“Mau langsung kita mulai?” Gadis belia bertubuh
mungil dan sekal itu langsung bertanya ketika ia baru masuk kamar kemudian
menutup pintu kamar.
Sementara sang pria tak menjawab sedikitpun, ia
hanya memandangi lantai kamar hotel yang bermotif hitam putih mirip papan catur.
“Hei.. kau hanya membuang-buang waktuku !!! Baiklah,
mungkin kau canggung, baru pertama kali hah? Santai saja, kau pasti akan
menikmatinya” ucap Gadis itu sembari membuka ikat rambutnya, kini tampilanya
terlihat begitu menggoda, rambutnya panjang bergelombang. Warna pirang di
beberapa bagian rambutnya kemudian ditambah pakaian dress putih mini yang membalut tubuhya, membuat ia begitu
meenggoda, kalau dilihat dari wajah dan perawakanya, gadis itu berusia sekitar
dua puluh tahunan. Masih muda.
Lelaki itu hanya melihat sekilas, menatap wajah
gadis belia itu kemudian memalingkannya lagi. Kali ini dia berganti menatap hiasan
dinding di kamar hotel, gambar kawanan kuda zebra.
“Ayolah, kau pikir hanya kau yang ingin mencari
kepuasan, urusanku tak hanya berhenti dibirahmu, kau benar-benar hanya akan
membuang waktuku!” kali ini gadis itu terlihat sedikit kesal.
...
Demi mendengar kata “waktu” untuk kali kedua, lelaki itu tiba-tiba teringat akan perkataan
gurunya saat ia kecil, saat ia masih mondok
di salah satu pondok pesantren kala itu “Demi
waktu, sesungguhnya manusia itu merugi”.
Dan tanpa diperintahkan, ingatannya tiba-tiba
langsung kembali pada masa-masa itu. Masa di mana ia mendalami ilmu agama
dengan amat tekun. Saat hari-harinya selalu diisi dengan melantunkan dan
menghafal ayat-ayat dalam Al Qur’an.
Kemudian samar-samar diingatanya wajah Abah dan Uminya,
wajah kedua orang tua yang telah membesarkanya.
Mereka memberinya nama Ismail, hanya Ismail. Mereka
berharap putranya akan menjadi seperti Nabi Ismail putra dari Bapak Para Nabi, Nabi Ibrahim as. Uminya, yang saat itu menjadi
satu-satunya santriwati lulusan Yaman meyakini bahwa mempunyai anak yang soleh
adalah salah satu jalan menuju kebahagiaan yang kekal. Pun Abahnya yang tak
lain adalah seorang pengajar di pesantren, ingin sekali mempunyai seorang anak
yang pandai agama saat ia besar kelak.
Waktu pun terus bergulir, tak terasa Ismail kecil
kini sudah tumbuh menjadi seorang remaja yang gagah, wajahnya cerah bersinar, dan
walalupun tanpa kasih sayang Uminya yang telah meninggal saat usinya genap
delapan tahun. Ismail tetap tumbuh menjadi pribadi yang santun nan tekun.
...
“Kau.. hei! sungguh benar-benar menyebalkan, ayolah
kau tak bersiap-siap mencari posisi yang enak? bahkan kau belum membuka bajumu”
bentakan gadis yang menggoda itu menyadarkan Ismail dari lamunan yang terhenti
dikematian Uminya saat itu.
“Iya” lelaki itu menjawab dengan amat singkat.
“Iya? Iya apa? Baiklah, baiknya aku juga tidak usah
terburu-buru agar aku juga bisa menikmatinya. Kita belum sempat berkenalan. Siapa
namamu? aku Berlian Antika, kau bisa memangilku Tika. Kau tahu, dengan nama itu
orang tuaku berharap aku menjadi seorang yang bernilai terhadap sesama dengan
cantik. Kalau boleh tahu, Siapa namamu?” Tika mendekati lelaki itu, ia sekarang
duduk bersampingan di satu kasur kamar hotel.
“Aku Ismail” jawab Ismail dengan mantap.
“Sebenarnya aku tak suka bertele-tele, tapi.. kau cukup
tampan, aku juga ingin tahu apa yang membuatmu sampai memesan orang sepertiku,
kau tak mempunyai pacar hah?” tanya Tika sembari tersenyum sinis.
...
Ingatannya kembali pada pondok pesantren itu,
saat Abahnya berkata “pacaran itu haram,
dosa. Kamu jauh-jauh terhadap ajaran
Yahudi itu.”
Kalimat itu Ia dapati tak kala sedang berdiskusi
dengan abahnya sebelum ia tidur, seusai tahlilan sepuluh tahun Uminya. “Lah wong Abah sama Umi mu aja nda ada
pacar-pacaran, langsung nikah karena Gusti Allah, karena sunahe kanjeng Nabi.”
Abahnya kembali, sembari mengelus-elus rambut Ismail yang kini sudah beranjak
dewasa. Delapan belas tahun.
Abahnya begitu sayang terhadap putra tunggalnya itu.
Tak pernah sekalipun Ia membentak atau memarahinya. Ia paham betul bagaimana
mendidik anak dengan cinta dan kasih sayang. Bahkan walaupum usianya sudah
dewasa, Ismail kadang masih diberi cerita-cerita sebelum tidurnya.
“Abah pengin crita le, dengarkan ya” Abah di suatu malam sebelum mereka beranjak
tidur.
Alkisah,
ada raja yang juahat buanget terhadap rakyatnya, nda punya belas kasih.
Serakah, kejem, dan tamak kekuasaan. Pajak pertanian tinggi, rakyat miskin ora
diperhatikan, pokoke nda punya rasa kasih sayang di hatinnya setitikpun.
Suatu
saat sang Raja kena sakit parah, sakitnya iki aneh. Sudah berobat di seluruh
tabib pelosok-pelosok kerajaan nda bisa-bisa, sudah diobati pake obat yang
paling manjur juga nda bisa. Aneh Tenan! Tapi, nda lama akhire salah seorang
tabib bisa nyembuhke. Tabib iku nyembuhke pake obat yang tiba-tiba muncul.
Obate iku ikan yang nda pernah ditemui sebelumnya. Ikan yang nda pernah ada di
perairan laut kerajaan, tapi tiba-tiba bisa muncul pas Raja jahat iku sakit.
Aneh to !
Raja
diobati, sehari dua hari,seminggu dua
minggu Raja bisa sembuh, sehat karena obat ikan itu. Raja berbuat jahat lagi,
berbuat seenake, semenah-menah.
Lah
terus, di kerajaan lain. Ada Raja yang yang berhati mulia. Bijaksana, adil,
suka nyenengke hati rakyate. Raja iku disayang banget sama rakyat. Hidup rakyat
makmur, bahagia pokoke. Kerajaan tentrem. Nda lama berselang Raja baik hati iku
juga sakit, sakit keras. Tabib palsu sampe tabib hebat nda ada yang bisa
nyembuhke Raja baik hati itu. Silih berganti Tabib. Akhire dari sekian banyak
tabib, ada Tabib yang ngerti obat dari sakite sang Raja baik hati. Obate itu
adalah salah satu jenis ikan yang biasa ada di laut kerajaan tersebut.
Tapi
le, pas dicari-cari nda ada ikan itu, padahal biasanya ikan iku guampang
buanget nangkepe. Lah iki boro-boro nangkep muncul aja nda, aneh to! Semua rakyat
mbantu nyari, tapi yo dilalah nda ketemu-ketemu juga. Hingga akhire sang Raja
baik hati itu pun meninggal dunia le, Raja mati.
“Kamu ngerti maksud ceritane Ismail?” tanya Abah
ketika sudah di ujung cerita.
“Mboten (tidak) Bah” Ismail lirih.
“Mboten (tidak) Bah” Ismail lirih.
“Gusti Allah itu maha adil” jawab Abah singkat.
“Adil Bah? tapi itu yang jahat ko bisa sembuh terus
yang bagus yang hatinya baik ko malah disiksa kena sakit terus meninggal” cetus Ismail.
“Adil le, iya.
Kesembuhan lan kemudahan raja jahat itu sengaja Allah kasih sebagai imbalan
atas sedikit kebaikan yang Raja telah dilakukan dulu, Allah ngebalese di dunia agar di akherat Raja
bisa dihukum tanpa ampun karena kejahatannya. Sedangkan Raja yang baik itu,
Allah kasih balesan atas secuil kesalahannya di dunia, agar pas dia meninggal
dia akan diberikan kenikmatan tanpa batas oleh Allah, nda ada siksaan
sedikitpun. Paham kowe le?” Abah
menerangkan jelas dan diakhiri dengan senyum.
“Nggeh (iya)
Bah” Ismail lirih sembari mengangguk tanda mengerti.
...
“Hei, hei.. Aku menjawab telepon dulu, kau silahkan
bersiap-siap” bentak gadis itu sekaligus
menyadarkan Ismail dari lamunannya, setelah mengucap kata ‘halo’ pada teleponnya, gadis itu lantas
keluar meninggalkan kamar.
...
“Bah, jangan lama-lama sakitnya bah, ayo cepet
sembuh. Ismail nda pengen sendiri,
Ismail butuh Abah” Ismail dengan tangisan kecil di sudut-sudut matanya.
“Kowe sudah besar le, ilmu agamamu sudah cukup bagus, Umimu pasti bakalan bangga
kalau melihatmu sekarang” Abah berucap dengan sedikit ngos-ngosan.
“Tapi bah, sakit paru-paru. Abah nda ngerokok, apa
lagi begadang tanpa guna, makanan juga nda pernah aneh-aneh. Tapi ko sakite
parah begini Bah? Nda sembuh-sembuh,
sudah tiga bulan Bah, apa Gusti Allah nda
sayang sama Abah apa?” kali ini Ismail benar-benar menangis, air matanya tak
kuasa ia tahan.
“Ismail, kowe dulu pernah Abah critani Raja becik (baik) dan Raja ala
(jahat) to? Apa kowe masih nda paham, jangan pernah berfikir buruk
sama Gusti Alllah le, nda baik,
mungkin karena abah sering bakar rumput kering tiap sore di pekarangan
pesantren jadinya kena sakit paru-paru ngene,
apapun nda penting le, yang penting tetep berfikiran baik maring Gusti Allah, Abah juga nda pernah marah saat Umimu meninggal
tiba-tiba karena sakit jantung, Abah nda
kebanyakan tanya ‘kenapa ngene kenapa
ngono’ itu wis jadi kehendak, Abah nrimo ikhlas mungkin akibat Umimu di
Yaman kehidupan atau pola makane
kurang sehat, tapi sing pasti Abah
ikhlas karena semuanya itu milik Gusti Allah le, Inna lilahi wainnailaihi roji’un, bakal kembali meneh ” Abah masih dengan nafas ngos-ngosan.
“Iya bah, ismail ngerti” Ismail mengusap air
matanya, sembari mengingat-ingat cerita tentang kedua Raja itu, cerita itu ia
dengar sekitar setahun yang lalu.
Dan akhirnya ketakutan terbesar ismail pun terjadi,
Tak lama setelah perbincangan itu,
Abahnya meninggal. Tinggalah ismail sebatang kara, seorang yatim piatu
diusia dua puluh tahun.
Dan Ismail masih dengan kesibukan di pesantrennya.
Belajar, mengaji, menerima ilmu yang diberikan oleh para pengajar, hingga pada
akhirnya ia pun bisa lulus pesantren, setara dengan tingkat SMA.
Setelah lulus, lambat laun kehidupan Ismail muda
mulai berubah, kehidupan di pondok pesantren sudah tak nyaman lagi menurutnya.
Kematian seorang Abah yang amat dicintainya membuat mentalnya sedikit demi
sedikit goyah.
Dan pada akhirnya, dia memutuskan meninggalkan
pondok, meninggalkan sarangnya demi mendapatkan kehidupan barunya. Ismail pergi
ke kota.
Gayung bersambut Ismail dengan sedikit kenalannya di
kota dan dengan segala sesuatu yang ia miliki, akhirnya bisa bekerja dan
memulai hidup baru, hidup di tengah kota, hidup yang berlimpah dengan ‘dunia’ yang dulu ia jauhi. Kebiasaan
mengaji Al Qur’an, solat malam, berdzikir tanpa henti di pagi buta. Semua itu
mulai hilang, mulai luntur digantikan dengan kesibukan-kesibukannya mencari
uang.
Hari berganti, musimpun demikian, kehidupan Ismail
telah berubah total. Sibuk dengan ‘dunia
megah’ barunya.
Hingga tibalah puncak kesalahannya, yaitu memesan
seorang wanita panggilan seperti malam ini.
Bunyi pintu kamar dibuka “Maaf telah membuatmu
menunggu, pelanggan yang satu itu memang tak sabaran. Mari kita lakukan, kalau
kau masih kaku, biar aku lemaskan, biar aku ajari kau” gumam wanita menggoda
itu sambil mendekati Ismail yang sedari tadi hanya duduk diam di atas tempat
tidur.
Iman Ismail tak sekuat dulu, imannya kini sudah
terkikis oleh rutinitas dunianya, Dan merekapun melakukanya, melakukan
perbuatan yang amat dilaknat oleh agama.
...
“Pa, silahkan di minum obatnya” Senyum ramah seorang
suster muda kepada Ismail.
Sapaan dan senyuman itu tak terjawab, Ismail hanya mengangguk pelan.
Sapaan dan senyuman itu tak terjawab, Ismail hanya mengangguk pelan.
Peristiwa itu terjadi sudah tiga tahun yang lalu,
kamar hotel, wanita cantik dan dirinya yang telah menjadi seorang pendosa
besar.
Ismail kini tengah berada di sebuah yayasan perawataan gratis yang dibiayai oleh Negara. Tubuhnya kini lemah tak berdaya.
Ismail kini tengah berada di sebuah yayasan perawataan gratis yang dibiayai oleh Negara. Tubuhnya kini lemah tak berdaya.
Semua cerita itu, Ia hanya bisa mengingatnya,
menyesalinya, dan mencoba berpikiran baik terhadap Tuhannya. Dengan selalu
mengingat cerita tentang Dua Raja jahat
dan Baik yang diceritakan oleh mendiang Abahnya dulu, Ia berharap dengan
sakit ini Tuhan akan mengampuni segala dosa yang telah dilakukannya.
Terpampang sebuah tulisan di bangsalnya, “Ismail 27th,
HIV Aids”.

nafsu duni memang menyilaukan, lepas kontrol ya sudah menyesal..
BalasHapussemoga bis ajadi pelajaran untuk kita semua