Walaupun ku tidak bisa menjelaskan apa itu arti kebahagiaan, tetapi jika saat di alam kubur nanti malaikat memberi pertanyaan kapan ku merasakan kebahagiaan saat hidup, maka jawabannya adalah saat ini, sekarang.
Beberapa orang mengumpulkan kebahagiaannya dengan berbagai macam cara, mengisi saldo tabungan mereka dan menghabiskannya untuk traveling, tidur dan makan dan kemudian tidur sesudah makan, dan bangun karena lapar kemudian makan lagi. Dll.
Dalam hidup ada hal yang kau akan percaya jika dan hanya jika kau sudah merasakannya sendiri, bagaimanapun orang lain menjelaskan kau akan acuh, tetapi jika kau sendiri sudah mengalaminya kau akan bilang 'hee bener juga, ya.'
Meminum air soda bercampur paracetamol misalnya, kau mungkin tak akan percaya bahwa itu berbahaya sebelum kau membuktikannya sendiri. Tetapi, tentu saja kau tak perlu membuktikannya itu hanya akan membuatmu masuk ke liang lahat, minimal ke bangsal rumah sakit.
Seperti hal-hal tak kasat mata lainnya, kebahagiaan memang sulit dibuktikan, orang-orang yang terlihat bahagia bukan tidak mungkin hatinya sedang tersayat dan kemudian ia coba bungkus kepedihan itu dengan kebahagiaan yang ia tampakan sebagai gantinya. Tidak nyata bukan berarti tidak ada, kebahagiaan akan selalu ada walau sampai saat ini ku masih percaya apapun jenis kebahagiaannya ia tak akan lepas dari kecacatan, tidak ada kebahagiaan yang utuh sempurna, singkatnya.
Dan, cara mendapatkan sebuah titik kecil kebahagiaan itu adalah menikah. Seperti yang ku katakan di awal, kau mungkin tak akan percaya sebelum kau mengalaminya sendiri. Tetapi, buah dari pernikahan adalah kebahagian sepertinya adalah fakta, salah satu sebabnya mungkin, karena kau mempunyai pasangan yang bisa kau titipi separuh beban kecemasanmu melalui cerita sebelum tidur, atau kau bisa menikmati sebuah teh atau kopi panas di pagi hari tanpa perlu repot-repot membuatnya sendiri.
Salah seorang teman kerja, dulu, pernah memberi nasehat yang sudah kubuktikan kebenarannya. Percakapan beliau dan aku kira-kira begini.
(B untuk beliau, dan A untuk diriku sendiri)
B: "Menurut lu, kalo nikah cari pasangan yang kaya gimana"
A: "Duh, yang gimana ya, yang pasti lawan jenis, bang"
B: "Yang paling penting ga egois"
Kurang lebih seperti itu, nyatanya wanita egois memang mengerikan. Dan beruntung sepertinya ku tak menikahi seorang monster, maksudku wanita egois.
Setidaknya wanita ku nikahi itu, untuk seukuran wanita era milenia dia cukup sabar, mau berkomitmen tentang hal-hal yang menurutku krusial, menyamakan beberapa pandangan yang sebelumnya berbeda, saling memberikan pendapat yang seringnya aku tak mendengarkan dan yang terpenting tidak mirip monster.
Kebahagiaan yang nyata, tentu saja. Walaupun tak mudah untuk memutuskan pilihan untuk menikah dimasa muda, tetapi kebahagiaan itu tak bisa dirasakan jika seseorang menunda-nunda pernikahannya karena umur akan terus bertambah dan masa muda bukan siklus bulan purnama yang bisa berulang-ulang.
Bercerita tentang kebahagiaan yang kualami pasca menikah tentu masih banyak lagi, tapi saatnya berpindah ke jalur berikutnya.
24 tahun yang lalu, seorang wanita mungkin tengah merasakan kebahagiaan karena melihat seorang bayi laki-laki yang ia lahirkan melalui proses persalinan yang berat. Dengan menahan sedikit rasa sakit karena proses melahirkan, ia melihat bayi laki-lakinya tersebut, melihatnya dan kemudian mengambil nafas di udara dalam-dalam, nafasnya hampir habis karena pertempuran tadi, tapi kebahagian telah menghapus semuanya, anak laki-lakinya sudah lahir, umat manusia di bumi bertambah satu melalui rahimnya.
Suaminya kemudian menghampirinya, tak berbicara sepatah kata apapun, melihat benihnya yang kini berubah menjadi bayi laki-laki sehat, seketika itu kebahagiaan menular ke tubuhnya. Laki-laki itu tersenyum ke arah bayi tersebut lalu langsung berpindah ke arah sang wanita yang tak lain adalah istrinya, ia masih tersenyum. Kebahagiaan yang utuh, setidaknya untuk saat itu.
Bayi laki-laki itu, adalah diriku sendiri, dan pasangan suami istri itu tak lain adalah kedua orang tuaku.
Ku hanya berimajinasi, ingatanku tak bisa menjangkau masa-masa saat ku dilahirkan, adegan-adegan tersebut selalu ku lihat di film, karenanya ku menyimpulkan bahwa itu memang adegan yang nyata, dan bukan tak mungkin adegan di atas memang dialami oleh ayah dan ibuku saat itu.
Sebenarnya jika harus menghubungkan antara kebahagiaan dan ulang tahun ku tak tahu di mana letak kolerasi antara keduanya.
Ulang tahun sama sekali tak ada hubungannya dengan kebahagiaan, bahkan untuk orang-orang tertentu, ulang tahun hanya akan menimbulkan kecemasan. Katakalah untuk beberapa wanita, ibu-ibu muda, saat mereka ulang tahun mereka akan lebih giat mencari kosmetik mana yang kira-kira bisa mengurangi efek yang ditimbulkan oleh usia diwajahnya. Atau orang-orang yang menganggap merayakan ulang tahun adalah keburukan dan lalu beranggapan bahwa yang mengucapkan selamat kepadanya juga adalah buah dari keburukan itu sendiri, atau orang-orang yang memang sadar bahwa ulang tahun adalah peringatan akan batas umur yang tak selamanya ada: kematian (walaupun mengkhawatirkan sesuatu yang sudah pasti terjadi tidak ada gunanya, karena ia tak merubah apapun.)
Untuk saat ini ku memandang ulang tahun hanya sebagai, ya, hanya ulang tahun. Tak terlalu berarti apa-apa. Ia hanya sebuah siklus tahunan. Kau boleh setuju boleh tidak. Tapi setidaknya melalui cara pandang tersebut, memandang sesuatu dari sudut yang paling sederhana, menganggapnya sesuatu yang biasa-biasa saja, ku tak merepotkan diriku sendiri.
Tapi jika dipaksa untuk menghubungkan antara ulang tahun dan kebahagiaan. Mungkin ku akan akan bilang bahwa ulang tahun tahun ini cukup membuat bahagia karena sebuah pernikahan yang telah ku lalui. Dan mempunyai pasangan hidup yang sepertinya bisa menerima kondisi hidup terburuk sekalipun. Dan jika diberi kesempatan untuk berdoa di hari kelahiran ini, maka ku akan berdoa seperti biasanya (karena ulang tahun, ya, hanya sekedar ulang tahun) mungkin jika boleh, akan kutambah berdoa agar bisa menjadi suami yang baik, hanya itu.
Walaupun semua kebahagiaan ini tanpa didampingi oleh pasangan suami istri yang 24 tahun lalu melihat bayi laki-lakinya yang baru lahir, mereka lebih memilih untuk menjadi tanah lagi.'Tidak ada kebahagiaan yang tanpa cacat.' Tapi begitulah kehidupan, cara menyempurnakannya adalah dengan cara mengakhiri kehidupan itu sendiri. Aneh.
Beberapa orang mengumpulkan kebahagiaannya dengan berbagai macam cara, mengisi saldo tabungan mereka dan menghabiskannya untuk traveling, tidur dan makan dan kemudian tidur sesudah makan, dan bangun karena lapar kemudian makan lagi. Dll.
Dalam hidup ada hal yang kau akan percaya jika dan hanya jika kau sudah merasakannya sendiri, bagaimanapun orang lain menjelaskan kau akan acuh, tetapi jika kau sendiri sudah mengalaminya kau akan bilang 'hee bener juga, ya.'
Meminum air soda bercampur paracetamol misalnya, kau mungkin tak akan percaya bahwa itu berbahaya sebelum kau membuktikannya sendiri. Tetapi, tentu saja kau tak perlu membuktikannya itu hanya akan membuatmu masuk ke liang lahat, minimal ke bangsal rumah sakit.
Seperti hal-hal tak kasat mata lainnya, kebahagiaan memang sulit dibuktikan, orang-orang yang terlihat bahagia bukan tidak mungkin hatinya sedang tersayat dan kemudian ia coba bungkus kepedihan itu dengan kebahagiaan yang ia tampakan sebagai gantinya. Tidak nyata bukan berarti tidak ada, kebahagiaan akan selalu ada walau sampai saat ini ku masih percaya apapun jenis kebahagiaannya ia tak akan lepas dari kecacatan, tidak ada kebahagiaan yang utuh sempurna, singkatnya.
Dan, cara mendapatkan sebuah titik kecil kebahagiaan itu adalah menikah. Seperti yang ku katakan di awal, kau mungkin tak akan percaya sebelum kau mengalaminya sendiri. Tetapi, buah dari pernikahan adalah kebahagian sepertinya adalah fakta, salah satu sebabnya mungkin, karena kau mempunyai pasangan yang bisa kau titipi separuh beban kecemasanmu melalui cerita sebelum tidur, atau kau bisa menikmati sebuah teh atau kopi panas di pagi hari tanpa perlu repot-repot membuatnya sendiri.
Salah seorang teman kerja, dulu, pernah memberi nasehat yang sudah kubuktikan kebenarannya. Percakapan beliau dan aku kira-kira begini.
(B untuk beliau, dan A untuk diriku sendiri)
B: "Menurut lu, kalo nikah cari pasangan yang kaya gimana"
A: "Duh, yang gimana ya, yang pasti lawan jenis, bang"
B: "Yang paling penting ga egois"
Kurang lebih seperti itu, nyatanya wanita egois memang mengerikan. Dan beruntung sepertinya ku tak menikahi seorang monster, maksudku wanita egois.
Setidaknya wanita ku nikahi itu, untuk seukuran wanita era milenia dia cukup sabar, mau berkomitmen tentang hal-hal yang menurutku krusial, menyamakan beberapa pandangan yang sebelumnya berbeda, saling memberikan pendapat yang seringnya aku tak mendengarkan dan yang terpenting tidak mirip monster.
Kebahagiaan yang nyata, tentu saja. Walaupun tak mudah untuk memutuskan pilihan untuk menikah dimasa muda, tetapi kebahagiaan itu tak bisa dirasakan jika seseorang menunda-nunda pernikahannya karena umur akan terus bertambah dan masa muda bukan siklus bulan purnama yang bisa berulang-ulang.
Bercerita tentang kebahagiaan yang kualami pasca menikah tentu masih banyak lagi, tapi saatnya berpindah ke jalur berikutnya.
24 tahun yang lalu, seorang wanita mungkin tengah merasakan kebahagiaan karena melihat seorang bayi laki-laki yang ia lahirkan melalui proses persalinan yang berat. Dengan menahan sedikit rasa sakit karena proses melahirkan, ia melihat bayi laki-lakinya tersebut, melihatnya dan kemudian mengambil nafas di udara dalam-dalam, nafasnya hampir habis karena pertempuran tadi, tapi kebahagian telah menghapus semuanya, anak laki-lakinya sudah lahir, umat manusia di bumi bertambah satu melalui rahimnya.
Suaminya kemudian menghampirinya, tak berbicara sepatah kata apapun, melihat benihnya yang kini berubah menjadi bayi laki-laki sehat, seketika itu kebahagiaan menular ke tubuhnya. Laki-laki itu tersenyum ke arah bayi tersebut lalu langsung berpindah ke arah sang wanita yang tak lain adalah istrinya, ia masih tersenyum. Kebahagiaan yang utuh, setidaknya untuk saat itu.
Bayi laki-laki itu, adalah diriku sendiri, dan pasangan suami istri itu tak lain adalah kedua orang tuaku.
Ku hanya berimajinasi, ingatanku tak bisa menjangkau masa-masa saat ku dilahirkan, adegan-adegan tersebut selalu ku lihat di film, karenanya ku menyimpulkan bahwa itu memang adegan yang nyata, dan bukan tak mungkin adegan di atas memang dialami oleh ayah dan ibuku saat itu.
Sebenarnya jika harus menghubungkan antara kebahagiaan dan ulang tahun ku tak tahu di mana letak kolerasi antara keduanya.
Ulang tahun sama sekali tak ada hubungannya dengan kebahagiaan, bahkan untuk orang-orang tertentu, ulang tahun hanya akan menimbulkan kecemasan. Katakalah untuk beberapa wanita, ibu-ibu muda, saat mereka ulang tahun mereka akan lebih giat mencari kosmetik mana yang kira-kira bisa mengurangi efek yang ditimbulkan oleh usia diwajahnya. Atau orang-orang yang menganggap merayakan ulang tahun adalah keburukan dan lalu beranggapan bahwa yang mengucapkan selamat kepadanya juga adalah buah dari keburukan itu sendiri, atau orang-orang yang memang sadar bahwa ulang tahun adalah peringatan akan batas umur yang tak selamanya ada: kematian (walaupun mengkhawatirkan sesuatu yang sudah pasti terjadi tidak ada gunanya, karena ia tak merubah apapun.)
Untuk saat ini ku memandang ulang tahun hanya sebagai, ya, hanya ulang tahun. Tak terlalu berarti apa-apa. Ia hanya sebuah siklus tahunan. Kau boleh setuju boleh tidak. Tapi setidaknya melalui cara pandang tersebut, memandang sesuatu dari sudut yang paling sederhana, menganggapnya sesuatu yang biasa-biasa saja, ku tak merepotkan diriku sendiri.
Tapi jika dipaksa untuk menghubungkan antara ulang tahun dan kebahagiaan. Mungkin ku akan akan bilang bahwa ulang tahun tahun ini cukup membuat bahagia karena sebuah pernikahan yang telah ku lalui. Dan mempunyai pasangan hidup yang sepertinya bisa menerima kondisi hidup terburuk sekalipun. Dan jika diberi kesempatan untuk berdoa di hari kelahiran ini, maka ku akan berdoa seperti biasanya (karena ulang tahun, ya, hanya sekedar ulang tahun) mungkin jika boleh, akan kutambah berdoa agar bisa menjadi suami yang baik, hanya itu.
Walaupun semua kebahagiaan ini tanpa didampingi oleh pasangan suami istri yang 24 tahun lalu melihat bayi laki-lakinya yang baru lahir, mereka lebih memilih untuk menjadi tanah lagi.'Tidak ada kebahagiaan yang tanpa cacat.' Tapi begitulah kehidupan, cara menyempurnakannya adalah dengan cara mengakhiri kehidupan itu sendiri. Aneh.
Sumber gb:pribadi

Komentar
Posting Komentar