katanya, ia tidak suka membaca tetapi
ia senang melihat orang lain senang, ia juga tidak peduli orang yang meminjam
bukunya tanpa niat untuk mengembalikan. Semacam ketulusan yang aneh, ya. Bagian
ini lucu sekali, menurut saya. Bagian favorit.
Diawali dari kepergian
sang ayah pada saat Gaspar berusia 19 tahun, kemudian ia merasa dirinya amat kesepian, ia merasa harus melakukan sesuatu guna menaklukan rasa sepinya itu.
Oh iya, ada diksi yang menarik di bagian ini, tentang sebuah kebebasan yang tanpa batas tetapi tanpa batas itu justru mengakibatkan rasa sepi yang teramat dalam.
Menginjak usia 16 aku berhadapan dengan kebebasan, yang
ternyata sepi dan menakutkan.
Kau bebas melakukan apa pun, tak ada yang mengendalikanmu. Tapi kau merasa kesepian karenanya. Bayangkan sebuah peti mati penuh bawangmerah, dan kau menyeretnya di sepanjang pantai yang tak satu pun turis. Ombak menggelitik telapak kakimu, seperti meledek, kau menendang mereka, tetapi mereka kembali lagi secara faali. Sebuah pantai yang melulu pasir, tanpa gunung atau pun yang membatasi pandanganmu.
Sebuah penjara tanpa tembok. (hal 166)
Kau bebas melakukan apa pun, tak ada yang mengendalikanmu. Tapi kau merasa kesepian karenanya. Bayangkan sebuah peti mati penuh bawangmerah, dan kau menyeretnya di sepanjang pantai yang tak satu pun turis. Ombak menggelitik telapak kakimu, seperti meledek, kau menendang mereka, tetapi mereka kembali lagi secara faali. Sebuah pantai yang melulu pasir, tanpa gunung atau pun yang membatasi pandanganmu.
Sebuah penjara tanpa tembok. (hal 166)
Lanjut
tentang ayah Gaspar yang meninggal.. saat mendapati ayahnya meninggal, hal yang
dilakukan Gaspar keesokan harinya adalah menghabiskan uang warisan dari sang
ayah.
Ia merasa bahwa uang yang ia dapatkan harus digunakan untuk mengusir sepi yang ia derita selama ini, kemudian Gaspar percaya bahwa buku bisa mengusir sepi maka ia menghabiskan semua uang warisan itu untuk membeli buku.
Ia merasa bahwa uang yang ia dapatkan harus digunakan untuk mengusir sepi yang ia derita selama ini, kemudian Gaspar percaya bahwa buku bisa mengusir sepi maka ia menghabiskan semua uang warisan itu untuk membeli buku.
Ingin tahu berapa jumlah buku yang bisa ia beli...?
Ia menukar uangnya dengan 4000-an buku dan majalah, satu truk penuh.
Ia menukar uangnya dengan 4000-an buku dan majalah, satu truk penuh.
Ini yang saya
pikir mengapa Gaspar mendapatkan pengetahuan yang amat sangat luas, yang saya
sebutkan sebelumnya. Pengetahuan itu ia peroleh dari buku-buku yang ada di
sekelilingnya.
Kemudian,
masih tentang Gaspar yang mendirikan perpustakaan di rumahnya. Hal ini membuat
saya berpikir bahwa kadang memang kita harus melakukan seuatu tanpa rasa takut,
tanpa dibayangi rasa khawatir tentang hal yang akan terjadi nanti. Bebas
bertindak dan merdeka dari rasa khawatir. Seperti Gaspar yang menghabiskan
semua uang ayahnya untuk sesuatu yang ia inginkan. Pernah gak sih, kita menghabiskan satu bulan gaji kita dalam satu-dua hari
untuk hal yang benar-benar kita senangi,
misalnya. Melakukan hal-hal guna menghargai dan membahagiakan diri sendiri.
Pada bagian ini saya menangkap tentang itu.
Beralih ke
bagian yang menurut saya tidak pas, tidak saya sukai, tidak terlalu masuk akal.
Dan ya, mungkin harusnya tidak usah ditulis saja.
Bagian itu
ada di awal bab 6, saat mereka makan malam di sebuah warung pecel lele pinggir
jalan. Menurut saya, ini hanya menurut saya, loh ya...
Bagian ini banyak sekali basa-basinya, tidak terlalu berimbas ke cerita, ke benang merah alur utama cerita, kasarnya, ada atau tidak bagian ini tidak akan berpengaruh apa-apa terhadap jalannya novel Gaspar ini.
Bagian ini banyak sekali basa-basinya, tidak terlalu berimbas ke cerita, ke benang merah alur utama cerita, kasarnya, ada atau tidak bagian ini tidak akan berpengaruh apa-apa terhadap jalannya novel Gaspar ini.
Kemudian
selanjutnya adalah bagian di mana Gaspar mengajak atau membujuk Bu Tati untuk
bergabung dengannya guna melakukan kejahatan ke Wan Ali. Yang aneh adalah, pada
bagian-bagian sebelumnya, Bu Tati atau yang di juluki Pingi oleh Gaspar ini
adalah seorang nenek tua yang religius, semua pembicaraannya, tentang dosa,
neraka, akhirat dan hal kebaikan lainnya (seperti orang kebanyakan saat ini,
hee). Tetapi ia cepat sekali berubah pikiran untuk bergabung dengan Gaspar guna
berkomplot melakukan perampokan itu.
Hal 139,
begini cara Gaspar membujuk BuTati.
“Ah, ayolah. Tak seorang pun berpikir
mereka adalah orang jahat,” kataku. “Orang-orang baik melakukan hal jahat
beralasan apa yang dia lakukan demi kebaikan. Kita akan selalu menemukan
pembenaran terhadap apa pun. Kalau kau tak mau balas dendam, kau Cuma perlu
berpikir perampokan ini demi kebaikan bersama”
Dengan
satu-dua kali bujukan, Bu Tati langsung luluh, ini rada aneh kalau menurut
saya, walaupun terakhir Bu Tati bertanya kepada Yadi yang tak lain adalah
anaknya dan bawahan dari Wan Ali bahwa
apakah dia ingin menyikasa bosnya itu.
Sekali lagi
ini hanya menurut saya, tiap orang boleh berbeda-beda menginterpretasikan
cerita. Tapi percayalah, itu sama sekali tidak berpengaruh terhadap keselurahan
jalan cerita yang runut dan bagus.
Sedikit mengutip cuitan Dio melalui akun twitternya yang mengatakan:
“u beli barang buat menyenangkan u, saya
nulis buat menyenangkan sy
apa yg u senangi belum tentu sy senangi jd nga usah beli apa yg sy tulis hhe”
apa yg u senangi belum tentu sy senangi jd nga usah beli apa yg sy tulis hhe”
Sebuah twit
untuk orang-orang yang mengkritik novelnya kali, ya.. hee
Bagi kalian
yang merasa pintar atau baik atau campuran keduanya saya sarankan untuk membaca
novel ini. Kalian akan dijadikan detektif untuk memecahkan masalah yang ada.
Walaupun banyak sekali bocoran cerita yang sudah saya tulis tetapi nyatanya itu
hanya secuil dari keseluruhan cerita yang ada.
Siapakah identitas
mayat yang saya ceritakan di awal, siapakah Pingi sebenarnya, ada hubungan apa
Pingi dengan Wan Ali, Pingi dengan Gaspar, Afif dengan Gaspar, kenapa Gaspar
ingin merampok toko emas, tetapi yang di rampok adalah sebuah kotak hitam bukan
emasnya. Dan yang palling seru adalah isi dari kotak hitam itu sendiri. Apakah
isinya? Bagaimana asal-usulnya?
Untuk
menemukan semua jawaban itu, tentu saja kalian harus membacanya, jumlah halaman
dan fonttype dalam novel ini akan memudahkan pembaca untuk menyelesaikan semua
halaman dalam satu hari atau mungkin dalam beberapa jam saja.
Satu lagi, di
novel ini akan di jelaskan identitas dari tokoh yang selalu diagug-agungkan
Dio: Arthur Harahap. Di halaman berapa? Baiknya kalian sendiri yang menemukan.
Sekian...

Komentar
Posting Komentar