Ketika sampai
di lokasi jam menunjukan sekitar pukul tujuh tiga puluh malam, saya terlambat
setegah jam. Acara tersebut (20-Mei-2017)berlokasi di daerah Karawang, karena kebetulan saya
pernah bekerja di Karawang selama dua tahun jadi untuk mencari lokasi acara
tersebut saya tak perlu membuang-buang waktu yang lama.
Salah satu
alasan saya datang terlamabat adalah, saat di rumah saya sempat ragu. Apakah akan
berangkat atau tinggal di rumah saja menikmati malam minggu. Karena kebetulan
rumah saya di daerah timur Jakarta, jika dilihat dari maps jarak dari rumah dan
lokasi sekitar lebih kurang 50 km. Cukup jauh.
Tapi, setelah
menggunakan prinsip “Rasa penyesalan
yang datang karena tidak melakukan sesuatu hal yang telah direncanankan akan
lebih menyakitkan daripada menyesal karena telah mengerjakan apa yang telah direncanakan”
maka akhirnya saya memutuskan untuk pergi.
Lokasinya di
sebuah kafe, saat saya memasuki kafe tersebut suasana sudah cukup ramai, saya
juga melihat seorang pembawa acara yang sedang berbicara di depan, lalu saya
disambut oleh penyelenggara, yang kemudian mereka menawarkan sebuah buku yang
akan dijadikan bahan diskusi.
Acara
tersebut adalah acara tentang bedah buku terbaru dari salah seorang penulis
muda bernama Sabda Armandio Alif
atau yang biasa dipanggil Dio, bukunya berjudul 24 Jam Bersama Gaspar : Sebuah Cerita Detektif.
Saat panitia
mencari uang kembalian dari buku yang saya beli, saya sempat bertanya, “Mba,
bang Dio nya di mana?” kemudian saya ditunjukan ke suatu arah yang menunjukan
seseorang pria muda berkacamata dengan celana jeans biru dan kemeja hitam corak
putih. Dio ternyata sudah hadir sejak sore hari (info ini saya dapat dari
penyelenggara tanpa saya menanyakan).
Saya kemudian
mencari tempat duduk mengikuti acara yang sudah dimulai sekitar tiga puluh
menit yang lalu. Acara awal adalah bincang-bincang dan hal-hal yang lumayan
membosankan, ditambah seseorang penampil yang bernyanyi dan tidak bisa
membedakan antara nada Mi dengan nada Sol.
Saat pukul
delapan malam, acara inti dimulai. Sebuah diskusi pilates, sebelumnya Dio maju
ke depan untuk memberikan sambutan dan pembukaan berbicara tentang novelnnya, Dio
bercerita bahwa novel ini adalah sebuah novel yang, walaupun berjudul detektif,
tetapi cerita yang ada di dalamnya tidak sama seperti novel-novel detektif pada
umumnya, Dio bercerita ia juga terinspirasi dari cerita detektif ala Amerika
Latin yang tokoh utamanya sedikit alkoholic dan sedkit pembangkang, Dio
bercerita juga benih-benih karakter dalam novel ini, sebetulnya sudah ada
sebelum novel pertamanya (Kamu : Cerita yang Tidak Perlu Dipercaya).Setelah
selesai pembawa acara menilahkan Dio untuk kembali ke tempatnya. “Begitulah seharusnya buku (Dijadikan diskusi)”
kata Dio terakhir saat ingin balik ke kursinya.
Kemudian di
depan sudah ada dua orang, seorang Ibu-ibu yang berprofesi sebagai dosen sastra
universitas negri Karawang dan seorang pria berumur 30 tahunan yang mengaku
sebagai pustakawan. Mereka berbincang tentang novel 24 Jam Bersama Gaspar itu,
sang dosen, saya yakin sekali belum menyelesaikan bacaannya sampai halaman
akhir, dan pria pustakawan yang bajunya terlihat kekecilan itu berbicara
hal-hal dan tafsir-tafsirannya tentang novel itu, diskusi berlangsung menarik
sekali. Dan hal yang membuat saya sedih adalah saya tidak bisa membantah
ataupun mengiyakan apa yang dilontarkan pustakawan gemuk tadi karena jujur saya
belum sempat membaca buku itu.
Saat Ibu
Dosen dan Pria Pustakawan itu menyelesaikan deskripsi tentang tafsirannya, Dio
diundang ke depan oleh pembawa acara dan kemudian perkuliahan tentang isi
pikiran penulispun dimulai.
Momen ini
adalah momen terbaik menurut saya, Dio mengutarakan beberapa isi pikirannya,
dan...... Kebetulan saya mencacatnya sebagian yang menurut saya menarik,
berikut isi perkuliahan tersebut.
Saat maju
untuk kali kedua, Dio menjelaskan lagi, “Novel ini, seperti yang saya bilang tadi,
adalah sebuah cerita detektif yang berbeda, bukan berarti tidak ada unsur
detektif sama sekali” perkataan itu saya rasa adalah sebuah klarifikasi, karena
sebelumnya pustakawan mengartikan perkataan Dio sebelumnya (saat maju pertama
kali) bahwa novelnya tidak ada hubungannya sama sekali dengan cerita detektif.
Dio juga
mengatakan bahwa kita sebaiknya jangan hanya membaca melainkan memahami apa
yang kita baca “Tanpa banyak membaca
atau memahami apa yang kita baca semua tulisan kita akan jelek” katanya, selain itu Dio juga mengajak agar orang-orang
yang pandai berbahasa asing, Inggris khususnya, agar mulai mensibukan diri
untuk menerjemahkan karya-karya asing. Mungkin ini adalah kegelisahan Dio
tentang sedikitnya jumlah karya luar negeri yang telah diterjemahkan, dan Dio
juga berkata bahwa dia telah mendapatkan keutungan-keuntungan dari kegiatannya
yang sering menterjemahkan karya-karya asing.
Beberapa hal
yang menarik lainnya adalah ungkapan Dio yang mengatakan bahwa ia tidak percaya
sebuah ide tidak pernah datang dari ide sebelumnya, menurutnya sebuah ide pasti
terinspirasi atau sedikit mencuri
dari ide sebelumnya. Selain itu Dio juga berbicara tentang keyakinan seseorang
orang harusnya tidak menggangu keyakinan orang lain, motivasi dia menulis yang
ia ceritakan karena ingin mengetahui seberapa jauh kemampuan dirinya melangkah
atau mencapai sesuatu, dan juga tentang hukuman penjara yang menurutnya tidak
adil “Buatku penjara hanya institusi dan
bukan sebuah hukuman yang adil” katanya, ia menganggap mengingatkan
seseorang atas kesalahannya adalah sebuah hukuman yang paling mengena untuk
pelaku tersebut. Dan tentang menulis “Mengarang
(menulis cerita) itu seperti Tuhan, mengerti apa yang kamu ciptakan” imbuhnya.
Di akhir
acara saya sempat berbincang dengan Dio, sembari meminta dia mentandatangai kedua
buku yang sudah saya bawa. Disaat itu saya mengungkapkan bahwa saya adalah
salah seorang fans beratnya, saya selalu membaca blog kepunyaannya dan senang sekali bisa mempunyai
kesempatan bertemu langsung. Dan saya ingat sekali jawaban Dio saat saya
mengungkapkan itu “Wah, jangan dong mas”
dengan sedikit senyum. Dio memang
terkenal penulis muda yang sepertinya tidak ingin dirinya dijadikan sebagai
idola, dia merasa banyak yang lebih baik dari dirinya. Bagaimanapun itu setelah
sering membaca cerpen-cerpennya dan apalagi setelah melihat karakternya yang lowprofile sekali, saya semakin kagum. Buku
terbarunya kebetulan sedang saya baca, dan saya berharap bisa membuat
reviewnya.
Tentang novel
terbarunya, sebuah novel yang dilabeli dengan pemenang unggulan sayembara
tahunan DKJ, penerbit Mojok. “Sebuah novel
tentang tiga lelaki, tiga perempuan dan satu motor berencana merampok toko
emas. Semua karena kotak hitam” begitu uraian singkkat di sampul belakang
buku. Tentunya juga sebuah novel yang unik karena sejauh yang saya baca saya
baru membaca gaya bercerita dengan cara wawancara seperti novel Dio ini. Siapapun
harus membaca ini, saya pikir. Apalagi yang mengaku suka membaca. Untuk Dio,
tetap berkarya saya selalu menantikan karya-karya berikutnya.
-foto sendiri-

Komentar
Posting Komentar