Tidak semua
buku nyaman untuk dibaca, tidak semua buku yang nyaman dibaca terbilang bagus,
tidak semua buku yang dianggap bagus dapat memberikan inspirasi. Namun, novel O
dari Eka kurniawan mencakup semua hal yang saya sebutkan tadi, setidaknya kesan
itulah yang saya dapatkan setelah membaca novel Eka yang satu ini.
Novel keempat
Eka Kurniawan yang hanya bejudul satu huruf ini diluncurkan ke pasar oleh penerbit Gramedia Pustaka Umum awal maret tahun 2016 ini, tetapi saya cukup beruntung karena bisa melakukan
preorder dan mendapat bubuhan tanda tangan Eka Kurniawan sendiri, walaupun
tanda tanganya sedikit lucu banyak anehnya (saya sempat menduga ini bukan tanda
tangan Eka yang sesungguhnya)
Berikut
penampakannya:
sumber gb: milik pribadi
Novel O sendiri
bercerita tentang seekor monyet yang bercita-cita ingin menjadi manusia. Tokoh monyet
yang bernama O (namanya memang satu huruf) mempunyai ambisi untuk menjadi
manusia sesungguhnya, O percaya bahwa dahulu bangsa monyet adalah seekor ikan,
dan seiring berjalannya waktu mereka akhirnya menjadi seekor monyet, dan ketika
menjadi seekor monyet mereka sudah tidak sadar lagi apa yang dialaminya ketika
menjadi seekor ikan.
O percaya
bahwa seekor monyet dapat menjadi manusia sempurna, dan ketika ia nantinya
sudah menjadi manusia ia sudah tak sadar lagi ingatannya ketika menjadi monyet hilang
semua. Dia akan menjalani hidup seperti manusia pada umumnya.
Keingingan O
untuk menjadi manusia sebenarnya bukan kehendaknya sendiri, dorongan kuat itu
muncul karena rasa cintanya yang begitu dalam terhadap kekasihnya yang sesama
monyet yang ia yakini sudah menjadi manusia sebelumnya, yaitu Entang Kosasih.
Dikehidupan
sebagai manusia, Entang Kosasih diceritakan sebagai seorang kaisar dangdut. Dan inilah
menurut saya alasan kenapa di bagian cover belakang buku dituliskan “TENTANG SEEKOR MONYET YANG INGIN MENIKAH
DENGAN KAISAR DANGDUT”
Secara garis besar memang novel ini bercerita tentang hal tersebut, tetapi dalam perjalanan kisah tersebut banyak sekali kisah yang sangat amat menakjubkan, Eka meramu semua dengan baik, meraciknya begitu bagus, merangkai kata-demi kata dengan sangat pas. Dialog-dialog yang ditulisnya dibuat dengan begitu nyata, begitu nyata, seolah-olah sebuah film sedang berlangsung di otak kita ketika sedang membaca novel ini.
Sedangkan sebagian besar setting yang diambil adalah
sebuah kota yang deskripsinya mirip dengan kota Jakarta.
Satu hal yang
saya kagumi dari novel ini adalah, jumlah karakter yang Eka ciptakan di dalam
cerita tersebut. Jika kalian kagum dengan karakter Thomas dalam Negeri Para Bedebah nya Tere Liye, atau
Dilan nya Pidi Baiq, atau tokoh-tokoh Supernova nya Dee. Maka kalian harus baca
Novel ini. Novel ini diisi dengan hampir dua puluh lebih karakter dan semuanya
hidup, karakter yang diciptakan Eka tak sepenuhnya berupa wujud manusia, mereka
sebagian besar adalah berbentuk hewan-hewan. Dan yang membuat kagum, terutama untuk saya,
adalah dialog-dialog yang Eka buat untuk menciptakan karakter-karakter itu sehingga mereka terasa begitu kuat dan hidup,
imaginasi kita langsung membuat sebuah layar dan menampilkan tokoh-tokoh yang Eka
bentuk.
Untuk cerita
sendiri novel ini begitu inspiratif (yang saya sempat sebutkan di awal: buku
yang memberikan inspsirasi).
Seperti tokoh
Kakak Tua yang selalu mengingatkan solat.
Kiai Sobirin yang begitu sabar dan setia menanti cinta sejatinya, kesabaran yang membuat saya sempat berpikir kisah ini adalah kisah nyata.
Dan masih banyak lagi yang lainnya.
Kiai Sobirin yang begitu sabar dan setia menanti cinta sejatinya, kesabaran yang membuat saya sempat berpikir kisah ini adalah kisah nyata.
Dan masih banyak lagi yang lainnya.
Sebagai novel
yang begitu apik, banyak kata-kata yang bisa dianggap sebagai quote, kata-kata
yang cukup berkesan, saya banyak sekali mencoret-coret buku ini untuk
menambahkan tanda di bagian kata-kata yang menarik, seperti:
“Kebahagian
memiliki jebakannya sendiri. Di ujung setiap bahagia, tak jarang bersemanyam
rasa perih” (hal 57)
“Hidup tanpa
resiko tak layak dijalani sayangku” (hal 233)
“Cinta tak
ada hubungannya dengan kebahagiaan, meskipun cinta bisa memberimu hal itu” (hal
251)
Dan kata-kata
yang sering diucapkan oleh Kirik teman O yang menurut saya kata terbaik: “Engga
gampang punya mimpi tinggi, karena bermimpi juga butuh nyali”
Untuk keseluruhan,
novel pertama yang saya baca di tahun ini, terbilang dapat meninggalkan kesan yang sangat
baik.
sumber gb: milik pribadi
hahaha eka kurniawan mah ga perlu diragukan lagi laaah. semua bukunya bagus
BalasHapus