Langsung ke konten utama

Mie Instan

Acara tengah malam di sebuah stasiun televisi menampilkan seorang pembicara yang sepertinya adalah seorang motivator. Tepuk tangan selalu bergemuruh ketika sang motivator mengakhiri kata-katanya, dengan kata dan nada bicaranya yang khas sang motivator memberikan beberapa kalimat-kalimat yang hampir selalu diakhiri dengan kata ‘itu’. Acara tersebut cukup meriah, beberapa penonton yang masih menjadi siswa sekolah terlihat begitu menikmati sabda-sabda yang keluar dari mulut motivator tersebut.

Pada sebuah sesi, sang motivator berbicara tentang penyesalan di hari tua yang terjadi karena telah menyia-nyiakan masa muda. Tapi, menurutku pada akhirnya semua orang akan menyesal. Pemuda yang brengsek akan menyesal di hari tua karena telah memakai masa mudanya dengan keburukan, sedangkan pemuda yang lurus-lurus saja pun masa tuanya akan menyesal karena telah mejalani kehidupan yang membosankan. Sebuah hipotesa yang perlu dibuktikan lagi kebenarannya.

Tanyangan berganti iklan, iklan pertama menampilkan sebuah iklan rokok yang lebih mirip seperti lelocon kacangan para pelawak-pelawak jaman sekarang.
Iklan kedua menampilkan sebuah iklan makanan kucing yang kurasa jauh lebih menghibur dari pada iklan rokok tadi. Setelahku perhatikan lebih dalam, selain menghibur iklan makanan kucing itu juga sempat membuat pikiranku bingung seperkian detik. Sialan.

Dan iklan ketiga menayangkan sebuah iklan mie instan. Iklan mie selesai dan seketika itu pula kepalaku di tumbuhi oleh sebuah ide, dia serupa gelembung-gelembung air yang mendidih, kemudian menguap dan berubah bentuk menjadi kata-kata, dan kata-kata tersebut berbunyi : masak mie sepertinya boleh juga.

Aku segera beranjak menuju dapur. Walaupun sedikit malas aku tetap mengusahakan untuk bergerak, karena sang motivator yang kutonton tadi sempat berkata bahwa berkata sebanyak apapun keinginanmu, itu tak akan tercapai jika kau tak bergerak. Ternyata ada gunanya juga menonton acara motivasi.


Sebenarnya kata ‘menuju’ terlalu mewah untuk menggambarkan keadaan diriku yang kuceritakan tadi, jarak antara tempatku menonton tv dengan dapur hanya berjarak lima setengah langkah saja, atau selama dua detik  jika aku berniat untuk berlari, tapi buat apa berlari jika berjalan pun pada akhirnya akan sampai.

Tempat kost ku memang tak terlalu besar, lebih tepatnya sempit, mungkin seukuran dengan toilet di mall-mall perkotaan.

Tak banyak yang berubah sejak aku pertama masuk ke sini hingga sekarang. Sebuah tv beralaskan meja kecil yang kuletakan di samping  pintu kost, dan sebuah kompor beserta tabung gasnya. Kompor aku letakan berhadapan dengan pintu kamar mandi, sedangkan tabung gas ku letakan persis di bagian pojok dengan kanebo kering sebagai penutup atasnya.


Aku memasak stok mie instan yang terakhir. Aku juga lupa kapan membelinya, tapi setelah ku melihat tanggal kadarluarsanya, ternyata masih aman. Ternyata aku masih takut mati. Dan mati muda juga terlihat tak terlalu menyenangkan.

Sebungkus mie tak akan membuatmu merasa kekeyangan, tapi itu bisa saja membuat isi kepalamu dipenuhi kenangan-kenangan yang seharusnya sudah meleleh oleh waktu, tapi tetap saja berakar di kepalamu.

Tepat setelah mengakhiri waktu makan, roh-roh kenangan itu seakan-akan menjadi lebih ganas, mereka masuk menyelinap ke dalam otak dengan cara yang tanpa ku ketahui, kemudian mereka mulai menyambung simpul demi simpul kata- kata dari masa lalu, hingga itu menjadi sebuah cerita yang utuh dan lengkap untuk diceritakan.

***
“Aku lapar” katanya, itu kata pertamanya setelah selesai menonton film dari komputer jinjingku.

“Ya, aku akan masak mie” jawabku.

“Ingat, masukan bawang goreng pada bagian terakhir. Jika kau masukan bersamaan dengan bumbu saat awal, kau hanya membuat mie instanmu terasa aneh” ia menegur.

“Aku tak akan melakukan kesalahan untuk kali kedua”

Sekitar dua minggu yang lalu. Grace dan pacarnya datang ke tempat kostku. Pacarnya yang juga adalah temanku datang untuk mengembalikan sebuah novel klasik kepunyaan Pramoedia  dan ketika mengembalikan novel itu, kita sempat berdiskusi tentang manusia bebas. Di tengah-tengah perbincangan, tiba-tiba Grace menyela “Tidak semua manusia bisa menjadi manusia bebas, kau pikir mudah untuk hidup tanpa diperintah dan tidak memerintah? Kadang kita juga harus berdiskusi dengan hidup.”
Setelah melakukan perdebatan yang kebisingannya menyerupai suara monyet yang ingin kawin. Kita semua sepakat untuk melakukan hal yang lebih berguna dari pada berdebat yaitu memasak mie instan.

Sebagai tua rumah, tentu akulah yang melakukan pekerjaan memasak itu. Dan entah kebetulan atau tidak cara masakku menurut Grace salah. Sebelum pulang Grace sempat berjanji akan datang ke sini lagi untuk mengajariku cara memasak mie instan yang baik. Dan hari ini dia menepati janjinya tersebut, ia datang.

“Jadi kau selalu memasak mie sesuai dengan urutan yang disarankan?” tanyaku sembari menyiapkan mie instan yang akan ku masak.

“Tentu saja” jawabnya sembari memainkan keyboard komputer jinjingku kemudian “Kau harus ingat ini, sehebat apapun dirimu, kau tak akan memenangkan pertandingan jika kau tak mengikuti peraturan pertandingan tersebut.”

“Aku rasa memasak mie tak serumit itu” jawabku.

“Kau sendiri akan membuktikannya nanti”

“Entahlah, akhir-akhir ini kumerasa pikiranku sedang kacau, seakan-akan aku dan dunia adalah dua hal yang terpisah padahal kenyataannya aku berada di dalamnya. Seperti, dia adalah dia dan aku adalah kesepian” jawabku lalu “Dan sepertinya aku juga sudah tak percaya dengan semua orang, aku sudah mulai bosan dengan apa dan siapapun, termasuk kehidupan.”

“Akan kuceritakan sesuatu, sebuah cerita yang semoga saja ada hubungannya dengan keadanmu saat ini” Grace menghela nafas dan melanjutkan “Dahulu, di suatu tempat terdapat dalam sebuah peta terdapat Seorang Suci. Seorang Suci tersebut mendapat sebuah perintah langsung oleh Tuhannya, Seorang Suci diperintahkan untuk membuat sebuah perahu, ketika perintah Tuhan telah tersampaikan, Seorang Suci tersebut tak tahu harus berbuat apa. Ku tak tahu apa-apa, ku hanya tahu berbuat baik, berkutbah dan mengajak orang dalam kebaikan, begitu pikirnya. Kemudian perintah Tuhan datang lagi, Seorang Suci diharuskan membuat perahu dengan ukuran super besar. Perintah yang kedua itu semakin membuat dirinya bingung. Di tengah-tengah kebingungannya, Seorang Suci  akhirnya mengumpulkan para umatnya untuk membantunya berfikir. Namun nihil, sama sepertinya dirinya umatnya pun tak ada yang mengetahui bagaimana cara membuat sebuah perahu terlebih dengan ukuran yang besar”

“Dia seorang yang bodoh?” ku menyela sembari memberikan mie instan yang sudah matang.

“Belum mengetahui bukan berarti bodoh. Boleh kuteruskan?” pintanya sembari menghirup uap dari mangkuk mie instan. “Di diantara kekalutan dan kebingungan pikirannya, datang sebuah harapan untuk jalan buntu di kepalanya, seseorang datang ke padanya untuk meawarkan bantuan. Orang tersebut mengatakan bahwa dia bisa membantu Seorang Suci untuk membuat sebuah perahu besar. Orang tersebut berkata bahwa untuk membuat sebuah perahu dengan ukuran besar kita harus membuatnya dari sisi paling depan. Kemudian Seorang Suci tidak mengiyakan tidak pula menolak. Datang perintah Tuhan yang terakhir, Seorang Suci harus menaikan semua tumbuh-tumbuhan, semua jenis hewan dalam berpasang-pasangan dan semua umatnya. Perintah itu bersamaan dengan alasan kenapa Seorang Suci harus membuat kapal, akan ada sebuah banjir maha dasyat. Begitulah perintah Tuhan yang terakhir. Bersamaan dengan perintah Tuhan yang terakhir, bertambah pula kegundahan Seorang Suci. Disatu sisi ia harus segera melaksanakan perintah Tuhan, tetapi disisi lain ia belum tahu bagaimana cara melaksanakan perintah itu.”

“Kenapa dia tak bertanya kepada Tuhan tentang bagaimana cara membuat sebuah perahu?” tanyaku sembari menyusup kuah mie instan.

“Tentu saja dia bertanya, tetapi seperti biasa Tuhan selalu mempunyai misteriNya. Seorang Suci pernah bertanya dan Tuhan tak memberikan jawaban apapun” katanya singkat sedangkan tangannya asik menggulung-gulung mie dengan garpu.

“Lalu?”

“Akan kulanjutkan” Grace meniup mie “Setelah Tuhan menurunkan perintah yang terakhir, datang lagi seorang yang mengaku bisa membantunya untuk membuat sebuah perahu. Tak hanya membantu bahkan orang itu mengatakan bahwa ia juga bisa membuat perahu seorang diri tanpa bantuan siapapun. Tetapi, berbeda dengan orang pertama orang kedua tersebut menyarankan untuk membuat perahu dimulai pada bagian belakkang terlabih dahulu. Seperti biasa, Seorang Suci tak mengiyakan ataupun menolak bantuan orang tersebut. Waktu berlalu, banjir akan segera datang, dengan segala keterbatasannya akhirnya Seorang Suci membuat perahu dengan caranya sendiri. Mukjizat, begitu perkataan para umatnya. Tak disangka Seorang Suci yang sedari awal ragu akan kemampuannya akhirnya bisa menyelesaikan pekerjaannya untuk membuat sebuah perahu besar. Perahu telah siap, seperti perintah Tuhan, ia membawa semua tumbuh-tumbuhan, semua hewan dalam jumlah berpasang-pasangan dan semua umatnya. Pada saat ia mengajak semua umatnya, ada dua orang yang tak mau ikut dengan Seorang Suci tersebut, kedua orang itu adalah orang yang berniat membantu membuat perahu namun secara tidak langsung ditolak oleh Seorang Suci. Mereka merasa kecewa dan beranggapan perahu itu tak akan bertahan di tengah-tengah hujan, badai dan banjir besar. Mereka berpendapat bahwa semua perahu ditakdirkan untuk karam, termasuk perahu Seorang Suci tersebut” Grace menaikan mie ke mulutnya dan setelah mengunyah ia melanjutkan “Banjir akhirnya datang, perahu bisa mengambang dengan beban seberat itu, tetapi seperti yang telah dibayangkan oleh kedua orang sakit hati tadi. Kapal itu, setelah sekian lama berlayar akhirnya karam, diawali dengan beberapa bagian perahu yang bocor, kemudian disusul dengan lantai perahu yang tiba-tiba pecah hingga akhirnya kapal benar-benar karam. Sebagian penumpang perahu ada yang tak tertolong, sebagiannya lainnya selamat, termasuk Seorang Suci dan beberapa umatnya.” Ia menghela nafas panjang lalu menjangkau air minum yang telah kesediakan.

“Bagaimana nasib kedua orang yang tak mau ikut bersama Seorang Suci?” tanyaku setelah menyuapi mulutku dengan mie instan.

“Pertanyaan bagus” Grace melanjutkan “Ada yang bilang mereka mati karena terseret oleh banjir besar tersebut. Tetapi, ada yang mengatakan bahwa karena kebaikan mereka yang telah menawarkan bantuan  kepada Seorang Suci, Tuhan menyelamatkan mereka. Orang pertama, Tuhan menakdirkannya untuk tidur di dalam gua selama berabad-abad tanpa menua, tanpa merasakan haus dan lapar pula. Dan orang yang kedua, Tuhan menghidupkannya di dalam banjir tersebut. Dia hidup di dalam air. Dia bukan ikan bukan pula manusia, tubuhnya ikan kepalanya manusia, dia akan hidup selama umur dunia ini dan beberapa orang berkata bahwa air matanya bisa menjadi sebuah mutiara. Sebelumnya dia adalah seorang wanita.”

“Jadi kesimpulannya?” tanyaku lagi kali ini aku telah mengkhatamkan mie instanku, tak ada yang tersisa di mangkuk.

“Harus kusimpulkan juga?” tanyanya balik, sementara mie instanya tersisa setengah dan kurasa ia tak ada niat untuk menghabiskannya. Dia langsung meletakan mangkuk ke lantai.

“Aku sedang malas berpikir.”

“Kau tahu, kadang kau tak harus mendengarkan siapaun untuk melakukan sesuatu. Seseorang mungkin benar dengan pendapatnya tetapi tentang hidupmu kau harus percaya dengan dirimu sendiri. Kau harus hidup dan mati bersama-sama dengan keyakinanmu. Jangan sampai kenyakinanmu mengendap dan menguap terkikis waktu.”

“Manusia bebas seperti Minke di Bumi Manusia?”tanyaku.

“Mungkin, walaupun hidup kadang tak bebas-bebas amat, dan keyakinanmupun kadang tak sepenuhnya benar. Tapi ada kalanya kau harus percaya dengan dirimu sendiri” jawabnya.
“Oh iya Grace, bagaimana kabar pacarmu?”

“Toni mati dua hari yang lalu” jawab perempuan itu. Ia lebih memilih kata ‘mati’ daripada ‘meninggal’ seakan-akan kata itu memang ditakdirkan untuk ucapannya.

“Meninggal maksudmu?!!” aku sedikit kaget.

“Ya, mati” jawabnya lagi. Kali ini nada bicaranya datar seakan-akan kematian adalah sebuah hal yang biasa-biasa saja.

Sebelumnya Grace memang bercerita tentang semua anggota keluarganya yang telah mati, maksudku telah meniggal. Pertama ibunya kemudian disusul oleh Ayahnya yang meninggal bunuh diri satu bulan setelah Ibunya meniggal, Grace berkata bahwa ayahnya kemungkinan besar mengalami despresi akibat kematian ibunya. Dan terakhir kakak laki-lakinya yang meninggal karena over dosis obat-obatan terlarang. Saat mendengar itu aku sempat kaget namun Grace dengan tenang berkata “Suka atau tidak kau akan dipisahkan oleh seorang yang kau cintai. Entah kau yang pergi atau dia yang pergi meninggalkanmu. Dan percayalah, pada akhirnya semua orang akan pergi.”

***
Lampu tiba-tiba mati, sementara mie instan yang tadi berada di mangkok sekarang sudah berpindah ke dalam palung perutku. Aku beranjak, membuka pintu kost, melihat sekitar dan semua lampu masih menyala. Aku mengecek mesin token listrik. Habis. Sialan. Aku lupa mengisinya. Jam dua dini hari, ketika memeriksa dompet tak ada uang. Dan aku baru sadar kalau aku adalah seorang sarjana yang tahun kemarin lulus dan selama itu pula aku belum mendapat pekerjaan sama sekali.

Wajah Grace tiba-tiba muncul kembali, dan aku juga baru ingat bahwa dia telah meninggal sebulan yang lalu, ia meninggal dengan cara karena melompat dari lantai atas sebuah gedung bertingkat. Benar katanya, pada akhirnya semua orang akan pergi.
sumber gb:google

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review Novel Jakarta Sebelum Pagi by Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

Sebelum memulai ke pertunjukan utama anggap saja ini sajian pembuka, seperti band pembuka di sebuah konser akbar. Ada beberapa hal yang menurut saya (sebagai pembaca) mengganjal dalam hati mengenai novel ini (selain covernya yang sedikit mirip dengan novel i'll give u the sun) Yang pertama adalah, beberapa hal yang menurut saya harusnya dipersingkat, dengan arti lain adalah beberapa bagian novel ini mempunyai informasi yang diulang-ulang, walaupun tidak membosankan, tetapi demi menghemat kertas, biaya produksi, dan tingkat kebosanan pembaca harusnya bisa dipersingkat saja. Misalnya dalam penjelasan mengenai teh. Percakapan yang berkaitan tentang teh beberapa bagian diulang-ulang, walaupun dengan kalimat yang berbeda tetapi saya merasa itu mempunyai informasi yang sama. Karena jika penulis ingin menjadikan ‘teh’ sebagai sarana pengantar cerita saya rasa porsi dalam novel tersebut bisa dipangkas lagi, toh beberapa bagian hanya berisikan informasi yang mungkin ingin menunju...

Mengulik Makna Dari Lagu 'Merah' Efek Rumah Kaca

Eka kurniawan dalam sebuah jurnal onlinenya pernah menerbitkan sebuah cerpen tentang sebuah perlawanan, inti dari cerpen tersebut adalah tentang sebuah pemuda (mahasiswa) yang ingin melakukan sebuah aksi (perlawanan) untuk menjatuhkan sebuah kekuasaan (rezim) yang menurutnya sudah tidak pantas lagi untuk berkuasa. Cerita itu berakhir tragis dengan tokoh utama yang tiba-tiba hilang tak tahu ke mana, entah mati atau hidup. Menghilang tiba-tiba. Dalam sejarah Indonesia sendiri, sebuah perlawanan sudah mondar-mandir dicacat oleh tinta sejarah. Peristiwa orang Surabaya yang membunuh jendral Mallaby dan kemudian berimbas pada pertempuran tiga hari tiga malam di kota tersebut hingga kemudian hari tersebut ditetapkan sebagai hari pahlawan oleh Ir Soekarno guna menghargai mereka-mereka yang sudah gugur, misalnya. Atau perebutan Irian Barat dengan Belanda. Bahkan kemerdekaan bangsa Indonesia tak lain dan tak bukan adalah buah dari sebuah perlawanan. Perlawanan tak hanya dilakukan dengan...

Catatan Banjir Jakarta Februari 2017

Hujan turun sejak jam tiga dini hari (21 februari 2017), jam setengah empat pelataran rumah sudah terlihat genangan air, jam empat lebih air mulai menaiki tangga-tangga rumah. Kira-kira pas adzan subuh atau sekitar jam lima pagi air mulai masuk ke rumah-rumah warga. Beberapa orang sudah berada di depan rumah masing-masing berjaga, ada juga yang menggedor-gedor tetangga, khawatir masih ada orang yang belum bangun. Sekitar jam setengah enam sampai jam tujuh pagi air sudah benar-benar menguasi seisi rumah. Sementara sebelumnya, warga sudah mengamankan benda-benda yang mereka anggap penting. Benda elektronik, kulkas, mesin cuci, kompor. Surat-surat tanah, pakaian, atau hal yang kira-kira bisa rusak terkena banjir. Termasuk motor yang diungsikan dengan cara bergotong-royong mengangkat secara bergantian. Jam enam sampai jam tujuh hujan bisa dikatakan sedang lebat-lebatnya, langit masih gelap tidak seperti biasanya, barang-barang sudah naik ke singgahsana yang lebih tinggi. Banjir ka...