Langsung ke konten utama

Review Novel ‘24 Jam Bersama Gaspar—Siapakah Detektif yang Sesunguhnya’

sumber gb: Instagram

Novel ini adalah novel kedua dari penulis muda Sabda Armandio Alif, novel pertamanya berhasil menuai banyak pujian dari berbagai media, termasuk dinobatkan sebagai salah satu novel terbaik versi majalah rolling stones indonesia tahun 2015.

Dibandingkan novel pertamanya, Dio sepertinya sedang bermain-main dengan caranya menghidupkan karakter, novel pertamanya hanya ada dua tokoh protagonis yang namanya hanya disebutkan dengan “Aku dan Kamu” saja. Sedangkan di novel terbarunya dia mulai mengembangkan beberapa karakter yang sepertinya berhasil. Mereka seakan-akan tumbuh menjadi manusia sungguhan, mempunyai wujud dan karakter yang berbeda-beda di pikiran saya.

Berbicara tentang karakter, dibandingkan dengan Novel ‘Semua Ikan Di Langit’ karya Ziggy Z, novel ini, menurut saya lebih baik dalam segi penciptaan karakternya. Sedikit Informasi, baik novel Ziggy maupun Dio, keduanya berhasil menjadi juara dari sayembara tahunan DKJ (Dewan Kesenian Jakarta).

Secara garis besar novel ini bercerita tentang seseorang yang akan merampok toko emas. Saat ingin merampok si tokoh utama merasa kurang mampu, untuk itu dia merasa memerlukan bantuan untuk melaksanakan aksinya tersebut.
Tokoh utamanya bernama Gaspar. Ini yang unik, Gaspar ini diceritakan seakan-akan seorang yang jahat, dia sendiri juga merasa dirinya adalah bukan orang yang baik.
Tetapi, apakah benar Gaspar orang jahat?

Saya akan mencoba menganalisa hal tersebut. Ada banyak hal yang bisa dijadikan referensi bahwa Gaspar bukanlah pria jahat, dia lebih tepat dikatakan sebagai pria baik-baik dan punya budi pekerti yang luhur.

Diantaranya saat dia melarang Afif untuk tidak merokok saat naik motor karena bisa melukai pengendara di belakangnya dan kesal melihat anak sekolah yang sedang membolos (saya lupa ada di halaman berapa), kemudian saat dia membantu Ibu Tati S yang akan memasang lampu, kemudian saat dia membantu Afif saat berebut tiket konser Budi Alazon.
Hal-hal tersebut menunjukan seorang Gaspar yang sesungguhnya, orang yang peduli terhadap orang lain.

Kemudian lanjut ke tokoh yang lainnya.

Sebuah Motor kepunyaan Gaspar yang mempunyai nama Cortazar, nama yang (katanya) diambil dari salah satu novelis Argentia Julio Cortázar.

“Binter Merzy keluaran 1976 ini dirasuki Jin Citah. Selain bisa menentukan pilhan sendiri... Di saat senggang ia meluberkan olnya ia berbagai tempat sebagai penada teritori. Ia hobi berteriak keras-keras di terowongan Pasar Minggu (Jakarta Selatan)... (Awal bab 4)”

Begitulah deskripsi tentang Cortazar. Dalam cerita, Gaspar percaya bahwa Cortazar memiliki kehendak bebas untuk memilih, dia tidak usah diatur-atur, akan berbelok sesuka hatinya sendiri.

Saya merasa Dio seolah-olah menyindir orang-orang jaman sekarang yang hidup dengan aturan-aturan yang membatasi ruang gerak, kreativitas, ide-ide, dan fitrah mereka sebagai manusia untuk berkehendak bebas. Melalui Cortazar, kita dibuat berpikir bahwa sebuah motor yang benda mati saja punya kehendak bebas, sedangkan kita yang sebagai manusia sejak sekolah, kuliah, hingga saat bekerja kita dibatasi oleh aturan-aturan yang kita sendiri terkadang malas untuk mematuhi, tetapi mau tak mau harus tunduk pada aturan itu. Satire sekali.

Beralih ke karakter Wan Ali.

Karakter ini diceritakan sebagai seorang yang brengsek (brengsek secara harfiah) dia adalah keturunan arab. Tukang kawin, dia juga rela melakukan apapun untuk mendapatkan hal-hal yang ia inginkan, termasuk menjual (menikahkan) anaknya kepada seorang teman berusia lanjut yang kaya raya, walapun temannya tersebut menderita penyakit kelamin ia tak peduli setan. Dan pada akhirnya anak Wan Ali tersebut meninggal karena tertular penyakit kelamin tersebut.

Kalau ini, sepertinya Dio ingin mengatakan bahwa “Tidak semua orang Arab baik, tidak semua orang yang kita anggap baik adalah orang baik sesungguhnya, orang baik tidak bisa dilihat dari nama, pakaian, harta maupun gelar. Orang baik dinilai dari cara dia hidup dengan manusia lainnya” begitu kira-kira, maaf kalau terlalu berandai-andai.

Setelah segi karakter saya akan mencoba masuk ke ruang ceritanya.

Di awal saya sudah sedikit membocorkan tentang garis besar isi cerita tentang novel ini: tentang pencurian toko emas.

Saya akan mencoba sedikit sok tahu pada tahap ini, saat selesai sampai di halaman terakhir, saya merasa ada yang janggal. Yaitu tentang judul yang memuat kata 'Detektif' di mana letak cerita detektifnya, keseluruhan cerita lebih tepat dinamai cerita krimanal saja. Setahu saya seorang detektif tugasnya menuntaskan sebuah teka-teki yang harus dipecahkan. Menyingkap dan membuka peristiwa yang terselubung.
Beberapa saat kemudian saya baru sadar, bahwa si pembaca sendirilah yang menjadi detektif tersebut, bukan si tokoh utamanya: Gaspar.

Cerita perampokan yang dilakukan Gaspar dkk hanya sebagai petunjuk. Petunjuk yang diuraikan tercecer di delapan bab buku ini.

Lalu apa teka-tekinya...

Teka-teki tersebut sudah dibocorkan di halaman-halaman awal, tenang penemuan sebuah mayat yang sudah membusuk yang sudah tidak bisa dikenali lagi identitasnya.

Siapakah mayat tersebut?

Ini teka-tekinya. Cerita berlanjut dengan alur mundur, mengingat hal-hal yang sudah terjadi, dan dari cerita tersebut petunjuk-petunjuk akan bermunculan, mungkin memang Dio sengaja agar pembaca dapat menyimpulkan sendiri pada akhir bacaannya, walaupun ada beberapa bagian yang mungkin juga sengaja dibuat agar tiap-tiap pembaca mempunyai persepsi yang berbeda tentang siapakah identitas sebenarnya dari mayat itu.

Tak hanya identitas, tentang bagaimana mayat itu menjadi sebuah mayat (mati) juga akan dipertanyakan secara tidak langsung. Entah dibunuh atau memang karena mati secara alamiah. Saya sendiri sudah mempunyai jawaban tentang semua itu, tetapi tak akan saya ungkapakan di sini. Terlalu spoiler.

Tentang teka-teki sudah, kembali ke alur cerita novel.

Novel ini salah beberapa bagian ceritanya adalah tentang transkrip wawancara tersangka dengan seorang yang sepertinya adalah polisi.

Wawancara, kemudian diselingi cerita.. begitu seterusnya diulang-ulang.

Menurut Dio saat menghadiri diskusi bukunya di daerah Karawang, teknik penulisan seperti ini juga sudah dilakukan oleh penulis lawas, walaupun saat acara diskusi tersebut Dio lupa dengan nama penulis dan judul bukunya. Katanya, ia terinspirasi oleh novel klasik itu.

Bagian yang paling berkesan bagi saya adalah saat Gaspar menghentikan perjalanannya guna membantu seorang Nenek yang akan memasang lampu rumahnya yang mati. Masih ingatkan di bagian awal saya berkata bahwa Gaspar sebenarnya adalah orang yang baik. Ini salah satu buktinya.

Dan ini ada hubungannya, lagi-lagi, saat menuju bagian akhir saya baru sadar bahwa saat bertemu pertama kali dengan nenek tersebut Gaspar tahu bahwa ia dan nenek tersebut pernah mengalami hal yang emosional di masa lampau, Gaspar masih ingat orang-orang yang berjasa dalam hidupnya, ia tahu caranya balas budi. Adegan pertemuan nenek yang bernama Tati S dengan Gaspar itu memang terjadi di awal-awal bab sehingga cerita seolah biasa saja, tetapi saat menuju akhir cerita saya baru Ngeh tentang hubungan nenek dan Gaspar pada masa lalu itu.

Keseluruhan cerita, kalau boleh saya gambarkan, ia seperti lingkaran yang utuh dan berbentuk sempurna. Pada tahap awal ia hanya bergerak melengkung kemudian terus menerus berbelok membentuk sebuah pola dan pada tahap-tahap akhir kita baru sadar ia akan terhubung dan menjadi lingkaran yang utuh. Setiap cerita terintegrasi satu sama lain.
Sedikit bocoran lagi tentang isi cerita, di bab-bab awal (saya lupa lagi ada halaman berapa.. hee) Ada seorang anak SMA dengan temannya yang mengendarai mobil Datsun kuning, ia sedang membolos, yang saya cerita bahwa Gaspar kesal melihat anak yang membolos di awal tadi. Nah, kalau yang membaca novel pertamanya Dio, pasti akan langsung berpikir kalau anak SMA dan temannya tadi adalah tokoh ‘Aku dan Kamu.’ Nyambung, jadi seakan-akan penulis menciptakan sebuah dunia tentang cerita dan tokoh-tokohnya itu. Seperti dunianya Marvell, atau cerita-cerita anime yang mempunyai semestanya sendiri.

Kemudian tentang logika bercerita tentang novel ini, ada beberapa hal yang saya suka dan ada beberapa hal yang menurut saya terlalu dipaksakan agar jalan cerita tetap dalam koridornya.

Logika cerita yang saya sukai adalah bagaimana Gaspar  mempunyai pengetahuan yang amat luas sekali. Dia tahu tentang tokoh musisi, artis, politikus, tempat-tempat bersejarah di dunia, kejadian di dunia beserta waktu kejadianya, patung bersejarah, bahasa maupun suku-suku di dunia. Tahu banyak sekali.

Pertama saya sempat merasa aneh, bagaimana seorang pengangguran bisa tahu banyak hal. Aneh banget..

Tetapi ada bagian yang menjelaskan tentang semua itu, walaupun tidak secara langsung. Ternyata Gaspar mendapatkan semua pengetahuan itu karena ia pernah merubah garasi di rumahnya menjadi perpustakan. Katanya, ia tidak suka membaca tetapi ia senang melihat orang lain senang, ia juga tidak peduli orang yang meminjam bukunya tanpa niat untuk mengembalikan. Semacam ketulusan yang aneh, ya. Bagian ini lucu sekali, menurut saya. Bagian favorit.

Diawali dari kepergian sang ayah pada saat Gaspar berusia 19 tahun, kemudian ia merasa dirinya amat kesepian, ia merasa harus melakukan sesuatu guna menaklukan rasa sepinya itu.

Oh iya, ada diksi yang menarik di bagian ini, tentang sebuah kebebasan yang tanpa batas tetapi tanpa batas itu justru mengakibatkan rasa sepi yang teramat dalam.

Menginjak usia 16 aku berhadapan dengan kebebasan, yang ternyata sepi dan menakutkan.
Kau bebas melakukan apa pun, tak ada yang mengendalikanmu. Tapi kau merasa kesepian karenanya. Bayangkan sebuah peti mati penuh bawangmerah, dan kau menyeretnya di sepanjang pantai yang tak satu pun turis. Ombak menggelitik telapak kakimu, seperti meledek, kau menendang mereka, tetapi mereka kembali lagi secara faali. Sebuah pantai yang melulu pasir, tanpa gunung atau pun yang membatasi pandanganmu.
Sebuah penjara tanpa tembok. (hal 166)

Lanjut tentang ayah Gaspar yang meninggal.. saat mendapati ayahnya meninggal, hal yang dilakukan Gaspar keesokan harinya adalah menghabiskan uang warisan dari sang ayah.
Ia merasa bahwa uang yang ia dapatkan harus digunakan untuk mengusir sepi yang ia derita selama ini, kemudian Gaspar percaya bahwa buku bisa mengusir sepi maka ia menghabiskan semua uang warisan itu untuk membeli buku.
Ingin tahu berapa jumlah buku yang bisa ia beli...?
Ia menukar uangnya dengan 4000-an buku dan majalah, satu truk penuh.

Ini yang saya pikir mengapa Gaspar mendapatkan pengetahuan yang amat sangat luas, yang saya sebutkan sebelumnya. Pengetahuan itu ia peroleh dari buku-buku yang ada di sekelilingnya.

Kemudian, masih tentang Gaspar yang mendirikan perpustakaan di rumahnya. Hal ini membuat saya berpikir bahwa kadang memang kita harus melakukan seuatu tanpa rasa takut, tanpa dibayangi rasa khawatir tentang hal yang akan terjadi nanti. Bebas bertindak dan merdeka dari rasa khawatir. Seperti Gaspar yang menghabiskan semua uang ayahnya untuk sesuatu yang ia inginkan. Pernah gak sih, kita menghabiskan satu bulan gaji kita dalam satu-dua hari untuk hal  yang benar-benar kita senangi, misalnya. Melakukan hal-hal guna menghargai dan membahagiakan diri sendiri. Pada bagian ini saya menangkap tentang itu.

Beralih ke bagian yang menurut saya tidak pas, tidak saya sukai, tidak terlalu masuk akal. Dan ya, mungkin harusnya tidak usah ditulis saja.

Bagian itu ada di awal bab 6, saat mereka makan malam di sebuah warung pecel lele pinggir jalan. Menurut saya, ini hanya menurut saya, loh ya...
Bagian ini banyak sekali basa-basinya, tidak terlalu berimbas ke cerita, ke benang merah alur utama cerita, kasarnya, ada atau tidak bagian ini tidak akan berpengaruh apa-apa terhadap jalannya novel Gaspar ini.

Kemudian selanjutnya adalah bagian di mana Gaspar mengajak atau membujuk Bu Tati untuk bergabung dengannya guna melakukan kejahatan ke Wan Ali. Yang aneh adalah, pada bagian-bagian sebelumnya, Bu Tati atau yang di juluki Pingi oleh Gaspar ini adalah seorang nenek tua yang religius, semua pembicaraannya, tentang dosa, neraka, akhirat dan hal kebaikan lainnya (seperti orang kebanyakan saat ini, hee). Tetapi ia cepat sekali berubah pikiran untuk bergabung dengan Gaspar guna berkomplot melakukan perampokan itu.

Hal 139, begini cara Gaspar membujuk BuTati.

“Ah, ayolah. Tak seorang pun berpikir mereka adalah orang jahat,” kataku. “Orang-orang baik melakukan hal jahat beralasan apa yang dia lakukan demi kebaikan. Kita akan selalu menemukan pembenaran terhadap apa pun. Kalau kau tak mau balas dendam, kau Cuma perlu berpikir perampokan ini demi kebaikan bersama”

Dengan satu-dua kali bujukan, Bu Tati langsung luluh, ini rada aneh kalau menurut saya, walaupun terakhir Bu Tati bertanya kepada Yadi yang tak lain adalah anaknya dan bawahan dari Wan Ali  bahwa apakah dia ingin menyikasa bosnya itu.

Sekali lagi ini hanya menurut saya, tiap orang boleh berbeda-beda menginterpretasikan cerita. Tapi percayalah, itu sama sekali tidak berpengaruh terhadap keselurahan jalan cerita yang runut dan bagus.
Sedikit mengutip cuitan Dio melalui akun twitternya yang mengatakan:

“u beli barang buat menyenangkan u, saya nulis buat menyenangkan sy
apa yg u senangi belum tentu sy senangi jd nga usah beli apa yg sy tulis hhe”

Sebuah twit untuk orang-orang yang mengkritik novelnya kali, ya.. hee

Bagi kalian yang merasa pintar atau baik atau campuran keduanya saya sarankan untuk membaca novel ini. Kalian akan dijadikan detektif untuk memecahkan masalah yang ada. Walaupun banyak sekali bocoran cerita yang sudah saya tulis tetapi nyatanya itu hanya secuil dari keseluruhan cerita yang ada.

Siapakah identitas mayat yang saya ceritakan di awal, siapakah Pingi sebenarnya, ada hubungan apa Pingi dengan Wan Ali, Pingi dengan Gaspar, Afif dengan Gaspar, kenapa Gaspar ingin merampok toko emas, tetapi yang di rampok adalah sebuah kotak hitam bukan emasnya. Dan yang palling seru adalah isi dari kotak hitam itu sendiri. Apakah isinya? Bagaimana asal-usulnya?

Untuk menemukan semua jawaban itu, tentu saja kalian harus membacanya, jumlah halaman dan fonttype dalam novel ini akan memudahkan pembaca untuk menyelesaikan semua halaman dalam satu hari atau mungkin dalam beberapa jam saja.

Satu lagi, di novel ini akan di jelaskan identitas dari tokoh yang selalu diagug-agungkan Dio: Arthur Harahap. Di halaman berapa? Baiknya kalian sendiri yang menemukan.
Sekian...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review Novel Jakarta Sebelum Pagi by Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

Sebelum memulai ke pertunjukan utama anggap saja ini sajian pembuka, seperti band pembuka di sebuah konser akbar. Ada beberapa hal yang menurut saya (sebagai pembaca) mengganjal dalam hati mengenai novel ini (selain covernya yang sedikit mirip dengan novel i'll give u the sun) Yang pertama adalah, beberapa hal yang menurut saya harusnya dipersingkat, dengan arti lain adalah beberapa bagian novel ini mempunyai informasi yang diulang-ulang, walaupun tidak membosankan, tetapi demi menghemat kertas, biaya produksi, dan tingkat kebosanan pembaca harusnya bisa dipersingkat saja. Misalnya dalam penjelasan mengenai teh. Percakapan yang berkaitan tentang teh beberapa bagian diulang-ulang, walaupun dengan kalimat yang berbeda tetapi saya merasa itu mempunyai informasi yang sama. Karena jika penulis ingin menjadikan ‘teh’ sebagai sarana pengantar cerita saya rasa porsi dalam novel tersebut bisa dipangkas lagi, toh beberapa bagian hanya berisikan informasi yang mungkin ingin menunju...

Mengulik Makna Dari Lagu 'Merah' Efek Rumah Kaca

Eka kurniawan dalam sebuah jurnal onlinenya pernah menerbitkan sebuah cerpen tentang sebuah perlawanan, inti dari cerpen tersebut adalah tentang sebuah pemuda (mahasiswa) yang ingin melakukan sebuah aksi (perlawanan) untuk menjatuhkan sebuah kekuasaan (rezim) yang menurutnya sudah tidak pantas lagi untuk berkuasa. Cerita itu berakhir tragis dengan tokoh utama yang tiba-tiba hilang tak tahu ke mana, entah mati atau hidup. Menghilang tiba-tiba. Dalam sejarah Indonesia sendiri, sebuah perlawanan sudah mondar-mandir dicacat oleh tinta sejarah. Peristiwa orang Surabaya yang membunuh jendral Mallaby dan kemudian berimbas pada pertempuran tiga hari tiga malam di kota tersebut hingga kemudian hari tersebut ditetapkan sebagai hari pahlawan oleh Ir Soekarno guna menghargai mereka-mereka yang sudah gugur, misalnya. Atau perebutan Irian Barat dengan Belanda. Bahkan kemerdekaan bangsa Indonesia tak lain dan tak bukan adalah buah dari sebuah perlawanan. Perlawanan tak hanya dilakukan dengan...

Catatan Banjir Jakarta Februari 2017

Hujan turun sejak jam tiga dini hari (21 februari 2017), jam setengah empat pelataran rumah sudah terlihat genangan air, jam empat lebih air mulai menaiki tangga-tangga rumah. Kira-kira pas adzan subuh atau sekitar jam lima pagi air mulai masuk ke rumah-rumah warga. Beberapa orang sudah berada di depan rumah masing-masing berjaga, ada juga yang menggedor-gedor tetangga, khawatir masih ada orang yang belum bangun. Sekitar jam setengah enam sampai jam tujuh pagi air sudah benar-benar menguasi seisi rumah. Sementara sebelumnya, warga sudah mengamankan benda-benda yang mereka anggap penting. Benda elektronik, kulkas, mesin cuci, kompor. Surat-surat tanah, pakaian, atau hal yang kira-kira bisa rusak terkena banjir. Termasuk motor yang diungsikan dengan cara bergotong-royong mengangkat secara bergantian. Jam enam sampai jam tujuh hujan bisa dikatakan sedang lebat-lebatnya, langit masih gelap tidak seperti biasanya, barang-barang sudah naik ke singgahsana yang lebih tinggi. Banjir ka...